Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Bukan laki-laki bodoh


__ADS_3

Menerima pukulan bertubi-tubi dari Cua membuat Leon hanya meringis menahan rasa sakit, namun masih terasa indah saat penyatuan kedua-nya belum terlepas.


"Ahh ... Kamu tega sama aku. Kamu bohongin aku. Kamu mengkhianati aku. Kamu jahat, kamu jahat, Le ... Sejauh apa hubungan kamu dengan wanita itu, hingga kamu tega sama aku ..." tangisnya kembali terisak-isak.


Leon kembali menggerakkan pinggulnya dibawah sana, membuat Cua kembali mendessah hebat, karena merasakan sesuatu yang sangat berbeda.


"Ahh Le ... Ahh ..."


Leon kembali mellumat bibir Cua lebih dalam, hanya untuk menikmati keindahan dunia dewasa yang terasa sangat indah dan menjadi candu bagi mereka berdua.


Berkali-kali Cua mengeerang, saat kebahagiaan itu semakin lama semakin terus dapat ia rasakan. Entah berapa kali, gadis cantik itu terus merintih, menikmati satu keindahan yang benar-benar luar biasa dari Leon.


Peluh kedua-nya menyatu menjadi satu, sehingga mereka benar-benar terlelap dalam keindahan cinta remaja yang tak kunjung usai.


Lebih dari dua jam kedua-nya sama-sama terlelap, membuat Leon melupakan jadwal penerbangannya, karena percintaan pertama yang sangat berkesan.


Leon bergegas meninggalkan Cua yang masih terlelap diatas ranjang, untuk melakukan ritualnya membersihkan diri.


Tubuhnya yang kini sudah dinyatakan sehat, menjadi tampak lebih segar dan selalu tersenyum bahagia ...


Perlahan Leon mendekati Cua setelah merasa benar-benar bersih juga wangi, mengusap lembut punggung telanjang gadis muda itu dengan sangat lembut. Sesekali bibir basahnya mengecup lembut kepala Cua hanya untuk mengejutkan kekasih masa lalunya itu.


Cinta masa sekolah, yang selalu disebut cinta monyet, namun semakin berkesan bagi Leon. Akan tetapi, bayang-bayang Shinta masih menari-nari dalam benaknya.


Cua mengerjabkan kedua bola matanya, melirik kearah Leon yang masih mengusap lembut kepala dan punggung mulus itu, membuat gadis muda nan cantik tersebut semakin meringkuk dalam dekapan Leon.


"Jangan tinggalkan aku, Le ... Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku," isaknya.

__ADS_1


Leon tersenyum tipis, terus mengusap lembut kepala Cua, "Apa kamu mau ikut dengan ku? Kita tinggal di Shanghai, karena aku harus melanjutkan kuliah di sana. Lagian pengobatan ku masih terus berlangsung, walau hanya untuk kontrol saja ..." jelasnya dengan suara lembut.


"Ta-ta-tapi Le ... Kamu tahu sendiri aku tidak bisa jauh dari Mami dan Daddy. Apa alasan ku pada mereka? Hmm bagaimana dengan pernikahan mu dengan wanita itu? Apakah kamu akan menjadikan aku hanya sebagai teman tidur saja? Le ... Jangan lakukan itu pada ku, karena aku sudah memberikan segalanya pada mu. Jangan tinggalkan aku, Le!"


Leon mengehela nafas dalam-dalam, dia mengecup lembut puncak kepala Cua, "Aku akan menyelesaikan semua urusan ku dengan Shinta. Walau sesungguhnya aku tidak bisa melupakannya. Aku mencintai nya, Cua."


Entah mengapa, Cua kembali memukul-mukul dada Leon, karena merasa kejujurannya sangat menyakitkan ... "Kenapa kamu tidak memberitahu pada ku, bahwa kamu telah menikah Le ... Kamu jahat! Kamu jahat! Jadi kamu mau menjadikan aku sebagai pelakor? Aku yakin wanita itu akan merobek-robek tubuh ku, jika melihat aku seperti ini dengan mu ..." isaknya.


Tak ingin menjawab Leon mendekatkan wajahnya agar dapat menenangkan Cua, dia membisikkan sesuatu ketelinga gadis cantik itu. Membuat mulut Cua ternganga lebar ...


"Are you crazy? Apakah kamu akan menyakiti aku, jika eee ... Aku tidak mau Leon. Aku tidak mau ikut dengan mu ke Singapura. Aku tidak membawa apa-apa, tas, pasport, dan bagaimana dengan kuliah ku! Pasti Mami marah Le ... Aku enggak mau!" rengeknya manja kembali mendekap tubuh kekar Leon yang semakin hangat.


"Please Cua. Demi aku!"


Cua mengerjabkan kedua bola mata indahnya, tersenyum tipis sambil mengarahkan bibir mungilnya dihadapan Leon ...


"Oke. Tapi malam ini kamu harus bicara sama Mami. Karena aku tidak mau kedua orangtuaku mencari keberadaan ku! Walau mereka sangat sayang padamu sejak kita masih sekolah ..." senyumnya.


Cua mengikuti semua perintah pria itu. Walau sesungguhnya hatinya masih terasa sangat sakit, namun ada kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan yang selama ini ia harapkan, akhirnya terwujud. Menjadi seorang wanita dewasa yang sempurna, bersama Leon.


Pria yang Cua anggap tidak akan pernah sembuh, namun kali ini memberikan keindahan luar biasa disaat usianya menginjak 20 tahun.


"Augh Le!!" pekiknya dari dalam kamar mandi.


Bergegas Leon berhamburan, membuka pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja ...


"Ada apa Cua? Apa yang terjadi?" kejutnya.

__ADS_1


Cua terduduk diatas closed, sambil menangis tersedu-sedu, kemudian berkata, "Perih Le ... Sakit, bagian inti ku sakit sekali. Aku enggak mau mandi. Tadi saat jalan saja, rasanya ada yang mengganjal di sini!" tunjuknya di bawah sana.


Membuat Leon sedikit panik, karena ini hal yang pertama bagi mereka berdua.


Dengan sigap Leon menggendong tubuh Cua kembali ke kamar, meletakkan gadis itu diatas ranjang. Dengan cepat ia mengambil baskom berisikan air hangat, yang telah bercampur antiseptik, kemudian menyeka tubuh ramping Cua secara perlahan dengan sehelai handuk kecil yang tersedia didalam lemari.


"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Leon saat satu tangannya mengusap lembut bagian inti dibawah sana, yang tampak indah dimatanya, membuat Cua, menutup malu-malu area sensitifnya.


"Jangan di pelototin Le. Aku malu, karena pasti terluka, kan?" rengeknya manja.


Bersusah payah Leon mengatur nafasnya, yang seakan-akan mengajak untuk berlabuh menghabiskan waktu bersama hingga pagi ...


"Hmm ternyata ini yang dirasakan oleh Papi dan Shinta. Bagaimana mungkin akan menahan rasa ini? Melihat paha mulus Cua saja, membuat si de'boy semakin berdenyut. Bagaimana jika aku kehilangan Cua ...! Aku harus membawa kekasih baru ku bertemu Shinta. Aku ingin melihat reaksinya. Apakah dia cemburu dengan Cua? Atau bahkan akan biasa saja ..." senyumnya menyeringai lebar, menyiratkan bahwa akan ada kejutan untuk Shinta.


Lebih kurang enam jam, kedua-nya berada dalam satu kamar, tanpa ada yang berani mengganggu ketenangan anak majikan Arlan, membuat salah satu pelayan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Leon.


"Nak Leon ... Apakah kamu mau makan sekarang?"


"Ya ... Ya ... I'm coming!"


Leon beranjak dari ranjang peraduan, membuka pintu kamar sedikit, melihat wajah pelayan yang sudah berdiri di hadapannya.


Leon berkata, "Bi ... Bisa bawakan saja ke kamar? Lima menit lagi!"


"Baik Nak!" tunduknya, berlalu menuju dapur, untuk mempersiapkan semua yang di perintahkan oleh Leon.


Leon kembali menutup pintu kamar, membantu Cua mengenakan pakaiannya, "Kita seperti pengantin baru ya? Kenapa kita tidak menikah saja sejak dulu, Cua?" godanya.

__ADS_1


"Hmm iya. Kalau menikah dari dulu, pasti tidak ada nama Shinta di hati kamu," sungutnya, sambil mengenakan baju kemeja Leon di tubuh mungilnya.


Leon kembali memeluk tubuh ramping Cua, mengecup lembut bibir mungil yang kini sudah menjadi penawar rindu akan Shinta, bergumam dalam hati, "Aku bukan laki-laki bodoh Shinta ...!"


__ADS_2