Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Balas ...


__ADS_3

Pagi menyapa dengan hangatnya sinar matahari bersinar terang, menyinari kamar apartemen mereka dari balik tirai yang terbuka sedikit. Sandy telah di ambil alih oleh baby sitter sesuai perintah Arlan, sementara Shinta masih terlelap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Perlahan Arlan beringsut mendekati Shinta, untuk kembali menggoda wanita cantik itu setelah melakukan ritualnya membersihkan diri, dari sisa pertempurannya bersama Shinta hingga pukul 03.00 dini hari.


Shinta menggeliatkan tubuhnya, ia merasakan sesuatu bagian tubuhnya semakin lengket, kemudian perih di bagian intinya.


"Bihh, kenapa badan Shinta sakit sekali?" rengeknya manja, langsung meringkuk di dekapan Arlan yang langsung memeluknya.


Arlan tertawa kecil, mendengar rengekan manja wanitanya, "Bersihkan dirimu, sebentar lagi kita akan berangkat ke Singapura. Aku tidak ingin menghabiskan waktu ku terlalu lama berada di sini. Karena bisa saja, mereka datang untuk kembali berdebat dengan ku! Aku sudah membeli apartemen yang agak besar untuk kita. Jadi mungkin kembali dari sini, kita akan langsung menempati apartemen yang baru. Karena beberapa pelayan, sudah memindahkan semua barang-barang kita ketika aku berangkat beberapa waktu lalu."


Shinta menepuk-nepuk dada Arlan, sambil berkata, "Sebenarnya aku ingin kita berada di tempat yang lama, Bi. Karena apartemen itu memiliki pemandangan yang sangat indah, dan letaknya juga sangat menyejukkan, pencahayaan baik, serta tidak begitu hmm ..."


Arlan langsung membungkam bibir mungil wanita cantik itu, karena dia tidak ingin berdebat dengan Shinta tentang tempat tinggal.


"Hmm bibihh, ahh ..." Shinta kembali mengeerang, menyambut baik bibir Arlan dengan lummatan lembut sambil mengusap punggung pria itu.


Perlahan Shinta menepuk lengan Arlan, karena ia belum membersihkan dirinya, namun di tepis oleh pria dewasa tersebut.


"Kita mandi bersama sayang? Aku sangat merindukan mu dengan sedikit perbedaan," jelasnya pelan, dan dapat di rasakan oleh Shinta ketika Arlan dengan cepat menggendong tubuh ramping itu secara bridal.


Benar saja, Arlan menuntut lebih dari tadi malam kepada Shinta. Agar mau melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.


"Bihh ahh ..." Errangan Shinta kembali terdengar indah ketika Arlan menghujamkan miliknya dilembah wanitanya dengan penuh perasaan cinta dari arah belakang.


Entahlah, kali ini Arlan tidak ingin kehilangan Shinta dan akan memperjuangkan hubungan mereka hingga ke pernikahan.


Lebih dari 45 menit mereka tidak memperdulikan apapun didalam kamar mandi, yang menjadi saksi sejarah cinta mereka.


Arlan bertanya, ketika membantu Shinta menyeka tubuh indah itu dengan handuk, "Kamu suka sayang?"


Wajah Shinta memerah malu, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Arlan, tetapi ia langsung memeluk tubuh kekar pria itu dan langsung mengalungkan kedua kakinya di pinggang Arlan.

__ADS_1


Tentu saja Arlan sangat menyukai keagresifan Shinta, karena hanya wanita itu yang ia butuhkan saat ini. "Apa kamu masih menginginkan aku hmm?"


Shinta menggelengkan kepalanya kemudian mengangguk, dan meringkuk di bahu kekar Arlan yang akan menggendongnya untuk tiba di kamar peraduan mereka.


Namun, kebahagiaan itu kembali kandas karena seseorang mengetuk pintu kamar dari arah luar.


"Pak! Pak Arlan, ada Nona Raline," panggil pelayan wanita.


Arlan yang tengah bersenda gurau dengan Shinta selayaknya pasangan baru suami-istri, langsung mengerenyitkan keningnya.


"Raline ... ada apa dia menemui aku? Bukankah aku telah mengusirnya tadi malam? Kenapa dia masih menemui aku?" ucapnya berbisik, dan langsung beranjak dari atas tubuh Shinta yang masih terbaring di atas ranjang kingsize miliknya.


Sementara wajah Shinta menyiratkan makna yang dalam, bahwa ia juga merasa sedikit tidak nyaman, ketika nama Raline di sebut oleh pelayan.


"Ada apa Bi? Kenapa wanita itu menemui Bibi? Bukankah Bibi sudah tidak ingin bertemu dengan wanita itu?"


Arlan menggelengkan kepalanya, "Entahlah, aku harap kamu masih di sini. Jangan keluar kamar, karena aku tidak ingin mendengar wanita itu menghina kamu. Kenakan pakaian mu! Setelah aku menemui Raline, kita langsung berangkat!"


Arlan mengenakan pakaiannya, mengambil baju kaos yang ada di dalam lemari, dan langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar, yang kembali di ketuk oleh pelayan.


"Wait, I'm coming!" teriak Arlan.


Bergegas Arlan membuka pintu kamar, dan mencari keberadaan Raline yang ternyata tengah menggendong Sandy.


Arlan mendengus dingin, menatap tajam kearah baby sitternya dan langsung mengambil alih Sandy dari gendongan wanita yang sengaja mengganggu ketenangan keluarga kecilnya.


Secepatnya Arlan memberikan Sandy kepada baby sitter, dan memerintahkan pengasuhnya itu membawa anaknya masuk kekamar mereka.


"Lain kali jangan berikan anak ku kepada orang asing!" tegasnya sarkastik, dengan tatapan tajam kearah Raline.


"Ba-ba-baik Pak!" tunduknya, berlari kecil menuju kamar Arlan.

__ADS_1


Arlan yang masih tidak menyukai kehadiran wanita dewasa yang ada dihadapannya itu, hanya bertanya pelan.


"Apa maksud mu datang kekediaman ku? Bukankah security tidak memberikan akses untuk masuk begitu saja ke apartemen ku?" sesalnya.


Raline menggeleng pelan, dia menghampiri Arlan, kemudian tersenyum nakal bak seorang wanita penggoda yang haus akan sentuhan jemari seorang Arlan.


Jemari lentik Raline sengaja mengusap lembut dada bidang Arlan, dan menghirup aroma maskulin yang menyeruak di hidung wanita itu.


"Kau masih sangat tampan, Lan. Menikahlah dengan ku, karena setahu security di bawah, aku merupakan istri mu. Tidak akan ada wanita lain yang akan menjadi pendamping mu, karena hanya ada aku untuk hidup mu," jelasnya panjang lebar.


Arlan menggeram, rahangnya mengeras merutuki kebodohan security yang selalu tergiur dengan uang, tanpa menghiraukan dirinya yang menjadi penghuni tetap di sana selama ini.


"Pulanglah! Jangan banyak menaruh harapan pada ku, Raline. Karena aku akan menikahi Shinta. Apa kau sulit untuk mengerti dengan bahasa Indonesia?" tegasnya.


Raline mendengus kesal, ia langsung mengatakan hal yang tidak pernah ingin Arlan dengar, "Shinta, Shinta, Shinta! Kenapa kau terlalu berharap pada wanita itu? Bukankah wanita itu telah di campakkan oleh Leon!? Tapi kenapa kau masih mengharapkan Shinta untuk menjadi istri mu, Arlan! Apa kurangnya aku, apa yang tidak aku miliki? Aku bisa melakukan apapun untuk mu, bahkan aku bersedia untuk memuaskan kebutuhan hasrat mu, Lan! Tolong kasih aku satu kesempatan, karena aku sangat menginginkan mu! Jangan biarkan aku mati penasaran, karena tidak mendapatkan balasan cinta darimu!"


Arlan tertawa kecil mendengar celotehan Raline yang benar-benar seperti wanita murahan dihadapannya.


"Kenapa kau tidak memohon pada Seno? Bukankah Seno bisa melakukan apapun untuk membahagiakan mu? Jika kau datang kesini untuk terus merayu ku, lebih baik kau pergi tinggalkan kediaman ku! Karena aku tidak ingin melihat mu datang lagi ke kediaman ku! Pergilah Raline, karena aku tidak akan pernah menerima mu!" tegasnya lagi.


Akan tetapi, Raline langsung menyambar bibir Arlan dengan cepat membuat pria tegap itu langsung melepaskan lummatan bibir wanita itu ...


"Sialan, cepat tinggalkan rumah ku! Apa kau tidak bisa mendengarkan aku!" hardiknya tidak menyukai pemaksaan dari Raline.


Tanpa pikir panjang Raline langsung berhamburan mendekap tubuh Arlan, berusaha mencium bibir pria itu dengan sekuat tenaganya, sehingga membuat tubuh yang kurang akan keseimbangan itu langsung terjerembab di sofa ruang tamu.


Arlan menutup matanya, tidak membalas ciuman Raline, walau sesungguhya ia merasakan satu perasaan yang dapat menaikkan gairah kelaki-lakiannya.


"Stophh Raline! Aku tidak ingin melanjutkan perbuatan terkutuk ini!" Lagi-lagi terdengar suara berat Arlan, yang menggeram, namun tak dapat bergerak karena wanita laknat itu menekan tangan kekar pria itu di sofa menggunakan lututnya.


"Balas ciuman ku, Arlan. Aku sangat mencintaimu, aku rela menjadi budak nafsumu, asal kau melakukannya untuk ku kali ini. Toch me now, Arlan ..." ucapnya berbisik dibalut gairah.

__ADS_1


"Jika aku tidak melakukan hal ini terhadap Arlan, aku akan kehilangan dia sebentar lagi. Tidak masalah menjadi jallang dihadapannya, yang penting aku harus menjadi miliknya hari ini ..."


__ADS_2