Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Sembuhkan Leon ...


__ADS_3

Matahari masih menyinari kota kembang dengan sangat terik. Tampak dari kejauhan Seno masih mencari keberadaan Leon yang tak kunjung ia temui.


Tanpa menunggu lama, Arlan yang melihat Seno keluar dari pintu rumah sakit, tempat pria itu membawa putra biologisnya berobat, membuat laki-laki gagah itu tidak dapat menahan amarah, karena merasa Seno telah menyakiti seluruh keluarganya hingga masih terasa sangat sakit hingga saat ini.


Seketika, ketika kedua-nya sudah saling berdekatan dengan mudahnya Arlan menghayunkan satu kakinya, yang ia hujamkan tepat di bagian perut Seno yang tidak segagah dulu.


BHUG ...!


BRAK ...!


Tendangan Arlan membuat Seno benar-benar terpental kelantai pintu masuk rumah sakit, membuat ia terjungkal, dan meringis kesakitan.


Dengan angkuhnya Arlan berdiri dihadapan Seno, menjongkokkan tubuhnya, sambil menepuk-nepuk pipi sahabat lamanya.


"Long time no see! Aku rasa jika kau masih berbuat baik padaku sejak awal, mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini! Hmm miris sekali aku melihat wajahmu yang jauh dari kata gagah bahkan tampan. Ogh, apakah kau kehilangan aset mu, Sen?" tawanya menyeringai bak iblis, yang akan menghujamkan pedang kematian pada sahabatnya itu.


Seno menarik nafasnya susah payah, menggeleng sebagai isyarat semua yang dikatakan Arlan itu tidak benar ...


"Ar-arlan, aku mi-min-minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku benar-benar telah berdosa pada mu. Aku tidak menyangka bahwa hidupku akan menjadi seperti ini. Aku terjebak, Lan. Aku terjebak dalam nafsu ku! Aku mohon, bantu aku sekali ini saja untuk merawat Leon!"


PLAK ...!


Satu tamparan keras Arlan berikan di wajah Seno, sebagai bentuk permohonannya.


"Tiga tahun aku berikan kebebasan padamu untuk merawat Leon! Aku sudah muak dengan semua permintaan maaf mu, yang tidak pernah merawat darah dagingmu dengan baik! Apakah begini cara seorang Ayah dalam merawat anak yang sedang sakit! Hmm?"


Matanya beralih kesesuatu yang sangat menjijikkan, membuat tangan kiri Arlan meraih satu benda yang menjadi kelemahan bagi kaum pria, kemudian meremasnya dengan sangat kuat, membuat Seno berteriak keras karena kesakitan.

__ADS_1


"Agh, Arlan! A-a-aku mo-mo-hon lepaskan tangan mu dari barang ku!" teriaknya karena tidak kuat menahan rasa sakit yang sangat menusuk jantungnya.


Arlan mendecih, mengalihkan pandangannya, mencari sosok gadis yang tengah berdiri dibelakang seorang ibu-ibu menggendong anaknya.


"Kau acuhkan Leon, hanya untuk gadis itu? Lelah kau bermain dengan almarhum Yasmin, Raline, dan Lily, kini kau mau merusak kehormatan satu wanita lagi! Pantas saja benih mu tidak pernah baik, karena perbuatan mu melebihi seorang gigolo yang kehausan akan belaian wanita! Apa kau tidak pernah sadar, bahwa sampai saat ini, Tuhan tidak memberikan mu keturunan hmm!? Rasakan pembalasan ku, Sen!"


Trak ...!


Arlan meraih satu tangan Seno yang sedari tadi menggenggam erat pergelangan tangannya. Kemudian sengaja membuat laki-laki itu semakin berteriak keras meringis kesakitan, karena Arlan telah mematahkan satu jari telunjuk sahabatnya.


"Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu! Kau sahabat terburuk yang pernah ada dalam hidup ku! Cuiih ...!" Arlan meludahi wajah Seno dihadapan para pengunjung rumah sakit yang melihat kejadian itu.


Tidak ada seorangpun yang berani melerai Arlan dan Seno, karena tiga pengawal pria gagah dan mapan itu menahan mereka yang ingin membantu Seno.


Arlan berdiri dengan gagahnya, menoleh kearah security, hanya memberikan perintah, "Kau bawa laki-laki ini masuk kedalam, suntik mati saja! Karena dia merupakan laki-laki yang tidak pernah bertanggung jawab atas perbuatannya! Cepat!" hardiknya, membuat security langsung bergerak cepat, membawa tubuh Seno yang benar-benar tampak seperti akan meregang nyawa.


Arlan menggelengkan kepalanya, dia memberikan perintah pada satu pengawalnya, agar membayar semua biaya operasi tangan patah Seno, serta semua yang membuat laki-laki itu sakit bahkan lumpuh nantinya.


Tidak ada kata maaf, tidak ada kata ampun bagi Arlan untuk Seno, karena telah membohonginya selama bertahun-tahun, bahkan memanfaatkan otak serta tenaganya, dengan meniduri Yasmin selama ia tidak berada di kota besar itu.


Kepolosan Arlan, karena sebuah kata 'percaya' membuat dia gagal menjaga kehormatan wanita yang sangat ia cintai.


Arlan berlalu meninggalkan rumah sakit, setelah memberikan cek kepada pengawalnya, hanya bergumam dalam hati, "Aku berharap kau akan mati, Sen. Atau kau lumpuh seumur hidupmu, karena aku tidak ingin melihat mu lagi ...!"


.


Ditempat yang berbeda, di bawah terangnya lampu ruang operasi, serta dinginnya berada di bangkar itu, sedang dilakukan tindakan operasi ginjal pada sosok pria yang tengah berada dalam kondisi hidup dan mati.

__ADS_1


Ya, Lily berhasil membawa Leon tepat waktu, sehingga mendapatkan penanganan serius sesuai perintah Arlan.


Benar saja, jika terlambat dalam waktu 24 jam saja, mungkin Leon tidak akan berhasil diselamatkan, karena akan melakukan tindakan cuci darah yang seharusnya tidak dilakukan.


Lily masih menunggu hasil operasi Leon, dengan raut wajah penuh kecemasan, karena menyaksikan kejadian yang sangat menggangu pikirannya.


Bagaimana tidak, Leon menangis terisak-isak dipelukan Lily, menceritakan semua kejahatan Seno yang ia terima selama ini.


Polis asuransi yang cair dalam jumlah tidak seberapa, diambil oleh Seno, dengan alasan untuk menyelamatkan Raline dari debkolektor.


"Kenapa kamu tega sekali Mas dengan anakmu sendiri. Jelas-jelas dia sakit, bahkan membuat nyawanya tidak terselamatkan. Tapi kamu tega memakan uangnya, yang seharusnya tidak menjadi hak mu! Aku bersyukur telah berpisah dari mu, karena lebih baik hidup menjadi janda daripada memiliki suami yang senang berselingkuh selama ini. Kau kejam Mas, aku sangat membenci mu, semoga kau mati bersama Raline membawa serta Mama Liberti yang tidak tahu diri itu ...!"


Lebih dari lima jam, Lily duduk sendiri dalam kecemasan, menunggu dokter spesialis dalam keluar dari ruangan tindakan operasi.


Seketika ...


Pintu ruangan operasi terbuka lebar, sebagai isyarat bahwa tindakan sudah selesai dilakukan. Bergegas Lily berdiri, berlari kecil, menghampiri dokter terkenal yang merupakan rekan bisnis Arlan, hanya untuk memastikan kondisi Leon.


"Ba-ba-bagaimana keadaan putra ku Dokter?"


Dokter paruh baya, yang masih tampak tenang itu hanya tersenyum tipis, menatap iris mata Lily, "Kita serahkan semua pada ketetapan Tuhan, Nyonya. Karena hanya Dia yang menentukan hidup dan mati seseorang. Yang penting kita sudah berusaha berbuat yang terbaik. Ta-ta-tapi saya mohon, kalau bisa hadirkan wanita yang bernama Shinta, karena hanya nama itu yang ia ucapkan ketika anastesi akan menyuntikkan obat bius. Saya berharap akan ada keajaiban."


Mendengar pernyataan Dokter Salim, Lily hanya bisa menyandarkan tubuhnya didinding yang ikut terasa dingin, karena hawa ruang operasi menjalar ke tubuhnya.


Air mata Lily mengalir deras, membasahi wajah mulusnya, karena ada satu penyesalan yang sangat menyesakkan.


"Tuhan, sembuhkan Leon ... jangan ambil dia sebelum Arlan dan Shinta datang menjenguknya ..."

__ADS_1


__ADS_2