
Matahari bersinar semakin tinggi, Shinta yang tampak segar setelah melakukan ritualnya tengah bersiap-siap untuk kembali ke mansion agar bisa mengurus keperluan suaminya. Hingga saat ini wanita oriental itu belum mengetahui tentang hilangnya Leon, karena baginya kebahagiaan bersama Arlan lebih penting dibandingkan hal wajib lainnya.
Shinta menyelesaikan sarapan pagi yang terhidang di meja kamar hotel mewah itu, dan langsung berlalu meninggalkan kamar itu, untuk kembali ke mansion.
Dengan kecepatan tinggi, Shinta melajukan kendaraannya karena tidak ingin berdebat dengan Leon nantinya, jika tiba di mansion Keluarga Arlan tersebut.
Akan tetapi, saat Shinta memasuki pekarangan rumah, ia melihat beberapa petugas kepolisian, tengah berbincang-bincang dengan pengawal pribadi Leon, dengan memberi ruang pada Shinta untuk memarkirkan mobil milik suaminya.
Darah Shinta mendesir, ia bergegas turun dari mobil, dan menghampirinya pihak kepolisian juga pegawal suaminya, dengan bertanya pada pengawal ...
"Maaf Pak ... Ada apa? Kok pagi-pagi sudah ada pihak kepolisian di sini. Papi Arlan di mana?"
Shinta tampak kebingungan, menoleh kiri dan kanan, menyesiasati sekelilingnya mencari keberadaan Arlan.
"Leon hilang, Non. Dia pergi dari sini, dan CCTV di nonaktifkan. Makanya kami heran, Pak Arlan sejak tadi malam berada di kamar Leon. Mungkin karena kebingungan dia harus bertanya kepada siapa! Karena kami tidak menemukan apapun tentang suami Anda."
Shinta terdiam sejenak, dadanya bergemuruh bahkan sangat ketakutan atas pernyataan pengawal yang masih berbincang-bincang dengan pihak kepolisian.
Bergegas Shinta berlari kencang masuk kedalam rumah, ternyata pintu kamar Leon masih tertutup rapat. Ia terlihat sangat kalut, karena tidak pernah pria muda itu, melakukan hal seceroboh ini.
"Apa yang terjadi ...?" Shinta bergegas membuka pintu kamar, terlihat Arlan yang tergeletak di lantai kamar yang dingin, dengan wajah pucat pasi, dan genangan air mata di sudut kanan wajah pria mapan itu ...
"Papi ..." Shinta langsung memeluk wajah Arlan, memperbaiki posisi tubuh tegap itu, kemudian mencari sesuatu.
Shinta hanya membutuhkan satu jarum kecil, untuk menusuk buku-buku jari Arlan, agar memperlancar peredaran darah pria yang sangat ia cintai selama ini ...
Tanpa pikir panjang, Shinta menemukan jarum yang memang ia simpan, kembali mendekati Arlan, menusuk perlahan kelima jari kanan untuk mengeluarkan darahnya, dan berlanjut ke jari kiri, melakukan hal yang sama.
"Pi ... Ini Shinta ... Bagun Papi ..." isaknya mengusap lembut wajah Arlan, kemudian bergegas memanggil pelayan untuk membantu mengangkat pria itu keatas ranjang ...
"Bi, tolong saya!" teriaknya keras dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Mendengar teriakkan Shinta dengan suara bergetar, para pelayan berhamburan menuju kamar Leon, untuk membantu Arlan.
"Apa yang terjadi sama Bapak, Nona?" tanya wanita paruh baya itu kepada Shinta.
Shinta menggelengkan kepalanya, dia hanya memberi perintah pada pelayan, "Cepat hubungi rumah sakit, mungkin Bapak shock, dan saya takut bapak terkena stroke!"
"Baik Non!"
Seluruh pelayan bergerak cepat, ada yang mengantarkan teh manis hangat, dan ada juga yang membantu Shinta didalam kamar Leon untuk memeriksa kondisi Arlan.
Shinta memeriksa denyut nadi pria gagah itu dengan seksama, dia hanya kebingungan karena tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini. Ia hanya bisa menahan tangis sambil menatap wajah Arlan yang tengah dirundung kesedihan.
Shinta berbisik ketelinga pelayan, "Tinggalkan saya disini, dan tolong bereskan berkas-berkas ini, masukkan saja kedalam lemari. Saya tidak ingin melihat kamar ini berserakan!"
"Baik Non!"
Pelayan melakukan semua perintah Shinta, yang hanya melihat beberapa lembar foto-foto kemesraan Arlan dengan almarhum Yasmin dari kejauhan, tanpa ingin melihat gambar itu dari jarak dekat, membuat ia hanya bisa tersenyum tipis.
Namun matanya tertuju pada selembar kertas yang sudah menguning, yang terlepas dari tangan Arlan ketika diangkat keatas ranjang oleh beberapa pelayan.
Betapa terkejutnya Shinta, atas surat yang dituliskan almarhum Yasmin beberapa tahun silam, membuat matanya berair seketika.
"Berarti selama ini Papi di khianati oleh istrinya sendiri? Kemana Leon, dan apa hubungannya dengan Om Seno? Apakah dia tidak memiliki anak dengan istrinya? Bukankah Om Seno sangat baik pada Papi, ta-ta-tapi kenapa dia tega menyembunyikan semua ini, bukan waktu yang singkat, tapi bertahun-tahun lamanya bahkan usia Leon sudah 20 tahun ..."
Shinta mengingat semua kejadian saat pertama kali di Mount Elizabeth. Darah Arlan kala itu hanyalah sebagai darah pengganti untuk di laboratorium.
"Ooogh Tuhan ... Aku harus mencari tahu, kepastian golongan darah Arlan dan Leon. Tidak mungkin Mami Leon tega melakukan hal ini pada Papi. Jika benar Leon bukan darah daging Papi, berarti selama ini Papi tidak memiliki keturunan selain anak yang ada dalam kandungan ku ... Ooogh Shinta, ternyata keberuntungan tengah berpihak pada mu ..."
Lagi-lagi Shinta tersenyum sumringah, menatap wajah Arlan yang sudah terlihat sudah menggerakkan tangan dan kepalanya.
Beberapa kali Arlan menyebut nama almarhum istrinya, "Yasmin ... Kenapa kamu tega mengkhianati aku? Apa salah ku pada mu? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja ..." errangnya di sudut bibir tipis itu.
__ADS_1
Jika di delik kebelakang, kisah Arlan dalam memperjuangkan Yasmin, sangatlah berbeda dengan hubungan percintaan lainnya.
Bagaimana mungkin, jika wanita yang benar-benar baik itu bisa berselingkuh dengan Seno yang merupakan sahabat baik Arlan, dan menolong duda beranak satu itu saat menjalani kehidupan didalam penjara selama tiga bulan.
Hubungan beberapa tahun silam antara Seno dan Yasmin ...
Liberti menoleh kearah Yasmin yang menangis tersedu-sedu, memohon pada sang Mama untuk segera mengeluarkan Arlan dari penjara ...
"Ma, Yasmin mohon! Keluarkan Arlan, kami melakukannya atas dasar cinta. Dia tidak memaksa ku, aku sangat mencintai Arlan, Ma ..." tangisnya pecah di kaki Liberti.
Akan tetapi, Liberti menendang Yasmin sekuat tenaga, dihadapan Utama, juga Raline kala itu.
"Anak tidak tahu di untung kamu! Bukankah selama ini Mama sudah menjodohkan kamu dengan sahabat Papa! Apa salahnya kamu menjadi wanita kesembilan bagi pria tua itu, yang penting kamu hidup dalam kemewahan, serta cukup. Daripada kamu harus hidup sengsara bersama pria miskin itu!" ucapnya sarkastik.
Yasmin hanya bisa pasrah, dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Sementara pria yang telah merenggut kehormatannya, sudah mendekam di penjara selama satu minggu.
"Apa yang harus aku lakukan ...? Aku harus menemui Seno, karena hanya dia yang aku miliki kali ini, untuk mencurahkan semua isi hatiku ..." tangisnya dalam kesendirian.
Tidak pikir panjang, Yasmin yang masih bersekolah kelas tiga sekolah menengah atas tersebut, menghubungi Seno sahabat dekat Arlan yang sangat baik padanya, melalui telepon koin pada zamannya. Usia yang terpaut 18 tahun, membuat kenyamanan gadis muda nan cantik rupawan pada pria dewasa kala itu, semakin menggebu-gebu.
Ditambah perhatian Seno sangat besar, namun kisah cinta jarak jauhnya bersama Lily yang saat ini menjadi istrinya, membuat dia lebih leluasa untuk mengambil keuntungan dari kasus Arlan, tanpa memikirkan dampak akibatnya.
Atas dasar kenyamanan itu, membuat benih-benih cinta antara Yasmin dan Seno semakin terbuka lebar.
Kedua-nya sering menghabiskan waktu di kosan Seno, karena Lily menjalani pendidikan di negeri seberang kala itu.
Entah apa yang ada dalam benak Seno saat pertama kali menyentuh Yasmin yang masih sangat polos. Hanya karena perasaan kasihan Seno sering bertemu dan bercerita tentang pasangan masing-masing, dan sama-sama berdoa untuk mengharapkan satu keajaiban agar Arlan dapat keluar dari penjara, tentu tanpa sepengetahuan Keluarga Yasmin ...
"Sen ... Apa yang kita lakukan, aku sudah mengkhianati Arlan, tapi aku juga memiliki perasaan pada mu? Bagaimana jika aku hamil anak, kamu?" tangis Yasmin, saat tubuh Seno terkulai lemas diatasnya.
Seno mengecup lembut bibir Yasmin, "Menikahlah dengan Arlan, kita harus menjaga perasaannya, karena dia telah berjuang untuk mu, sehingga ahh ... Biarlah cinta kita menjadi satu kenangan terindah, Yasmin. Karena kamu tahu sendiri, aku dan Lily sudah bertunangan ..."
__ADS_1
Yasmin mengangguk, memeluk erat tubuh kekar Seno, yang lagi-lagi memompanya dibawah sana ...
"Ahh ..."