
Setelah mendapatkan kebahagiaan yang tidak terkira dari Shinta, Arlan sudah terjaga lebih pagi, karena merasakan tubuhnya semakin sehat karena mendapatkan perlakuan yang sangat menyenangkan dalam hidupnya.
Arlan bersiul-siul, ketika menatap wajah tampan itu didepan cermin, sambil mengumurkan aroma mint kedalam mulutnya, agar Shinta tak pernah berhenti untuk menciumnya.
"Agh, Shinta. Kenapa tidak dari dulu kita dipertemukan? Kenapa baru sekarang kamu bisa menunjukkan bahwa dirimu sangat mencintai aku. Aku rasa, seperti mendapatkan wanita yang sempurna. Dulu aku pikir Yasmin lah segalanya dalam hidup ku. Ternyata aku salah, semenjak kamu hadir mengisi hati dan hari-hari ku. Kamu wanita paling sempurna, Shinta. Aku pastikan kita akan selalu bersama hingga tua, dan kamu mau merawat ku jika terjadi sesuatu ..."
Kembali Arlan mengunakan cream diwajahnya, agar tidak terlihat tua seperti kata Shinta. Istrinya itu berjanji akan mengencangkan seluruh kulit Arlan yang mengendur.
Arlan beranjak dari kamar mandi, menuju kamar peraduannya. Yang masih menyalakan perapian otomatis, karena negara pitzza itu sudah memasuki musim dingin dan menyambut hari kemenangan bagi keyakinan mereka yang merayakan Christmas juga pergantian tahun dalam hitungan Masehi.
Langkah Arlan menghampiri Shinta yang masih bergelumun dalam selimut tebal, tanpa mengenakan penghalang, membuat pria mapan itu dengan mudah mengusap lembut punggung telanjang istrinya.
"Aku sarapan deluan ya, sayang. Kamu mau sarapan di kamar? Atau menyusul ku, nanti?" Kecupnya pada punggung mulus itu.
Shinta mengerjabkan bola matanya yang masih terasa berpasir. Perlahan mengusap lembut matanya, hanya untuk melihat wajah sang pria yang sangat ia kagumi sejak awal bertemu.
"Bibi sarapan dimana? Aku masih mengantuk. Deluan saja, nanti aku menyusul," rengeknya meringkuk seperti anak kecil dilengan Arlan.
"Aku sarapan dua block dari tempat kita. Disana makanannya halal, dan aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan ku, jika kamu masih mau beristirahat dulu. Tenang saja, aku akan membawa Sandy sarapan bersama. Abigail juga sudah menunggu di sana."
Shinta mengangguk manja, kembali ia mengecup lembut tangan Arlan yang masih berada dalam dekapannya dengan penuh kasih sayang. "Bibi hati-hati ya. Aku tidur dulu, sampai stamina ku benar-benar pulih."
Terlihat senyuman Arlan mengembang disudut bibirnya, memberikan keyakinan pada diri sendiri, bahwa ia mampu memberikan kenyamanan juga kepuasan pada pasangannya.
"Oke, aku pergi dulu. I love you, Shinta."
Tampak Shinta tak mampu untuk menjawab, karena sudah masuk kedalam dunia mimpi indahnya.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Arlan benar-benar tampak bahagia. Sekilas ia teringat akan Yasmin, yang tidak pernah bermanja-manja seperti ini padanya selama 18 tahun pernikahan mereka. Ia memang mendapatkan mahkota Yasmin, tapi ternyata tidak mendapatkan kesetiaan dari wanita yang selama ini ia anggap setia.
Segala bentuk kehidupan sudah diatur oleh Tuhan, dalam garis tangan seseorang. Buktinya, Yasmin pergi lebih dulu membawa semua luka dan kebohongan itu, membuat Arlan benar-benar tak mampu berkata-kata akan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang tercintanya.
Kehadiran Shinta yang memberikan arti berbeda dalam kehidupannya, hanya karena pernikahan terpaksa dengan Leon, tapi dapat merubah kehidupan dan membongkar semua kepalsuan itu.
Entah itu satu keberuntungan untuk Arlan, atau pembalasan untuk Yasmin melalui Leon atas perselingkuhan yang dilakukannya semasa hidup. Yang jelas pernikahannya dengan Shinta kali ini, memberikan warna yang sangat berbeda bagi kehidupannya setelah memiliki Sandy walau anak itu lahir dengan cara di luar nikah. Dan dinyatakan sehat, normal tak seperti Leon.
__ADS_1
Begitu banyak yang Arlan lalui, sehingga tidak terhitung berapa jumlah uang yang ia keluarkan untuk menyembuhkan Leon juga Yasmin. Mungkin jika ia mengetahui bahwa Yasmin telah mengkhianatinya sejak awal, Arlan akan menenggelamkan wanita itu kedasar lautan kemudian tak mengacuhkan sakitnya Leon ketika kecil.
Tulisan suratan takdir seorang Arlan sudah tertulis bahwa ia akan bahagia bersama wanita lebih muda dan lebih mencintainya sepenuh hati, jiwa dan raga. Justru Shinta benar-benar melakukan sesuatu hal yang tidak disangka-sangka untuk membuat suaminya itu kembali dalam pelukannya.
Arlan menggendong Sandy, membawa putra kesayangannya menuju satu toko permen yang tidak jauh dari tempat mereka menginap, hanya karena tidak mau putra kesayangannya itu merengek kepada Lala karena dilarang memakan permen.
"Pilihlah sayang, kamu mau yang mana? Ini, atau ini?" tunjuknya pada satu rak yang menyediakan bermacam-macam jenis permen.
Sandy menunjukkan jarinya pada salah satu rak permen yang berisikan coklat, serta ada juga beberapa yang bercampur dengan wine.
Pelayan toko terus mendampingi Arlan yang masih memilih beberapa permen, sambil menunjukkan isi dalam permen tersebut, "Maaf Tuan ... jika ini untuk Anda tidak apa-apa di konsumsi. Jika untuk anak Anda ini kurang baik karena ini berisikan wine dan ini vodka. Jadi kami tidak menyarankan untuk menjual permen ini karena Anda membawa anak kecil. Sekali lagi maaf."
Dengan senang hati Arlan mengangguk mengerti, kemudian mengalihkan perhatian Sandy ke rak yang lain. "Ini saja, sayang. Karena permen itu tidak baik untuk mu."
Sandy memajukan bibirnya, dia tidak ingin melanjutkan pilihannya, karena tidak di izinkan membeli permen yang ia tunjuk. "Aku tidak mau yang lain. Aku mau yang itu!"
Arlan tertawa kecil, mengusap lembut kepala Sandy, membawa dia memilih permen yang mirip dengan kesukaan sang putra.
Benar saja, Sandy bersorak kegirangan karena mendapatkan permen coklat yang berbentuk tokoh kartun yang ia gemari, "Woowh ... I like this. Thanks Pa."
Akan tetapi, saat hati ayah dan anak itu tengah berbahagia. Tiba-tiba saja Raline datang menyapa dengan penuh kehangatan, menempelkan bagian kenyalnya di punggung Arlan.
Darah Arlan seketika mendesir hebat, ketika merasakan hembusan nafas beraroma vanila tak kalah menggoda dengan suara yang bercampur dessahan berbisik sekedar menyapa Sandy untuk memancing Arlan membalikkan tubuhnya, "Hay boy, how are you? Apa kamu tidak mengenal Aunty?"
Wajah Sandy seketika berubah, begitu juga Arlan. Bahagia yang ada di kepalanya seketika buyar, karena tidak menyangka akan bertemu dengan Raline di sini.
Dengan nafas berat, Arlan membalikkan tubuhnya hanya untuk memastikan pendengaran serta penglihatannya.
Benar saja, tubuh Raline tidak berjarak. Arlan langsung dihadapkan dengan dada Raline yang membusung indah. Bahkan memperlihatkan bahwa wanita itu benar-benar berhasil merubah tampilannya sebagai wanita sempurna.
Dengan cepat Arlan menjentikkan jemarinya, agar Lala bergegas membawa Sandy keluar dari toko itu lebih dulu, karena ia tidak ingin sang putra melihat kelakuan Raline yang akan memperlakukannya lebih sadis dari ini.
"Bawa Sandy ke restoran. Abigail sudah menunggu disana!"
"Baik Tuan!" Tunduk Lala mengikuti semua perintah Arlan, karena tidak ingin melihat majikannya itu berkata kasar kepada orang lain dihadapan Sandy.
__ADS_1
Raline menyentuh tangan Sandy, mencium punggung tangan mungil itu sambil melirik kearah Arlan, "Tangannya sangat lembut, sayang. Sama seperti tanganmu!"
Arlan tak mengacuhkan ucapan Raline. Ia hanya memberi isyarat pada Lala untuk membawa Sandy lebih cepat.
Kini Arlan dihadapkan dengan Raline di toko permen itu, dengan dada yang terasa sangat sesak tidak karuan dan semakin risih karena wanita gila itu semakin mendekatkan wajahnya.
"Lihat wajah ku, Arlan. Tidak ada lagi luka yang ditorehkan anak kecil yang mengaku sebagai istri mu. Semakin cantik, bukan? Aku melakukan ini hanya untuk mu."
Bersusah payah Arlan mengelakkan wajahnya dari sentuhan hidung mancung Raline. Ingin rasanya ia merobek mulut wanita itu, "Please Raline ... jangan ganggu aku."
Raline tertawa kecil, mendengar penuturan Arlan yang tampak takut ketika melihatnya, "Bukankah kamu yang meminta ku hari itu, Arlan? Ternyata dunia kita sama, aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu disini. Di Santo Stefano, dan kita akan mengikrarkan janji setia untuk hidup bahagia selamanya di sini. Aku benar-benar mencintai mu, Arlan!"
Tangan Raline lebih cepat bermain kecil didada bidang Arlan yang hanya mengenakan baju kaos. Sehingga dengan mudahnya tangan itu menyentuh titik-titik yang sangat menggelitik namun dapat ditahan oleh pria mapan itu, agar tidak terlarut dalam pesonanya.
Wajah Arlan menggeram, giginya terdengar menggeretek, tangan kekarnya mengepal kuat, ketika Raline langsung memeluk erat tubuh gagah itu dan langsung mengecup liar leher itu.
"Stop Raline. Aku tidak ingin berlaku kasar padamu. Kau telah memiliki suami dan aku memiliki Shinta!" geramnya dengan bibir bergetar.
Terlihat Raline tidak mengindahkan ucapan Arlan, ia semakin bersemangat untuk melanjutkan aksi liarnya, "Berteriak Arlan. Aku akan mengatakan pada mereka, bahwa kau kekasihku. Tidak ada yang bisa menghentikan kita di sini. Karena ini negara bebas, bebas melakukan apa saja untuk bercinta," tawanya menyeringai kecil.
Tanpa pikir panjang, Arlan langsung meremas kuat lengan Raline yang terus menerus mencoba menggodanya, "Tinggalkan kota ini! Sebelum aku yang menghancurkan mu!"
Raline medessis, "Ahh ... kenapa kamu berubah Arlan? Kenapa? Kamu takut dengan menantu mu itu? Shinta itu menantu mu, Arlan! Apa kau melupakan ciuman hangat kita? Bahkan kau sangat menikmati sentuhan ku, sehingga menyemburkan lahar hangat mu dimulut ku? Apa kau melupakan bagaimana kita saling bergairah, sayang?"
"Cukup! Cukup Raline! Aku tidak pernah menginginkan mu! Pergi kau dari kehidupan ku!" Wajah Arlan semakin memerah, bahkan dia sangat membenci wanita yang ada dihadapannya itu.
Dengan sekuat tenaga, Arlan mendorong tubuh Raline, sehingga terjerembab kelantai toko permen tersebut.
"Agh!" Pekiknya, membuat beberapa pasang mata menoleh kearah mereka.
Arlan yang benar-benar tak kuasa menahan amarahnya, langsung meninggalkan wanita gila itu. Akan tetapi, ketika ia akan mendorong pintu toko yang terbuat dari kaca, Shinta telah berdiri dihadapannya.
Melihat kehadiran Shinta berdiri dihadapan Arlan, Raline langsung berteriak lantang, "Kau yang memintaku Arlan. Kau yang menginginkan aku! Bahkan kau berjanji akan menikahi aku!"
"What, menikah!?"
__ADS_1
"Shi-n-ta no! No Shinta ...!"