
Tidak sekali dua kali Arlan mendengar permintaan Shinta untuk meninggalkannya. Wanita yang telah memberikannya seorang anak laki-laki kini yang sudah berusia empat tahun, kini justru memilih untuk meninggalkannya, hanya karena perasaan bersalahnya kepada Leon.
"Baik, aku tidak akan mengganggu mu lagi. Tapi aku juga tidak ingin kamu menderita di luar sana, karena bagaimanapun kamu ibu dari Sandy. Mulai saat ini, lakukan apa yang ingin kamu kerjakan, aku akan memberikan uang dan tidak akan mengatur gerak langkah mu lagi, Shinta!" tegasnya, tak ingin memohon.
Bagi Arlan, tidak perlu menangisi orang yang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Tapi karena tanggung jawab sebagai seorang laki-laki, dan tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Shinta di luar sana, ia masih mau membiayai, bahkan membiarkan wanita itu masih tetap tinggal di mansion mewah itu. Hingga pikiran mereka benar-benar jernih dalam mengambil keputusan.
Benar saja, Shinta benar-benar menjaga jarak dengan Arlan. Ia yakin bahwa di awal memang terasa sangat sakit, tapi seiring waktu berjalan semua akan terasa lebih mudah dan baik-baik saja.
Di awal bulan pertama perang dingin antara Arlan dan Shinta, masih belum disadari oleh putra kesayangan mereka, karena masih mau bertegur sapa, dan saling bahu membahu dalam merawat Sandy.
Akan tetapi, setelah tiga bulan perang dingin itu, Sandy semakin rewel, karena tidak pernah bertemu lagi dengan Arlan, yang memilih untuk tinggal di apartemen miliknya.
Entah kenapa, Arlan lebih sering menjalani kehidupannya seorang diri, tanpa mau mendengar apapun tentang Shinta. Banyak pertanyaan yang diajukan Abigail pada Arlan, tentang kondisi rumah tangga sang majikan, tapi dapat ditepis oleh pria mapan itu dengan alasan urusan bisnisnya lebih penting daripada mengurusi perasaan wanita.
Kini Arlan benar-benar menikmati indahnya sebagai seorang laki-laki single, tanpa pasangan yang akan mengganggu pikirannya. Hingga disuatu ketika ...
"Tuan, barusan Nyonya Shinta menghubungi saya. Memberitahu bahwa Sandy demam tinggi. Kini mereka sedang menuju rumah sakit Mount Elizabeth, dan Nyonya meminta saya untuk menghubungi Dokter Salim. Katanya sudah tiga hari Sandy demam dan memanggil-manggil Papa-nya."
Arlan terlonjak, kemudian bertanya, Apa kamu sudah menghubungi Dokter Salim?"
Abigail mengangguk, dan langsung menjawab, "Sudah Tuan!"
Tanpa pikir panjang, Arlan langsung memberi perintah pada Abigail untuk membawanya ke Mount Elizabeth, "Cepat siapkan kendaraan, kita ke rumah sakit sekarang!"
Dengan perasaan yang berkecamuk, Arlan bergegas menuju mobil, dan langsung masuk tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
Mobil mewah itu langsung melaju kencang, menuju rumah sakit sesuai yang diperintahkan oleh Abigail.
Ketika mobil mewahnya berhenti di loby rumah sakit, seketika Arlan beradu tatap dengan Shinta yang masih menggendong tubuh putra kesayangannya, karena tiba diwaktu bersamaan.
Dada Shinta terasa sangat sesak, ketika Arlan langsung berhambur mengambil alih putra kesayangannya dari dekapan sang wanita dengan tatapan semakin dingin.
Bersusah payah, Shinta untuk menyapa Arlan, tapi lagi-lagi pria itu tak mengacuhkannya.
Arlan mengusap lembut kepala Sandy, yang langsung memeluknya dengan erat.
Sandy berbisik di telinga Arlan, "I miss you Pa, I want you back home. I don't want to see your face only on the television screen ..."
(Aku sangat merindukan mu, Pa. Aku ingin kamu kembali ke rumah, aku tidak ingin hanya melihat mu dilayar televisi ...)
"Tenanglah Nak, Papa masih sibuk dengan urusan Papa. Jika kamu mau, kita bisa bertemu di apartemen. Kamu bisa datang kapan saja ..."
Arlan mengangguk meyakinkan, sambil terus mengusap lembut kepala putra kesayangannya, menghela nafas berat, menoleh kearah Shinta yang masih mematung menantikan sapaan dari pria yang masih menggantungkan status pernikahannya.
Tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Arlan, Shinta masih mencium punggung tangan pria yang tidak akan pernah menceraikannya itu. Kemudian berusaha untuk tetap tersenyum dan tenang ketika mengikuti langkah kaki Arlan menuju ruangan Dokter Salim.
Begitu banyak yang menjadi tempat Arlan untuk bertanya, begitu juga Shinta. Termasuk pada Dokter Salim, yang sangat mengetahui bagaimana hubungan Arlan dan Shinta saat ini.
Dokter Salim mengusap lembut kening Sandy, tersenyum sumringah karena merasakan suhu badannya tidak sehangat yang di utarakan Shinta pada Abigail. "Hmm, sepertinya Sandy sangat merindukan sosok Papa dan Mama-nya, Lan. Cobalah untuk mengalah, jangan sampai hubungan kalian sedingin ini, karena keegoisan dan kesibukan mu juga, Arlan!" senyumnya ketika melihat Sandy sudah terlelap.
Jemari kanan Arlan hanya mengetuk di meja kerja milik Salim sambil melirik kearah Shinta. "Ya, seharusnya begitu. Tapi mungkin saat ini lebih baik seperti ini. Karena kamu tahu sendiri bagaimana cara ku menghadapi semua ujian dalam hidup ku."
__ADS_1
Arlan menoleh kearah Shinta yang hanya menunduk sejak Sandy mendapatkan penanganan khusus dari para suster, bertanya sekedarnya saja, "Bagaimana keadaan mu, Shi-n-ta?"
Shinta mengangkat wajahnya sedikit, hanya untuk melihat wajah pria yang benar-benar sulit untuk berubah padanya, "Ba-ba-baik, Bi. Hmm eee, hanya Sandy sedikit rewel, karena tidak mau makan beberapa hari ini. Ditambah besok dia akan memulai masa trainingnya masuk sekolah baru. Mungkin dia ingin melihat kedua orangtuanya eee ..."
Dokter Salim tersenyum, memijat pelan batang hidungnya, kembali melirik kearah Arlan, "Kalian bicara dulu ya. Saya mau memberikan suntikan pada Sandy. Jadi setelah suntikan ini bereaksi, besok anak hebat itu akan kembali bersemangat."
Tidak banyak bicara, Arlan dan Shinta hanya diam membisu. Tidak ada yang ingin bicara lebih dulu, karena tipe wanita seperti Shinta sangat berbeda dengan wanita lain. Ia memiliki kecendrungan menyesal di akhir, dan kini tampak, seperti mengalami akan hal itu.
Akan tetapi, Arlan yang benar-benar memantapkan hatinya untuk tidak banyak bicara, apalagi dipusingkan dengan urusan perasaan, hanya sedikit menggoda wanita yang duduk disampingnya tersebut, "Kenapa kamu tidak pernah meninggalkan mansion? Bukankah kamu yang ingin kebebasan, Shinta?"
Bibir Shinta terasa berat untuk bicara, tenggorokannya seakan tercekat, karena perasaan malu ketika berhadapan dengan Arlan saat ini. Ia memberanikan diri untuk menoleh dan bertanya kepada pria yang masih menatapnya ...
"Kenapa Bibi tidak pernah pulang selama hampir empat bulan? Kenapa Bibi pergi ke London justru hanya berdua dengan Aunty Lily? Apakah kalian sudah tinggal bersama? Dan Bibi tidak pernah ingin menyelesaikan semua masalah yang ada di rumah tangga kita?"
Arlan menggeleng, mendengar pertanyaan-pertanyaan lucu yang keluar dari bibir mungil Shinta, "Bukankah kamu yang meminta ku untuk pergi berdua dengan Lily? So, apakah ada masalah jika saat ini aku tinggal bersama dengannya? Wajar, I'm single, Lily juga seorang single fighter. Kami nyambung, dan aku rasa pertanyaan kamu ini tidak masuk akal, Shinta. Aku melakukan semua permintaan mu. Kamu yang justru tidak pernah menanyakan kabar ku, makan ku, dan semua kegiatan ku. Tapi sekarang kamu berceloteh seakan-akan aku terlalu jahat pada mu! Bisa jelaskan dibagian mana aku menyakiti mu, Shinta?"
"Bibi!"
Arlan menarik nafasnya dalam-dalam, menggeser kursi Shinta agar duduk lebih dekat dengannya, "Berhentilah untuk mendramatisir kehidupan yang ada, Shinta. Aku tidak ingin memikirkan hal yang tak begitu penting dalam kehidupan ku. Aku hanya ingin mencari kebahagiaan ku, selayaknya kamu yang ingin bahagia tanpa aku ..."
"Bibi ..."
"Aku tidak akan pernah meminta mu, atau bahkan memohon!"
"Bi, ini urusan Sandy!"
__ADS_1
Arlan semakin bersemangat untuk memojokkan Shinta, sambil bertanya dengan senyuman sinis, "Ogh Sandy. Terus bagaimana dengan kita, Shinta?"