Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Mencintai mu


__ADS_3

Di kediaman Arlan, Alexa justru tengah menghabiskan waktu berolah raga bersama Sandy. Ia berlari-lari kecil mengitari halaman rumah nan luas, sambil tersenyum bahagia bertanya pada pria yang berada disampingnya, "Bagaimana San? Apakah secretaris mu ikut dengan kita ke Roma?"


Mendengar pertanyaan Alexa, Sandy hanya berlari-lari ditempat sambil menjawab, "Sepertinya dia tidak perlu ikut. Nanti kamu cemburu!" titahnya menggoda sang adik.


Kening Alexa mengerenyit masam, raut wajahnya seketika berubah, "Kenapa aku harus cemburu? Bukankah gadis yang selalu merasa dirinya lebih cantik dan sensual dari aku itu, selalu saja menggoda mu? Bahkan Janet pernah mengancam ku! Makanya aku tidak mau mengadakan meeting di kantor mu. Takut, secretaris mu galak!"


Seketika Sandy teringat berubahnya Alexa beberapa waktu lalu. Ia terkenang, dengan kemesraan bersama adik angkatnya tersebut di ketahui oleh Janet ketika baru selesai mengadakan meeting.


Tatapan kedua-nya sama-sama tidak pernah di tepis selayaknya pasangan kekasih. Karena Alexa sangat mudah akrab dengan keluarga besarnya. Akan tetapi, sangat ketakutan jika berkenalan dengan orang baru.


"Agh, berarti karena dia ... kamu enggak mau ke kantor ku lagi, Lex?"


Alexa menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Sandy yang benar-benar baru menyadari apa yang dirasakan oleh sang adik selama ini atas perlakuan Janet.


"Dasar secretaris gila, tidak sekali dua kali Janet membuka baju dihadapan ku! Aku rasa gadis itu kurang kasih sayang dari keluarganya. Karena setahuku, keluarganya broken home gitu. Tapi entahlah, aku nyaman sama dia karena memiliki otak yang cerdas juga profesional. Jadi sulit untuk mencari orang baru lagi," tuturnya menjelaskan pada Alexa.


Alexa hanya mendengus dingin mendengar penjelasan dari Sandy, baginya Janet merupakan gadis yang sangat menganggu hubungannya dengan pria yang merupakan abang angkat terbaiknya.


"Hmm ... aku akan memperkenalkan kekasih baru ku suatu hari nanti. Tapi nanti, tidak sekarang!" Tawanya menggoda puncak hidung Sandy kemudian berlari kencang menuju pintu masuk kediaman keluarga mereka.


Sandy yang mendengar penuturan Alexa seperti itu, langsung mengejar sang adik karena rasa penasaran yang ingin diketahuinya.


"Jawab aku, Lex! Siapa kekasih mu? Apakah Mr. Baby? Aku tidak mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri itu karena aku mencintaimu, Alexa!"


Langkah kaki Alexa seketika terhenti. Ia yang tengah berlari dan akan membuka pintu kaca, seketika sangat sulit menggerakkan tangannya kemudian menelan ludahnya dengan nafas tersengal-sengal. Kembali ia menoleh kebelakang hanya untuk memastikan bahwa ucapan Sandy yang sudah mendekat kearahnya.


"U-u-ulangi, San? A-a-a-apa kamu berusaha untuk menggoda aku? Hmm ... kamu tahu kalau ki-ki-kita ini keluarga. Ti-ti-tidak mungkin rasanya kamu mengatakan hal ini pada ku! A-a-a-aku rasa kamu sedang mabuk, San!"

__ADS_1


Tak ingin menjawab pertanyaan Alexa dengan kata-kata, Sandy semakin mendekati putri angkat Arlan tersebut, hanya untuk mengusap lembut wajah cantik yang dibalut peluh itu.


Perlahan Sandy menyematkan anak rambut yang tersisa menutupi wajah cantiknya, kemudian tersenyum tipis, "Ya ... aku mencintaimu, Lex. Aku tidak ingin melihat mu menjalin kasih dengan pria manapun," titahnya, membuat Alexa tampak gugup melebarkan pandangannya.


Kini Alexa benar-benar gugup. Ia tidak menyangka bahwa Sandy selama ini menaruh hati padanya, "Ta-ta-tapi bagaimana jika aku mencintai pria lain?"


Dengan mata yang saling menatap, Sandy menjawab, "Apakah itu Mr. Baby? Sejauh mana hubungan mu dengan Tuan Brian? Apakah kamu tahu kalau dia memiliki istri, Lex. Apa kamu tidak kasihan sama Mama Cua?"


Alexa semakin salah tingkah, dadanya bergemuruh mendengar pertanyaan Sandy yang ternyata mengetahui bagaimana ia mesranya pada Brian. Bersusah payah ia mengalihkan pandangannya, akan tetapi pria muda yang ada dihadapannya kini mampu mengunci pandangan mereka berdua.


"Ki-ki-kita akan berangkat jam berapa, San?"


"Jam 11.00. Aku rasa kamu belum menjawab pertanyaan ku, Lex!"


"Ta-ta-tapi aku tidak serius dengan Brian. Ka-ka-kami hanya menjalin relationship selayaknya pasangan remaja. Tidak seperti yang ada dipikiran mu, San!"


Sandy mendengus dingin, mendengar penjelasan Alexa. Kedua-nya masih saling menatap, akan demikian gadis cantik itu semakin gugup jika sudah berada dalam situasi seperti saat ini.


Sher ...


Alexa menggelengkan kepalanya, kali ini ia benar-benar tidak tahu akan diperlakukan seperti ini oleh Sandy. Pria yang penuh lemah lembut, bahkan sangat nyata dalam memberikan kenyamanan padanya, "Ma-ma-maaf, San. Aku mau mandi dulu. Nanti kita terlambat untuk tiba di bandara tepat waktu!"


Alexa membuka pintu kaca yang ada dibelakangnya, akan tetapi Sandy langsung menarik tangan gadis belia itu, kemudian menangkup wajah cantik adik angkatnya.


Dengan cepat Sandy mendekatkan wajah mereka, menciumi bibir mungil nan manis itu dengan sangat lembut.


Entah mengapa, Alexa justru terdiam, dan membuka mulutnya menyambut baik bibir Sandy yang langsung mellumat penuh perasaan cinta.

__ADS_1


Alexa yang haus akan sentuhan semenjak kejadian bersama Brian, ia terlena dengan ciuman Sandy yang semakin lama semakin liar, membuat tubuhnya merasakan sesuatu hal untuk melakukan yang lebih, setelah Brian memberikan beberapa kepuasan tersendiri tanpa merusak mahkota gadis muda itu.


Perlahan Alexa mendekatkan kaki jenjangnya untuk mengusap perlahan kaki berbulu milik Sandy yang tidak mengenakan apapun.


"Hmmhh San, pleasehh ..." Ciuuman itu kini sudah turun mendekati leher jenjangnya, kemudian meninggalkan jejak kepemilikan disana, Alexa sungguh terbuai oleh perlakuan nakal Sandy.


Nafas kedua-nya benar-benar berpacu, Sandy yang sudah lama tidak menyentuh wanita, kembali terpancing gairah untuk membawa Alexa masuk dalam permainan ranjangnya.


Sandy bukanlah pria lugu selayaknya laki-laki biasa. Ia juga pernah dua kali berkencan bersama wanita yang memiliki hubungan relationship ketika masa pendidikan di London. Akan tetapi, hubungan itu hanya sekedar just for fun selayaknya pasangan remaja.


Kini Sandy sudah cukup matang untuk memberikan satu kebahagiaan pada seorang gadis belia, "Aku tidak ingin berdebat dengan Tuan Brian, Lex! Aku harus mengikat hubungan ini dengan memberikan mu kebahagiaan. Selama ini aku hanya melakukannya saat kamu tertidur, dan kini aku ingin kita berpetualang selayaknya pasangan muda ..."


Kini kedua-nya telah berada di satu ruangan yang tidak jauh dari area kolam renang. Entah mengapa gadis itu mengikuti semua keinginan Sandy. Kamar khusus yang sengaja di desain Arlan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka ketika Sandy dan Alexa masih berusia 10 tahun.


Ciuaman kedua-nya semakin menuntut. Sandy benar-benar tidak ingin melepaskan Alexa. Lummatannya semakin dalam, membuat gadis belia itu tak kuasa untuk menolak.


Sentuhan-sentuhan jemari Sandy, membuat tubuhnya semakin meremang.


"Ahh San, pleasehh ..."


"Aku mencintaimu, baby. Aku tidak ingin melepaskan mu," kecupnya semakin dalam di cerug leher Alexa.


Tubuh Alexa semakin tak kuasa menolak semua cumbuan Sandy yang sangat memabukkan baginya.


Kembali Sandy mengusap lembut wajah Alexa, setelah tak memberi ruang pada gadis muda itu untuk mengucapkan kata 'tidak' ataupun 'jangan' ...


Dengan nafas berat dan tatapan yang dibalut gairah, Sandy kembali bertanya, "Apakah kita akan melakukannya di sini, baby?"

__ADS_1


Alexa menggeleng, tubuhnya bergetar hebat karena perasaan yang bercampur aduk, "Bukankahh kitahh akanhh ke Roma? Hmm ..." usapnya, pada punggung telanjang Sandy yang sudah berada diatas tubuh indahnya.


____


__ADS_2