Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Menginginkan dua pria ...


__ADS_3

Matahari bersinar terang, menyinari kota metropolitan, dengan hiruk pikuk kehidupan kota besar yang sangat sibuk. Arlan tengah tertidur di ranjang bersama Baby Sandy, membuat Shinta tersenyum sumringah saat melihat anak dan ayah itu saling berpelukan.


"Bi ..." bisik Shinta perlahan, saat mengusap lembut lengan Arlan.


"Hmm ..."


"Shinta ke supermarket bawah dulu sebentar, mau membeli beberapa kebutuhan Sandy juga aku. Kita berangkat jam berapa?"


"Aku ngantuk, kamu belanja saja dulu. Jangan lupa buatin sarapan, minta tolong Surti saja. Aku tidur jam 05.00 masalahnya, saat Sandy rewel minta susu terakhir," jelasnya dengan mata terpejam.


Shinta mengecup lembut kepala Arlan, kemudian tersenyum sumringah menoleh kearah Sandi yang tampak masih tenang dalam dekapan Arlan.


"Shinta pergi yah, Bi ..."


Arlan tidak menyahut. Dia melanjutkan tidurnya, karena merasa lelah, dan memilih untuk beristirahat sebelum meninggalkan Jakarta.


Shinta memberikan perintah kepada Surti, meminta membuatkan masakan rumahan saja, sesuai permintaan Arlan. Bergegas ia meninggalkan apartemen, menuju supermarket yang berada di lantai dasar, gedung apartemen tersebut.


Cukup lama Shinta berkeliling, membawa satu troli sedang, dan memilih beberapa perlengkapan Baby Sandy, serta perlengkapan pribadinya.


Saat telah lama berjalan-jalan seorang diri, mencari semua kebutuhannya, Shinta melangkah menuju kasir. Dia hanya fokus pada belanjaannya, tanpa menoleh kearah lain.


Namun, ketika kasir menyebutkan nominal belanjaannya, seorang pria menyodorkan black card pada kasir wanita tersebut, dan langsung tersenyum untuk melakukan pembayaran secara debit.


Shinta menoleh kearah pria muda, yang berperawakan tinggi, gagah, bahkan sangat tampan. Bulu mata tebal, namun ia sangat tahu dari sorotan mata pria tampan tersebut ...


"Le-on ... Nga-nga-ngapain kamu kesini? A-a-a-apa yang kamu lakukan ...?" tanyanya sambil menggeram, bahkan semakin terpesona melihat ketampanan seorang suami sempurna tampak nyata.

__ADS_1


Berkali-kali Shinta mengusap bahkan mengerjabkan kedua bola matanya, untuk meyakinkan penglihatannya.


"Hmm ... Bisa kita bicara? Kebetulan ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan pada mu?"


Shinta tak kuasa untuk menolak, ia bahkan tidak mampu berkata-kata lagi karena sangat sulit untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Shinta mengikuti langkah kaki Leo, yang dengan tenang menggandeng tangannya, membawa belanjaan, untuk meninggalkan supermarket tersebut.


"Leon, kita mau kemana? Aku tidak ingin meninggalkan Papi, karena Sandy butuh aku!" tolaknya, saat Leon membukakan pintu mobil yang ada di parkiran, dan meletakkan semua belanjaan Shinta di dalam bagasi.


"Masuklah ... Aku hanya meminta waktu mu selama dua jam. Tidak lama!" perintahnya, tidak ingin di bantah.


Shinta hanya mengangguk, ia tidak banyak membantah, namun mengikuti semua perintah Leon, memasuki mobil sport buatan Eropa itu, tanpa harus memikirkan Arlan.


"Setidaknya aku harus menyelesaikan semua urusan ku dengan Leon, sebelum meninggalkan Jakarta. Jadi aku tahu, apa yang akan menjadi keputusan terbaik, demi masa depan ku ..."


Berkali-kali Shinta menelan ludahnya, karena benar-benar terkesima melihat wajah pria muda yang sangat tampan hadir dihadapan nya.


"Ki-ki-kita mau kemana?"


"Hotel!"


Shinta terdiam, jantungnya berdegup kencang, bahkan seperti di remas, karena perasaan gugup yang akan terjadi jika berada didalam kamar hotel bersama pria yang masih berstatuskan sebagai suaminya itu.


"Le-Le-on ... Ini tidak mungkin! Aku sama Papi tidak mungkin berpisah. Jangan pernah berharap lebih dari ku, walau sebenarnya aku sangat merindukan kamu saat ini!"


Leon menghentikan kendaraannya, dia tersenyum sumringah, menatap lekat wajah cantik Shinta yang langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.

__ADS_1


"Apa benar kamu sangat merindukan aku? Aku sangat mencintaimu, Shinta. Aku ingin merasakan hangatnya pelukan mu, sentuhan mu. Please ... Untuk yang terakhir kalinya ..."


Shinta menggelengkan kepalanya, tidak menyangka bahwa Leon akan mengatakan hal seperti itu.


"Ki-ki-kita sudah berpisah sejak kamu pergi meninggalkan aku, Leon. Benahi hidup mu, tinggalkan aku, karena Papi Arlan dan putra kami membutuhkan aku!"


Leon menyela ucapan Shinta, "Tapi kamu masih menjadi istri ku, Shinta. Sampai saat ini aku sangat berharap kamu akan kembali ke pelukan ku. Aku menginginkan mu. Sekali saja, please ... Setelah ini, kita berpisah!" tegasnya.


Shinta terdiam, jantungnya semakin berdegup kencang, karena merasakan kehangatan tangan Leon yang langsung memeluknya.


Ada perbedaan antara Leon dan Arlan. Dekapan yang hangat, menjanjikan satu kelembutan, dan membuat semua itu semakin berbeda, sehingga memberikan kenyamanan luar biasa dalam perasaannya.


Perlahan Leon, menautkan bibirnya, tanpa permisi, hanya untuk meyakinkan perasaan Shinta yang tidak pernah berubah padanya.


Benar saja, Shinta menyambut bibir Leon dengan kecupan manis, lembut dan sangat khas. Tatapan penuh kerinduan, sangat berbeda dengan beberapa bulan lalu saat Leon masih dalam tahap pengobatan dan cuci darah. Tidak ada aroma tidak sedap, melainkan nafas yang terasa segar, membuat ia tak kuasa untuk menolak lagi.


Leon tersenyum sumringah, menatap mata wanitanya yang sudah tertutup dan terlena, membuat ia semakin yakin bahwa Shinta juga menginginkan nya.


Perlahan Leon melepaskan ciumannya, dengan berkata, "Jangan tinggalkan aku, Shinta. Karena kamu istri ku. Aku memiliki tabungan yang cukup, kita bisa pergi meninggalkan Papi, kamu bisa membawa Sandy untuk hidup bersama ku di Cina. Aku benar-benar tak kuasa harus kehilangan mu. Tolong aku, aku membutuhkan mu ..."


Shinta ternganga lebar, mendengar penuturan Leon yang tampak memohon padanya, "Ti-ti-tidak Leon, aku benar-benar bingung saat ini. Aku tidak ingin menyakiti hati Papi Arlan ... Tapi eee a-a-a-aku hmm, a-a-a-aku juga masih menginginkan mu. Menginginkan sentuhan kamu yang sangat berbeda, ta-ta-tapi rasanya tidak mungkin," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.


Leon mengehela nafas dalam-dalam, "Pergilah, dan tunggu aku lusa di bandara Singapura. Aku akan menunggu kedatangan mu di sana. Tanpa harus memberi kabar padamu. Ini demi keluarga kita, Papi harus menikah dengan wanita lain. Bagaimanapun Keluarga Mami tidak akan pernah bisa melepaskan Papi, Shinta. Percaya atau tidak, kamu akan menderita jika hidup bersama Papi ...!"


Shinta terdiam, berkali-kali dia mengehela nafas panjang, kali ini dia berada dalam pilihan yang sulit. Ia menginginkan Arlan, juga menginginkan Leon yang tampak lebih tenang juga segar saat ini.


"Ini gila! Tidak mungkin aku menginginkan dua pria sekaligus. Aku menginginkan Arlan, tapi aku juga terlarut dalam perasaan bersama Leon. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan ...? Apakah aku harus membawa Sandy bersama Leon, dan meninggalkan Arlan? Apa yang akan terjadi jika Arlan menemukan kami ...? Oogh ... Mengapa perasaan ku menjadi seperti ini ..." teriaknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2