
Raline yang melihat keponakannya semakin berteriak frustasi, karena akan kehilangan Shinta, mencoba untuk memberi pengertian pada Leon yang tampak hancur karena perasaannya.
"Aku hancur Tante ... Aku hancur, karena pernikahan ini! Aku tidak rela, karena Papi telah merebut istriku ..." tangisnya dalam pelukan Raline.
Air mata Raline kembali mengalir membasahi wajah mulusnya, mendengar ratapan Leon. Perlahan tangannya mengusap lembut punggung Leon, memberikan kekuatan pada putra kebanggaan Arlan dan Yasmin ...
"Tenanglah sayang ... Semua ada solusinya. Kamu pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dari Shinta. Dia akan menikah dengan Papi Arlan. Jangan rusak hubungan mereka, Leon. Biarkan Arlan menikmati dosanya, kamu lepaskan Shinta, sayang ..." titahnya mencoba menguatkan.
Leon menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan pernah melepaskan Shinta, Tante. Secara hukum, Shinta milik ku! Dan Papi, tidak akan pernah mendapatkan yang sudah di tetapkan menjadi milik ku!!" teriaknya kembali murka, menoleh kearah Seno yang berusaha berdiri, namun dengan cepat kembali Leon mencengkeram kuat lengan pria itu, seketika ...
BHUUG ...!
BRAAK ...!
Seno benar-benar tumbang tidak sadarkan diri, membuat kepanikan di mansion milik Arlan kembali mencemaskan.
Bagaimana tidak, Leon berkali-kali menghujamkan pukulannya tanpa ampun di wajah Seno, membuat pria itu tak mampu untuk bertahan.
Raline berteriak keras kepada para pengawal memberi perintah, "Cepat! Bawa Seno ke rumah sakit! Tolong hubungi Lily istrinya!"
"Baik Nona!"
Bergegas mereka membawa Seno, untuk meninggalkan kediaman Arlan, meninggalkan Raline yang masih berdebat dengan Leon.
Sementara Raline hanya menghela nafas berat, karena merasa kecewa dengan keegoisan Leon dengan berkata ...
"Tante kecewa sama kamu, Leon! Terserah kamu, mau bagaimana! Kamu mau merebut Shinta dari tangan Arlan, silahkan! Tapi jangan sampai kamu merebut anaknya!" tegasnya, mencoba untuk mengingatkan, dan berlalu meninggalkan mansion megah milik Arlan.
Berkali-kali Raline menghubungi Arlan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, karena akan membuat malu keluarga besar mereka. Ditambah dengan penghapusan nama Alendra dari nama Leon, membuat beberapa media mempertanyakan 'mengapa' ...
__ADS_1
.
Arlan menjawab panggilan telepon dari Raline dengan keringat masih mengucur di tubuhnya ...
[Hmm ...]
[Apa yang kau lakukan pada Leon, sungguh sangat memalukan Arlan. Kau kejam, kau sangat kejam. Aku pikir kau menghadapi masalah dengan sangat bijak, tapi ternyata aku salah! Kau pergi meninggalkan Jakarta, dan akan menikahi istri dari putra mu! Apa yang ada dalam benak mu! Jika kau ingin membalas sakit hati mu, jangan pada Leon. Dia baru sembuh Arlan. Cukup Seno yang kau siksa, jangan Leon! Karena dia anak yang tidak tahu apa-apa. Dia tidak berdosa! Apa mau mu, sehingga kau membuat pernyataan akan menikah dengan Shinta, lusa? Apa yang ada di kepala mu? Apakah orang cerdas seperti mu tega membuat hal yang akan menjatuhkan nama baik mu? Silahkan kau pikirkan lagi ucapan ku. Aku tidak tega melihat Leon hancur Arlan. Lepaskan Shinta, biar Leon bahagia dengan istrinya. Jangan sampai kau menghancurkan seluruh kebahagiaan keluarga kita, demi Yasmin, Arlan. Demi cinta mu. Aku mohon padamu ... Jangan nikahi wanita itu, karena dia tidak pantas untuk mu ...]
Arlan terdiam sejenak, matanya berembun mendengar penuturan Raline di seberang sana. Kali ini keluarga itu tampak tidak sehangat dulu, bahkan semakin hancur karena Arlan telah tergoda. Benar-benar tergoda bahkan terperangkap dalam permainan hasrat dari menantu nya sendiri.
Dengan cepat Arlan hanya menghela nafas panjang, berkali-kali dia hanya terdiam, tak mampu menjawab semua ucapan Raline. Wanita angkuh yang sangat sombong, mampu memberikan masukan yang cukup masuk akal dalam benaknya.
[Halo ... Arlan ... Apa kau masih mendengarkan aku ...]
[Hmm ...]
Arlan langsung menyela pembicaraan Raline, karena dia tidak ingin mendengar permohonan wanita itu ...
[Jika kalian butuh aku! Datanglah kepadaku! Karena aku tidak ada waktu untuk menginjakkan kaki di kota itu! Kau mengerti ...]
Arlan mengakhiri panggilan teleponnya, tanpa mau mendengar penjelasan dari Raline lagi. Dia memijat pelan pelipisnya, sesekali melirik kearah Shinta yang sudah terlelap dalam dekapannya.
Senyuman Arlan menyeringai kecil, saat matanya menatap kearah wanita yang telah memberikannya seorang anak. Anak yang sehat, bahkan sangat tampan.
Setelah mendengar semua curhatan Shinta, kedua-nya memutuskan untuk terus bersama, sehingga berakhir diatas ranjang peraduan mereka dengan percintaan yang benar-benar memberikan kenyamanan dan kebahagiaan pada wanita cantik itu.
Berkali-kali Arlan mencoba untuk melepaskan Shinta, namun tak kuasa untuk jauh dari wanita yang sangat memabukkan baginya.
Tak ada kata lelah bagi Arlan untuk menghabiskan waktu bersama wanita itu, bahkan membuat rasa cintanya semakin besar.
__ADS_1
"Maafkan aku, Leon. Kali ini, aku tidak akan pernah bisa melepaskan Shinta. Apapun alasannya ..." Hanya kata-kata itu yang terlintas dalam benak Arlan.
.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk dari balik gorden mansion. Leon yang telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya hari itu menuju Singapura, hanya sekedar transit menuju Shanghai ... Tiba-tiba mendapatkan tamu yang tidak di undang dari masa lalunya.
Ya Cua, gadis imut yang dulu menjadi cinta pertamanya, tiba-tiba muncul di mansion milik Arlan, tanpa undangan, tanpa berita, tanpa tahu apa tujuan gadis muda itu.
Seorang pelayan menghampiri Cua, karena telah berani menerobos masuk kedalam rumah sebelum mendapatkan izin dari pengawal yang menghalanginya untuk masuk kekediaman Arlan ...
"Maaf Nona! Bisa kamu menunggu di luar? Karena kami akan memanggil Leon untuk keluar dari kamarnya! Tolong jangan buat onar di kediaman keluarga ini!" tegas seorang pengawal meminta gadis berusia 20 tahun itu untuk keluar dari ruang tamu.
Cua yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari pengawal yang pernah ia temui beberapa waktu lalu, membuatnya harus menuruti semua perintah pengawal.
"Ya ... Panggilkan saja Tuan Muda kalian. Karena aku kesini hanya untuk melihat kondisi Leon. Aku ini teman sekolahnya. Bukan kekasih atau karyawan rumah sakit. Aku ini mahasiswa di salah satu kampus ternama di kota ini ..." geramnya memeluk keranjang buah, yang sengaja ia bawa sebagai buah tangan untuk Leon.
Akan tetapi, saat Cua akan melangkah keluar dari ruang tamu, terdengar suara bariton pria yang sangat ia kenal dari dulu ...
"Cua ..." sapa Leon sambil tersenyum, menghampiri gadis muda tersebut.
Cua menoleh kearah pria yang menyebut namanya, sontak ia mengerjabkan kedua bola matanya, karena merasa tidak yakin dengan pria yang berdiri di hadapannya ...
Gadis itu mengerenyitkan keningnya, meyakinkan bahwa pria tampan itu benar-benar cinta masa sekolahnya, sambil bertanya perlahan, "Le-Le-on ... Apakah Anda benar-benar Le-Le-on? Leon Alendra Arlan?"
Leon membuka lebar kedua tangannya, "Ya ... Ini aku, Leon. Teman mu, cinta mu masa sekolah."
Lagi-lagi Cua menggeleng tidak percaya, karena setahu dirinya, Leon sakit, dan terakhir bertemu dengannya masih menggunakan kursi roda.
"Tidak mungkin kamu Leon, karena Leon ku masih hmm eee ..." ucapnya tidak percaya ...
__ADS_1