
Suasana hening seketika, saat Lily membaca surat Yasmin, yang di berikan Arlan padanya. Bagaimana mungkin, selama ini dirinya sebagai istri selama 17 tahun masa pernikahan mereka, harus menerima hantaman luar biasa hari ini karena pengkhianatan Seno dan Yasmin selama ini.
Lily membasahi tenggorokannya, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya, berkali-kali dia mengusap lembut dada sendiri agar tenang menerima semua kenyataan yang sangat menyayat hati dan perasaan, membuat ia hanya bisa bertanya pada Seno ...
"Ja-ja-jangan kamu bilang, bahwa Yasmin yang menggoda kamu, Mas? Karena Yasmin masih berusia 18 tahun atau 17 tahun kala itu. Dia gadis belia, yang sangat baik juga lembut. Tapi kenapa kamu tega mengkhianati Mas Arlan serta aku, Mas! Aku kuliah, ternyata kamu aaaagh shiiit!! Kenapa bukan kamu yang mendonorkan ginjal mu pada Leon! Kenapa mesti Yasmin! Biar aku yang menjadi janda, dan kamu bawa dosa mu sampai mati, Mas!!" teriaknya lantang dihadapan Arlan juga Shinta tanpa perasaan malu.
Seno mendapatkan makian yang bertubi-tubi dari Lily juga Arlan, hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Entahlah, selama ini ia menutup semua itu rapat-rapat akhirnya terbuka juga.
"Sa-sa-sa-sayang, maafkan Mas. Kami khilaf waktu itu. Arlan di penjara, dan Yasmin mendapatkan tekanan dari Mama Liberti. Semua terjadi hanya karena perasaan nyaman, Lan. Tidak sengaja ..." jelasnya dengan wajah yang sudah tak berbentuk.
Tidak ada perasaan kasihan di hati Arlan, juga Lily, saat melihat darah masih menetes di hidung Seno. Perasaan kecewa, marah, bahkan ingin mengirim pria laknat itu ke neraka berkecamuk sudah di kepala Arlan.
Hanya karena Shinta yang menahan dirinya, agar tidak melakukan hal yang sangat membahayakan, membuat Arlan hanya bisa menahan rasa sakitnya saat ini.
Arlan berdiri tegak, "Sampai aku mati, aku tidak akan pernah memaafkan mu, Seno! Kita bersahabat, berbisnis, bahkan melakukan apapun bersama sejak dulu, ternyata kau mengecewakan aku. Mulai besok, lelang saham mu di rumah sakit, karena aku tidak ingin melihat mu lagi. Kita adakan rapat besar, dan tolong serahkan Leon dalam keadaan sehat pada ku! Aku tahu, kau membawa putra ku, tapi karena aaagh ... Damn it! Aku kecewa sama kau laki-laki brengsek!"
BHUUG ...!
Arlan menghayunkan kakinya ke tubuh Seno, membuat laki-laki yang sudah berlumuran darah itu, hanya pasrah menerima semua hantaman dari sahabatnya.
"Ma-ma-maafkan aku, Lan ...!"
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Seno saat Arlan membawa Shinta, meninggalkan pasangan suami-istri itu di ruang kerjanya.
Kali ini Arlan tidak ingin berlama-lama berada di sana. Antara tega dan tidak tega, Arlan harus menerima semua kenyataan yang sangat memilukan tersebut. Tak ada teman untuk mengadu, selain Shinta yang masih meringis menahan rasa sakit di kakinya.
__ADS_1
Dada Arlan seketika terasa semakin sesak, saat mengenang masa indah bersama Seno dan Yasmin. "Ternyata mereka saling membantu, saling tertawa itu karena ada perasaan cinta," tangisnya kembali terdengar.
Membuat Shinta yang tengah mengemudikan kendaraannya, hanya bisa menghibur sewajarnya saja.
Shinta bertanya, "Kita mau kemana, Pi?"
"Bandara! Kita ke Singapura, dan tinggal di sana, sampai kamu melahirkan. Aku tidak ingin berada di kota ini. Karena aku tidak ingin lagi melihat wajah pengkhianat itu muncul dihadapan ku!"
Shinta menelan ludahnya, mengangguk, melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara internasional, untuk kembali ke Singapura.
.
Berat sekali, Arlan benar-benar terpuruk dalam kesendiriannya, tanpa mau di temani oleh Shinta.
Baru kali ini, Shinta melihat seorang pria yang patah hati karena pengkhianatan. Leon yang selama ini Arlan anggap sebagai anak kandungnya, ternyata darah daging Seno yang merupakan sahabatnya sendiri.
Lebih dari dua minggu Arlan terpuruk dalam kesendiriannya, membuat Shinta tampak kebingungan saat Mia berkali-kali mengomelinya karena tanda tangan Arlan yang tak kunjung ia dapatkan ...
[Hei ... Kamu kan dekat dengan Pak Arlan, tolong lah. Sampai saat ini, penjualan saham rumah sakit Pak Seno belum dapat di proses. Aku minta kamu membantu aku, Shinta. Karena sudah lima kali aku di omelin Pak Seno. Mereka ini kenapa mau pecah kongsi begini sih]
Shinta hanya menghela nafas berat, tanpa mau mendengar celotehan Mia yang dia sendiri juga tidak begitu dekat ...
[Kasih aku waktu untuk berbicara dengan Pak Arlan. Karena sampai saat ini, dia tidak mau bertemu dengan siapapun termasuk aku]
[Hmm ... Ya sudah deh. Kalau sudah dapat, tolong di kirim ke email. Sebenarnya butuh tanda tangan asli. Tapi karena kondisi tidak kondusif, terpaksa kita akalin saja ...]
__ADS_1
[Ya, nanti aku sampaikan ...]
Shinta mengakhiri panggilan teleponnya, meletakkan handphone diatas meja dapur, melanjutkan kegiatannya sebagai seorang simpanan Arlan.
Kandungan Shinta sudah memasuki trimester kedua, membuat dia harus berjuang sendiri, karena keadaan Arlan yang masih belum bersahabat. Jika ditanya hubungan kedua-nya mau dibawa kemana dan tidak ada tujuan. Ya ... Semua Shinta perjuangkan sendiri untuk menjadi seorang Nyonya Arlan.
Saat Shinta tengah disibukkan dengan menyelesaikan masakannya, tiba-tiba tangan Arlan melilit perutnya yang sudah membuncit, sambil mengecup lembut leher jenjang gadis berusia 23 tahun tersebut.
"Papihh ..."
"Maafkan aku, sayang ... Aku tidak memperdulikan perasaan mu selama berada di sini. Apakah kamu sudah mendapatkan kabar dari Leon, Shinta?"
Shinta menggelengkan kepalanya ketika mendengar nama Leon di sebut oleh pria yang masih terlihat kusut tersebut, ia tersenyum sumringah, membalikkan tubuhnya, menatap wajah tampan Arlan, yang sangat di rindukan, dengan bertanya pelan ...
"Apakah Papi mau makan bersama?"
Arlan mengangguk manja, "Kamu suapin aku, yah? Mungkin minggu depan kita akan kembali lagi ke Jakarta, karena ada beberapa yang harus aku selesaikan. Jika Seno tidak mencabut semua miliknya di rumah sakit, maka aku yang akan melakukannya sendiri, agar pria brengsek itu meninggalkan Jakarta!"
Shinta mengehela nafas dalam-dalam, dia tersenyum menatap Arlan, hanya bisa bicara sewajarnya saja ...
"Aku sangat mengagumi Papi, sejak awal bertemu, hingga Leon pergi meninggalkan kita. Lebih baik, Papi berada di sini dulu, kita bisa pergi kemana saja, sampai Leon kembali. Setelah Leon kembali, kita akan tahu, siapa yang ia pilih! Papi atau pria itu ... Untuk bisnis, selama ini Papi dan Seno juga jarang bertemu. Biar tidak menjadi bahan pembicaraan sama keluarga Oma Leon, Pi ..." jelasnya pelan.
Arlan tak mengindahkan, kali ini ia tidak bisa mengambil keputusan, karena bisnis mereka sangat memang sangat mengikat satu dan lainnya.
"Hmm ... Bagaimana jika kita memulai satu bisnis di sini, sayang? Apa kamu tertarik?"
__ADS_1
Shinta mengangguk setuju, mengalungkan tangannya keleher tegap pria kesayangannya, setelah dua minggu tak ingin berbicara dengannya.