
Pagi menjelang matahari bersinar terang, menyinari kota metropolitan. Seperti biasa Shinta terjaga lebih dulu dari tidurnya. Ia melakukan ritualnya, dan sangat menikmati kehamilannya tanpa perasaan malu ataupun berdosa.
Bagi Shinta, kini ia telah berhasil menaklukkan kedua hati pria itu, sehingga tidak ingin berpisah dari mereka karena kemewahan yang semakin membuat dirinya merasa nyaman. Satu keuntungan yang besar baginya, karena dapat menjadi Nyonya Leon, dan simpanan Arlan untuk hasratnya yang semakin lama, semakin menggebu-gebu.
Katakan Shinta dan Arlan gila, atau bahkan jahat pada Leon. Ya ... Kali ini mereka berdua tidak ingin berdebat dengan siapapun, karena mereka yang berbicara atau menjudge tidak pernah berada dalam posisi cinta terlarang, seperti kedua insan mertua dan menantu saat ini.
Semakin Shinta menghindari Arlan, semakin besar rasa ingin memiliki pria duda beranak satu itu, sehingga membuat dirinya semakin sulit untuk menjelaskan pada orang lain tentang perasaan cintanya pada Arlan.
Begitu juga sebaliknya, Arlan berkali-kali menghindari Shinta. Namun perasaan cinta dan sayang itu semakin besar, bahkan kini ia hanya fokus pada tujuannya, 'Shinta bisa membahagiakan Leon, maka Arlan lah yang akan membahagiakan wanita berwajah oriental itu'.
Shinta sudah keluar dari kamar mandi, dengan balutan mini dress hitam tanpa lengan, yang ia beli beberapa waktu lalu bersama Leon di pusat perbelanjaan.
Leon yang melihat istrinya tengah menggunakan parfum, serta mengoleskan handbody untuk perawatan kulitnya, membuat pria gagal ginjal itu tersenyum sumringah.
Perlahan Leon duduk di bibir ranjang, mendekati Shinta, melilitkan tangan yang masih terlihat meremang di perut sang istri, mengecup lembut leher jenjang istrinya sambil bertanya turut menatap wajahnya di cermin ...
"Kamu cantik sekali sayang ... Apakah kamu akan pergi meninggalkan aku saat cuci darah hmm?"
Shinta mengangguk perlahan, dia memperhatikan wajah Leon yang sudah tampak berisi dan bersih, sambil mengusap lembut wajah sang suami.
"Aku akan pergi ke rumah sakit sebentar, karena ada beberapa file yang akan aku ambil, kemudian mampir di swalayan untuk membelikan beberapa perlengkapan kamu yang dikamar mandi sudah habis. Bisakah kamu memberikan aku uang cash atau card sebagai pegangan? Karena aku akan pergi sendiri menggunakan taksi online," tunduknya berbohong.
Leon menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju, "Kamu kan bisa nyetir. Kamu bawa saja mobil yang ada digarasi. Untuk uang, aku akan menghubungi Papi, karena bulan ini belum memberikan aku pegangan. Tapi kamu bisa hmm wait ... Biar aku saja."
Leon melepaskan tangannya dari tubuh Shinta, beranjak kearah lemari, dan memutar-mutar kata sandi brangkas miliknya. Benar saja, Leon ternyata menyimpan uang cash yang banyak di dalam safety box, yang langsung menempel dengan dinding lemari.
Shinta terdiam sejenak, mengagumi kekayaan yang dimiliki anak dan bapak ini, sama-sama membuat dirinya hanya bisa ternganga.
"Hmm setidaknya aku akan aman selama beberapa tahun dikediaman ini ..." senyumnya mengembang lebar dengan pikiran mulai terlihat licik.
Leon memberikan dua ikat uang pecahan 100 ribuan, kemudian memberikan pada Shinta yang masih enggan mengerjabkan matanya.
Perlahan Leon mengayunkan tangannya di udara ... "Hey ... Are you oke, Shinta?"
__ADS_1
Shinta tersentak, ia benar-benar tidak mengetahui tentang keberadaan safety box mini ada didalam lemari pakaian suaminya, dan menyimpan uang cash dalam jumlah besar.
Lagi-lagi Leon menatap iris mata Shinta, yang masih bersinar cerah saat melihat uang yang banyak, tersusun rapi didalam sana ...
"Shinta ..."
"Ooogh ..." Shinta berkali-kali mengerjabkan matanya, dan mengusap lembut wajah cantik itu, sambil tersenyum sumringah menatap Leon yang sudah berdiri dihadapannya.
Leon tampak kebingungan, dia tidak mengerti apa yang barusan Shinta lihat, sehingga membuat istrinya seperti terhipnotis ...
"Ada apa? Apakah kamu melihat hantu?"
Shinta menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang, mengusap lembut dadanya agar tetap tenang. Bagaimana mungkin, selama hidupnya tidak pernah melihat uang sebanyak itu, namun kini ia harus melihat milik anak berusia 20 tahun.
"Ooogh tidak-tidak-tidak sayang ... Aku sedikit bingung, kenapa kamu menyimpan uang sebanyak itu? Apa kamu tidak takut dirampok?" godanya pada puncak hidung Leon.
Leon hanya merangkul istrinya, mengusap punggung Shinta dengan sangat lembut, "Itu peninggalan Mami, yang tidak diketahui Papi. Jika aku marah seperti saat ini, aku selalu menggunakan uang ku sendiri. Tapi kali ini, kamu aku beri pegangan segini dulu yah? Jangan nakal, dan hati-hati."
Mendengar penuturan Leon, Shinta tersenyum sumringah. Tanpa Shinta sadari tangan Leon kini tengah mengusap lembut perut yang sudah membuncit sang istri.
Leon mengecup kening Shinta, dan melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk melakukan ritualnya membersihkan diri.
Shinta hanya diam tak bergeming. Dia menoleh kearah Leon, tak kuasa untuk berkata-kata. Hanya mampu mengucapkan satu kalimat pada Leon yang akan menghilang dari pandangannya ...
"Apa mau aku bantu sayang?"
Leon tersenyum, membalikkan tubuhnya, "Tidak usah. Kamu siapkan sarapan untuk ku saja! Aku menyejukkan tubuh ku hanya sebentar."
Shinta menganggukkan kepalanya, karena Leon kini sudah bisa untuk membersihkan dirinya sendiri, tanpa harus dibantu, namun harus tetap dalam pengawasan.
Tak menunggu lama, Shinta keluar dari kamar, melihat para pelayan tengah sibuk dengan semua pekerjaan mereka masing-masing.
Namun saat akan melangkahkan kakinya menuju dapur, langkah Shinta harus terhenti seketika, karena hardikan dua orang wanita yang seperti tampak tengah melempar bom molotov yang meledak-ledak tidak tentu arah pada wanita tengah mengandung tersebut ...
__ADS_1
"Hei ... Wanita jallang! Dimana Leon hah!?" teriak Raline merasa cemburu melihat Shinta semakin tampak segar dan cantik.
Shinta menoleh kearah Raline yang disusul Liberti, hanya menautkan kedua alisnya menatap kedua wanita itu secara bergantian ...
Shinta bertanya, seakan tidak mengerti apa maksud kedua wanita yang kini telah berkacak pinggang dihadapannya, "Maaf, apakah Anda bicara kepada saya?"
Raline tersenyum lirih, memperhatikan Shinta dari ujung rambut, hingga ujung kaki, hanya bisa bergumam dalam hati, "Pantas saja Arlan menghindari wanita ini, ternyata istri Leon, benar-benar menawan ..."
Namun, Raline tak ingin melewatkan untuk mempertanyakan keberadaan Arlan serta kehamilan Shinta.
Raline menoleh kearah Liberti, yang berdiri mencari-cari keberadaan Arlan ataupun Leon ...
"Dimana Leon, cepat jawab!!" bentak Raline.
Shinta bergidik ngeri, menyunggingkan senyuman lirih menyiratkan bahwa ia tidak suka dibentak dalam bentuk apapun.
"Maaf, saya ini istri Leon. Dan suami saya tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk kalian. Jadi tolong tinggalkan kediaman kami!" tegas Shinta menantang.
Liberti ternganga lebar mendengar penuturan Shinta yang seakan-akan telah menjadi Nyonya besar di kediaman Arlan ...
"Lancang sekali kau jallang! Hmm berarti benar tentang hubungan terlarang mu dengan Arlan? Sehingga kau berani membentak aku sebagai keluarga dari Arlan juga Leon! Dengar wanita dungu, kau hanyalah sampah yang diangkat oleh keluarga ini! Jadi jangan pernah berharap lebih untuk menjadi seorang Nyonya besar dari Arlan Alendra, karena kau hanya istri kontrak dari Leon!" tawanya mengejek Shinta.
Perih, bahkan sangat menyakitkan mendengar penuturan Liberti, yang mengatakan bahwa Shinta tidak ada harapan untuk menjadi Nyonya Arlan.
"Aagh, tahu apa mereka tentang perasaan Papi pada ku ...!" geram Shinta.
Akan tetapi, saat akan menjawab ucapan dua wanita dewasa itu, pandangan Shinta teralihkan pada Leon yang keluar dari dalam kamarnya ...
Leon bertanya karena perasaan kaget, "Oma? Ada apa Oma kesini?"
Liberti yang memang pandai berperan, dalam memainkan sebuah drama selayaknya telenovela, langsung berhamburan mendekati cucu kesayangannya, Leon. Disusul oleh Raline yang tampak ingin mengambil hati putra kesayangan Arlan ...
Liberti tersenyum sumringah, melirik kearah Shinta, sambil berkata ...
__ADS_1
"Papi akan menikahi Tante Raline besok sayang. Jadi kamu tidak membutuhkan wanita jallang ini lagi," tunjuknya ... Melanjutkan pembicaraannya, "Karena setelah Papi menikah, Tante yang akan menjaga dan merawat mu, Leon!"
Mendengar ucapan Liberti, seketika dada Shinta seperti akan meledakan satu kemarahan, tapi pada siapa ... "Tidak-tidak-tidak ... Tidak mungkin Papi akan menikahi wanita lain!"