Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Ceraikan Shinta


__ADS_3

Sudah lebih dari dua minggu Shinta mengurung diri didalam kamar tidurnya, tidak mau menemui siapapun yang ingin menjenguk hanya untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Leon, termasuk menolak kehadiran Lily juga Cua yang sengaja berkunjung ke kediaman Arlan yang berada di Singapura.


"Nyonya, Tuan Arlan memanggil Anda. Makan malam sudah siap, dan Tuan menunggu Anda," panggil salah satu pelayan kediaman mewah itu.


"Ya ..." Shinta hanya mendengus dingin, dia beranjak dari ranjang kamar pribadinya, dan membuka kunci pintu itu tanpa mau keluar dari kamar tersebut.


Ya, Shinta memilih tidur di kamar pribadinya, karena perasaan yang masih sangat kacau. Dia tidak ingin kesedihannya berdampak pada hubungannya dengan Arlan, serta Baby Sandy yang terus menerus memanggil 'Mama-nya'.


Melihat pintu kamar istrinya telah terbuka lebar, Arlan yang sangat memahami bagaimana perasaan Shinta, karena menghargai dan memilih mengikuti semua permintaan sang istri yang ingin menyendiri ketika kembali dari pemakaman Leon beberapa waktu lalu.


Perlahan Arlan mengetuk pintu kamar Shinta, melongokkan wajahnya untuk mencari keberadaan sang istri, "Hai sayang, bisa aku masuk?"


Dengan satu anggukan Shinta memperbaiki posisi duduknya di pinggir ranjang, sambil memperbaiki tatanan rambut panjangnya.


Arlan menghela nafas berat, memeluk tubuh ramping Shinta yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. "Bagaimana keadaan mu, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?"


Shinta tak menjawab. Wajahnya hanya menekuk, tak ingin beradu tatap dengan Arlan.

__ADS_1


"Sayang, bisakah kamu mengatakan apa yang terjadi? Aku sudah melakukan apapun yang terbaik untuk kebahagiaan kita. Jangan siksa dirimu seperti ini. Kita semua kehilangan Leon, sayang. Tapi dia juga tidak ingin kamu terpuruk seperti ini. Bagaimanapun kamu adalah istri ku, ibu dari Sandy. Dan aku telah memberikan waktu padamu untuk menyendiri selama dua minggu. Aku sangat mencintaimu, Shinta," kecupnya lembut pada kepala sang istri.


Tangan halus itu mengusap lembut wajah tampan Arlan, perlahan Shinta mendekatkan tubuhnya agar pria itu mau mendekapnya. "Maafkan aku, Bi. Mungkin aku terlalu egois beberapa hari ini. Bisakah besok Bibi mengizinkan aku untuk bertemu dengan ibu panti? Aku sangat merindukannya."


Tak banyak bicara Arlan mengangguk setuju, "Tapi dengan syarat, kamu di temani Nyonya Lily, ya. Aku besok ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis kita. Dan mungkin lusa kita akan terbang ke London untuk melakukan persentasi produk terbaru mereka yang akan kita ambil. Aku harap setelah ini, kamu bisa fokus kembali pada restoran kita," usapnya pada punggung Shinta yang terlihat sangat indah, karena di balut baju tipis yang sangat menarik perhatian pria seperti Arlan.


Shinta menggeleng, "Bibi saja yang pergi. Aku ingin menghabiskan waktu di panti untuk mengajar anak-anak panti, Bi. Sekalian aku ingin mengajarkan Sandy untuk bisa melihat bahwa dunia ini bukan tentang kemewahan saja. Masih banyak orang yang kurang beruntung di luar sana, dan aku ingin berbuat baik. Bibi saja yang pergi sama Aunty Lily," tolaknya dengan nada lembut.


Susah payah Arlan mengatur emosinya, agar tidak terpancing karena perubahan sang istri yang semakin tampak jelas, bahkan ingin menghindarinya.


Dengan nada lembut Arlan kembali bertanya kepada Shinta, "Ada apa dengan kamu, sayang? Bisa bicarakan apa yang ada dalam benak mu?"


Mendengar permintaan Shinta yang langsung menjawab pertanyaannya dengan spontan, membuat dada Arlan semakin bergemuruh. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang sangat ia cintai memilih pergi dari hidupnya.


Arlan melepaskan dekapannya, memandang wajah Shinta yang terlihat lebih tenang walau masih tampak sembab. Kedua tangannya menyentuh bahu wanita cantik itu, hanya untuk meyakinkan permintaan sang istri.


"A-a-a-apa kamu bercanda? Apakah dua minggu aku tidak menggangu ketenangan mu, karena kehilangan Leon membuat kamu ingin mati dan menyusulnya? Tidak Shinta, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan mu! Aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu juga Sandy anak kita!"

__ADS_1


Air mata Shinta kembali jatuh berderai membasahi pipi mulus itu, "Ta-ta-tapi kita ini pasangan selingkuh, Bi! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bahagia, karena aku telah jahat pada Leon. Aku telah mengkhianatinya, dan membuat dia pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi. Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan kita, Bi. Aku juga sangat mencintai Bibi, tapi aku tidak ingin kita bahagia atas penderitaan Leon selama ini. Sesuai perjanjian kita kala itu, aku ingin hidup bahagia, bukan mewah Bi. Hargai perasaan ku, yang ingin bahagia dengan caraku, dengan dunia ku. Aku mohon lepaskan aku, Bibi ..."


Bagaikan petir di siang bolong, membuat dada Arlan terasa sangat sesak. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang ada dihadapannya saat ini tidak bahagia dengan kemewahan yang ia berikan. Bahkan memilih menjadi tenaga pendidik yang menurutnya tidak penting.


Tangan Arlan bergetar hebat, wajah tampannya menunduk. Air mata yang akan menetes, kembali ia bendung karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan wanitanya.


Dengan nada bergetar dan tegas, Arlan kembali bertanya, "Kenapa kamu berpikir kita tidak bisa bahagia, sayang? Bukankah kamu yang menginginkan aku? Bukankah kamu yang datang padaku, Shinta? Kenapa kamu tidak pernah sedikitpun menghargai perasaan ku?"


Shinta memeluk erat lengan Arlan yang masih duduk disampingnya, kemudian menyandarkan keningnya di pundak kokoh pria yang benar-benar tulus mencintainya selama ini. "Aku takut, Bi. Aku takut kita tidak akan bisa bahagia selamanya. Hubungan ini tidak baik, Bi. Kita tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri karena telah melakukan dosa."


Mendengar pernyataan dosa yang diucapkan oleh Shinta, membuat Arlan semakin berang, "Jadi kamu yang datang padaku kala itu, apa? Apa itu tidak dosa Shinta? Apakah kamu benar-benar tidak ingin hidup bersama ku? Kita sudah menikah, Leon bukan putra kandung ku! Dan kita juga sudah memiliki anak dari hubungan ini! Apa yang ada di benak mu? Kenapa? Kenapa kamu terlalu banyak berfikir dengan caramu! Kenapa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aku, Sandy untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga kita!"


"Bi ..."


"Aku kecewa sama pikiran kamu! Terserah kamu mau kemana, dan apa yang ingin kamu lakukan diluar sana! Kuliah, tanpa pengawalan, atau kebebasan apa! Katakan padaku, Shinta." Arlan mengerlingkan bola matanya, mengalihkan pandangan kearah lain, melanjutkan ucapannya, "Asal kamu tahu, Shinta! Aku bukan melarang mu pergi sendiri kemana saja seorang diri, karena perasaan trauma ku, sayang. Bukan karena aku tidak percaya pada mu. 20 tahun aku di khianati oleh Yasmin, makanya aku terlalu takut kehilanganmu. Aku tidak ingin mendengar apapun tentang perselingkuhan istri ku, Shinta. Tolong pahami aku. Jangan siksa batinku dalam kebahagiaan kita, sayang ..."


"Bibi!" Shinta tak kuasa membendung kesedihannya, dengan cepat ia memeluk erat tubuh kekar Arlan, "Maafkan aku, Bi. Aku tidak sanggup untuk menghadapi semua ini!"

__ADS_1


Dengan geram Arlan menepuk-nepuk punggung Shinta, "Semua bisa kamu bicarakan pada ku, bertanya padaku lebih dulu. Apa yang tidak aku utarakan padamu, sayang. Aku benar-benar trauma, Shinta. Jangan buat kepalaku semakin membenci dirimu, hanya karena permintaan bodoh mu itu!"


"Aku tidak pernah ingin menyakiti hati, Bibi. Karena aku sangat mencintai Bibi. Tapi aku bingung. Makanya ceraikan aku, Bibi ..."


__ADS_2