Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Gadis nakal


__ADS_3

Saat kedua-nya masih sama-sama terbalut dalam hasrat yang semakin lama semakin membuat penasaran. Sayup-sayup terdengar suara bariton pria yang memanggil nama Alexa dari arah luar kamar kaca tersebut.


"Alexa, Alexa! Kemana orang-orang dirumah ini ...?" umpat Brian dalam hati, karena tidak menemukan keberadaan Alexa ataupun Sandy.


Hanya ada beberapa pelayan yang masih mengekori langkah pria bule itu mencari keberadaan Alexa.


Brian yang tidak kunjung bertemu dengan gadis belia itu kembali bertanya pada pelayan yang sejak tadi berdiri dibelakangnya, "Kemana Tuan Arlan dan Sandy, Bi? Kenapa anak-anak tidak ada? Apakah mereka sarapan di restoran milik Tuan Arlan?"


Pelayan menunduk hormat, "Sepertinya Non Alex lagi dikamar nya, Tuan Baby. Coba saja naik kekamar Nona. Mungkin beliau lagi bersiap-siap, karena hari ini jadwal Den Sandy dan Non Alex berangkat ke Roma. Kan barengan sama Tuan Baby!" Seringainya menggoda Brian.


Mendengar penjelasan pelayan kediaman Arlan, Brian langsung menuju kamar Alexa, tanpa menghiraukan ucapan pelayan yang selalu menggoda pria bule nan tampan rupawan itu ketika mendatangi kediaman Arlan tanpa perasaan canggung.


Ditempat yang berbeda, Alexa justru berhamburan mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa, karena khawatir akan diketahui oleh para pelayan tingkah mesum mereka berdua walau pada dasarnya mereka bukan pasangan sedarah.


Akan tetapi, peraturan Arlan terus terngiang-ngiang ditelinga kedua putra-putri mereka sehingga membuat kedua-nya tidak berani melakukan hal itu saat ini.


Kepala Sandy semakin berdenyut-denyut, karena tidak berhasil menerobos dinding hangat milik Alexa karena memikirkan beberapa peraturan keluarga mereka.


Sangat berbeda dengan Alexa, yang langsung keluar dari kamar tersebut karena merasa bersalah telah melakukan hal gila bersama Sandy dan mengkhianati hubungannya dengan Brian.


Sandy mendengus dingin, ketika melihat punggung Alexa meninggalkannya begitu saja, "Alexa ... I love you! Kita akan melanjutkan semua ini di Roma!" teriaknya kuat, akan tetapi tidak dihiraukan oleh Alexa yang langsung berlari kecil menuju kamarnya.


Akan tetapi, semua ucapan Sandy dapat didengar oleh Brian yang sudah berdiri di balkon kamar gadis belia itu.

__ADS_1


Pria bule nan tampan rupawan itu hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan Sandy yang sejak dulu sangat mencintai Alexa, "Hmm ... ternyata kamu nakal, Lex. Memberi harapan padaku, juga Sandy. Jika kamu benar-benar menginginkan aku, kenapa kamu memberi harapan kepada pria muda itu, sayang ..."


Tak berapa lama, Brian menoleh kearah pintu kamar yang terbuka lebar, memperlihatkan sosok Alexa masih mengenakan baju kaos ketat tanpa bra. Membuat ia langsung termangu ketika dihadapkan dengan sosok gadis nakal yang langsung berhambur memeluknya.


Brian terdiam sejenak, tak ingin membalas pelukan Alexa yang sangat bahagia karena kehadiran kekasihnya.


Akan demikian, Alexa langsung menatap manik mata kebiruan itu dengan satu senyuman seraya bertanya, "Baby kapan datangnya? Kenapa tidak menunggu ku dibawah? Hmm?"


Lagi-lagi Brian hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan gadis manja yang masih berusia belasan itu, "Apa kamu melakukannya dengan Sandy? Kenapa kamu mengkhianati hubungan kita yang masih berumur sehari? Aku tidak sengaja mendengar teriakkan Sandy dibawah. Ia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai mu."


Alexa hanya menelan ludahnya sendiri. Susah payah ia untuk mengalihkan pandangannya, akan tetapi tatapan Brian sangat mendebarkan relung hatinya. Sungguh berbeda dari tatapan Sandy yang hanya menggunakan hasrat muda juga liar, jika dibandingkan dengan pria dewasa yang ada dihadapannya kini.


"Ehm ... Sandy mengatakan dia mencintai aku, tapi aku tidak memberi jawaban 'ia atau tidak', baby. Semua terjadi begitu saja, jangan marah ya? Kami tidak melakukan apapun, karena takut Mama dan Papa akan mengetahui apa yang kami lakukan nanti," sungutnya menutupi dengan satu kebohongan.


Bergegas Brian menggendong tubuh Alexa, kemudian meletakkan diranjang kamar gadis muda itu.


Brian menatap lekat sorot mata Alexa, yang semakin tampak ketakutan, wajah cantik itu terlihat sangat pucat, walau bibir mungil itu tampak semakin merona merah. "Aku akan mencampakkan mu, jika kamu berani melakukannya dengan Sandy, Alexa! Karena aku sangat menjaga kehormatan mu!" Tegasnya dengan tatapan yang tak berkedip.


Wajah Alexa semakin memanas, untuk menarik nafas sedikit saja ia tak kuasa. Pandangannya benar-benar terkunci oleh Brian, ketika pria bule itu memasukkan jemarinya kebalik benangnya, hanya untuk memastikan bahwa gadis yang berada dikungkungannya masih perawan.


"Ahh ...!" Alexa memejamkan kedua bola matanya, menikmati sentuhan jemari Brian pada bagian intinya, membuat dada gadis muda itu sulit untuk menghirup udara bebas.


Brian tersenyum sumringah, kembali mengeluarkan jemarinya seraya berkata, "Ini baru awal. Karena kamu merupakan kekasih ku. Jadi jangan bermain-main dengan ku, Bianca Alexa!"

__ADS_1


Alexa menganggukkan kepalanya pelan, ia menggigit bibir bawahnya, berharap agar Brian menciumnya dipagi itu. Akan tetapi, Brian langsung berdiri kemudian berkata lembut, "Bersihkan dirimu, karena aku tidak suka mencium bibir kekasih ku yang baru saja bercumbu dengan pria lain, walau Sandy merupakan abang angkat mu!"


Dengan perasaan kesal, Alexa beranjak dari ranjang kamarnya, menuju kamar mandi. Ada setitik kerinduan yang semakin membuat gadis itu semakin penasaran.


Sentuhan Brian, sangat berbeda dari sentuhan Sandy. Tapi ketegasan Brian mampu membuat Alexa berpikir ulang untuk menerima Sandy sebagai kekasih ataupun sebagai suami.


Katakanlah Alexa nakal, atau tidak memiliki perasaan kasihan dalam menghargai Sandy ataupun Brian. Tapi itulah pribadinya sebagai gadis belia yang belum bisa dalam mengambil satu keputusan, sehingga memberanikan diri untuk menjadi seorang sugar baby dari pria yang memiliki istri seperti Brian. Tanpa ia belum mengetahui watak pria bule itu sepenuhnya.


Tak ingin menunggu dikamar, karena akan berdampak pada hubungannya dengan Arlan, Brian memilih untuk menikmati sarapan pagi di ruang makan kediaman rekan bisnisnya itu seorang diri. Dengan alasan hanya ingin menunggu Alexa sebagai secretaris hollywood yang ia bayar mahal.


Bagaimana tidak, Brian harus merogoh koceknya untuk membayar seorang Bianca Alexa dengan bayaran 7800 USD Amerika setiap bulannya. Dengan pekerjaan yang sangat santai, bahkan bisa dibilang sedikit tuntutan karena gadis muda seperti Alexa tidak mampu berada dalam tekanan.


Cukup lama Brian duduk seorang diri, menikmati kediaman mewah Arlan yang sangat berbeda dari kediamannya juga orangtuanya.


Tanpa disadarinya, Arlan menepuk pundak Brian membuat pria mapan itu sedikit terlonjak kaget melihat dua insan suami istri yang selalu tampak mesra juga harmonis.


"Morning Brian. Apakah Alexa melakukan kesalahan? Kenapa kau sarapan seorang diri hmm? Dimana anak gadis ku?" Sesal Arlan karena melihat partner bisnisnya menunggu sang secretaris seorang diri. Ia kembali berteriak memanggil putri kesayangannya, "Alexa! Alexa!"


Mendengar suara bariton Arlan, membuat Sandy keluar dari kamar, kemudian berdiri didekat Shinta, disusul dengan Alexa yang langsung berlari menuruni anak tangga kediaman keluarganya.


Sandy tampak mengerenyitkan keningnya, ketika bersitatap dengan Brian tanpa mau menyapa lebih dulu. Bahkan mengumpat dalam hati, "Sial, sejak kapan pria ini datang dikediaman keluarga ku? Apa yang dia lakukan ...?"


Sangat berbeda dengan Alexa yang langsung memeluk sang papa dengan penuh perasaan cinta dan bahagia. "Apa sih, Pa. Kenapa teriak-teriak hmm? Mr. Baby baru datang mungkin, karena tadi aku tidak melihatnya," senyumnya mengembang lebar.

__ADS_1


Arlan mengusap lembut kepala putrinya, "Sudah jam berapa ini? Kalian harus segera berangkat!" Titahnya menoleh kearah Sandy, "Oya San. Tadi Papa sudah menghubungi Janet, dia harus ikut sama kamu untuk memberikan semua laporan ke email Papa. Karena dia juga mau bertemu dengan Mama-nya. Ya ... Papa tidak mengetahui siapa orang tua gadis itu," jelasnya lagi.


Mendengar penuturan Arlan, Alexa justru terdiam. Wajahnya tampak menyiratkan satu kekecewaan. "Hmm ... ternyata Sandy berbohong sama aku ...! Bilang cinta, tapi kamu juga diam-diam memiliki hubungan serius dengan secretaris pribadi mu, San ..."


__ADS_2