
Di dalam kamar yang luas itu, Arlan masih memeluk tubuh Shinta, hanya untuk sekedar menenangkan perasaan wanita yang telah memberikannya satu orang baby.
Ya, kini dua insan itu berjanji tidak akan pernah terpisahkan, kedua-nya saling berpelukan tanpa mau membicarakan hal yang baru saja terjadi.
Perlahan Arlan menangkup wajah cantik wanita-nya, mengecup lembut bibir basah Shinta dengan penuh perasaan bersalah dan sayang, "Maafkan aku, sayang. Bersiaplah, kita akan berangkat ke Singapura."
Dengan wajah penuh senyuman, Shinta mengangguk pelan, beranjak dari pangkuan Arlan yang sejak tadi tidak ingin melepasnya.
"Bi, bagaimana jika wanita itu datang lagi ke apartemen kita yang di Singapura? Aku takut, Bi. Aku tidak ingin ada pengganggu lagi diantara kita. Aku mencintai Bibi," ucapnya, kembali memeluk erat tubuh Arlan yang masih duduk di sofa kamar mereka.
Sejujurnya ada kegetiran didalam hati Arlan untuk membawa Shinta saat ini. Perasaannya semakin tidak tenang, sejak Raline pergi meninggalkan kediamannya, membayangkan bahwa akan ada penyerangan selanjutnya dari Liberti yang tidak ingin melihat anak kesayangannya terluka.
Benar saja, disaat pikiran Arlan masih bercampur aduk, tiba-tiba asisten apartemennya, memanggil pria gagah itu dengan nada sedikit berbisik.
"Pak, Pak Arlan, ada Mas Leon sama Nyonya Liberti ..."
Mendengar kedua nama manusia itu disebut, dada Arlan semakin bergemuruh bahkan ingin sekali dia membawa Shinta keluar dari Jakarta saat itu juga.
"Sayang, cepatlah bersiap-siap! Aku akan menyelesaikan semua urusan ku dengan mereka! Dasar keluarga tidak tahu malu! Suka sekali memaksa sejak dulu ..." geramnya dengan rahang mengeras.
Melihat pujaan hatinya, menggeram kesal, Shinta sedikit menjauhkan tubuhnya dari Arlan, karena tidak ingin melihat wajah kejam seorang Arlan Alendra.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Arlan beranjak meninggalkan kamarnya, setelah memastikan pada Shinta agar tidak keluar dari kamar itu.
Kedua bola mata Arlan melotot, menatap Leon yang tampak berubah setelah bergabung dengan Liberti juga Raline.
"Ogh shiiit! Apa yang kalian inginkan dari ku! Aku tidak pernah ingin bertemu dengan kalian, silahkan pergi. Karena aku tidak memiliki waktu untuk melayani kalian!" hardiknya dengan tatapan mata tajam kearah Leon.
Liberti mendekati Arlan, mengusap lembut lengan pria itu, tapi langsung di tepis oleh Arlan.
"Aku sudah mengatakan jangan datang ataupun menemui aku! Apa tidak mengerti dengan ucapan ku!?"
Liberti sedikit melunak, ia tidak ingin Arlan pergi meninggalkan Jakarta, karena akan berdampak pada perekonomian keluarganya yang sudah menipis. Ditambah Leon, belum bisa menghasilkan uang karena masih menggantungkan hidupnya pada Arlan.
"Sayang Mama, jangan seperti ini! Mama tidak ingin kamu melampiaskan emosi yang meledak-ledak kayak sekarang. Ingat Arlan usia kamu tidak muda lagi, jangan buang-buang waktu mu hanya untuk memikirkan wanita yang tidak pernah memikirkan perasaan kamu. Lebih baik kamu menikah dengan Raline, sayang. Karena Mama tidak mau kehilangan menantu seperti mu!" bisiknya lembut ditelinga Arlan, membuat wajah tampan itu semakin berang.
Leon yang mendengar penuturan Arlan, mencoba untuk memohon pada pria itu, "Pi, jangan lakukan ini pada Oma. Ternyata Oma mengalami kebangkrutan pada saham yang baru saja ia beli. Tolong Pi, jangan sampai kami hidup kekurangan, karena akan berdampak pada kesehatan aku!"
Arlan tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Leon, "Yang meminta mu untuk ke Cina itu Seno, bukan aku, Leon! Tapi kau membawa uang Yasmin, untuk pergi meninggalkan aku dan Shinta. Jadi jangan sombong jika kau tidak mampu untuk berdiri sendiri. Sekarang silahkan tinggalkan kediaman ku! Karena aku tidak sudi melihat kalian lagi!"
Tidak ada rasa kasihan dihati Arlan saat ini, ketika mata Liberti benar-benar memohon menatap kearahnya. Tak terbayangkan oleh Liberti bahwa jika semua terbongkar, maka karamlah sudah kapal kesombongan mereka, yang selama ini mengelu-elukan bahwa Arlan merupakan menantu kesayangan yang akan turun ranjang kepada beberapa kolega bisnis mereka.
Semua telah terjadi, tidak ada rasa kasihan dihati Arlan terhadap Leon, walau dia pernah merawat anak yang ia anggap buah cintanya bersama Yasmin semenjak kecil hingga berusia 20 tahun.
__ADS_1
Rahasia yang tertutup rapat, saat wanita cantik itu masih hidup, membuat semua keluarganya, merasakan kebahagiaan memiliki menantu seperti Arlan.
Sapi perah, mungkin kalimat inilah yang cocok di predikat kan kepada Arlan, selama Yasmin masih hidup di dunia.
Kebencian yang selalu di utarakan Yasmin padanya kala itu, hanyalah kamuflase agar pria polos itu, memberikan ruang padanya untuk terus menghabiskan waktu bersama Seno Prayoga Anggoro.
Jahat, mungkin pikiran itu yang ada dibenak Arlan saat ini untuk Yasmin. Wanita muda yang gampang terbuai oleh pesona Seno, dan rela mengkhianati suami sendiri hanya untuk membahagiakan keluarganya sebagai bentuk balas budi seorang anak kepada orang tua, karena tuntutan Liberti yang terbiasa hidup mewah.
Kali ini tidak ada pilihan, lagi-lagi kedatangan Liberti tidak memiliki pengaruh apapun untuk Arlan. Pria mapan itu, justru tidak peduli lagi dengan kesehatan Leon. Kesehatan yang selama ini menjadi kunci utama bagi mereka berdua, kini hanya tinggal kenangan semu yang tidak akan pernah kembali lagi.
Arlan mengusir Liberti dan Leon bak binatang peliharaan yang sangat menjijikkan, membuat wanita paruh baya itu tidak ada pilihan lain selain menuruti semua perintah menantunya itu, yang kini sudah menjadi mantan.
"Arlan, tolong jangan lupakan tanggung jawab mu pada Leon! Mama mohon, demi kesehatannya Arlan!" pekik Liberti, dengan nada suara yang melengking.
Arlan tertawa kecil, mendengar permohonan Liberti, "Hmm, baik. Jika benar anak ini minta pertanggungjawaban dari ku! Suruh dia meminta maaf pada mantan istrinya! Hanya itu syaratnya! Jika tidak, aku tidak peduli, dia mau mati atau hidup, bukan urusan ku! Karena pasti Seno yang menangisinya, bukan aku. Sama halnya ketika Yasmin pergi, justru pria laknat itu yang terus memeluk ku! Apa Mama melupakan itu?" bentak Arlan dengan nafas tersengal-sengal jika mengenang semua kisah yang menyakitkan dirinya.
Liberti menangis, "Tapi Shinta sudah mati Arlan, Shinta tidak ada di penjara. Kami sudah mencarinya, tapi kami belum menemukan dia, Arlan. Mama mohon ..."
Masih terdengar raungan Liberti yang sangat memekakkan gendang telinga penghuni apartemen, membuat Leon memapah tubuh wanita paruh baya tersebut.
"Lakukan apa yang aku pinta!" tolak Arlan pada tubuh dua orang yang pernah menjadi bagian hidupnya, kemudian membanting pintu utama dengan sangat keras ...
__ADS_1
BRAK ...!