Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Isi diary Yasmin ...


__ADS_3

Lebih dari dua jam, Arlan dan Shinta saling bercerita. Berbincang ringan, tentang kegiatannya ketika meninggalkan kediaman pria mapan itu, dan kembali ke panti asuhan tempat ia di besarkan.


Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Dokter pribadi Arlan, dan kini tangan kanannya dipasang infus vitamin untuk menstabilkan kondisi tubuh Shinta.


"Jadi, apa maksud mu datang ke Jakarta? Dari mana kamu mendapatkan uang? Sementara rekening tabungan mu tertinggal di kamar ku!" Arlan menyuapkan potongan buah ke mulut Shinta, sambil memperhatikan Sandy yang masih sibuk memainkan jemari halus sang Mama.


Shinta menekukkan wajah, dia masih belum dapat memaafkan diri sendiri, karena kebodohannya.


"Hmm Ibu panti yang memberikan Shinta uang, Bi. Waktu itu Shinta mau kembali ke apartemen, ta-ta-tapi Bibi mengatakan tidak akan melihat Shinta lagi. Shinta takut, Bi ..." ucapnya berbisik.


Arlan tersenyum lirih, dia merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu, "Jika aku marah, lebih baik menghindar, karena aku akan merasa tenang jika sudah tidak bertemu. Tapi jika bertemu lagi, bukan untuk membahas tentang masalah yang sama. Sudahlah, saat ini kamu istirahat dulu. Aku masih ada urusan. Jadi aku harap, kamu dengar nasehat ku. Tidak boleh keluar dari kamar, jika Sandy membutuhkan sesuatu, tinggal panggil baby sitter saja. Aku pergi," kecupnya pada kening Shinta.


Shinta termangu menatap lekat wajah Arlan yang masih berada di hadapannya. Entah mengapa, ada setitik kerinduan yang di pancarkan oleh pria dewasa itu, namun dapat di sembunyikannya.


Perlahan Arlan mengusap lembut pipi halus Shinta, "Aku masih mencintai mu, Shinta. Tapi aku tidak ingin memaksa mu untuk menerima cinta aku, kembali. Karena aku ingin kita sama-sama berpikir sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan!"


Seketika mata Shinta seperti berembun, mendengar penuturan Arlan. Pria dewasa yang benar-benar tidak pernah berubah, bahkan sangat mengerti bagaimana dirinya saat ini. Membuat perasaan Shinta seperti tersayat-sayat, karena telah melakukan kesalahan, dengan meninggalkan Arlan disaat cinta itu tengah mekar.


Ibarat pepatah, "Ditinggalkan ketika lagi sayang- sayangnya ..."


Usia Arlan yang sudah mendekati kepala lima, namun sejak awal, kedewasaan duda beranak satu itulah, yang mampu membutakan mata hati Shinta untuk terus menggoda pria yang berstatuskan mertuanya tersebut.


Walau sesungguhnya, sejak awal Arlan menyentuh Shinta, sambil membayangkan Yasmin, namun setelah kelahiran Baby Sandy, ia benar-benar banyak menaruh harapan pada wanita itu walau tidak berbalas seperti diawal.

__ADS_1


Shinta menarik ujung baju kemeja yang di kenakan Arlan, ia hanya bisa berkata, "Bi, maafkan aku ..."


Arlan meraih tubuh yang masih duduk bersandar dengan tumpukan bantal tersebut, mendekap erat, kemudian mengusap lembut punggung wanita cantik yang ternyata sangat ia rindukan.


"Jangan pergi lagi! Karena di luar sana, tidak ada yang akan peduli dengan mu! Kita mulai dari awal, setelah aku menyelesaikan semua tanggung jawab ku! Aku pergi dulu!"


Lagi-lagi Arlan mengecup lembut kening Shinta, mengusap lembut kepala Baby Sandy yang sudah terlelap di dekapan sang Mama, sambil mengisap jempolnya.


Membuat Shinta semakin yakin, bahwa tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan pria dewasa yang sangat lembut dan baik memperlakukannya sebagai seorang wanita juga Ibu dari anaknya.


Arlan keluar dari kamar, menoleh kearah asisten rumah tangganya, dengan berpesan, "Tolong jaga Shinta, serta anak ku! Jika Raline atau Nyonya Liberti datang, suruh dia menemui aku di mansion! Aku tidak ingin orang-orang itu membuat onar di apartemen ku, dan dapat di dengar oleh anak serta wanita ku! Satu lagi, siapkan menu makan malam untuk Shinta dan Sandy. Mungkin aku kembali agak larut! Jadi jangan biarkan Shinta keluar dari kamar, karena aku tidak ingin berdebat dengan Liberti!"


Asisten rumah tangganya hanya mengangguk patuh, kembali bertanya, "Baik Pak! Menu malam ini, apakah buah atau salad yang biasa di makan Nona Shinta?"


"Baik Pak!"


Arlan berlalu meninggalkan kediamannya. Akan tetapi, dia bertemu dengan Raline yang sudah berdiri di depan pintu apartemen miliknya.


Dengan berat hati Arlan menggelengkan kepalanya, ketika melihat wanita itu tersenyum sumringah menatapnya.


"Ada apa kau datang? Bukankah aku mengatakan bahwa kita akan bertemu di mansion? Aku akan menjual rumah itu, dan pembagiannya tidak sesuai dengan harapan kalian!" tegasnya.


Raline justru mendekatkan wajahnya dihadapan Arlan tanpa perasaan sungkan, dia mengusap lembut dada bidang duda gagah itu, kemudian meletakkan kepalanya di dada Arlan, sambil berkata, "Aku sangat merindukan mu, Arlan. Tolong hentikan kekasaran mu pada ku. Buka sedikit saja hati mu untuk ku ..."

__ADS_1


Arlan tertawa kecil mendengar celotehan Raline. Dia tak bergeming, bahkan menahan nafasnya agar tidak merasakan apa-apa akan sentuhan wanita liar tersebut.


Sejujurnya Arlan tidak bisa membuka pintu hatinya lagi semenjak Shinta pergi meninggalkannya. Tipe pria yang tidak mudah jatuh cinta, karena akan menyakiti hatinya, jika tidak menemukan wanita baik, dan dapat menyayangi Sandy seperti Shinta merawat putra kesayangannya.


Cukup lama mereka berdua berdiri di depan pintu apartemen, Arlan langsung meremas kuat lengan Raline, berkata dengan nada geram, "Aku tidak akan memberikan peluang pada mu, Ra-li-ne! Karena kau tidak akan bisa menggantikan posisi ibu dari anak ku, Sandy! Jadi tolong, kita selesaikan semuanya, dan jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi!"


Arlan menyeret lengan Raline, untuk ikut dengannya, membuat wanita itu benar-benar terhuyung, karena menganggap bahwa Arlan menariknya seperti akan mencampakkan nya.


"Arlan! Bisa pelan enggak? Sakit, lepaskan tangan mu! Kau meremas lenganku terlalu kuat!" sesalnya, melepaskan genggaman tangan Arlan dari lengannya.


Arlan melepaskan genggamannya, ketika mereka telah berdiri di depan lift, untuk menuju basemen.


"Kau cari pria yang lebih baik dari ku, Raline! Atau Seno, karena aku dengar dari Lily, lusa merupakan putusan akhir persidangan perceraiannya. Dia bisa memberikan kebahagiaan padamu! Jangan aku. Dan kalian bisa mengambil Leon. Ditambah Leon anak Yasmin adikmu. Jadi, kau tidak perlu merendahkan martabat mu sebagai wanita untuk mengejar pria yang tidak mencintai mu!" tegasnya.


Raline menelan ludahnya berkali-kali. Dadanya seketika bergemuruh bahkan terasa sangat panas. Bagaimana mungkin, dia harus menikah dengan Seno, sementara hatinya mencintai Arlan.


"Kenapa kau tidak pernah memberikan peluang pada ku, Arlan? Setidaknya, kau lebih kaya dari Seno! Dan aku tidak bisa mencintai orang lain selain diri mu!"


Arlan menepis semua ucapan Raline, "Jangan mencintai seseorang yang salah. Karena jika cinta mu tidak berbalas, itu akan menyakitkan. Sama halnya seperti Yasmin, yang ternyata tidak mencintai aku selama pernikahan kami. Dia tidur dengan Seno, ketika aku pergi dinas ke luar kota! Aku telah membaca semua isi diary milik Yasmin!"


Raline terdiam, wajahnya memerah malu. Bagaimanapun, dirinya pernah menghabiskan malam bersama Seno sebelum semua itu terbongkar.


"Agh sial! Ternyata Arlan benar-benar pintar untuk melindungi seluruh aset kekayaannya ..."

__ADS_1


__ADS_2