Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Mencintai Leon ...


__ADS_3

Sesuai permintaan Leon diawal. Ia hanya meminta waktu Shinta selama dua jam saja. Benar, Shinta kembali ke apartemen dalam waktu dua jam, setelah berbincang-bincang ringan bersama Leon.


Entah keputusan apa yang Shinta ambil, yang penting saat ini, ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Arlan. Pria dewasa yang sangat lembut juga penyayang.


Shinta menautkan kedua alisnya, ketika membuka pintu kamar apartemen, melihat dua pria itu masih terlelap selama kepergiannya.


Perlahan Shinta mendekati Arlan, mengusap lembut kepala pria tersebut dengan perasaan bahagia ...


"Bi ... Sarapan dari tadi sudah siap sejak tadi. Katanya kita mau berangkat hari ini," sungutnya.


"Hmm ... Oogh shiiit. Badanku terasa remuk sayang," peluknya mendekap erat tubuh ramping wanitanya.  


Shinta menghela nafasnya, dia hanya tersenyum tipis, melihat kearah Arlan yang tengah mengendus-endus bak seekor kucing persia yang kehilangan induknya.


"Mau mandi dulu, atau sarapan di kamar?"


Arlan menoleh kearah Baby Sandy, sambil menjawab dengan suara pelan, "Bawa kesini saja sayang. Aku ingin di manja oleh kamu pagi ini. Sudah jam berapa?"


Shinta melirik ke pergelangan tangannya, "Hmm sudah jam 10.00 lewat ... Jadi Shinta persiapkan dulu sarapan buat Bibi, dan mungkin kita kembali ke Singapura selesai Bibi sarapan dan mandi."


Arlan menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat bahwa ia sangat setuju dengan semua keputusan wanitanya.


Shinta mengusap lembut kepala Baby Sandy, agar Arlan mau membersihkan putra kesayangan mereka.


Namun, lagi-lagi bayi sekecil itu hanya menggeliat, dan tersenyum bahagia ketika membuka mata indahnya. Entah beberapa botol susu yang terletak di dekatnya, karena Arlan telah menyediakan asi Shinta yang sengaja di persiapkan di botol yang sudah tersedia, tanpa harus mengganggu wanita itu jika malam harus memberikan asi eksklusif pada Baby Sandy.

__ADS_1


"Mama siapkan sarapan dulu buat Papa, ya sayang. Tumben Papa kamu sedikit manja, dan tidak mau keluar dari kamar," godanya pada puncak hidung Arlan.


Arlan tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Shinta, yang semakin hari semakin membuatnya semakin jatuh hati pada wanita itu.


Shinta sangat terbiasa memilah perasaannya. Ia terlalu sering hidup dalam kepura-puraan selama menjadi istri sekaligus perawat untuk Leon.


Wanita itu berlalu meninggalkan kamar mereka, sementara Arlan masih di sibukkan dengan tingkah lucu yang membuat Baby Sandy tertawa kecil karena mendapatkan sentuhan tangan dari pria yang sangat menyenangkan baginya.


Bahagia, hanya perasaan itu yang ada dalam benak Arlan, sehingga tidak ingin berpisah lagi dari Shinta.


"Aku tidak ingin berdebat panjang dengan Seno, Leon ataupun Keluarga Mama Liberti. Kali ini, merekalah kebahagiaan sejati ku. Dan aku sangat yakin, Shinta akan selalu memberikan yang terbaik untuk ku juga Baby Sandy ..."


Benar saja, tak lama mereka berdua saling bergelut di atas ranjang ... Shinta masuk kedalam kamar, membawa nampan yang berisikan makanan.


"Bibi, ini seharusnya makan siang sayang. Kamu tidurnya kelamaan, jadi saja sarapan tidak tepat waktu begini. Ingat sayang, usia kamu sudah tidak muda, jadi kurang-kurangin bergadang. Shinta belum siap untuk menjadi seorang janda yang belum di nikahi secara resmi," tawanya sengaja menggoda Arlan.


Baby Sandy, putra kesayangan Arlan yang tidak pernah merengek, atau bahkan menangis keras. Ia justru anak yang sangat ramah, karena semenjak hamil, Shinta harus menjadi wanita mandiri, karena kegalauan seorang Arlan kala itu.


Hubungan mereka yang hampir berada di jurang perpisahan kala itu, karena ketidakpedulian Arlan terhadapnya, membuat dirinya merindukan sosok seorang Leon yang penuh dengan kelembutan.


Lebih dari 30 menit, Shinta memanjakan Arlan, memberikan asupan nutrisi yang membuat pria itu langsung duduk di tepian ranjang, menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya seperti biasa.


Sementara Shinta, membersihkan Baby Sandy, yang telah mengeluarkan aroma yang bercampur aduk di kamar mandi yang berbeda.


Begitulah keseharian Shinta bersama Arlan, sehingga ia berpikir untuk meninggalkan pria itu dengan membawa Baby Sandy, untuk hidup bahagia bersama Leon.

__ADS_1


Lebih kurang dari dua jam, mereka telah bersiap-siap untuk meninggalkan Jakarta, tentu membawa Surti bersama mereka menuju Singapura.


.


Tak banyak tuntutan Shinta selama menjadi wanita yang di perlakukan seperti istri tersebut. Baginya, perhatian Arlan yang semakin lama semakin sayang padanya, membuat ia merasa nyaman dan lega. Tidak ada tuntutan ekonomi yang kekurangan, namun ada satu hal yang membuat Shinta harus berpikir ulang untuk menjadi seorang Nyonya Arlan.


Setelah mendengar semua penjelasan tentang Arlan dari Leon, membuat Shinta ingin mencari jawaban itu sendiri dengan caranya.


Sifat Arlan dan watak yang kasar jika tengah bercinta, membuat ia harus berpikir ulang untuk menghabiskan masa mudanya bersama pria dewasa seperti Arlan. Tapi ia juga tidak dapat memisahkan Baby Sandy untuk hidup bersama Leon, dengan semua janji-janji yang di ungkapkan pria muda itu padanya.


Seketika kuduk Shinta seperti meremang, karena sulit untuk berpikir jernih, dengan memutuskan diantara dua pilihan dalam waktu dua hari.


Arlan yang melihat keanehan pada Shinta, memeluk erat tubuh ramping wanita itu, sambil bertanya karena perasaan penasaran ...


Berkali-kali Arlan mengecup lembut leher indah Shinta, "Apa yang kamu pikirkan, sayang? Kita akan menikah dua hari lagi. Semua legalitas sudah dipersiapkan oleh pengawal ku. Apa kamu ingin membeli beberapa perhiasan hmm?"


Pandangan Shinta yang jauh kedepan, menikmati keindahan malam, dengan hembusan angin di balkon apartemen, membuat dia hanya bisa tersenyum tipis, tanpa mau menoleh kearah Arlan, sambil bertanya karena ada beberapa keraguan yang mengganjal ...


"Apakah kita yakin akan terus bersama, Bi? Karena jika kita bersama hanya untuk Baby Sandy, rasanya itu terlalu egois untuk ku. Aku masih ingin bahagia, Bi ..." ucapnya lembut, namun dapat diartikan oleh Arlan.


Arlan melepaskan dekapannya, hanya menghela nafas berat, memilih berdiri di sebelah Shinta, dengan mata berkaca-kaca dan hati yang gelisah membuat berkecamuk, namun ia berusaha tenang menjawab ucapan wanitanya ...


"Apa yang kamu pikirkan ini, ada sangkut pautnya dengan Leon? Katakan pada ku ... Jangan ada yang di tutupi Shinta. Aku tidak suka pengkhianatan, lebih baik kamu berkata jujur pada ku. Karena aku sudah mempersiapkan semua resiko yang mungkin sudah menjadi takdir hidup ku. Selama aku bersama mu, tidak pernah sedikitpun aku mengkhianati mu, bahkan aku ingin memberikan yang terbaik, agar kamu bahagia. Tapi jika kamu lebih memilih untuk kembali pada Leon, aku terima. Dengan satu syarat, jangan pernah bawa Baby Sandy, karena aku yang akan merawatnya. Terimakasih untuk semua kebaikan mu, perhatian mu, dan kasih sayang mu selama ini. Mungkin aku harus hidup sendiri di sini, tanpa harus ada pendamping hidup," jelasnya dengan wajah datar, dan nada bergetar penuh kepiluan.


Shinta terdiam sejenak, matanya berembun mendengar ucapan yang keluar dari bibir Arlan ...

__ADS_1


"Apa aku salah ingin memiliki Bibi, tapi juga ingin menginginkan Leon ..." tangisnya pecah seketika, dengan cepat tangan halus itu menutup wajah cantiknya.


Arlan tersenyum sumringah, menatap lekat kearah langit yang pekat, "Bahkan semua menjauh dari ku ... Ternyata benar feeling ku, Shinta juga mencintai Leon ..."


__ADS_2