
Penyesalan terbesar dari seorang wanita adalah telah menyia-nyiakan kesempatan melayani pria yang kita cintai seperti biasa sebagai suami sendiri.
Ya ... sudah lebih dari dua minggu setelah perdebatan Shinta dan suaminya serta menjaga egonya, ketika berada dirumah sakit saat Sandy dirawat satu malam, membuat ia tidak memperdulikan ucapan Arlan yang akan melakukan apapun sesuai keinginan hatinya.
Prang ...!
Bingkai foto yang tergantung di ruang keluarga, jatuh dilantai kemudian hancur berderai.
Dapat dibayangkan bagaimana firasat seorang istri, jika melihat foto pernikahan mereka hancur berantakan tanpa ada angin ataupun tanda-tanda bahwa foto yang berpigura dan terpaku dengan sangat kokoh itu akan terjatuh di lantai ruang tamu.
Shinta terpekik sangat keras, "Bu, kenapa foto itu terjatuh, tolong hubungi sopir, katakan bahwa aku akan pergi ke apartemen Bibi!"
Tidak banyak tanya, asisten rumah tangga kediaman mewah itu langsung melakukan tugasnya, memberi kabar kepada sopir pribadi Shinta untuk mempersiapkan mobil majikannya.
Dada Shinta seperti akan meledak karena rasa curiganya beberapa hari ini terhadap ucapan Abigail padanya, bergumam dalam hati dengan penuh kegetiran, "Aku tidak ingin kehilangan Bibi. Bagaimanapun, Bibi merupakan Papa bagi Sandy. Aku harus membawa Bibi pulang, bersertan dengan karma, atau Leon, anak itu sudah mati. Kali ini Bibi suami ku! Sudah hampir lima bulan dia tidak menyentuh ku. Bahkan Bibi tampak diam-diam saja ..."
Mobil melaju kencang menuju kediaman Arlan yang berada cukup jauh dari mansion mewah mereka. Bergegas Shinta membuka pintu mobil, ketika SUV mewah itu terparkir di loby apartemen, kemudian langsung berlari untuk menekan tombol lift, dan memasukkan password kediaman suaminya.
Dengan wajah penuh khawatir, Shinta benar-benar mengatur nafasnya, berusaha untuk tetap tenang walau wajah terlihat sangat tegang.
Ting ...
Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan suasana ruang tamu yang tampak sepi, hanya ada suara televisi menggema di ruang keluarga, namun Shinta melebarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arlan yang belum terlihat.
"Kemana Bibi? Kenapa ada sepatu high heels wanita di sini? Apakah ...?"
Shinta menelan ludahnya berkali-kali, ketika melihat high heels wanita tergeletak di depan pintu kamar, kemudian ia terus menyusuri ruang tamu yang akan membawa langkahnya ke ruangan yang terbuka sedikit.
Ya, kamar Arlan. Shinta langsung melihat sedikit pintu kamar yang terbuka, dan mencoba untuk melebarkan pintu yang tertutup sedikit, hanya untuk meyakinkan penglihatannya.
"Bibi!" Pandangan Shinta dikejutkan dengan munculnya sosok wanita agresif yang tengah mendessah hebat, duduk di atas tubuh telanjang suaminya. Membuat darah wanita beranak satu itu mendidih seketika.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Raline tengah duduk di atas tubuh suaminya, yang tampak tertidur pulas, tanpa menghiraukan kondisi Arlan yang ternyata tidak sadarkan diri.
"Bangsat kau! Wanita sialan! Kau apakan suami ku, wanita jallang!" pekik Shinta histeris ketika melihat adegan yang sangat menusuk jantungnya sebagai seorang istri.
Shinta menaiki ranjang kingsize kamar Arlan dan langsung menjambak kuat rambut Raline, menyeret wanita itu agar turun dari tubuh suaminya.
Benar saja, Raline telah terbebas dari penjara dua hari yang lalu, kemudian merencanakan sesuatu untuk bertemu dengan Arlan, tentu dengan bantuan dari seseorang yang telah menjamin dirinya untuk menjadi istri ke empat pengusaha tua yang menjadi rival bisnis Arlan selama ini.
Raline sengaja, mencampurkan minuman Arlan dengan satu obat bius, agar membuat tubuh pria itu tidak sadarkan diri. Namun masih bisa on fire dan dapat di nikmati oleh wanita dewasa tersebut.
Betapa terkejut dan murkanya Shinta, ketika melihat tubuh itu memompa suaminya dengan penuh nafsu. Sehingga meninggalkan banyak tanda merah di dada Arlan, membuat ia langsung menyeret tubuh Raline tanpa perasaan kasihan.
"Kau apakan suamiku, jallang!" teriak Shinta lagi, menggema dengan lantang di apartemen mewah itu.
Akan tetapi, Shinta merasakan sunyi di apartemen itu, membuat dia terus berteriak memanggil para pelayan juga Abigail.
Benar saja, siapa sangka bahwa kedua pelayan juga Lily, di sekap dikamar mandi dengan bantuan orang suruhan Raline.
Entah sejak beberapa jam yang lalu kejadian itu terjadi, yang pasti Shinta mendapati Raline tengah menikmati batang milik suaminya.
Bergegas Shinta membuka pintu kamar mandi yang terkunci dari arah luar, kemudian mengambil pemukul baseball untuk menghancurkan wanita itu dengan penuh dendam.
"Sialan kau! Kau terus menggoda suami ku, apa yang kau lakukan!"
Phang ...
Satu pukulan keras dilayangkan oleh Shinta, namun dapat ditepis oleh Abigail agar tidak melakukan hal yang melanggar hukum dan membuat Nyonya Besarnya terjerat dalam kasus hukum. Akan tetapi, ujung tangkai baseball itu mengenai sudut bibir Raline, dan memecahkan bibir wanita itu.
Terlihat tatapan sinis Shinta, dengan dada yang semakin turun naik, ingin menghabisi nyawa Raline hari itu juga.
Shinta menggeram, dia masih ingin menghayunkan tongkat baseball itu, namun lagi-lagi Lily menahan lengan Shinta, dan membiarkan wanita itu berbicara sesuka hatinya, "Kau sengaja datang ke kediaman suami ku, dan melakukan hal hina itu, agar hamil benih dari suamiku, jallang! Kalau kau memang benar-benar menginginkan suami ku, maka kau harus melangkahi mayatku dulu Ra-li-ne!"
__ADS_1
Tidak ada sebutan Tante, tidak ada perasaan ingin berdamai, apalagi berbagi suami dengan wanita jahanam itu.
Shinta dilanda perasaan khawatir, untung saja kehadirannya tepat pada waktunya. Sehingga Raline tidak berhasil mereguk kenikmatannya dari milik Arlan.
Dengan cepat Shinta langsung melempar tongkat baseball itu ke lantai, membiarkan para pelayannya mengurus Raline, akan tetapi dia langsung berhambur masuk ke kamar untuk menyadarkan Arlan.
Shinta yang memiliki pengalaman dalam bidang kesehatan, bergegas membasahi handuk kecil dengan air hangat, dan menutup tubuh telanjang Arlan. Mengusap wajah gagah itu dengan perlahan, setelah mengolesi aroma terapi di handuk yang ada ditangan kanannya.
"Bibi ... ini aku sayang. Bangun Bi!" Tampak kepanikan dari raut wajah Shinta, karena belum mendapatkan tanda-tanda Arlan akan siuman.
Shinta dilanda kepanikan, dia tidak ingin Arlan berada dalam pengaruh obat perangsang itu lebih lama, bahkan seolah-olah dia tengah berhalusinasi dalam dunia mimpinya, karena pengaruh bius yang dibubuhi Raline dalam jumlah yang tinggi dan mengakibatkan kerusakan pada jantung si pengguna.
Lily bergegas membawakan satu suntikan, untuk menetralisir racun yang ada di tubuh Arlan, "Pakai ini, Shinta. Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit, dan kebetulan selama ini, kita selalu menyediakan stock jika terjadi sesuatu!"
Shinta mengerenyitkan keningnya, ia melihat jenis tulisan di botol kecil itu, dan langsung menusukkan jarum suntik ke botol penawar racun tersebut sebanyak dua ampul.
Dengan ilmu yang ia miliki, Shinta langsung mengoleskan alkohol di lengan Arlan yang ia terima dari Lily, kemudian menusukkan jarum suntik itu dengan perlahan.
Berkali-kali Shinta mengusap lembut kepala Arlan, menggeram dengan deraian air mata, agar sang suami segera siuman. "Bi, bangun sayang ..."
Benar saja, hanya menunggu waktu dalam tiga puluh detik, Arlan terjaga dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal dan langsung terbatuk-batuk.
Ya, pengerjaan obat-obatan yang dimasukkan oleh Raline itu ternyata dapat menghentikan detak jantung dalam waktu hitungan detik, namun bisa membahayakan pagi pengguna, apalagi tidak menggunakannya dalam dosis anjuran dokter, sesuai aturan pemakaian.
Raline memberikan obat itu dalam dosis tinggi, membuat tubuh Arlan tidak siap dalam menerima reaksi yang bekerja di tubuhnya.
Melihat Arlan telah siuman, Shinta langsung memeluk suaminya yang masih setengah sadar.
"Jangan tinggalkan Shinta, Bi. Aku sangat takut kehilangan Bibi!" isaknya membuat Arlan tampak kebingungan.
"Agh ... kepala ku sakit sekali, sayang!" bisiknya menyentuh lengan Shinta.
__ADS_1
"Tenang dulu, Bi," jelasnya, meminta agar Lily keluar dari kamar mengisyaratkan dari tatapan mata, dan dapat dipahami oleh wanita paruh baya itu.
"A-a-a-apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada disini? Bukankah tadi aku tengah meeting bersama Lily juga beberapa partner bisnis ku? Agh ... kenapa barang ku berdenyut bahkan sangat keras seperti batang kayu begini, sayang?" ringisnya sambil mengusap batang miliknya.