Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Aku pemenangnya


__ADS_3

Lebih dari satu jam Stefan dan Brian menunggu Arlan. Membuat pria paruh baya itu kembali menoleh kearah Abigail yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Lagi-lagi Stefan bertanya dengan nada ketus kepada Abigail, yang sejak tadi tak mengacuhkan kedatangan mereka, "Harus berapa lama lagi aku menunggu Tuan mu, anak muda? Apakah Tuan mu tidak mengetahui, bahwa pekerjaan yang sangat membosankan itu adalah menunggu?"


Abigail menunduk hormat, kembali ia menuju meja kerjanya untuk menghubungi Arlan melalui intercom.


Terdengar suara jawaban Arlan dari dalam kamar, "Apakah mereka ada temu janji dengan ku? Aku rasa aku tidak ingin bertemu siapa-siapa hari ini. Karena aku masih sibuk dengan istri ku!"


Stefan yang mendengar pernyataan seperti itu dari Arlan, langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya di intercom, sambil menjawab ucapan Arlan, "Hei anak muda. Jangan biarkan orang tua seperti ku menunggu mu berbulan madu. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Keluarlah sekarang, atau aku akan mendobrak pintu kamar mu!"


"Sial!"


Hanya kalimat itu yang kembali terdengar sebelum Arlan mematikannya.


Arlan menoleh kearah Shinta yang tengah duduk di sofa sambil mengenakan pewarna kuku, setelah rapi dalam balutan mewahnya.


"Sayang, aku temuin dulu tamu yang tak diundang itu. Setelah ini, kita jalan-jalan dan mencari tempat yang indah sesuai rencana kita untuk berlibur bersama Sandy. Aku mencintaimu!" Satu kecupan Arlan layangkan di kepala Shinta, tanpa menunggu jawaban dari sang belahan jiwa.


Shinta hanya tersenyum melihat punggung gagah itu berlalu, kemudian melanjutkan aktivitasnya merawat kuku indahnya.


Ya, setelah pergumulan panjang mereka dari malam hingga siang, membuat Shinta hanya bisa mengembangkan senyuman manis, karena merasa bahagia dengan kembalinya Arlan seperti dulu, walau harus merasakan perih dibagian intinya, sehingga membuat ia sedikit sulit untuk berjalan.


Arlan menghampiri tamu yang sudah duduk di sofa ruang kerjanya, kemudian menutup pintu ruangan itu dengan rapat, sambil tersenyum tipis melihat dua pria bule yang merupakan ayah dan anak itu telah menunggu sejak satu jam yang lalu.


Tanpa perasaan bersalah Arlan menghulurkan tangannya kepada Stefan juga Brian bergantian, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu dengan senyuman mengembang lebar.

__ADS_1


Arlan bertanya dengan nada tegas, pada dua pria bule itu, "Ada apa kalian mendatangi aku? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan bisnis kita?"


Dengan cepat Stefan menepis semua ucapan Arlan, "Aku datang kesini, untuk membayar uang kerugian yang melibatkan istri ku, sehingga masuk penjara!"


Mendengar kata-kata 'kerugian' kening Arlan mengerenyit masam, menoleh kearah Abigail dan kembali menatap Brian.


Melihat wajah Arlan yang kebingungan, membuat Abigail sebagai orang kepercayaannya menjelaskan maksud kedatangan Stefan dan Brian menemui majikannya.


Kembali Arlan teringat dia bertemu dengan Raline di restoran siang itu. Wanita itu, hanya menggunakan mini dress bertali satu, yang tidak mengenakkan bra, membuat matanya sebagai seorang pria normal berdecak kagum.


Beberapa klien Arlan juga mengagumi sosok Raline siang itu.


Arlan lebih dulu menghampiri Raline, karena melihat perubahan yang sangat signifikan pada wanita dewasa itu, kemudian menyapanya dengan ramah dan sangat hangat, "A-a-a-apa kabar Raline? Hmm ... bagaimana kau bisa sampai di sini?"


Tampak senyuman Raline mengembang lebar, dia berdiri kemudian mendekatkan tubuh dan wajahnya dihadapan Arlan, "Hai ... long time no see, baby. Aku tahu dari seseorang bahwa kamu sedang meeting disini."


Dengan segala pesona Raline, Arlan benar-benar terhipnotis karena berpikir bahwa Shinta tak mencintainya lagi.


Raline mengusap lembut lengan Arlan, meminta pria itu untuk duduk di dekatnya dengan gaya tak kalah menggoda, "Duduklah Lan. Kita lupakan semua masa lalu. Karena aku sangat merindukan mu. Beri aku waktu satu hari saja, untuk menuntaskan kerinduan ku padamu. Aku tidak meminta banyak, hanya satu malam. Apakah kamu tertarik? Aku tidak menginginkan uang mu, karena aku memiliki banyak uang. Aku hanya ingin menikmati keindahan milik mu, Arlan."


Sebagai laki-laki normal, Arlan lagi-lagi mengulum senyumannya. Dia kalah kali ini. Dia mengikuti semua keinginan Raline, karena teringat akan indahnya lembah milik wanita itu kala duduk di pangkuannya beberapa waktu lalu.


Arlan kembali menatap kearah dada Raline yang tampak semakin padat, dan sangat indah, pandangannya benar-benar tak menepis semua keindahan yang ada di tubuh ramping wanita gila itu. Sehingga menghilangkan kebenciannya, hanya untuk melampiaskan rasa kecewanya terhadap Shinta.


Lily yang melihat Arlan seperti terperangkap dalam permainannya sendiri, setelah permintaan cerai Shinta beberapa waktu lalu, seperti cerita Abigail padanya, hanya berdoa dalam hati, 'semoga saja Arlan tidak tergoda dengan wanita berhati iblis itu'. Hanya kalimat itu yang terus terucap diujung bibirnya, ketika terus menyaksikan bahwa Arlan semakin intens menyentuh paha mulus Raline yang sengaja mengangkat dress-nya lebih tinggi.

__ADS_1


Kali ini Arlan tak menampik, Raline sangat seksi, dan tangannya bebas melakukan apapun untuk memuaskan kebutuhan hasratnya sebagai laki-laki normal.


Sudah lebih lima bulan Shinta mengacuhkannya, membuat semua sentuhan Raline benar-benar memberi gelenyar baru ditubuh Arlan.


Entah mengapa, Arlan menerima semua makanan dan minuman yang disuguhkan Raline, sehingga pandangannya benar-benar berkunang-kunang, dan tengkuknya semakin terasa sangat berat.


Tanpa sungkan, Raline berhasil duduk dipangkuan Arlan ketika melihat sisi restoran yang tampak sepi dan ruangan sedikit tertutup, membuat wanita itu langsung mellumat bibir pria yang tampak dilanda gairah itu.


Ya, kedatangan Raline hanya ingin bertemu Arlan, setelah dia mendengar dari Brian sang anak tiri, bahwa pria berstatus suami Shinta itu tengah dilanda kegalauan.


Dengan sigap Raline menggunakan waktunya dengan sangat baik, untuk mencampurkan sesuatu dalam makanannya tanpa ia sadari Arlan juga ikut melahapnya. Niatnya hanya satu, ingin memuaskan diri sendiri, ketika Arlan menolaknya, dan kembali pulang kerumah menemui Stefan suami tua yang ia nikahi dua hari yang lalu.


Namun, siang itu gayung bersambut. Arlan masuk dalam perangkapnya, membuat Raline menuntut para pengawal untuk membantunya membereskan semua secretaris serta Lily yang melihat nyalang padanya.


Semua berkerja dengan sempurna, Raline berhasil membawa Arlan menuju apartemen mewah milik pria mapan itu, sambil berciuman bibir sepanjang perjalanan dari restoran menuju kamar Arlan untuk melabuhkan hasrat mereka berdua.


Sejujurnya Arlan sangat menikmatinya, Raline benar-benar agresif, menciumi tubuh pria yang sangat ia cintai itu, membuat Arlan semakin terlarut dalam permainan lihai wanita dewasa tersebut.


Milik Arlan telah berdiri sempurna, membuat Raline semakin berani mencumbunya dengan permainan nakal yang tak mampu di tolak oleh Arlan.


Lummatan lembut hingga kasar, membuat Arlan mengeerang merasakan hangatnya mulut wanita liar itu. Entah berapa lama Raline memainkan milik Arlan dengan mulutnya, sehingga ia merasakan satu ledakan yang sangat sempurna membasahi tenggorokan sang wanita.


Akan tetapi, ketika Arlan akan membalas permainan Raline, tubuhnya ambruk, karena tidak mampu merasakan detak jantung yang berdetak sangat cepat, membuat nafasnya seperti berhenti sejenak, ketika akan memuaskan kebutuhan Raline.


Raline tersenyum sumringah, ia benar-benar senang. Walaupun Arlan tertidur, namun miliknya masih tegap menantikan satu kepuasan untuk wanita itu.

__ADS_1


Kini Raline merasa dialah pemenangnya, tidak ada Shinta, tidak ada Yasmin. Obat itu bekerja dengan sangat baik, membuat wanita itu berhasil mencapai pelepasannya untuk kedua kali, setelah Arlan bermain dengan dua jari lentiknya, ketika bibir Raline mampu memberikan kenyamanan dimilik Arlan.


"Kau milik ku, Arlan ... Kau milik ku. Tidak ada Shinta dan Yasmin lagi. Aku senang bisa memberikan kebahagiaan padamu. Akulah pemenangnya, akulah pemenangnya, Arlan ..."


__ADS_2