Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Makan malam


__ADS_3

Makan malam keluarga yang biasa dilakukan Arlan setiap dua minggu sekali, membuat Sandy merasa cemas karena belum melihat kehadiran adik kesayangannya, Alexa.


"Agh, kemana Alexa? Kenapa sudah pukul 20.30 Alex belum datang juga ...?" umpatnya, semakin menjadi-jadi ketika melihat jam yang melilit dipergelangan tangannya.


Lagi-lagi kedua bola mata Sandy seketika membulat besar, ketika melihat Alexa datang bersama Brian dengan wajah yang berbinar-binar.


Bagaimana tidak, Brian sempat membawa gadis belia itu ke apartemen miliknya untuk membersihkan diri. Sambil memberikan mini dress yang ia pesan disalah satu butik langganan Cua lima tahun lalu.


Gaun malam berwarna cream yang dikenakan oleh Alexa, sangat kontras dikulit putihnya yang tampak sangat menawan juga elegan dengan rambut coklat tergerai indah selayaknya gadis belia bahagia.


Jemari lentik Alexa merangkul lengan Brian, ketika mendekati kedua orang tua angkatnya, membuat Arlan langsung melirik kearah Shinta seraya berkata dengan nada berbisik, "Apakah Alexa menjalin hubungan serius dengan Brian?"


Shinta hanya tersenyum kearah Arlan, "Tidak mungkin Bi, aku sangat mengetahui bagaimana Alexa. Dia hanya nyaman bekerja di perusahaan Brian. Lagian Alexa sangat mengetahui bagaimana sifat Brian yang sudah memiliki istri. Apalagi Brian juga sangat mencintai Cua."


Arlan mengangguk membenarkan, akan tetapi ia bisa melihat bagaimana tingkah putrinya dari body language yang menyiratkan ada hubungan spesial antara Alexa dan Brian.


Arlan berusaha menepis perasaannya, ia menghampiri Alexa yang berjalan mendekati keluarganya, hanya untuk berbasa-basi dengan Brian, "Hai Brian ... apa kabar?" Peluknya, bergegas melepaskan tangan putri kesayangannya dari lengan partner bisnisnya.


Brian tersenyum sumringah, "Baik Tuan Arlan. Oya, tadi Papa bertanya padaku, kenapa kamu tidak datang menjenguknya hari ini. Aku pikir Anda memiliki kesibukan yang sangat padat, walau sudah digantikan oleh Sandy."


Sedikit menundukkan wajahnya, Arlan mengusap lembut dada yang tidak sekokoh dulu, "Katakan pada pak tua itu, aku minta maaf. Karena hari ini kamu tahu sendiri, aku memiliki bisnis lainnya selain alat-alat kesehatan kita. Tadi aku hanya ke restoran, dan membeli beberapa daging untuk acara barbeque malam ini. Oya, bagaimana dengan kondisi Cua? Apakah sudah ada perkembangan?"


Brian menjawab pertanyaan Arlan dengan sangat dingin, "Entahlah Tuan Arlan. Sepertinya aku hanya bisa memasrahkan diri kepada Tuhan untuk kesembuhan Cua. Sudah lebih dari lima tahun dia hanya terbaring lemah di ranjang kamar, dan tidak bisa bicara. Doakan saja yang terbaik, karena besok pagi aku dan team lainnya akan berangkat menuju Roma, membawa putri kesayangan mu."


Mendengar penjelasan Brian, Arlan hanya menganggukkan kepalanya, karena Sandy sudah menceritakan semua kegiatan perusahaan selama satu minggu ke depan.

__ADS_1


"Ayo, kita makan malam bersama. Tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Cua, kami ingin kita menikmati sebotol sampanye bersama kamu, Brian, atas kesuksesan kita menjalin kerjasama dengan sangat baik," Arlan mengajak Brian untuk duduk di kursi taman yang sudah tersedia diarea kolam renang, dengan pemandangan hamparan laut yang sangat indah jika malam.


Alexa melirik kearah Brian, dengan tatapan sendu penuh cinta. Bagaimana tidak, mereka menghabiskan waktu hanya 30 menit untuk saling berciuman mesra dikamar pribadi milik Brian.


"Ogh ... Mr. Baby memang sangat hangat, bahkan mampu membuat aku semakin penasaran dengan sentuhan mu ..." Senyumnya kembali mengerucut ketika lamunan itu dikejutkan oleh Sandy yang merangkul mesra pundak sang adik kesayangan.


"Kemana saja kamu hmm? Aku sangat khawatir dengan kamu. Kenapa mobil kamu tinggal di kantor? Bukankah besok pagi kita akan berangkat ke Roma?"


Alexa tersadar, bahwa dirinya tadi pagi mengendarai kendaraannya sendiri. Ia menepuk jidatnya seraya berkata, "Agh ... aku lupa. Mungkin nanti aku meminta sopir Papa untuk menjemput kendaraan ku. Karena aku tidak ingin kembali ke kantor malam ini, sendiri."


Sandy memberikan ide, hanya untuk menjauhkan Alexa dari Brian, "Bagaimana aku menemani mu, baby?"


Wajah Alexa tampak mengerenyit masam, "No! Karena Tuan Baby masih ada disini. Jadi jangan berharap aku akan meninggalkannya!"


Sejujurnya, Sandy semakin penasaran. Ia telah meminta pengawal keluarganya untuk mengikuti Alexa juga Brian hari ini. Akan tetapi, tidak ada laporan yang mengganggu pikirannya, karena sang adik menghabiskan banyak waktu di kediaman Stefan.


Cukup lama mereka menghabiskan malam bersama, dengan obrolan ringan tentang bisnis juga melihat keceriaan Alexa bersama Sandy yang bercanda berdua.


Brian berdecak kagum, melihat keakraban gadis muda itu sangat akrab dengan Sandy. Tidak ada hal yang membuat ia curiga akan kasih sayang Sandy kepada Alexa.


"Sepertinya, Alexa memang pantas mendapatkan perhatian lebih dari seorang pria muda seperti Sandy ..."


.


.

__ADS_1


Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 waktu Singapura. Alarm kamar Brian berbunyi sangat keras melihat sisi kanan yang menunjukkan bahwa istri kesayangannya masih terlelap disampingnya.


Tidak banyak bicara, Brian bergegas menuju kamar mandi sebelum melakukan ritual paginya berbincang ringan dengan Cua sambil sarapan bersama.


Hanya 20 menit, Brian keluar dari kamar mandi sambil melihat perawat tengah membersihkan tubuh istrinya yang hanya bisa terbaring.


Brian duduk disamping Cua, mencium punggung tangan sang istri sambil berkata, "Hari ini aku ada kunjungan ke perusahaan rekanan kita yang di Roma, sayang. Semoga kamu tetap sehat hingga aku kembali. Aku sangat mencintaimu, Cua."


Tangan halus nan lembut yang dulu tampak segar, kini sudah tampak kaku, bahkan terlihat sangat kurus bahkan hanya bisa menggenggam erat jemari Brian.


Ketika Brian bicara, air mata terus mengalir dari sudut matanya dengan mulut ternganga seakan-akan ingin bicara tapi tidak bisa untuk mengungkapkan apapun.


Kelumpuhan Cua sudah terjadi sejak ia terjatuh di sebuah pusat perbelanjaan, yang membuat tubuh wanita oriental itu shock karena terkejut. Tulang bokong yang terhempas, membuat dirinya terdiam tak bergeming. Pihak rumah sakit, telah melakukan tindakan apapun untuk kesembuhannya, akan tetapi justru penciutan otak lah yang harus ia derita.


Berbagai macam cara yang Brian lakukan agar sang istri dapat bicara, ataupun sekedar memanggil namanya dengan panggilan 'sayang' ... tapi semua itu tidak pernah ia dapatkan setelah berbagai macam cara jenis pengobatan yang dilakukannya.


Brian meraih satu mangkok berisikan bubur ayam seperti biasanya, menyuapkan sedikit demi sedikit kemulut Cua yang masih terbuka.


Cukup lama Brian melihat, Cua menelan makanannya, kemudian bercerita tentang kesehariannya.


"Sayang, kamu mau aku bawakan apa? Keberangkatan ku hanya tiga hari. Aku ingin kamu selalu video call sambil dibantu suster ya? Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama mu malam ini, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, agar tidak ada kesenjangan dalam bisnis kita bersama Arlan," tuturnya, terus menyuapkan makanan ke mulut sang istri.


Tangan Cua seakan bergerak, tak diperhatikan oleh Brian. Tidak ada yang berarti, pria mapan itu terus saja mengajak istri tercinta untuk berkomunikasi selayaknya pasangan romantis.


Air mata mengalir begitu saja, menyiratkan bahwa Cua ingin menyampaikan sesuatu pada Brian ...

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu, mencari putri ku, sayang ..." Hanya kalimat itu yang akan diucapkan oleh Cua, akan tetapi tak kuasa untuk melakukannya.


__ADS_2