
Setelah menghabiskan waktu di toko perhiasan, Shinta menarik tangan suaminya menuju toko roti kesukaan Sandy. Ia memesan beberapa macam jenis roti yang berisikan cheese sesuai kesukaannya juga putra kesayangannya yang masih berusia lima tahun.
"Bibi mau yang mana? Yang ini?" Tunjuk Shinta pada roti berisikan beef dan abon ikan salmon, yang diangguki setuju oleh Arlan.
Arlan menempelkan dagunya di bahu Shinta, hanya untuk mencium aroma wangi yang menguar dari tubuh ramping itu membuat tangannya kembali aktif.
Shinta mendengus, "Bibi ... masih di mall. Bisa nunggu kita di rumah, enggak!"
Perlahan Arlan hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menghirup dalam cerug leher yang sangat mulus itu, "Cepat sayang. Kalau sudah di rumah, pasti Sandy akan berhambur memeluk ku dan mengajak ku bermain. Kita tidak ada waktu untuk berdua. Aku masih merindukan mu, sayang!" rengeknya meracau bak seorang anak kecil.
Shinta menoleh kearah Arlan, hanya bisa menghela nafas berat karena tidak menyangka bahwa pria berusia 49 tahun itu semakin menggemaskan. "Bibi, aku malu. Tolong jaga sikap mu, karena kita masih ditempat umum. Lagian punya aku masih sakit, Bibi."
Dengan gontai Arlan menuju kasir untuk membayar semua belanjaan Shinta. Sambil mengeluarkan black card-nya ia bergumam dalam hati, "Aku tidak akan memberikan mu ruang untuk mengenakan underwear, sayang ..."
Bergegas Arlan beranjak dari kasir, untuk menghubungi driver-nya agar mempersiapkan SUV miliknya, yang telah di modifikasi selayaknya kamar minimalis nan mewah untuk mengganti suasana bercinta mereka berdua.
"Baik Tuan! Dua puluh menit lagi saya akan tiba di loby mall!"
Senyuman Arlan mengembang lebar, ketika melihat Shinta tengah berlari kecil mendekatinya, memberikan paper bag itu padanya, kemudian menarik tangan itu ke tempat yang menjual produk kesehatan.
Lagi-lagi Arlan dibuat mabuk oleh kelakuan Shinta yang memberikan semua barang belanjaan kepadanya. Membuat ia semakin berdecak kesal, karena seumur hidup baru kali ini membawa banyak belanjaan milik seorang wanita.
Kembali Arlan menghubungi dua pengawalnya untuk meminta bantuan, tapi ditepis oleh Shinta yang langsung merebut benda pipih itu dari tangan suami tercinta.
Arlan terkejut, melihat nanar kearah Shinta, karena ia berfikir bahwa yang merebut handphone miliknya adalah maling, "Kamu! What are you doing, Shi-n-ta!"
Dengan demikian, Shinta mendekatkan wajahnya lebih dekat, hanya untuk sekedar mengusap lembut wajah tampan itu. "Kalau bibi sayang sama aku, jangan meminta bantuan pada siapapun untuk membawakan semua belanjaan ku!"
__ADS_1
Mendengar penuturan seperti itu, Arlan menggeleng, "Come on baby. Aku hanya ingin menggandeng tangan mu. Aku tidak suka membawa belanjaan wanita sebanyak ini, sayang!" rengeknya seraya memohon.
Shinta tertawa kecil, mendengar celotehan Arlan, "Baiklah. Berikan pada mereka, tapi kita makan di restoran yang sangat mahal. Aku ingin kita menikmati segelas wine, dan setelah itu kita pulang. Sandy pasti telah menunggu kita."
Arlan mengangguk patuh, kembali ia terkenang akan kesalahannya terhadap Shinta. Kemudian langsung mengikuti semua keinginan wanita itu, sebelum melahapnya hingga tidak bisa berjalan.
"Bibi!" Shinta kembali memanggil Arlan, karena langkahnya semakin jauh dari sang suami kesayangan.
Senyuman Arlan kembali mengembang lebar, melangkah mendekati Shinta, dan merangkul pinggang wanita itu memasuki sebuah restoran khas Jepang yang sangat mewah.
Salah satu pelayan menunduk hormat kepada pasangan suami istri itu, menyapa mereka dengan sangat hangat, "Selamat sore menjelang malam Tuan. Apakah kami akan mempersiapkan private room?"
Arlan menganggukkan kepalanya, kembali tangannya merangkul pinggang Shinta menuju ruangan yang sangat tertutup.
Terdengar alunan musik khas negeri sakura ketika pintu itu bergeser dan memberikan suasana yang benar-benar membuat mereka berada di Jepang. Shinta langsung membalikkan badannya, hanya untuk sekedar meyakinkan dirinya karena disuguhkan dengan kemewahan juga romantis ditempat yang sangat berbeda.
"Bibi, kita berada dilantai berapa?"
"Entahlah, yang pasti restoran ini merupakan salah satu tempat favorit ku bersama beberapa klien perusahaan kita. Dan aku rasa tempat ini cocok untuk kita berkencan, selayaknya anak muda. Aku hanya ingin membawa mu ke tempat yang aku kunjungi tanpa kamu selama lima bulan ini, sayang," kecupnya pada kepala Shinta, kemudian membawanya ke tempat lesehan yang telah tersedia dari bambu yang desain dengan sangat elegan.
Shinta masih tidak percaya, bahwa selama mereka berjauhan, Arlan masih terus mengingatnya. Perlahan ia meraih tangan Arlan yang berada di atas meja, sambil berkata dengan mata berkaca-kaca, "Bibi ... maafkan aku, tidak ada sedikitpun niatku untuk menyakiti Bibi. Aku benar-benar minta maaf."
Arlan tersenyum manis kemudian mengecup lembut tangan mungil yang halus, dan tampak masih terawat dengan warna kuku senada dengan dress yang dikenakannya.
"Aku sudah memaafkan mu, sayang. Bagiku, kamu merupakan wanita terbaik yang aku miliki. Aku tidak pernah bisa melupakan mu, Shinta. Terimakasih sudah setia padaku, walau sesungguhnya aku tidak sempurna untuk mu."
Shinta seperti melayang terbang karena rayuan Arlan, yang sangat menyejukkan jiwanya. Ia tak pernah peduli dengan sikap gila Raline, baginya pria mapan itu benar-benar mencintainya.
__ADS_1
Walau pada awalnya sangat membingungkan karena kehadiran Leon, namun Arlan masih mengharapkannya, dan tak pernah meninggalkan hubungan mereka begitu saja. Shinta bisa dikatakan wanita paling beruntung, bisa di cintai sepenuh hati oleh seorang crazy rich seperti Arlan Alendra.
.
Ditempat yang berbeda, Raline justru tengah merengek pada Stefan. Karena kerusakan pada wajahnya sangat meresahkan.
"Sayang, bawa aku ke Jerman atau Italia untuk operasi plastik! Apa kamu tidak malu membawa aku kesana kemari dengan bekas jahitan di bibir ku. Lihat ini, pipi ku benar-benar rusak."
Tanpa banyak bicara, Stefan menganggukkan kepalanya, "Kapan kamu mau kita berangkat ke Eropa? Besok atau lusa? Sepertinya besok malam lebih baik, karena pekerjaan ku sudah selesai. Ada lagi sayang ku, Raline?"
Raline duduk dipangkuan Stefan, memeluk tubuh pria bule itu sambil terus menangis karena tidak bisa mencium sang suami, karena masih dibalut dengan perban.
Stefan yang mendengar suara tangis istri mudanya itu, sangat memahami bagaimana Raline padanya. Nafsu Raline yang memang diatas wanita normal, sangat diakui oleh pria tua tersebut.
Perlahan Stefan membaringkan tubuh Raline di sofa, untuk memberikan kebahagiaan pada wanita berusia 38 tahun tersebut.
Tentu saja sentuhan-sentuhan Stefan membuat Raline menuntut lebih banyak, tanpa menghiraukan rasa sakit akibat ulah Shinta yang menghajarnya dengan tongkat baseball.
Kembali Raline menoleh kearah cermin yang menghiasi kamar mewah itu, ketika Stefan membuka lebar pahanya hanya untuk sekedar memberikan kepuasan pada sang istri, menggunakan sapuan lidah pria tua itu.
"Ahh sayang, jangan seperti itu! Lakukan lebih kasar seperti Arlan memperlakukan aku," errangnya tanpa memikirkan perasaan Stefan.
Dengan sigap Stefan menghentikan kegiatannya, mendengus dingin, kemudian melemparkan underwear milik Raline ke wajahnya. "Wanita sialan! Lebih baik kau mendekam di penjara! Karena hanya nama Arlan yang selalu kau sebut. Lebih baik besok kau pergi bersama istri kedua ku, Karmen. Karena aku tidak ingin menemani mu!" Sesalnya, langsung beranjak keluar dari kamar mencari istri ketiga-nya yang lebih penurut dan patuh.
"Sama saja aku menyelamatkan seorang wanita jallang yang tidak tahu diri ...!" umpat Stefan ketika berada didepan pintu kamar istri keempatnya.
Raline terpekik, dia tidak menyangka bahwa Stefan akan memperlakukannya dengan sangat buruk, "Bangsaat kau, Stef! Aku tidak mencintai mu, aku masih mencintai Arlan. Dan aku yakin, Arlan masih menginginkan aku. Aku akan merebutnya dari Shinta jika aku bertemu lagi dengannya, tentu saja dengan cara ku ... lihat saja!"
__ADS_1