
Leon membuka lebar kedua tangannya, "Ya ... Ini aku, Leon. Teman mu, cinta mu masa sekolah."
Lagi-lagi Cua menggeleng tidak percaya, karena setahu dirinya, Leon sakit, dan terakhir bertemu dengannya masih menggunakan kursi roda.
"Tidak mungkin kamu Leon, karena Leon ku masih hmm eee ..." ucapnya tidak percaya ...
Akan tetapi, Leon langsung mendekati Cua dan langsung memeluk tubuh ramping gadis muda yang terkenal bawel tersebut.
Entahlah, perasaan Cua seketika berubah, ada perasaan yang sangat ia rindukan sejak beberapa tahun lalu, membuat ia menjadi lebih bahagia karena kembali bertemu Leon. Perasaan cinta yang dulu bersemayam, kini kembali terasa ...
Leon mengusap lembut kepala Cua, sedikit menggeram karena setelah sekian lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabar mu hmm?"
Cua mendongakkan kepalanya, tersenyum tipis, hanya menjawab sedikit, "Baik ..."
Leon bertanya, seolah-olah pria muda ini menganggapnya sebagai orang yang asing, "Aku akan berangkat ke Shanghai hari ini. Kamu ngapain datang ke sini?"
Dengan cepat Cua menautkan kedua alisnya, menggembungkan pipinya, karena tidak pernah menyukai pertanyaan seperti itu ...
"Apa tidak boleh aku datang kesini? Apakah kehadiran ku, mengganggu ketampanan mu yang sangat sulit aku kenali? Menyebalkan!" sesalnya.
Kedua tangan Leon langsung mencubit kecil puncak hidung gadis oriental tersebut, "Jawab aku. Kalau tidak kamu jawab, aku akan membawamu ke kamar, dan membantu ku menyusun perlengkapan ku. Bagaimana?"
Cua mengangguk penuh semangat. Dia benar-benar tidak berubah. Sejak dulu tampak manja juga menggemaskan, namun ketika lulus sekolah, ia harus mengikuti beberapa kegiatan bersama kedua orangtuanya di kota yang lain, membuat hubungan mereka tidak ada kejelasan hingga saat ini.
Namun, Leon tidak pernah mempermasalahkan sikap Cua. Karena ia sangat mengetahui bagaimana sifat gadis manja, yang tidak pernah bisa menolak ajakan orangtuanya untuk tuntutan pekerjaan.
Cua melihat-lihat beberapa foto-foto yang terpajang di kamar Leon, seketika matanya tertuju pada satu foto yang berbingkai putih, memperlihatkan kemesraan Shinta memeluk tubuh Leon yang terduduk di kursi roda.
"Le ... Ini foto siapa? Bukankah dia wanita yang saat itu ada di pusat perbelanjaan waktu kita bertemu beberapa waktu lalu, kan? Dimana dia? Siapa dia? Hmm apakah kamu memiliki hubungan spesial dengannya? Kenapa tangannya sangat mesra memeluk tubuh mu?"
Leon tertawa kecil mendengar pertanyaan Cua yang bertubi-tubi padanya. "Kenapa hmm. Apakah kamu cemburu melihat kedekatan aku dengan dia?"
__ADS_1
Cua menggelengkan kepalanya dua kali, saat tubuh Leon semakin mendekat padanya.
"Le ..." tahannya pada dada Leon agar tidak terlalu mendekatkan tubuh mereka berdua.
Leon tersenyum sumringah, menatap nakal wajah halus yang dulu selalu manja jika berada di dekatnya.
Entah mengapa, Leon mengusap lembut wajah gadis cantik itu dengan jari telunjuknya, "Kenapa kamu tidak pernah menemui aku selama sakit? Apakah kamu tidak merindukan aku hmm?"
Cua menelan ludahnya, wajah polos sedikit kaku karena di perlakukan seperti itu oleh lawan jenisnya, "Maafkan aku, Le ... Aku harus ikut dengan Mami dan Daddy, dan aku baru kembali kesini saat kita bertemu di pusat perbelanjaan waktu itu. Aku tidak ingin berdebat tentang hmm eee ... Sudahlah ..."
Leon lebih mendekatkan tubuh mereka berdua, agar tidak ada jarak, karena berharap yang lebih dari Cua, "Apa kamu masih mencintai dia," ucapnya lembut.
Lagi-lagi Cua menelan ludahnya susah payah, sesekali dia menggelengkan kepalanya, karena perasaan gugup.
Kembali terkenang masa-masa indah saat masih sekolah, cinta muda yang penuh kehangatan, dan perasaan cinta yang sama sekali tidak pernah sedekat ini.
Namun kali ini di suasana kamar yang dingin, ditambah kondisi Leon terlihat tampan juga lebih segar, membuat jantung kedua-nya berdebar-debar, saat Leon memberanikan diri untuk mengecup bibir tipis yang masih merah merona serta masih terasa sangat manis.
Cua menjauhkan wajahnya, menunduk malu dengan pipi memerah.
Leon tertawa terbahak-bahak, "Why? Bukankah dulu kamu yang mengatakan bahwa kamu siap jika aku kembali? Kamu janji Cua, aku menagihnya. Kamu datang di waktu yang tepat. Aku, kamu menjadi ki-kita ..." kecupnya lembut di puncak hidung gadis muda tersebut.
Seketika, bayangan Shinta kembali menari-nari dalam benak Leon. Pernikahan yang selalu ia katakan gagal semalam, seketika berubah karena kehadiran cinta masa sekolah.
Entah mengapa, Leon terus mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, sehingga ...
Keduanya terlalu larut dalam suasana hati yang berbunga-bunga. Masa indah sekolah kembali terkenang, membuat Leon berhasil melepaskan penghalang antara mereka yang hanya tersisa penutup bagian sensitif bagi kedua insan yang dibalut kabut gairah cinta masa muda.
Nafas kedua-nya semakin memburu, saat Leon mencoba menyentuh punuk kenyal yang dimiliki Cua dengan sentuhan jemari pria muda dengan sangat hati-hati.
"Hmmhh ..."
Leon mencoba untuk menikmati keindahan yang belum pernah ia rasakan, selama pernikahannya dengan Shinta. Gairah yang selama ini terpendam, membuat semua bergerak secara alami, sehingga memberikan perasaan yang berbeda bagi Cua juga Leon.
__ADS_1
"Le hh please ... Stop ..." tolak Cua saat menyadari bahwa semua yang akan mereka lakukan ini salah.
Leon mellumat bibir manis milik Cua, tanpa mau mendengarkan penolakan dari gadis yang benar-benar sangat berbeda dalam kungkungan nya.
Tidak ingin melihat wajah gadis itu yang terus menutup kedua bola mata indahnya, Leon mencoba untuk memberikan sesuatu yang berbeda pada Cua sebelum keberangkatannya.
"Ahh Le, sa-ssakit sekalihh. Please stop it ahh ..."
Akan tetapi, Leon yang telah bersusah payah mencari sesuatu keindahan dibawah sana, kembali menghentakkan pinggulnya untuk pertama kali didalam keindahan surga milik Cua ...
"I love you Shinta ...!"
PLAAK ...!
"Augh shiit! What happened?" sesal Leon saat merasakan tubuh dan wajahnya semakin memanas, karena tamparan gadis cantik yang berada dalam dekapannya.
Cua menangis terisak, saat milik pria yang di cintai nya berhasil menembus kulit terhalusnya, namun menyebutkan nama wanita lain.
Milik Leon yang masih terbenam hangat dalam penyatuan cinta yang salah, masih belum bisa sepenuhnya dapat bergerak, karena Cua terus menangis, memukul-mukul lengan pria itu ...
"Ssssht ... I-i-ini kalau enggak di gerakin enggak enak, sayang. Please ... Jangan menangis lagi. Aku akan ahh Shinta, hmm ...
Tanpa pikir panjang, Leon memompa lebih cepat, hanya untuk merasakan sesuatu keindahan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari Shinta.
Entahlah, kali ini berkali-kali Leon mendessah, berulang kali pula ia menyerukan nama Shinta, membuat Cua semakin menangis dan merintih.
Perasaan yang tak pernah terbayangkan oleh Cua, bercinta dengan Leon, namun pria itu menyebut nama Shinta ...
"Siapa Shinta? Kenapa kamu tega sama aku, Le ..." tangisnya pecah saat merasakan tubuh Leon ambruk di atasnya.
"Ma-ma-maafkan aku, Cua. Sebenarnya aku telah menikahi seorang wanita bernama Shinta ..."
"APA!!"
__ADS_1
PLAAK ...!
PLAAK ...!