Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Mengusir Leon ...


__ADS_3

Benar saja, cuaca semakin panas. Suasana terik matahari sore, tampak sangat melelahkan. Shinta tengah berjalan tertatih menuju apartemen milik Arlan. Wanita yang telah bebas dari kurungan penjara beberapa hari lalu tersebut, kini berada di lokasi apartemen duda beranak satu yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.


"Bi ... Maafkan Shinta telah menyakiti Bibi. Shinta ingin bertemu Sandy anak kita, Bi ..." isaknya dalam kesendirian.


Kini Shinta tengah mencari cara untuk dapat bertemu dan membawa Baby Sandy dari tangan pria yang pernah mencintainya tersebut. Ia yang semakin memiliki keberanian untuk melakukan apapun, demi merebut kembali buah hatinya saat itu mengendap-endap memasuki koridor, ketika berada di lantai apartemen milik Arlan.


Tidak menunggu lama, Shinta melihat pintu apartemen milik Arlan terbuka lebar, memberi kesempatan baginya untuk bergegas masuk kedalam apartemen tersebut.


Akan tetapi, ketika pintu ruang tamu akan tertutup rapat, tangan Shinta terjepit di pintu masuk kediaman Arlan, membuat ia berteriak keras.


"Augh! Tolong! Tolong tangan ku!" teriaknya lantang membuat seseorang yang baru memasuki ruangan apartemen itu terlonjak kaget.


Sontak suara yang dapat di kenali oleh Arlan, membuat pria dewasa itu berlari kencang dan menahan pintu yang semakin tertutup rapat.


Betapa terkejutnya Arlan melihat wajah wanita yang dulu pernah ia rawat, kini tampak lusuh bahkan sangat kurus.


"Shin-ta! What are you doing here? Sejak kapan kamu berada di lokasi apartemen ku? Mengapa tidak seorangpun yang dapat menemukan keberadaan mu?" pekiknya menyambut tubuh Shinta, yang hampir jatuh ke lantai apartemen.


Bibir Shinta yang mengering, bahkan tampak pucat, membuat jiwa kemanusiaan seorang Arlan bekerja dengan sangat baik. Apapun alasannya, Shinta merupakan ibu dari putra kesayangannya, Sandy.


"Bu, Ibu! Tolong buka pintu kamar saya dan siapkan makanan!" perintahnya langsung membopong tubuh Shinta, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Keluarga besar ataupun Leon nantinya.


Bagi Arlan, Shinta sudah cukup menderita karena ulah keluarganya dan dia harus menyelamatkan wanita itu.


"Wake up, Shinta! Aku tidak ingin melihat mu seperti ini. Please ..." ucapnya, ketika masih menggendong tubuh Shinta yang masih setengah sadar tersebut.


Bergegas Arlan meletakkan Shinta ke ranjang peraduannya, mengusap lembut wajah Shinta, yang terasa sangat dingin karena menahan rasa dahaga juga lapar.


"Agh sial! Sudah berapa hari wanita ini tidak makan, atau minum ...? Kenapa dia tidak menghubungi aku?" geramnya meraih handphone, untuk menghubungi dokter pribadinya.


Baby Sandy yang masih berada dalam gendongan baby sitter, kembali menangis karena ingin mendekat dengan sang papa.

__ADS_1


"Pa-pa-pa- ...!" teriaknya membuat Arlan bergegas mengambil putranya dari tangan baby sitter.


Arlan menghubungi dokter, sambil menggendong Sandy ...


Arlan : "Tolong datang ke kediaman ku, saat ini juga!"


Dokter : "Baik Pak ..."


Arlan masih terus berusaha menenangkan Sandy yang masih menangis keras ketika melihat kearah Shinta.


Naluri seorang anak kepada ibu kandungnya, membuat Arlan mendekatkan Sandi kepada Shinta.


"Shinta, bangun sayang. Ini Sandy, anak kita. Apakah kamu menemui aku untuk bertemu anak kita ...?" bisiknya lembut, sambil meletakkan Sandy di samping Shinta.


Asisten rumah tangga, bergegas mempersiapkan semua kebutuhan yang di perintahkan Arlan, membuatkan menu makanan sesuai kesukaan Shinta yang ia ketahui.


Sayur bening, serta beberapa potong ikan ditambah tempe goreng juga sambal, di letakkan di nakas sebelah ranjang kingsize kamar Arlan.


Arlan enggan untuk menjawab pertanyaan pembantunya tersebut, meminta asisten rumah tangganya itu, segera meninggalkannya.


"Silahkan keluar! Jika Dokter Zulman datang, suruh langsung masuk ke kamar saya! Saya tidak ingin di ganggu!" perintahnya.


"Baik Pak."


Kedua pembantunya, meninggalkan kamar tidur mewah itu, dengan beribu-ribu pertanyaan dalam benak mereka berdua.


Arlan mengambil air hangat di dalam baskom kecil yang ada di kamar mandi, kemudian handuk kecil untuk membersihkan tubuh Shinta dari debu yang terasa sangat lengket. Tanpa menghiraukan Sandy yang terus mencium wajah sang Mama.


"Pa-pa-pa ... Ci-ci-um ma-ma-ma ..."


Arlan tertawa kecil, mendengar celotehan Sandy yang masih mengingat wajah sang Mama.

__ADS_1


Ya, setelah Shinta meninggalkan apartemen miliknya kala itu, Arlan tidak pernah merubah apapun, atau membuang semua kenangannya bersama wanita yang telah memberikannya seorang anak. Dia masih berharap pada Shinta akan kembali, untuk melihat putra kesayangan mereka berdua.


Justru Arlan selalu memperlihatkan foto-foto Shinta yang masih berada di nakas kamar mereka berdua.


Arlan menyeka tubuh Shinta, membuka semua pakaian yang menutup tubuh wanita itu. Entahlah, kali ini air matanya justru jatuh dengan sendirinya. Begitu banyak goresan luka, dan sayatan yang diterima Shinta ketika berada di dalam penjara yang masih berbekas di kulit mulus itu.


"Ough shiit! Leon, apa yang kau lakukan pada Shinta? Kenapa kau tega membuat wanita ku menjadi seperti ini? Kenapa kau tidak pernah menghargai perasaan orang yang pernah merawat mu! Dasar anak tidak tahu di untung! Pantas saja, kau di ciptakan dari benih Seno! Ternyata sifat mu memiliki kesamaan dengan Daddy mu ...!" sesalnya dalam hati, merutuki anak yang telah ia besarkan sejak dulu.


Arlan mengambil baju piyama milik Shinta, yang masih tersimpan di dalam lemari kamar tersebut.


Ketika Arlan tengah sibuk mengenakan pakaian Shinta, dengan sangat hati-hati, wanita itu tersadar dari pingsannya. Beberapa kali pria berstatus duda itu mengusapkan minyak angin, untuk menyadarkan Shinta.


"Bi ..." ucapnya pelan, sambil mendekap tubuh Sandy yang masih ternganga di sampingnya.


Arlan meletakkan minyak angin yang berada di tangan kanannya, kemudian langsung mengusap, dan mengecup lembut kening Shinta.


"Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu berada di Jakarta tidak memberitahu pada pengawal ku? Sampai-sampai kamu mendekam di penjara, tanpa memberi kabar pada ku, Shinta. Semarah-marahnnya aku, aku tidak pernah bisa menyiksa wanita sampai seperti ini. Bagaimanapun, kamu Ibu dari anak ku!" sesalnya dengan wajah menggeram kesal.


Shinta menangis sejadi-jadinya, dia tidak menyangka bahwa Arlan masih memperlakukannya dengan sangat baik. Dia hanya bisa menangis saat ini. Meratapi nasibnya sendiri selama berada di tahanan yang sangat menyakitkan.


Saat ini Arlan tidak ingin membahas apapun tentang nasib Shinta. Ia hanya ingin memberikan asupan nutrisi yang cukup untuk memulihkan kondisi psikologis Shinta, dari semua tekanan orang-orang yang akan menyerangnya.


"Tenanglah sayang. Jangan pikirkan apapun saat ini. Dokter Zulman akan datang sebentar lagi. Mungkin kamu akan di berikan suntik vitamin serta memeriksa kondisi kesehatan kamu. Aku tidak ingin membahas apapun dalam kondisi ini. Saat ini, kesehatan mu lebih penting. Kamu mau makan sendiri, atau aku suapkan?"


Shinta hanya bisa menelan ludahnya. Sejujurnya air matanya masih mengalir begitu saja. Ia pikir Arlan akan memperlakukan nya sangat buruk, akan tetapi pria itu masih bertanggung jawab atas dirinya.


"Te-te-ter-terimakasih Bi ...!" isaknya.


Arlan yang merupakan pria penyayang, menyuapkan makanan yang telah di persiapkan asisten rumah tangganya, tanpa banyak bicara.


"Hmm, kamu makan yang kenyang. Setelah ini aku harus pergi, menyelesaikan urusan ku. Ingat, jangan sampai kamu keluar dari kamar ini! Kamu mengerti!" tegasnya.

__ADS_1


Arlan tersenyum manis dihadapan Shinta. Namun, dia tengah memikirkan bagaimana caranya untuk mengusir Leon dari kediamannya saat ini juga ...


__ADS_2