
Siang semakin terik, Raline terlihat sangat frustasi. Kali ini ia hanya bisa berdiri diatas rooftop gedung rumah sakit dengan linangan air mata. Hatinya seperti tersayat-sayat karena tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama, selayaknya Yasmin ataupun Shinta dari Arlan.
"Kenapa kau tidak pernah bisa menerima aku, Arlan? Apa salah ku? Apa kurangnya aku, Arlan!" Pekiknya semakin melengking di udara.
Seketika itu, terlintas dalam benak Raline, untuk meloncat dari atas gedung, menuju lantai bawah hanya untuk menyusul Yasmin, ataupun Utama sang Papa yang telah meninggalkannya beberapa tahun lalu.
"Tuhan, kenapa tidak ada seorangpun yang sudi untuk serius dengan ku! Kenapa aku harus jatuh hati pada Arlan. Tapi aku tidak pernah diperlakukan baik olehnya. Jemput aku, Tuhan! Ambil saja nyawa ku, karena aku tidak ingin melihat Arlan hidup bahagia bersama wanita seperti Shinta. Wanita itu tidak pantas untuk Arlan, aku yang lebih pantas, Tuhan! Raline Utama, Raline Utama yang sangat pantas untuk menjadi pendamping Arlan Alendra!"
Raline benar-benar menangis sejadi-jadinya, ia terduduk dilantai semen sambil menutup wajahnya.
Sesungguhnya wajah Raline tidaklah buruk. Gadis berusia 36 tahun itu terlihat cantik terawat, selayaknya wanita dewasa lainnya. Kulit yang putih bersih, dengan rambut panjang yang tergerai sangat indah berkilau, membuat Arlan benar-benar tidak bisa memaksakan perasaannya untuk menerima Raline sebagai istri semenjak Yasmin meninggal dunia.
Raline memang memiliki masa lalu yang kelam. Hidup selayaknya di kota besar yang menyukai kebebasan, membuat ia harus mengikuti trend masa mudanya dengan menjalin hubungan diam-diam bersama Seno dan salah satu pria lebih muda darinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Jika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab, tentu jawabannya Seno, karena kehormatan Raline telah di renggut oleh pria yang berstatuskan suami dari Lily delapan tahun yang lalu, ketika mereka melakukan perjalanan dinas disalah satu negara Eropa.
Arlan yang tidak bisa berangkat bersama Seno dan beberapa rekan bisnisnya membuat ia meminta Raline untuk menemani sahabatnya, menghadiri acara peluncuran produk baru untuk rumah sakit mereka.
"Maaf Sen, sepertinya aku harus menemani Yasmin. Karena istri ku sedang tidak enak badan, dan dia tidak mengizinkan aku untuk berangkat kali ini!" jelasnya, ketika mereka berhasil memenangkan tender pengadaan alat kesehatan untuk salah satu rumah sakit rekanan mereka.
Seno menghela nafas panjang, ia memijat pelan pelipisnya, karena mengingat bahwa Yasmin baru saja melakukan tindakan kuret di salah satu rumah sakit ibu dan anak, tanpa sepengetahuan Arlan.
"Hmm, baiklah. Aku tidak ingin memaksa mu untuk menemani ku kali ini. Tapi aku ingin kau terus memberi kabar kepada pihak mereka, agar tidak mempersulit perjalanan ku. Kamu tahu sendiri, aku agak kurang dalam berbahasa Inggris, Lan!"
"Bagaimana kalau Raline ikut bersama mu? Dia sangat faseh dalam berbahasa asing. Pasti dia juga sangat senang ikut dengan mu," titah Arlan melirik kearah Raline yang masih disibukkan dengan berbagai macam pekerjaannya.
Arlan yang tidak memahami bagaimana otak Seno, karena dalam benaknya pria yang telah menjadi sahabatnya sejak dulu, tidak akan pernah melakukan hal-hal yang buruk diluar sana. Baginya, Seno menjadi sahabat yang sangat baik dan bertanggung jawab.
__ADS_1
Sementara dalam benak Seno, ia merasa lega karena lagi-lagi Arlan memberikan peluang besar baginya untuk terus menikmati keindahan dua wanita yang memiliki tubuh seksi dan sangat menawan.
Tentu penampilan Raline dan Yasmin, sangat berbeda dari Lily yang tidak pernah merawat tubuhnya karena wanita itu memiliki otak yang cerdas, dan tidak pernah memikirkan penampilannya.
Bagi Lily, otak cerdas lebih utama daripada harus memiliki tubuh seksi dan terawat tapi tidak bisa memberikan kebahagiaan pada suami sendiri. Cukup sederhana yang ada dalam benak Lily yang memiliki pekerjaan part time disalah satu universitas ternama di negeri jiran secara online.
Lily tidak pernah mengetahui bagaimana sifat asli Seno selama pernikahan mereka. Hubungan terlarang Seno dan Yasmin berhasil di sembunyikan oleh keduanya, karena mereka sangat pintar dalam mengatur permainan serta menutupi perasaan jika bersama pasangan masing-masing.
Gila, mungkin hal itu yang ada dalam benak Lily dan Arlan kala itu, jika mereka mengetahui hubungan cinta segitiga Raline, Yasmin dan Seno.
Arlan benar-benar melepaskan Seno untuk pergi membawa Raline bersama. Tentu dengan merangkul mesra bahu Yasmin yang masih lemah karena demam tinggi menurut Arlan, tapi tidak begitu dalam benak Seno.
Tentu Seno memanfaatkan kepergiannya kala itu bersama Raline, untuk mencari kesenangan dari gadis cantik nan anggun dalam balutan busana kasual yang sangat menarik perhatiannya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Seno berusaha untuk menggenggam jemari tangan gadis cantik itu, ketika mereka akan menyebrangi jalan, saat berada di salah satu kota benua Eropa.
"Ehem, kenapa berani sekali kamu menggenggam tangan ku, Sen? Bukankah kau menjalin hubungan gelap dengan adikku?" senyumnya menyeringai kecil.