
Dunia terasa sangat indah terasa, saat kita memiliki segalanya dalam keadaan sempurna dari sang pencipta. Titipan anak dari Tuhan, sangat di syukuri oleh Arlan ditambah Shinta sangat pandai merawat buah hati mereka.
Mungkin pikiran orang-orang dosa yang mereka lakukan saat ini. Ya ... Perbuatan mereka berdua memang dosa, akan tetapi ... Arlan memiliki insting sendiri untuk menghadapi apapun saat ini.
Dengan membuat steatmen bahwa, "Leon bukan darah dagingnya. Atau bahkan, Leon bukan anak biologisnya, ia hanya anak yang sah dimata hukum, namun ternyata tidak sah dalam agama yang ia anut."
Dalam kasus ini, Arlan mencoba untuk mengalihkan pikirannya, agar dapat melihat dampak dari semua kesalahannya dengan Shinta. Mungkin orang lain beranggapan bahwa Arlan tega menyakiti Leon, tapi dalam kenyataannya Arlan lah yang terzolimi oleh Seno dan Yasmin, sehingga Leon lah yang menjadi korban atas kebohongan mereka selama 20 tahun.
20 tahun, 20 tahun lamanya, mereka menutupi semua rahasia dan kebohongan identitas Leon. Sehingga Yasmin pergi untuk selamanya, membuka tabir kepalsuan Seno setelah dua tahun kemudian.
Gila, brengsek, atau bahkan tidak memiliki perasaan, hanya itu yang akan dikatakan orang-orang pada Arlan, jika semua terkuak dihadapan orang banyak.
Namun, kali ini Arlan sudah bertekad untuk memperjuangkan hubungannya dengan Shinta, suka atau tidak suka, bahkan semua alibi sudah di persiapkan oleh pria mapan dan tampan itu, untuk membela Shinta dari tuduhan dan tuntutan di luar sana. Terutama dari serangan Liberti serta Raline yang masih belum bisa menerima kenyataan.
Shinta yang tengah mempersiapkan semua kebutuhannya, bertanya pada Arlan, "Bi ... Kita pesawat jam berapa?"
Arlan yang tengah sibuk bermain dengan Baby Sandy hanya menjawab pelan, "Terserah kamu, sayang ..."
Shinta hanya tersenyum, setelah usia Sandy tiga bulan, dan dinyatakan sehat, mereka bertiga akan kembali ke Jakarta. Tentu saja untuk membereskan semua permasalahan yang hampir satu tahun sengaja di bekukan oleh Arlan.
Ditambah Arlan telah mendapatkan kabar dari Dokter Iman, bahwa mereka telah kembali, dan mengirimkan foto kesehatan Leon, yang tampak berbeda dari sebelumnya.
Hanya butuh waktu sembilan bulan, untuk memulihkan kondisi kesehatan Leon, tentu saja dengan dana yang bernilai fantastis demi menyelamatkan satu nyawa.
Arlan mendekati Shinta, kembali bertanya, "Jika kamu bertemu Leon yang sekarang apakah kamu akan kembali padanya, Shin?"
Mendengar pertanyaan Arlan membuat jantung Shinta berdegup lebih kencang. Bagaimanapun ia masih sah istri dari Leon, walau harus menjadi wanita simpanan Arlan. Tenggorokannya seakan tercekat, karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang sangat mengejutkan.
__ADS_1
"Hmm Shinta tidak tahu, Bi. Bagi Shinta, Bibi sangat perhatian dan kita sudah memiliki anak. Apakah Leon akan mempertahankan rumah tangganya, walau Shinta sudah tidur dengan Bibi? Enggak mungkin Leon akan mempertahankan pernikahan kami, Bi ..." jelasnya pelan.
Arlan tersenyum lirih, namun semua dampak terburuk pun sudah ia persiapkan jauh-jauh hari, untuk tidak memperebutkan seorang wanita yang akan berkhianat.
"Ya ... Saat ini kamu belum melihat Leon. Dia sudah sembuh, dan dinyatakan sehat. Makanya aku mempertanyakan semua ini pada mu. Aku tidak ingin kamu mengkhianati aku. Jika kamu melakukannya, maka aku akan membawa Sandy!" tegasnya.
Shinta mengangguk mengerti, kali ini ia benar-benar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, jika benar-benar dihadapkan dengan Leon yang merupakan suami sahnya.
"Oogh Tuhan, apa yang harus aku lakukan ... Jika Leon memaksa, bahkan tidak akan pernah menceraikan aku. Apakah aku akan kehilangan Arlan? Dia pria yang sangat baik, juga penyayang. Bahkan dia mau merawat Sandy untuk ku ..."
Tak terasa air mata Shinta mengalir membasahi wajah cantiknya, dan mengusap perlahan agar tidak terlihat oleh Arlan yang ingin memeluknya.
"Aku mencintaimu Shinta, aku takut. Aku benar-benar takut kamu tergoda dan aku kembali terhianati sama halnya Yasmin mengkhianati aku," jelasnya memeluk tubuh ramping Shinta dengan erat.
Pikiran Shinta bercampur aduk, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kali ini. Ia benar-benar berharap tidak akan bertemu Leon, atau bahkan bicara berdua dengan pria yang masih berstatuskan sebagai suaminya itu.
Mereka tiba di Jakarta, dan kini telah tiba di apartemen milik Arlan yang berada di Jakarta, tidak jauh dari rumah sakit, juga mansion nya.
Apartemen yang nyaman, telah di persiapkan oleh asisten rumah tangganya atas perintah Arlan sebelum mereka tiba di Jakarta. Dengan penuh kebahagiaan, kedua insan itu saling bekerjasama untuk memperhatikan semua kebutuhan buah hati mereka.
Sesekali mata Arlan tertuju pada layar handphone yang miliknya yang terletak di meja kamar, karena layar menyala dan tertulis nama "My Son" di sana.
Dengan cepat Arlan menggeser layar hijau, dan memasang earphone di telinganya ...
[Papi dimana? Apakah masih di Singapura]
Arlan tersenyum sumringah, menatap layar handphone miliknya dengan perasaan bahagia, karena mendengar suara bariton Leon yang sangat ia rindukan sejak beberapa waktu lalu. Suara tegas, bahkan sangat menyenangkan jika ia sehat seperti semasa sekolah dulu ...
__ADS_1
[Apakah kamu sudah berada di mansion]
[Ya ... Aku sudah di sini. Bersama Paman Seno yang sejak tadi pagi menemani aku! Bisa kita bicara]
[Oke ... Aku akan kesana]
Arlan mengakhiri panggilan teleponnya, meletakkan handphone kedalam saku celana.
Kembali Arlan menatap Shinta yang tampak termangu memandanginya saat menerima telepon dari Leon ...
"Bagaimana Bi? Bibi mau bertemu Leon?"
Arlan menganggukkan kepalanya, "Aku harus menyelesaikan semua ini. Demi kita, dan setelah aku menyelesaikan semua permasalahan ku, aku akan memberi ruang untuk mu bertemu dengannya. Tolong jangan kecewakan aku kali ini, Shinta!" tegasnya.
Lagi-lagi Shinta tak mampu berkata-kata, apalagi untuk menjawab semua pernyataan Arlan yang sangat tegas. Dia hanya tersenyum tipis, dan menoleh kearah Sandy yang masih terlelap.
Arlan mengecup lembut kening Shinta, kemudian beringsut mendekati Baby Sandy yang tertidur pulas dengan pelukan guling kecil.
"Jaga Sandy untuk ku, sayang. Aku mencintaimu ..."
Dengan langkah cepat, Arlan berlalu, meninggalkan apartemen, menuju kediamannya. Tidak banyak perubahan, hanya terlihat tidak berseri saat mobil miliknya memasuki gerbang mansion mewah tersebut.
Arlan menyunggingkan senyuman tipis, saat matanya tertuju pada mobil Seno juga Dokter Iman yang sudah lebih dulu berada di sana. Tak lupa juga, ia menghubungiku pengacaranya, yang telah menyelesaikan semua legalitas atas status Leon yang tidak menggunakan nama Alendra lagi.
Tentu hantaman ini akan sangat menyakitkan bagi Leon, yang menjadi korban dari keegoisan Seno dan Yasmin beberapa tahun lalu.
Arlan memasuki pintu utama, dengan langkah kaki yang mulai melambat, karena menyaksikan kehadiran Raline di sana.
__ADS_1
"Brengsek kau, Sen! Aku tidak ada urusan dengan wanita laknat itu! Aku hanya ingin menjelaskan semua status Leon, yang ternyata bukan anak kandung ku ...!" geramnya dalam hati ...