Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Tulisan tegak bersambung milik Yasmin ...


__ADS_3

Suasana malam yang sangat menyejukkan, namun semakin menghangatkan bagi dua insan yang tengah berbalut gairah malam, selayaknya sepasang suami istri dalam hubungan terlarang ...


Dessahan Shinta yang sangat menggairahkan, membuat Arlan tak pernah berhenti melakukan hal itu pada wanita yang tengah mengandung benihnya.


Kedua kaki Shinta kembali menggigil karena perbuatan Arlan yang tak memberikan ruang untuk beristirahat atau bahkan mengatup kedua pahanya.


"Pihh ... Stophh, Shinta sudah tidak kuat," rintihnya membuat Arlan semakin bersemangat memompa di bawah sana. 


Entah mengapa, Arlan benar-benar ingin melampiaskan kerinduannya dengan memompa lebih cepat diatas tubuh wanita yang telah menjadi candunya selama ini. Lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu, membuat perasaan cinta itu semakin besar.


Apalagi semenjak Arlan menegaskan pada Liberti tentang perasaannya, tanpa menghargai Leon sebagai suami sah Shinta, yang mendengar pertikaian tersebut.


"Ahh ..." Arlan menghentakkan pinggulnya beberapa kali, kemudian ambruk di tubuh menantu tercinta, dengan keringat membalut tubuh keduanya. 


Shinta mendorong tubuh Arlan, yang terasa sangat berat, saat nafasnya masih terengah-engah agar melepaskan penyatuan mereka ...


"Papi gila, enggak kira-kira!" sungutnya kesal.


Arlan tersenyum lirih, ia merasa bahwa wanita itu sangat menikmati semua permainannya yang enggan berhenti.


Shinta menarik selimut, menutup tubuh telanjangnya, kemudian memejamkan kedua bola matanya, tanpa mau berbicara pada pria yang langsung mendekap tubuh rampingnya.


Arlan mengecup bahu telanjang Shinta, sedikit berbisik ... "Kamu puas kan? Malam ini kamu menginap di sini saja, aku akan kembali ke mansion, karena mau menyelesaikan semua urusan ku dengan Leon. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Kamu tidur, yah? Besok pagi aku tunggu di mansion ..."


Shinta mengangguk perlahan, mengusap lembut wajahnya, kembali memejamkan mata indahnya saat merasakan bibir Arlan lagi-lagi mendarat manja di kepalanya.


.


Mansion megah milik Arlan tampak sepi. Tidak ada aktivitas apapun yang berarti. Langkah kaki Arlan seketika terhenti, saat melihat asisten rumah tangganya tengah menangis tersedu-sedu ...

__ADS_1


Arlan menautkan kedua alisnya, ia melirik jam tangannya yang melingkar menunjukkan pukul 21.00 waktu Jakarta, kemudian bertanya, pada wanita paruh baya tersebut ...


"Ada apa Bu? Kenapa kamu menangis, apakah keluarga mu memberikan kabar yang sangat mengejutkan?"


Wanita itu menggeleng, ia hanya menunjuk kearah kamar putra kesayangan Arlan, yang tampak bersih, tidak ada tanda-tanda kamar itu di huni oleh pria yang memiliki riwayat gagal ginjal tersebut.


Dengan langkah cepat, Arlan bergegas menghampiri kamar yang terbuka lebar, hanya untuk memastikan pandangannya. Saat ia berdiri didepan pintu, matanya menyesiasati kamar Leon, dan tidak ada siapapun di sana, bergegas Arlan kembali dihadapan asisten rumah tangganya yang masih duduk di ruang keluarga, hanya untuk bertanya dengan nada bergetar keras ...


"Dimana Leon! Dimana putraku, Bu? Apakah Liberti atau Raline menjemput nya!? teriaknya semakin kalut.


Wanita paruh baya itu hanya menjawab dengan suara terbata-bata ...


"Sa-sa-sa-saya tidak tahu Pak. Saat saya akan mengajak Leon untuk makan malam, ternyata putra Anda sudah tidak ada didalam kamarnya! Saya khawatir dia pergi mencari Shinta, karena dia berkali-kali menghubungi nomor telepon Shinta, namun tidak ada jawaban," jelasnya, membuat Arlan semakin marah besar.


"Aagh ... Menjaga Leon saja kalian tidak becus! Mana penjaga! Panggil cepat, dua orang yang mengawal Leon tidak tahu dimana keberadaan putra ku! Jika dalam waktu 24 jam kalian tidak menemukan Leon, aku akan memecat kalian semua! Brengsek!!" teriaknya semakin lantang.


Wanita paruh baya itu hanya bisa menangis, meratapi nasibnya jika harus keluar dari mansion mewah itu. Karena tidak memiliki tempat tinggal lagi, selain kediaman Arlan dan Leon.


Arlan tak peduli, dia menghubungi beberapa rekannya, namun enggan memberi kabar pada Seno ataupun Keluarga Raline. Kali ini ia harus bertindak cepat, untuk mencari keberadaan Leon yang menghilang meninggalkan mansion megah itu.


Bergegas Arlan menuju kamar Leon kembali, menutup pintu kamar rapat, untuk mencari berbagai informasi tentang sahabat putranya yang tidak ia ketahui.


Arlan mengobrak-abrik laci, dan beberapa lemari yang tidak pernah ia ketahui selama ini. Menurut pria mapan itu, Leon tidak pernah menyembunyikan apapun darinya.


Lebih dari dua jam, Arlan terduduk di lantai kamar milik Leon, membuka semua berkas-berkas untuk mencari keberadaan nama sahabat sekolah atau apapun tentang Leon.


Didalam kamar yang dingin itu, Arlan hanya sibuk membolak-balikkan semua agenda Leon. Namun, seketika ... Matanya tertuju pada satu buntalan berkas yang tersimpan sangat rapi didalam lemari, dengan tumpukan buku-buku lama yang masih bertuliskan nama Yasmin di sana.


Darahnya mendesir, saat tangannya meraih buntelan yang menjadi perhatiannya, menarik keluar, dan melihat tulisan bertinta biru, 'Riwayat Leon Alendra Arlan' yang diikat mati dengan seutas benang berwarna biru, tanpa ada debu, karena suhu ruangan tidak pernah panas, ataupun terbuka.

__ADS_1


Lemari pakaian yang besar, memiliki peti kemas kecil, yang terpatri didalamnya, namun tidak pernah diindahkan oleh Arlan.


Matanya hanya fokus pada buntalan file lama tersebut yang terletak rapi di atas peti kemas. Dengan penuh perasaan curiga, dan tangan bergetar, Arlan membuka perlahan, sedikit memaksa untuk melepaskan ikatan tali tersebut.


Disana tertulis tanggal lahir Leon, dan foto-foto dirinya bersama Yasmin. Seketika, Arlan yang tengah mengenang sosok almarhum Yasmin, sehelai kertas jatuh dengan sendirinya dari balik foto-foto kemesraan mereka beberapa tahun silam ...


Air mata Arlan menetes dengan sendirinya, betapa ia sangat merindukan sosok Yasmin yang lembut, dan baik hati ...


"Oogh sayang, kenapa kamu tinggalkan aku dengan kehampaan ini. Aku mencintaimu, Yasmin. Aku benar-benar mencintai mu ..." tangisnya, mengenang kisah cinta masa mudanya yang penuh dengan pertikaian dan lika-liku kehidupan gadis remaja, bersama pria dewasa seperti dirinya.


Tangan Arlan meraih selembar kertas yang terjatuh, membuka perlahan karena sudah lengket juga usang, namun masih bisa membaca tulisan tegak bersambung milik Yasmin yang sangat rapi dan sedap dipandang mata ...


Seketika kedua bola mata Arlan membulat sempurna, hanya untuk membaca tulisan bertinta biru itu ...


Seno ...


Terimakasih atas semua perhatian mu. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu dan mengenang semua kisah cinta kita.


Maafkan aku, telah mengkhianati mu dengan menikahi Arlan. Karena hanya dia yang rela berkorban demi aku ... Maafkan aku, Sen.


Aku akan selalu menjaga dan merawat buah hati kita, sampai aku menutup mata ... Terimakasih untuk kasih sayang dan perhatian mu selama ini ...


Love, Yasmin ...


Arlan ternganga lebar, tenggorokannya terasa tercekat bahkan mengering, ia tidak dapat berkata-kata, keringat dingin mengucur deras, seakan-akan tidak percaya. Separuh nyawanya seperti terbang melayang, bahkan tidak menyangka, bahwa Yasmin telah mengkhianati dengan sahabat dekatnya selama ini, hingga wanita itu menutup mata.


Berkali-kali Arlan membaca hanya untuk meyakinkan mata, perasaan yang tengah bercampur aduk, atas semua yang tertulis di dalam surat Yasmin. Memastikan tahun yang tertulis, bahkan sama dengan tahun pernikahan mereka, juga tahun kelahiran Leon.


"Oogh Tuhan, apa-apaan ini! Apakah Seno telah mengkhianati aku selama berada di penjara ..."

__ADS_1


Tubuh Arlan yang masih bergetar hebat ambruk seketika, berharap apa yang ia baca, hanya mimpi, dan tidak nyata.


"Jika semua ini benar terjadi padaku ... Kenapa bukan aku yang mati! Kenapa mesti Yasmin mati lebih dulu, Tuhan ..."


__ADS_2