Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Takdir


__ADS_3

Hari ini, kau berdamai dengan dirimu sendiri. Kau maafkan, semua salah ku ampuni diri ku. Hari ini, ajak lagi diri mu bicara mesra ...


Berjujurlah ... Pada dirimu, kau bisa percaya. Maafkan semua yang lalu


Ampuni hati kecilmu. Luka, luka, hilanglah luka. Biar tent'ram yang berkuasa.


Kau terlalu berharga untuk luka. Katakan pada dirimu, semua baik-baik saja. Bisikkanlah, terima kasih pada diri sendiri. Hebat dia, terus menjagamu dan sayangi mu. Suarakan, bilang padanya, jangan paksakan apa pun. Suarakan


Ingatkan terus aku makna cukup.


Detik waktu terasa berhenti berputar, seketika denyut nadi tak lagi berdetak ... Cinta, yang dulu pernah bersemi ... Kini layu, pupus sudah kesempatan untuk bertemu ... Tak ada lagi senyuman mu, tak ada lagi tawa canda penuh keindahan seperti dulu ...


Shinta masih menatap nanar wajah Dokter Salim yang tiba-tiba berhenti memompa dada Leon. Seketika ia menggeleng pelan, air matanya tak kunjung berhenti mengalir ...


"Eng-enggak Dok! Le-le-leon tidak mungkin pergi meninggalkan aku! Leon enggak mungkin ninggalin Shinta!"


Tidak banyak bicara, Dokter Salim mengangguk sebagai isyarat bahwa Leon Alendra dinyatakan meninggal dunia.


Pekikan Shinta kembali terdengar di ruangan ICU rumah sakit Mount Elizabeth yang tampak semakin hening, tanpa Arlan, tanpa Seno, tanpa Raline ataupun Mama Liberti ...


Lily yang telah menemani Leon pasca operasi selama satu minggu turut berteriak keras. Tangannya mengepal kuat, menganggap bahwa takdir baik tidak berpihak padanya, sehingga tidak sedikitpun memberikan waktu beberapa hari lagi untuk merawat Leon kala pria muda itu terjaga.


Hancur, kehilangan, bahkan separuh nafas kedua wanita itu seakan ikut melayang. Ingin sekali mereka ikut pergi untuk menyusul Leon, memanggil agar kembali, hanya ingin mengucapkan satu kata 'maaf'.


Pria yang tidak pernah merasakan kebahagiaan sempurna, selain memiliki istri baik, mau merawatnya sepenuh hati seperti Shinta, walau harus menjalani pengkhianatan dalam pernikahan itu sendiri.


Kini Leon telah pergi untuk selamanya, setelah gagal di rawat oleh Seno sang ayah biologis, pasca menjalani pencangkokan ginjal dan hati beberapa tahun lalu, yang ternyata semua biaya pengobatan berdasarkan uang dari peninggalan Yasmin, yang pernah ia titipkan kepada laki-laki itu sebelum menutup mata.


Shinta masih mendekap tubuh kaku dan dingin itu untuk terakhir kalinya. Ia tak kuasa membendung rasa penyesalannya.


"Maafkan aku, Leon! Maafkan Shinta, jangan bawa luka ini sendiri. Kamu tetap pria hangat yang selalu berbuat baik padaku. Aku minta maaf, Leon ..."


Cukup lama mereka berada di ruangan ICU rumah sakit Mount Elizabeth, hanya untuk menantikan kehadiran Arlan.


Lebih dari enam puluh menit, menunggu kedatangan Arlan. Pria yang sejak tadi merasa gelisah tak karuan, bahkan ingin sekali ia terbang dari Jakarta menuju Singapura, karena merasakan sesuatu yang sangat menakutkan untuk ia hadapi.

__ADS_1


Benar saja, ketika pintu mobil terbuka lebar didepan loby rumah sakit, Arlan berhambur mencari ruang ICU yang berada di lantai tiga.


Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika melihat pintu ruang ICU sudah terbuka lebar, sebagai tanda bahwa pasien yang berada didalamnya sudah pergi untuk selamanya. Agar pihak keluarga, dapat melihat jenazah yang terakhir kalinya.


Dada Arlan seperti berhenti berdetak, ketika akan melangkahkan kaki mendekati ruangan yang dipenuhi alat-alat medis, tampak sunyi, menyisakan isak tangis kedua wanita yang masih berselimut duka.


Betapa tidak menyangka nya seorang Arlan, ketika melihat anak yang ia besarkan sedari kecil kini terbaring kaku, tanpa mengenakan sehelai benangpun, dengan peralatan medis telah terlepas dari tubuh rapuh Leon Alendra.


Mata Arlan terpejam, menahan rasa sakit, yang semakin dalam karena telah kehilangan Leon untuk selamanya.


Bergegas Arlan mendekati Salim, masih berdiri di sana, merupakan salah seorang dokter terbaik di sana, setelah Dokter Yosi menyatakan pindah ke negara asalnya, untuk menangani Leon seminggu lalu.


Ini bukan sekedar biaya, tapi menyelamatkan jiwa anak manusia, yang telah diacuhkan oleh Seno dan keluarga Liberti selama ini.


Arlan menatap sendu kearah Salim, bertanya dengan suara bergetar berat, "Kenapa kau tidak bisa menyelamatkan anak ku, Dokter?"


Salim menundukkan kepalanya, meletakkan tangannya didada, menjawab dengan sangat hati-hati, "Maaf Tuan Arlan, penyakit Putra Anda selama tiga tahun ini sangat memprihatinkan. Sel kanker telah menggerogoti paru-paru juga bagian reproduksi dalamnya. Biasanya, Anda selalu merawat Leon selayaknya di rumah sakit, tapi selama beberapa bulan kesini, saya rasa beliau tidak mendapatkan perhatian lebih seperti Anda merawatnya. Saya mohon maaf, kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Sekali lagi, saya turut berdukacita, atas kepergian putra pertama Anda."


Seketika bumi terasa berguncang, bahkan pandangan Arlan seketika berkunang-kunang. Ia tidak menyangka, akan terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Leon selama ini, sehingga anaknya tidak mampu bertahan untuk hidup.


Arlan berteriak keras, ketika mendekati tubuh kaku Leon, mengusap lembut wajah tampan yang dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang dan cinta. Mata yang tertutup rapat, wajah pucat tak berdarah lagi, membuat Arlan benar-benar menangisi kepergian Leon.


Entahlah, hati Arlan enggan untuk berdamai, dadanya bergemuruh, bahkan berkecamuk yang bercampur aduk, sehingga bergumam dalam hati, "Keparat kau, Sen! Kau acuhkan putra ku! Aku akan melakukan apapun, untuk menghancurkan mu, Seno ..."


Isakan, raungan saling bersahutan, membuat Lily tersadar, "Leon sudah sembuh, Leon sudah bahagia menyusul Yasmin sang Mami yang lebih dulu menghadap Ilahi ..." batinnya.


Perlahan Lily, mengusap lembut punggung Shinta, hanya untuk menguatkan wanita muda yang ternyata memiliki hati yang sangat baik, sambil berkata, "Jangan menangis lagi. Leon sudah tenang. Sekarang saatnya kita menyelesaikan semua tanggung jawab yang masih tersisa, setelah Leon di semayamkan."


Shinta mengangguk, kembali ia mendekap erat tubuh Lily. Kali ini ia benar-benar tidak ingin meratapi kepergian Leon, karena pria itu sudah tenang di alam yang berbeda.


Penyesalan terdalam antara Shinta dan Arlan tampak terlihat jelas dari raut wajah mereka. Telah menyakiti bahkan mengkhianati Leon, walau sesungguhya pria muda itu bukan anak kandungnya, tapi pengkhianatan dalam pernikahan itulah yang menjadi tamparan terbesar bagi kedua-nya.


Arlan memutuskan untuk memakamkan Leon di sandiego hills yang berada di Karawang, agar berdekatan dengan Almarhum Yasmin.


Tidak banyak bicara, Shinta meng'iya'kan keputusan Arlan untuk ikut menemani pemakaman Leon.

__ADS_1


"Bi, maafkan Shinta," isaknya ketika bersitatap dengan sang suami tercinta.


Arlan mengusap wajahnya berkali-kali, "Bukan kamu yang salah, sayang. Tapi aku, aku yang seharusnya minta maaf pada mu. Sebenarnya aku ingin membawa dia kembali ke Cina. Agh ... entahlah! Aku telah mengacuhkan Leon selama tiga tahun. Setidaknya saat ini, aku merasa tenang karena aku berhasil membawanya pergi dari Seno! Dan aku akan memberi kabar duka ini pada mereka, setelah itu mereka akan menanggung semua akibat dari semua yang mereka lakukan!"


Kedua-nya saling berpelukan, mendekati jenazah Leon, yang tampak tenang, dengan mengirimkan doa-doa agar diberi tempat terbaik untuk pria muda nan manja itu.


Semua media kembali memberitakan, tentang kabar duka itu ...


[Innalilahi wa innailaihi rojiun ... Telah berpulang ke Rahmatullah Leon Alendra Arlan, pukul 14.45 waktu Singapura. Karena sakit yang ia derita selama ini. Jenazah akan disemayamkan di Sandiego hills Karawang, pukul 10.00 waktu Indonesia bagian barat ...]


.


Kabar duka yang muncul di semua media cetak, televisi, hingga media online terdengar di telinga keluarga besar.


Termasuk Seno dan Raline yang tengah menghabiskan waktu bersama di rumah kontrakannya, ketika akan melakukan hal mesum itu kembali.


"Kenapa barang mu tidak bisa bangun lagi, Sen!" hardiknya, ketika akan memasukkan benda yang enggan terjaga itu.


"I-i-iya, bagaimana aku bisa bangun Raline, tangan ku masih sakit karena perbuatan Arlan."


Mendengar Seno masih mengeluh akan tangannya yang berselimutkan perban itu, Raline mendengus dingin, mengambil remote untuk menyalakan televisi kecil yang ada di rumah kecil itu.


Betapa terkejutnya mereka berdua, mendengar berita kematian Leon, membuat Raline melontarkan kata-kata kasar kepada Seno ...


"Kenapa Leon bisa berada di Singapura, Sen?" Pekiknya lantang, "Apa yang telah kau lakukan? Apa yang kau berikan kepada keponakan aku, Sen!? Dasar bapak jahanam kau! Merawat satu anak saja tidak bisa, bangsaat kau, Sen!"


PLAK ...!


PLAK ...!


"Seharusnya kau yang mati! Bukan Leon!" teriaknya lantang menahan isak tangis.


Seno bertanya dengan kedua bola mata melotot besar, "Ke-ke-kenapa aku yang salah Raline!?"


"Ya, jelas kau yang salah! Karena selama ini kau yang merawatnya! Dasar laki-laki tidak berguna!" umpatnya lagi dengan mata berkaca-kaca, berlalu pergi meninggalkan kediaman Seno yang masih ternganga dalam penyesalan.

__ADS_1


Seno menundukkan kepalanya, menutup wajah itu dengan telapak tangannya, "Maafkan Daddy, Leon! Daddy akan menghadiri acara pemakaman mu, karena ahli waris, pasti jatuh ke tangan ku, sebagai ayah biologis ..."


__ADS_2