Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Apakah Alexa anak kandung Brian


__ADS_3

Ditempat yang berbeda, Sandy tengah berbincang ringan dengan rekan bisnisnya. Sebagai seorang crazy rich muda mengikuti jejak langkah sang papa. Seperti biasa, ia menunggu Alexa serta Brian di restoran hotel milik Albert, yang menjadi kerabat dekat mereka sejak dulu.


Sandy Alendra, pria muda berusia 21 tahun yang memiliki jarak usia hanya tiga tahun dari Alexa ketika kedua orang tua tercinta mengadopsi adik kecilnya tersebut.


Albert yang mengikuti meeting santai rekannya, menepuk pundak Sandy karena duduk bersebelahan, bertanya karena perasaan penasaran, "Jadi San, Alexa itu bukan adik kandung mu?"


Sandy mengembangkan senyumannya, "Tidak ... Mama dan Papa mengambilnya dari panti asuhan milik Nyonya Rabeca. Waktu itu usiaku masih kecil sekali. Bukan rahasia umum, karena Mama mengalami keguguran. Jadi Papa tidak ingin Mama bersedih, kemudian membawanya ke panti untuk berbincang-bincang dengan Nyonya Rabeca, pada akhirnya bertemu dengan gadis mungil itu. Hingga saat ini kami juga tidak tahu siapa orang tua Alexa. Semoga saja suatu hari nanti kami menemukan keberadaan orangtuanya."


Pria berusia 45 tahun itu sedikit penasaran dengan status Bianca Alexa. Karena beliau merupakan dokter kandungan yang menangani proses kelahiran baby mungil dari gadis bernama Cua beberapa tahun silam, tapi tidak menemukan keberadaan suami wanita muda tersebut, bergumam dalam hati, "Apakah Alexa merupakan anak dari gadis bernama Cua tersebut? Apakah Alexa anak kandung dari Brian ...?"


Albert juga merupakan dokter unggulan Keluarga Arlan yang menangani proses kehamilan Shinta yang tengah mengandung Baby Sandy beberapa waktu lalu, tapi karena masa pendidikannya belum selesai ia menyerahkan kepada dokter yang lain untuk menangani proses kelahiran Sandy.


Waktu begitu cepat berlalu, kini Sandy telah tumbuh menjadi seorang pria muda yang tampan juga rupawan, digandrungi banyak gadis muda termasuk secretaris pribadinya.


Lebih dari 30 menit, Sandy berbincang ringan dengan rekannya sekaligus Albert, sehingga mereka melihat dua insan yang datang ke restoran tersebut tanpa mau bicara satu dan yang lainnya. Bergegas ia menghampiri Alexa yang hanya mengenakan mini dress tanpa blazer dengan warna senada seperti tadi pagi.


Sandy langsung menghampiri Alexa, kemudian merangkul tubuh sang adik kesayangan, membawa menuju tempat meeting mereka agar duduk disampingnya.


Alexa tidak banyak bicara, wajah cantik itu masih menekuk merah, tak sanggup untuk menatap kearah Brian mengingat kejadian tadi pagi.


Entahlah, Brian sebagai pria dewasa yang mapan dibuat salah tingkah oleh putri kesayangan Arlan tersebut. Sehingga ia bergumam dalam hati, "Andaikan saja aku tidak menolak mu tadi pagi, mungkin kita akan berakhir di kamar yang berada diruangan ku, Lex ..."

__ADS_1


Hanya pikiran-pikiran itu yang ada dalam benak Brian, karena sejujurnya ia juga mengagumi sosok gadis muda nan cantik rupawan tersebut.


Sandy meletakkan handphone miliknya diatas meja, melanjutkan pembicaraan mereka seraya bertanya, "Hmm ... bagaimana Mr, apakah kita bisa berangkat lusa menuju Italia?"


Brian mengangguk setuju, kedua bola matanya hanya bisa mencuri perhatian Alexa yang masih serius dengan jadwal rencana keberangkatan mereka.


Dengan demikian, Brian berusaha untuk tetap manis terhadap Alexa, "Baby ... bisakah kamu duduk disamping ku saja? Karena aku tidak bisa melihat semua yang kamu tulis!"


Alexa tersenyum sumringah, rona wajahnya seketika berubah menjadi lebih bahagia. Entah apa yang ada dalam benaknya, karena hanya pria itulah yang mampu membuat dirinya merasa bahagia saat ini.


Bergegas Alexa berdiri, kemudian bergeser sedikit, memilih duduk di kursi yang sudah terbuka.


Brian sedikit mendekatkan wajahnya ditelinga Alexa, hanya untuk mengatakan, "Aku tidak ingin melihat kamu merasa sungkan, Baby. Aku minta maaf atas kejadian tadi telah sedikit keras pada mu ..."


"Ada apa dengan Alex? Kenapa dia jadi aneh begini? Bukankah kalau meeting bersama dia selalu duduk disebelah aku ...?" Sesalnya merasa kurang nyaman, melihat gadis cantik itu lebih serius mendengarkan Brian bicara.


Dalam diam Sandy jatuh hati pada Alexa. Beberapa kali iya mencoba untuk menepis semua perasaan juga pikirannya, akan tetapi semua itu tidaklah mudah. Alexa sangat spesial dihati seorang Sandy, membuat ia harus berpikir keras bagaimana caranya untuk lebih dekat dengan sang adik.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama di restoran hotel, sehingga Brian menerima panggilan telepon dari seseorang diseberang sana.


Membuat Sandy merasa ada ruang baginya untuk lebih dekat dengan sang adik kesayangan.

__ADS_1


Sandy duduk disisi kiri Alexa, hanya untuk bertanya, "Selesai dari sini kamu mau kemana? Sudah pukul empat, aku harap kamu tidak pulang terlalu larut karena kita ada acara keluarga!"


Dengan senyuman mengembang lebar, Alexa hanya mengangguk patuh, "Dari rumah Mama Lily aku akan langsung pulang. Jadi jangan takut! Oke, my brother darling," usapnya pada wajah Sandy dihadapan Albert juga rekan lainnya.


Tatapan mata yang bercahaya, Sandy hanya bisa mengecup lembut kepala Alexa. Sejujurnya perasaan sayang yang ia perlihatkan sejak dulu, merupakan satu cinta yang dirasakannya sejak usia 12 tahun. Salah ataupun tidak pria muda itu tetap mencintai adik angkatnya dalam diamnya.


Tak lama mereka berdua berbincang selayaknya seorang pasangan kekasih muda, tiba-tiba Brian kembali muncul disisi kanan Alexa seraya tersenyum sambil berkata pelan, "Bisakah kita kembali ke kantor sekarang? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, Lex."


Dengan cepat, Alexa menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tidak banyak bicara, baginya Brian seorang pimpinan perusahaan yang sangat tampan, mapan juga berwibawa. Sempat terpikir oleh gadis muda tersebut untuk menjadi sugar baby seorang Brian.


"Bagaimanapun, aku harus mencari cara agar Brian Lincoln berhasil aku taklukkan. Daripada ia harus jatuh ke tangan wanita yang salah. Lebih baik dalam kesendiriannya, dia menjalin hubungan dengan ku ..." Hanya pikiran-pikiran picik seperti itu yang ada dalam benak seorang Alexa demi mendapatkan perhatian Brian.


"Duda bukan, melainkan suami yang sudah lama tidak tersentuh. Maka dari itu, aku harus lebih agresif ..." Lanjutnya bertutur dalam hati menyeringai kecil ketika membayangkan bagaimana gila dirinya.


Brian menggandeng tangan gadis muda tersebut, setelah berpamitan dengan Sandy dan rekan lainnya.


Sontak pemandangan Brian memperlakukan Alexa seperti itu, membuat dada Sandy menggelegak panas karena perasaan cemburu.


"Sial, kenapa laki-laki ini terlalu dekat dengan Alexa? Bukankah pria ini mengetahui siapa Alexa? Dia adik ku, bahkan dia juga mengetahui status Alexa merupakan anak dari Papa Arlan. Aku akan bicara pada Papa, agar Om Brian menjauhi Alex ...!"


Sandy yang melihat adik tercintanya akan segera memasuki lift, bergegas berlari mendekati dua insan tersebut, sambil memanggil nama adik kesayangannya tersebut, "Lex, Alexa. Kamu mau kemana?"

__ADS_1


Dengan cepat Alexa menoleh kearah Sandy, membalikkan wajahnya, hanya untuk menjawab pertanyaan sang kakak angkat, "Hmm ... aku mau ke kantor. Mungkin selesai dari kantor aku akan mengabari mu. Oke, bye baby." Kecupnya dipipi Sandy dengan penuh kelembutan.


Sandy hanya termangu, menatap kedua insan itu meninggalkan restoran hotel tersebut. "Kenapa aku merasakan sesuatu hal yang sangat aneh dari tatapan seorang Brian. Ogh ... tidak-tidak-tidak, aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh terhadap mereka berdua. Om Brian sangat baik, dan dia sangat mencintai Tante Cua ..."


__ADS_2