
Suasana hari itu sangat melelahkan bagi Arlan juga Shinta, setelah memberikan laporan tentang kejahatan Raline yang sangat menggangu kenyamanan keluarga mereka sejak dari Singapura. Hal yang sangat mengagetkan bagi pasangan suami istri itu, ketika mendengar identitas Raline yang merupakan residivis.
Ya, Raline baru keluar dari rutan Salemba Jakarta beberapa bulan lalu, dan langsung menjalani pernikahan kontrak dengan Stefan setelah membuat beberapa perjanjian. Semua keterangan mereka dapat dari Sakira, ketika memberikan laporan kepada pihak berwajib juga pengacara Stefan yang berada di Italia.
Apapun alasannya, kali ini Raline harus mendekam di penjara, karena statusnya masih sebagai residivis dan masih mendapatkan perhatian khusus dalam hukum internasional atas kepemilikan senjata api yang ia dapatkan secara ilegal.
Sakira : "Sayang, aku hanya diajak oleh istri mu itu. Kenapa kau malah menjatuhkan talak juga kepada aku?"
Stefan : "Aku tidak ingin menjadi bulan-bulanan pihak berwajib karena ulah kalian berdua. Kau dan Raline sama saja. Suka buat sensasi, tidak tahu apa tujuannya. Buat malu saja, kalian mengganggu Arlan yang sedang berbulan madu! Dengar Sakira, aku tidak akan meminta kuasa hukum ku datang ke Santo Stefano, dan aku sudah menceraikan mu juga Raline mulai hari ini!"
Panggilan telepon terputus, membuat Sakira kelabakan akan keputusan yang diambil oleh Stefan untuk mereka berdua.
"Ogh Tuhan, tidak mungkin aku akan mendekam di penjara selama di Italia. Aku tidak bersalah. Justru Raline lah yang bersalah, aku harus meminta Tuan Arlan membantuku. Bagaimanapun aku harus kembali ke Singapura. Bagaimana mungkin aku harus memberikan denda hingga satu milyar. Agh ... bodohnya aku ..." Sakira menarik kuat rambut ikalnya, dihadapan Abigail yang mendengar percakapan itu.
.
.
Sementara Shinta langsung memeluk Arlan dengan sangat erat, ketika kembali ke penginapan mereka. Ada setitik penyesalan dihati wanita oriental nan cantik alami tersebut, karena telah tega menyakiti suaminya karena perasaan cemburu.
"Bi ... kita berangkat malam ini ke Paris, ya! Sesungguhnya malam ini aku pengen kita ke taman kota. Tapi aku tidak ingin berada disini, karena Raline masih ada di kota ini walau mendekam di penjara. Aku takut, dia keluar dari penjara dan kembali mengancam kita," sungutnya dengan nada lembut.
Tangan Arlan mengusap lembut punggung Shinta, mendekap erat tubuh ramping yang benar-benar sangat hangat tersebut, dengan mengangguk setuju.
"Apapun yang kamu inginkan saat ini aku ikut saja, karena aku tidak ingin kamu menangis atau bahkan meremas kuat dadaku." Arlan memperlihatkan remasan tangan istrinya yang menorehkan luka yang cukup banyak.
Shinta menutup mulutnya, melihat dada Arlan yang terluka karena ulahnya, "Maafkan aku, Bi. Jujur aku cemburu karena Bibi tega telah bermain dibelakang aku dengan Raline. Aku tidak mau Bibi dimiliki oleh orang lain, karena aku sangat mencintai Bibi," isaknya kembali terdengar sambil mengusap lembut dada Arlan.
__ADS_1
"Kita bersiap-siap sekarang. Jika tiba di Paris, kita akan melepaskan kerinduan. Aku tidak ingin kamu terlalu memikirkan wanita gila itu sayang. Kamu harus tahu, aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku juga mencintaimu, Shinta! Dan aku ingin hidup bahagia bersama mu, tanpa mereka."
.
.
BHUG ...
BHUG ...
BRAK ...
"Agh!" Seno terjerembab dilantai dingin penjara, dengan mulut menyemburkan darah segar, karena hantaman pria hitam keturunan Ambon manise.
Di sel penjara Salemba khusus pria, Seno justru menjadi bulan-bulanan salah satu orang depkolektor yang ternyata satu sel dengannya setelah seminggu berada dalam tempat yang sama, atas permintaan seseorang.
Kaki kekar itu kembali berada di punggung Seno yang masih tertelungkup, sambil meringis kesakitan ...
"Bagaimana kabar mu, Bung? Apakah masih sama sombongnya dengan beberapa waktu lalu, hmm? Karena kau tidak pernah mengindahkan permintaan perusahaan ku, maka dengan senang hati aku berada di dalam sini, untuk melipat mu, dan mengirim mu ke neraka, menyusul selingkuhan dan anak mu!"
Seno bersusah payah untuk melihat wajah pria yang tengah menginjak keras punggungnya. Dapat dirasakan betapa remuk tulang-tulang pria yang tak segagah dulu. Bahkan saat ini pedang pamungkasnya memang tidak mau menyala maksimal karena perbuatan Arlan beberapa waktu lalu ketika kehilangan Leon di rumah sakit.
Pandangannya samar, kepalanya terasa berdenyut. Yang terdengar hanyalah suara teriakan orang-orang untuk menghabisinya secara samar.
"Habisi dia Bung! Dia ini selalu saja berbuat onar! Pembual besar! Dia bilang bahwa dialah pemilik rumah sakit internasional milik Tuan Arlan. Mana ada pemilik rumah sakit memiliki bentuk kayak orang hutan begini!" tawa salah satu penghuni lapas.
Bibir Seno berusaha untuk berkata sedikit dengan terbata, "A-a-a-ampun, Bang! A-a-aku akan mengembalikan uang perusahaan kalian. Tapi jangan siksa aku ..."
__ADS_1
Ambon manise yang sengaja mendekatkan telinganya, untuk mendengarkan suara Seno, hanya menyunggingkan senyuman lirih, kemudian menekan kembali lututnya, "Siapa yang akan membayar hutang kalian? Hmm? Kalau masih di satu milyar, mungkin perusahaan kami tidak akan mengirim aku kesini. Hutang mu masih tersisa 20 milyar dan itu atas nama mu juga Nona Raline. Salah satu wanita dari perusahaan kami, sudah masuk ke dalam sel perempuan, tapi tidak menemukan keberadaan wanita itu. Bahkan kami juga kehilangan kontak dengan Nyonya Liberti. Katakan pada ku, dimana istrimu itu berada!?"
Seno menggeleng beberapa kali, tubuhnya memang sudah tak kuasa menerima hantaman yang bertubi-tubi. "A-a-aku ti-ti-tidak tahu! To-tolong lepaskan aku dari ancaman kalian! Aku tidak ada urusannya dengan hutang itu. Karena aku telah kehilangan putra kesayangan ku!"
Tiba-tiba tangis penyesalan terdalamnya keluar begitu saja. Ia terkenang akan dosa-dosa yang telah ia lakukan selama 25 tahun lebih terhadap Arlan, sahabatnya.
Pertemanan yang dulu sangat akrab, dan saling menjaga kepercayaan, seketika hancur karena kepergian Yasmin menghadap Ilahi, dan Leon yang memutuskan untuk ke Cina dalam melakukan pengobatan atas saran Dokter Iman.
Ada penyesalan dihati Seno, karena telah mengirim Leon ke Cina. 'Andai saja aku tidak mengirim Leon ke Cina sesuai ucapan dokter keparat itu, mungkin aku masih hidup enak dalam gelimang harta, dan masih menghabiskan malam bersama Raline juga Lily secara bergantian. Kini mereka telah pergi, bahkan Arlan dengan tega mengirim aku ke penjara. Padahal semua ini tidak kesalahan aku sepenuhnya'...
.
Di tempat yang berbeda, Liberti terus dihantui oleh perasaan takut. Tingkat stroke yang ia alami karena berpikir terlalu berat, membuat tubuhnya tumbang, ketika didatangi Stefan untuk melamar Raline dan hanya menebus satu orang saja.
Akan tetapi, tumbangnya Liberti pada waktu itu yang awalnya bohongan, ternyata membuat dirinya benar-benar mengalami stroke berat.
"Ba-ba-bawa aku bertemu dengan menantu ku, Arlan. A-a-aku tidak ingin memiliki menantu lebih tua, bahkan seumuran dengan ku! A-a-aku tidak mau melihat Arlan menikah dengan menantunya itu. Dia hanya milik putri ku, Raline. Arlan itu hanya untuk Raline!" Teriaknya dengan bibir miring ke kanan, dan tubuh terus mengejang di bangkar rumah sakit.
Suster hanya terus menyuntikkan obat penenang sebanyak dua ampul, jika Liberti mengalami penurunan kesehatan seperti saat ini, sesuai permintaan Stefan.
"Buat wanita paruh baya itu mati perlahan! Karena anaknya telah mengecewakan aku! Mereka harus menerima kenyataan, bahwa Arlan telah bahagia bersama istrinya ...!" Seringai Stefan kepada orang kepercayaannya, melalui telepon selulernya.
"Baik Tuan! Kami segera melakukan sesuai permintaan Anda."
"Satu lagi! Atur pertemuan ku dengan Lily, karena aku menginginkan wanita keibuan itu untuk menjadi istri ku selanjutnya!"
"What? Istri selanjutnya?"
__ADS_1