Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Tidak ingin bertemu


__ADS_3

Dua insan masih terlelap setelah menikmati masa indah bulan madu mereka sebagai pasangan suami istri. Arlan masih terus mendekap tubuh ramping Shinta, yang tertutup selimut tebal, ditutup rambut panjang nan tergerai indah.


Cantik, hanya kata itu yang ada dalam benak Arlan ketika melihat wajah Shinta dengan pipi tembem semakin berisi.


Seketika Arlan teringat akan janjinya dengan Lily, "Agh Tuhan, kenapa aku bisa melupakan janjiku. Sudah jam berapa ini ...?"


Arlan meraih handphone yang ia letak dinakas, kemudian menghubungi Abigail asisten pribadinya.


Arlan : "Dimana?"


Abigail : "Lagi di restoran hotel, Tuan.  Bersama Nyonya Lily hmm ..."


Arlan : "Tunggu aku di sana!"


Tanpa menunggu jawaban dari Abigail, Arlan langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap-siap menghampiri Lily yang ternyata sudah menunggunya sejak dua jam yang lalu.


Mendengar suara percikan air yang samar, Shinta menggeliatkan tubuhnya, meraba-raba mencari keberadaan suami tercinta.


"Bi, Bibi!" Panggilnya dengan suara serak-serak basah selayaknya seorang wanita yang baru terjaga, tanpa bisa membuka matanya.


Arlan yang tengah berhias selayaknya seorang crazy rich mapan dengan didukung wajah yang tampan. Bergegas menghampiri Shinta sambil mengusap lembut punggung sang istri yang masih menelungkup diranjang peraduan mereka.


"Apa sayang," kecupnya pada punggung telanjang Shinta.


Shinta bersusah payah untuk mengerjabkan matanya perlahan, tapi sangat sulit ia rasakan, hanya bisa bertanya manja, "Bibi mau kemana? Jangan tinggalkan aku ..." usapnya lembut pada wajah tampan suami tercinta.


Lagi-lagi Arlan mengecup lembut bibir mungil itu, "Aku ke restoran dulu. Kamu istirahat saja, ya. Nanti kamu hubungi aku saja, sayang. Aku tahu, kamu pasti kelelahan ..."


Shinta mengangguk dua kali, dan tidak menghiraukan candaan Arlan karena tidak kuasa menahan rasa kantuknya.


Bagaimana tidak, Arlan benar-benar membuat Shinta tidak bisa mengenakan pakaiannya, karena rasa memiliki yang sangat tinggi dari pria itu.


Ya, cara Arlan memperlakukan Shinta sangat berbeda dari sebelumnya. Rasa trauma akan masa lalu yang pernah dikhianati oleh Yasmin, membuat Arlan benar-benar menjaga ketat wanita muda itu, karena tidak ingin terulang sakit yang sama.


Sementara Shinta bukanlah wanita yang tumbuh dari keluarga sempurna seperti Yasmin. Wanita itu tumbuh di panti asuhan sehingga mendapatkan beasiswa hingga menyelesaikan pendidikannya hingga S2 lulusan London University.


Tentu sangat berbeda dengan Yasmin. Almarhum istri dari Arlan itu hanya lulusan sekolah menengah atas, dan tidak melanjutkan kuliahnya karena pernikahan yang harus mereka lakukan saat kondisi Yasmin tengah mengandung benih cintanya bersama Seno.


Kepolosan Arlan dimasa muda kala itu, membuat ia harus menerima kenyataan karena perasaan takut akan ancaman Utama, jika tidak menikahi putri kesayangannya tersebut. Sangat bertolak belakang dengan Liberti, yang justru ingin menggugurkan kandungan sang putri, karena Yasmin masih berusia 18 tahun untuk melancarkan pendidikannya.


Dengan langkah cepat, Arlan meninggalkan Shinta didalam kamar itu sendiri, tidak lupa menghampiri satu kamar untuk melihat putra kesayangannya, Sandy.


"Pa-pa ..." Langkah kaki kecil itu berhambur mengejar Arlan, yang langsung menyambut tubuh mungil berusia tiga tahun sembilan bulan tersebut.

__ADS_1


"Sayang," Arlan menggendong buah hatinya, sambil menoleh kearah baby sitternya kembali memberikan perintah, "Tolong temanin Nyonya. Pijat tubuhnya, karena dia merasa kelelahan. Jika sudah bersih, susul saya ke restoran!"


Baby sitter Sandy mengangguk patuh, sambil menjawab, "Baik Tuan ..."


Arlan berlalu meninggalkan kamar putra kesayangannya, membawa Sandy bersamanya.


"Papa, a-a-aku mau sama Mama, eng-enggak mau ikut Papa ..." tawanya menggoda Arlan.


Namun, Arlan masih saja tidak menghiraukan permintaan Sandy, karena ia ingin memperkenalkan putra kesayangannya kepada Lily sebagai isyarat bahwa hidupnya lebih sempurna setelah bersama Shinta.


Lift terbuka, memperlihatkan sosok Abigail yang tengah berbincang ringan dengan wanita yang memiliki tubuh sintal itu.


"Halo Mas Arlan, long time no see. How are you?" senyum Lily mengembang lebar saat Arlan menghampirinya.


Arlan hanya menaikkan alisnya, mencium Sandy yang langsung mendekap erat tubuh kekar sang Papa karena baru bertemu dengan orang asing.


"Baik Lily. Bagaimana kabar kamu? Senang bertemu dengan mu? Duduklah, sory telah menunggu lama. Karena aku ketiduran, dan Shinta juga masih terlelap karena kami benar-benar ingin menghabiskan waktu untuk berlibur di sini," jelas Arlan berusaha menenangkan Sandy.


Lily menyentuh tangan mungil Sandy sambil bertanya dengan nada lembut, "What do you want, baby?"


Arlan tersenyum kearah Lily, "Dia belum bertemu Shinta, jadi sedikit rewel."


Kembali Arlan menoleh kearah Abigail dan memberikan Sandy pada pria muda tersebut, "Abi, tolong bawa Sandy bertemu Nyonya. Dan kamu langsung ke sini, karena Nyonya lagi perawatan!"


Arlan hanya menghela nafas panjang, ketika melihat Sandy dari kejauhan yang terus menunjuk arah ice cream dan susu yang menjadi kesukaannya.


Kembali Arlan menoleh kearah Lily yang ikut menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil Arlan, yang semakin terlihat bahagia dan sempurna.


Arlan bertanya, sambil menerima secangkir kopi tanpa gula yang diberikan pelayan dihadapannya, "Bagaimana, apa yang membuat mu ingin menemui aku, Li?"


Lily mengeluarkan handphonenya, membuka folder galeri foto, kemudian memperlihatkan pada Arlan dua video kondisi terakhir Leon yang ia letakkan diatas meja restoran.


Sejenak mata Arlan berembun, melihat kondisi anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kembali menggigil melambaikan tangan kearah kamera.


[Hai Mama, Le-on ri-rindu. Ma-ma-ma balik lagi ya sama daddy. Daddy sangat merindukan Mama, ka-karena sampai saat ini kami hanya tinggal berdua, dan hmm ... Aku juga merindukan Pa-pi. Jika Mama bertemu Papi, sampaikan salam ku pada-nya. Katanya bahwa aku merindukannya, dan aku minta maaf kepada Shi-n-- ...]


Bersusah payah Arlan menelan ludahnya, berkali-kali pula ia mengalihkan pandangannya agar tidak menangis dihadapan Lily.


"A-a-a-apa yang terjadi, Li? Kenapa Leon jadi begini? Bukankah harta yang kau tinggalkan pada Seno lumayan banyak? Ta-ta-tapi kenapa tidak ada seorangpun yang mampu merawat dia?" geramnya mengepal kuat tangan sendiri.


Lily menggeleng, bibirnya tidak mampu untuk menceritakan bagaimana sebenarnya kondisi keuangan Seno, yang langsung habis ludes karena di peras habis-habisan oleh Liberti untuk membayarkan hutang-hutang mereka sebesar 17 milyar.


Sehingga memberikan Leon, yang mengalami penurunan kesehatan pada satu tahun perpisahan mereka sebagai keluarga.

__ADS_1


Dengan gampangnya, Liberti menyerahkan Leon kepada Seno dengan alasan mereka tidak memiliki uang untuk merawat cucu-nya yang kembali sakit-sakitan.


Arlan mendengus dingin, mendengar penuturan Lily yang menceritakan garis besarnya saja.


Dengan cepat insting Arlan sebagai pria bertanggung jawab bertanya dengan nada santai, sambil menyilangkan kakinya, "Jadi maksudmu, menemui aku saat ini hanya untuk meminta bantuan?"


Lily hanya tersenyum tipis, kembali menatap kearah gelas yang ada dihadapannya, kemudian menyesap jus buah yang ia pesan, dan menjawab pertanyaan Arlan dengan tatapan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak meminta Mas untuk bertanggung jawab pada Leon. Karena aku yang menanggung semua kebutuhan pengobatan Leon selama ini. Aku hanya ingin Mas Arlan menjenguknya, hanya untuk bertemu walau sebentar. Kita tidak tahu ajal, Mas. Sama halnya dengan Yasmin, meninggal dalam keadaan hmm ya ... begitulah ..."


Arlan hanya terdiam, tersirat raut wajah kesedihan dari tatapan matanya. Akan tetapi, dapat ia bendung dengan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Aku akan memberikan mu cek dalam jumlah besar. Tapi jangan kau berikan pada Seno, tolong kau berikan pada Leon, untuk biaya pengobatannya. Bukan aku tidak mau bertemu dengan-nya, tapi aku butuh waktu. Karena aku tidak ingin meninggalkan Shinta sendiri disini. Aku minta maaf pada mu ...,"


Lily mengangguk, walau hatinya sedikit kecewa. Karena gagal membawa Arlan bersamanya.


"Apa yang harus aku katakan kepada Leon ... bahwa Arlan tidak ingin bertemu dengannya ..."


____


Hai hai reader tersayang ...


Awal bulan Desember menjadi akhir tahun untuk kita semua ...


Dukung karya Tya Calysta yang masih ONGOING dong ...


Karena author akan memberikan give untuk lima orang yang terus memberikan hadiah, komentar dan hmm love ...


Simak yuk semua kisah ONGOING, Tya Calysta ...


#Tergoda Hasrat Menantu (Rumah tangga, nikah paksa)


#Mas Oon is My Husband (Rumah tangga, Angst)


#Terpenjara Pernikahan Berbeda (Romansa action)


#Terpenjara Suami Pisikopat (Rumah tangga, Angst)


#Putri Tujuh Kesayangan Kaisar Muda (Romansa Fantasi)


#Cinta Suci Seorang Sultan (Rumah tangga, Angst)


#Merebut Hati Suami Mayor (Rumah tangga, nikah paksa)

__ADS_1


Terimakasih ... Sehat untuk kita semua ... 😘😍


__ADS_2