Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Gadis muda


__ADS_3

Apa jadinya, jika dua insan dewasa yang kini saling bertatapan mata dengan penuh perasaan penuh harap ...


Ya ... Kini kedua-nya saling berpagut dalam gairah cinta yang menggebu. Selayaknya dua insan yang membutuhkan belaian lembut serta kasih sayang dari pasangan.


Tangan Brian masih menahan tengkuk gadis muda itu, hanya untuk mengabsen satu persatu rongga mulut Alexa yang terasa sangat manis juga menggairahkan. Lidah kedua-nya saling bertautan, bahkan tidak ingin melepaskan, membuat tubuh indah itu seakan melemah tak berdaya.


"Hmmhh," kembali terdengar suara errangan kecil lolos dari bibir ranum Alexa, ketika berusaha untuk melepaskan ciuman yang semakin lama membuat kakinya tak bertulang.


Menyadari akan gairahnya semakin membuncah di kepala, Brian melepaskan ciuman itu hanya untuk memastikan bahwa Alexa masih bisa bernafas.


Dengan dada yang turun naik, Brian menatap lekat wajah cantik yang merona itu dengan tatapan berkabut penuh gairah.


"Apakah kita akan melanjutkan semua ini di ranjang ruangan ku, baby?"


Pertanyaan Brian membuat Alexa tak kuasa untuk menjawab. Kali ini ia hanya bisa mengagumi wajah tampan yang sangat menawan yang masih berdiri dihadapannya.


Berkali-kali Alexa menelan ludah, ketika merasakan tubuhnya benar-benar seperti tersengat arus yang aneh, karena usapan lembut jemari Brian pada bibir yang basah.


"Bu-bu-bukankah kamu yang mengatakan padaku, bahwa kita hanya menjalin hubungan ini dengan cara yang wajar selayaknya anak sekolahan," tuturnya terus mengusapkan pipi mulus pada punggung tangan Brian yang masih menyentuh kulit wajah itu.


Pria mapan itu tertawa kecil, tampak ada setitik kerinduan dari tatapan mata elang seorang Brian, sehingga memberanikan dirinya untuk mengangkat tubuh ramping tersebut, kemudian mendudukkan gadis cantik itu diatas meja kerjanya, dengan jemari tangannya langsung mengusap lembut paha mulus yang sejak tadi mengganggu penglihatannya.


"Ahh ... what the hell, babyhh!" Tubuh Alexa semakin merasakan sesuatu yang aneh, membuat ia seakan pasrah menerima sentuhan jemari Brian.


Dengan sangat buas, Brian langsung mellumat bibir manis Alexa, mendecaap lembut bibir merah merona itu dengan penuh perasaan ingin.


"Jujur aku sangat menginginkan hal itu, Lex ..." tuturnya turun ke leher jenjang gadis belia itu.


Membuat Alexa benar-benar tidak berdaya untuk menolak sentuhan tangan Brian yang tiba-tiba sudah mengusap lembut bagian kenyal miliknya walau masih terhalang benang.

__ADS_1


"Ogh baby ... don't do it now. Aku harus ahh ..." kepala Alexa lagi-lagi mendongak keatas, ketika merasakan sentuhan tangan Brian semakin liar pada tubuhnya.


Brian tersenyum tipis, matanya benar-benar terbalut dalam gairah yang sangat besar. Sehingga sulit untuk ia redakan, ketika dua jemarinya berhasil menyelusup masuk hanya untuk memberikan satu sentuhan kecil pada Alexa dibagian intinya.


Entahlah, tubuh Alexa benar-benar sulit untuk menolak. Sentuhan Brian benar-benar nyata, tidak seperti yang ia mimpikan seperti malam-malam biasanya.


"Ahh baby ... a-a-a-aku tidak kuat. A-a-a-aku mau pipishh ..." Alexa meremas kuat punggung Brian, yang masih diperlakukan oleh pria kesepian selayaknya seekor macan jantan mendapatkan mangsa.


Bibir Brian benar-benar menyunggingkan senyumannya dengan sangat lebar, "Keluarkan sayang, bukankah kamu yang menginginkan aku hmm!"


Tangan Alexa mencengkram kuat tubuh Brian, merasakan sesuatu yang dahsyat akan meledak, membuat pandangannya semakin berkunang-kunang dan semakin dibuat penasaran oleh sebuah rasa, akan tetapi ...


Brian melepaskan jemarinya seketika, membuat Alexa kembali menatap dengan tatapan membayang yang kecewa.


Tampak Brian langsung berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan tubuh Alexa dengan nafas tersengal-sengal, memandang kesal kearah punggung pria mapan tersebut.


"Why? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, Baby?" teriaknya merasa tidak terima dengan perlakuan Brian.


Wajah Alexa tampak menutupi hasratnya, sejujurnya ia merasakan kepalanya benar-benar berat, karena baru merasakan gelenyar itu untuk pertama kalinya.


"Apakah seorang gadis muda tidak boleh melakukannya dengan pria mapan? Bukankah aku sudah dewasa? Bahkan dadaku saja sudah cukup besar, dan aku sudah periode. Hmm ... sepertinya aku harus banyak melihat video dewasa. Agar aku tidak dianggap gadis kecil terus oleh Mr. Baby ..." sungutnya merapikan rambut juga pakaiannya yang sempat terbuka sedikit karena perlakuan Brian.


.


.


Kini kedua-nya tiba dikediaman orang tua Brian. Tentu disambut mesra oleh pria tua yang menjadi suami Lily, Opa Stefan.


Kediaman mewah yang sangat luas, membuat Alexa berteriak bahagia memanggil nama Lily ketika turun dari mobil yang dikendarai Brian.

__ADS_1


"Mama Lily! Where are you?"


"I'm here, baby," tutur Stefan melihat Alexa yang menyelonong masuk dari ruang keluarga.


Mendengar suara Stefan yang sangat khas ditelinga nya, membuat Alexa langsung berhamburan memeluk tubuh ringkih pak tua yang masih saja merasa muda tersebut.


Tanpa perasaan sungkan, Alexa meringkuk di bawah ketiak Stefan, sambil menggoda pria tua yang sudah mengenakan pampers tersebut.


"Bagaimana kabar, Opa Stef? Maafkan aku, karena tidak membawa makanan kecil untuk mu, Opa." Kecupnya pada wajah yang sudah dipenuhi bulu putih itu.


Stefan tertawa kecil, "Apa aku sedang meminta makanan padamu? Mana Papa mu? Kenapa dia tidak menjenguk ku, hari ini!" sungutnya, merapikan pakaian dengan tisu yang ada ditangan kanan itu, karena tertumpah madu yang akan ia konsumsi.


Alexa melirik kearah Brian yang langsung duduk disamping Stefan, sambil membawakan makanan kecil yang ia beli ketika pulang meeting di salah satu toko roti kesukaan keluarga mereka.


Stefan yang masih dapat melihat dengan jelas, langsung menyapa putra kesayangannya, "Bagaimana kabar menantu ku, Boy? Apakah dia baik-baik saja?"


Brian tersenyum tipis, menoleh kearah Stefan menjawab pertanyaan Stefan apa adanya, "Semua baik-baik saja Pa. Seperti biasa, masih belum bisa bicara. Kondisi masih sama, sudah therapi kemana-mana tapi masih dinyatakan lumpuh total seumur hidupnya. Ya ... tidak jauh dari sakitnya Mama."


Tampak Stefan langsung menundukkan wajahnya, karena tidak ingin mengingat almarhum istri pertamanya itu.


"Aku harap, kamu mencari wanita lain agar bisa mengurus mu, Boy. Kasihan Cua, dia juga tidak ingin menghabiskan hidupnya seperti ini. Setidaknya jika kamu memiliki istri lagi, istri pertama mu, akan diperhatikan oleh istri muda mu jika kamu pergi kerja. Tidak menyusahkan orangtuanya, Cua," titah Stefan memberi pengertian kepada Brian dihadapan Alexa.


Brian kembali menatap kearah Alexa, wajahnya seketika tertawa kecil, mengenang kegilaan yang dilakukannya diruang kerjanya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya, sambil berkata kemudian beranjak menuju dapur mencari pelayan kediaman mewah keluarganya, "Aku lapar, Pa! Aku ambil makanan dulu, ya? Lex, kamu ada acara keluarga malam ini. Jadi tolong percepat tugas mu dengan Mama Lily, biar aku tidak di omelin Sandy!"


Alexa hanya mendehem, meninggalkan Stefan yang masih duduk di ruang keluarga, mencari Lily yang masih diruang kerjanya sambil berkata perlahan kepada Stefan, "Aku ketemu Mama Lily dulu ya, Opa? Selesai kuliah, aku langsung pulang. Bye Opa Stef tersayang."


Stefan hanya menjawab, "Bye baby!"


Pandangan Stefan teralihkan pada Brian yang menatap lekat kearah punggung Alexa, kemudian berkata lagi, "Apakah kamu menginginkan gadis muda itu, Boy? Aku tahu, sejak Alexa menjadi secretaris mu, kau sering menggodanya. Jangan buat malu aku, karena Alexa anak angkat Arlan. Jika kau mau, aku bisa mencarikan mu wanita lebih dewasa!" tukasnya tajam sebagai peringatan.

__ADS_1


Brian hanya terdiam tak berani untuk menjawab. Ia hanya menaikkan kedua alisnya, tak menampik bahwa sesungguhnya semakin merasakan sesuatu yang luar biasa ketika berciuman dengan Alexa.


"Apakah aku harus pergi sendiri ke Roma? Karena aku tidak ingin merusak masa depan gadis seusia Alexa, tapi bagaimana mungkin. Kini Alexa secretaris ku, dan aku harus membawanya kemanapun ..." gumamnya dalam hati, kembali duduk di kursi meja makan yang tidak jauh dari Stefan.


__ADS_2