
Suasana indah yang diharapkan kedua pasangan suami-istri itu seketika berubah menjadi keheningan ruangan yang sepi tanpa suara. Shinta masih sulit untuk ditaklukkan oleh Arlan karena dipaksa jujur.
Kejujuran yang akan menimbulkan petaka, bahkan sangat bahaya jika Shinta mendengarkan semua itu dari orang-orang kepercayaannya. Beberapa kali wanita itu menampar wajah Arlan karena tidak terima dibohongi oleh suaminya sendiri.
Pengkhianatan, hanya itu yang ada dalam benak Shinta saat ini untuk Arlan. Kembali wanita oriental itu menangis tersedu diranjang peraduan mereka yang sejak tadi malam hanya terdengar suara dessahan juga errangan, kini berubah menjadi tangis yang sungguh memilukan.
Arlan terdiam, wajah tampannya tampak memerah. Bahkan semakin kesal karena merasa bahwa dirinya tidak bersalah sepenuhnya. Berkali-kali ia berusaha untuk meyakinkan Shinta bahwa semua itu hanya kekhilafahan.
Kedua tangan Arlan meremas kuat rambutnya, karena merasa frustasi menghadapi seorang wanita yang tengah dilanda rasa cemburu, "Kenapa wanita sangat sulit dipahami! Dia yang meminta aku untuk jujur, tapi ketika jujur malah habis aku digaruk kayak kucing anggora peliharaan Sandy. Dasar wanita, maunya di mengerti, tapi sulit untuk mengerti situasi ku ..." umpatnya semakin kesal.
Perlahan Arlan merebahkan tubuhnya di sofa, karena tidak ingin bicara lagi tentang Raline. "Kenapa wanita gila itu terus mengejar ku? Bukankah Mama Liberti tengah sakit? Tapi kenapa dia malah memilih berlibur ke sini? Agh ... lebih baik aku menghubungi Abigail untuk berangkat ke Paris lebih cepat. Rencana mau liburan, bulan madu, malah bertemu dengan Raline ..."
Arlan meraih handphone miliknya, hanya untuk menghubungi Abigail ...
Arlan : "Kita berangkat ke Paris hari ini juga!"
Abigail : "Ta-ta-tapi Tuan, sa-sa-ya ..."
Raline langsung merampas handphone yang ada ditangan Abigail.
Raline : "Kau temuin aku saat ini juga, sebelum aku menghabisi nyawa putramu, sayang!"
Arlan meremas kuat rambutnya, menggeram kesal karena masih mendengar suara wanita jallang itu. Seketika rahang tegas Arlan benar-benar menggeram, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarga terutama putra kesayangannya.
Arlan : "Jangan macam-macam kau, Raline. Karena jika terjadi sesuatu pada orang-orang ku, maka kau akan mendapatkan hukuman mati dari ku! Kalian dimana?"
Raline : "Aku di kamar putra kesayangan mu, Arlan sayang!"
Bergegas Arlan beranjak dari duduknya, hendak keluar dari kamar namun dicegah oleh Shinta, karena wanita itu lebih dulu berlari menuju pintu kamar mereka.
Shinta menghadang Arlan, yang akan menyentuh gagang pintu. Melihat wajah wanita itu sudah berdiri dihadapannya, sambil berkata dengan suara bergetar juga serak, "Bibi mau kemana?"
Arlan tersenyum lirih, hanya menjawab singkat, "Beri aku waktu, aku akan menyelesaikan urusan ku dengan Raline. Kini dia berada di kamar Sandy. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kita, jadi biar aku yang menyelesaikan semua tanggung jawab ku! Dengar sayang, aku masih mencintaimu!"
Perlahan Arlan mengangkat tubuh Shinta dengan sangat mudah, kemudian membuka pintu kamar berlalu meninggalkan kamar mereka menuju kamar putra kesayangannya.
Benar saja, Raline dan Sakira sudah berada dikamar Sandy membuat Arlan semakin berang.
BRAK ...
__ADS_1
Arlan membanting pintu kamar putranya, langsung menatap nyalang kearah Lala yang masih memeluk Sandy, "Siapa yang menyuruhmu menerima orang asing, Lala?"
Lala menundukkan wajahnya, masih mendekap erat Sandy yang berada di dekapannya dengan menangis memanggil mama-nya.
"Bawa dia ke kamar Shinta! Bereskan semua barang!" Perintah Arlan dengan wajah dingin.
"Ba-ba-baik Tuan." Lala mencicit meninggalkan kamar mereka, menuju kamar majikannya karena merasa ketakutan setelah mendapatkan ancaman dari Raline.
Sementara Arlan masih melihat sekelilingnya, mencari keberadaan Abigail yang ternyata telah meringkuk dilantai kamar berada dalam ancaman Raline menggunakan senjata api, yang entah punya siapa.
Darah Arlan benar-benar mendidih, melihat Raline telah mengancam keselamatan nyawa putra kesayangan juga orang-orang kepercayaannya.
Akan tetapi, ia tetap tenang. Saat ini kepalanya terasa semakin berdenyut, dan sangat memahami bagaimana permainan Raline.
"Apa mau mu, Raline? Jika kau inginkan aku, cukup aku saja! Jangan orang-orang ku!"
Raline tertawa kecil, tubuh yang awalnya duduk di ranjang kamar Sandy, kini berdiri mendekati Arlan yang berdiri didepan pintu kamar terbuka lebar. Tampak ditangan kanannya masih menggenggam kuat senjata api kecil berwarna hitam.
Kini Arlan hanya terdiam, otaknya terus berpikir keras bagaimana caranya melumpuhkan wanita gila dihadapannya. "Apa kau sedang mengancam ku, Raline?"
Tawa Raline semakin terdengar berani, berkata memberi perintah seakan-akan kini ia yang tengah berkuasa, "Sakira ... tinggalkan kamar ini! Bawa pria bodoh itu!"
Sakira tidak menyangka Raline akan melakukan hal gila itu. Namun hanya menuruti perintah madunya tersebut agar cepat diceraikan oleh Stefan, setelah mendengar perjanjian Raline dengan suami tua mereka.
"Duduklah, Lan!"
Arlan merogoh saku celananya, menghubungi Shinta hanya untuk memberikan kabar bahwa kini mereka dalam bahaya.
Benar saja, dua pengawal Raline dan Sakira kini berada diluar vila yang disewa Arlan, tanpa ada yang menghiraukan keadaan mereka saat ini.
Dua kali Arlan memberi kode melalui telepon pintarnya, sebagai isyarat agar menghubungi 911 untuk meminta pertolongan pada pihak kepolisian setempat. Tidak ada pilihan lain, hanya pihak berwajib yang dapat meloloskan mereka semua dari ancaman Raline.
Benar saja, Shinta melakukan semua perintah yang ia terima dari sang suami, setelah mendengar cerita dari Lala. Bagaimanapun garangnya ia sebagai istri kepada Raline, mendengar wanita itu membawa senjata api dan mengancam mereka selama 30 menit didalam kamar, membuat dirinya semakin kalut.
"Bagaimana ini, Lala. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada, Bibi!" tangis Shinta semakin panik dan mendekatkan telinganya dipintu kamar hanya untuk sekedar menajamkan pendengarannya.
Kali ini Shinta benar-benar ketakutan, mendengar suara Abigail yang tengah berbincang dengan Sakira.
"Ja-ja-jangan lakukan apapun pada kami, Nyonya. Kami hanya pekerja. Aku mohon ..."
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Abigail, ketika merasakan dinginnya senjata api yang dihujamkan oleh istri kedua Stefan tersebut.
Lagi-lagi Shinta dibuat merinding mendengar ucapan Abigail dan mencoba pasrah hingga bantuan datang kepada mereka. "Jika kau berani menelanjangi suami ku, aku akan membenamkan mu, Raline kepaarat ...!"
Sementara didalam kamar mewah itu, Arlan memilih duduk di sofa, karena tidak ingin memancing gairah wanita jallang itu, yang terus menuntutnya untuk duduk di pinggir ranjang.
"Tenanglah Raline. Kita bisa bicara santai, bukan?"
Mendengar pernyataan pasrah seorang Arlan, Raline merasa iba. Ia tahu, bahwa ancamannya sangat berpengaruh pada kondisi vitalitas pria mapan itu.
"Baiklah, aku akan menyimpan senjata ku. Karena aku ingin, kita berbincang dengan cara yang sangat tenang dan damai, Arlan."
Arlan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mendehem dengan tangan mengepal kuat.
"Kenapa kau tidak pernah membiarkan aku bahagia, Raline? Apa salah ku padamu? Apakah begini caramu mencintaiku? Jika kau memang mencintai aku, kenapa kau tidak menyerahkan mahkota mu padaku? Kenapa justru kau umbar milikmu kepada Seno juga semua orang yang menginginkan mu?"
Wajah Raline berubah sendu, tatapan mata yang awalnya menatap Arlan penuh nafsu, seketika berubah kaku dan menunduk karena malu. Bersusah payah dirinya menutupi semua rahasia yang ia simpan sendiri selama ini, akan tetapi entah darimana Arlan mengetahui semua tentangnya.
"Da-da-dari mana kau tahu tentang itu? A-a-aku hanya melakukannya dengan Seno, Lan."
Tampak senyuman Arlan mengembang diujung bibirnya, "Ya, aku juga tahu ... bahwa kalianlah yang meminta Yasmin untuk memberikan ginjalnya kepada Leon. Dengan alasan ginjal Seno tidak cocok ditubuh Leon. Tapi kau lah yang meminta Yasmin melakukan itu semua, agar kau bisa menikah dengan ku, hmm?"
Lagi dan lagi Raline terdiam. Wajah cantik bak barbie itu semakin memerah. "Ta-ta-tapi kau tidak pernah mengacuhkan aku, Arlan! Kau terlalu sibuk, bahkan disaat aku mengetahui menantu mu hamil, Seno meminta kita untuk menikah, tapi kau masih terus menolaknya!"
Arlan menghela nafasnya dalam-dalam, tampak senyuman itu semakin mengambang lebar, ketika melihat bantuan kepada keluarganya sudah datang dengan satu kode yang diisyaratkan melalui handphone miliknya.
"Bukan aku yang menolak mu, Raline. Tapi kelakuanmu yang membuat aku terus menolak. Aku akui kau sangat menarik perhatian ku. Hingga aku lupa bahwa aku telah menikah dengan Shinta. Aku akui sentuhan mu sangat luar biasa. Aku sangat-sangat menikmatinya. Tapi kau terlalu murah, Raline. Kau terlalu sering melakukan kebebasan diluar sana. Apa yang kau inginkan lagi? Apakah kurang puas dengan suami tua mu itu? Jika Shinta meninggalkan aku, mungkin aku akan tertarik untuk menjadikan mu mainan ku, tapi---!" senyuman Arlan mengembang sempurna, menyiratkan bahwa dialah pemenangnya ...
BRAK ...
Kepolisian mendobrak pintu kamar yang sengaja ditutup rapat oleh Raline. Seketika ...
"Jangan bergerak!"
Arlan langsung menendang tubuh Raline yang berusaha untuk meraih senjata api miliknya, namun dapat dicegah oleh Arlan, membuat tubuh itu langsung terjungkal dilantai kamar ...
BHUG ...
BRAK ...
__ADS_1
"Jangan pernah mengganggu ku lagi, jallang! Membusuk lah kau di penjara karena ulah mu!" geram Arlan ketika menekan kuat dada besar yang menggunakan silikon tersebut, tanpa perasaan kasihan.
"Agh damn it! Dadaku Arlan, I hate you!"