
Malam semakin larut. Insan dewasa dari sebuah keluarga tengah berdebat serius saling menyalahkan, dan menghakimi satu dan yang lainnya.
Arlan membentak keras Mama Liberti yang telah mengakui semua perbuatannya dihadapan Raline serta Leon ...
"What? Jadi Mama yang telah meminta Seno, dan membayar anak binatang itu untuk mendekati Yasmin? Membuat Yasmin jatuh cinta? Damn it!" Ia menggeleng, dan melanjutkan ucapannya, "Aku pikir kalian dari Keluarga Utama yang kaya, bahkan tidak pernah jatuh miskin, memiliki jiwa yang baik dan tulus! Berarti Mama tahu selama ini bahwa Leon, bukan anak ku? Pantas Mama yang meminta Yasmin melakukan pencangkokan, padahal Seno juga mau melakukannya! Kenapa Mama begitu kejam pada ku! Ogh Tuhan, bodohnya aku percaya pada kalian semua selama ini! Ternyata kalian keluarga jahat, kalian tidak punya perasaan! Ja-ja-jadi selama ini, kalian mendukung Yasmin mengkhianati aku? JAWAB!!!"
Wajah Arlan mengeras, bahkan merah padam. Dadanya terasa semakin sesak, menatap satu persatu orang-orang yang masih duduk terdiam di sofa ruang keluarga.
Liberti sibuk menyeka air matanya, Raline selalu melirik kearah Arlan karena ketakutan, sementara Leon hanya bisa menundukkan kepalanya.
Dengan cepat langkah Arlan, menghampiri foto keluarga yang terpajang di tengah-tengah mereka, ketika Leon masih menginjak usia 14 tahun, mengangkat foto yang berbingkai putih itu, dan melemparnya kesembarang arah ...
PRANG ...!
Beberapa pelayan dan pengawal hanya bisa menutup telinga mereka, karena selama bekerja di mansion, tidak pernah melihat Arlan semurka ini.
"Kenapa Mama tidak menjawab pertanyaan ku! Apa salah ku, mencintai putri mu! Hingga Papa meninggalkan kita semua, aku tetap berbakti kepada kalian semua! Ternyata aku yang kalian zolimi selama bertahun-tahun! Bodohnya aku, terlalu percaya sama kalian! Padahal sudah terlalu banyak orang-orang mengatakan pada ku, bagaimana kalian terhadap ku! Aku tepis semua itu, karena Mama yang melahirkan Yasmin! Mama Ibu Yasmin, ta-ta-tapi Mama tega merusak kebahagiaan anak sendiri!"
Arlan semakin berang, amarahnya tak mampu ia tahan. Penyesalannya terlihat jelas karena telah berani mencintai seorang wanita dari keluarga terpandang dan kaya kala itu.
__ADS_1
Liberti yang melihat perubahan pada diri Arlan, mencoba untuk berdiri dan menenangkan menantu kesayangan yang memiliki harta berlimpah, dan tidak akan habis tujuh keturunan.
"Makanya Arlan, untuk menebus semua kesalahan ku, Mama mohon ... Menikahlah dengan Raline. Mama akan melepaskan anak kesayangan Mama demi kamu bahagia. Kamu bebas mau melakukan apa saja, demi menebus dosa Mama terhadap kamu dan Yasmin. Menikah ya, dengan Raline?" pujuknya.
Arlan tertawa lebar, menjawab dengan entengnya, "Mama mau mengganggu kebahagiaan ku bersama Shinta? Tidak ada yang bisa memisahkan aku dan wanita pilihan ku! Setelah ini, aku tetap akan menikah dengan Shinta! Aku tidak peduli dengan semua drama yang kalian ciptakan, karena aku sudah muak. Aku tegaskan, aku mencintai Shinta, wanita yang dulu pernah menjadi istri Leon! Tapi aku tidak berdosa, karena Leon bukan anak ku! Kalian dengar itu!!"
Mulut mereka bertiga ternganga lebar, mendengar penuturan Arlan. Ada sedikit kepiluan yang teramat menyakitkan di relung hati seorang Leon, mendengar pernyataan Arlan Alendra.
Leon menyela ucapan Arlan, "Ta-ta-tapi Shinta belum di temukan Pi! Dan tidak ada satu orangpun yang berhasil menemukannya, karena aku telah hmm ..." Bibirnya kembali terkunci rapat, karena Raline langsung menatap tajam kearah Leon.
Arlan mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak dan menguraikan satu-persatu ucapan Leon, "Apa yang kau ketahui tentang Shinta? Bukankah tadi pagi kamu mengatakan bahwa Shinta sudah keluar dari penjara beberapa hari lalu?"
Arlan menepuk-nepuk pipi Leon, karena ia masih berdiri lebih dekat dengan anak haram itu, dibandingkan Raline.
"Lebih baik kau jujur anak ku! Daripada aku menenggelamkan mu di penjara bersama Raline dan Oma Liberti!"
Tampak keringat dingin Leon mulai membasahi keningnya. Kedua bola matanya melirik kearah Raline yang duduk persis di sofa tunggal dan hanya berjarak tiga meter.
"Ti-ti-tidak Arlan, semua itu ide Mama!" Tunjuk Raline pada Liberti, kemudian berkata, "Aku hanya ingin menghilangkan dia dari Jakarta, dengan mengirimkannya ke Singapura. Ta-ta-tapi kami kehilangan kabar tentang wanita itu!"
__ADS_1
Seketika terlintas dalam pikiran Arlan tentang kondisi tubuh Shinta yang terdapat bekas memar dan goresan pisau di bagian lengan, serta pahanya. Kepalanya seketika terasa semakin berat, bahkan kuduknya terasa sangat panas, karena terlalu banyak kejahatan dan rahasia yang di lakukan Keluarga Liberti padanya hingga saat ini.
Berkali-kali Arlan mengusap lembut pundaknya, menggerakkan kepalanya kekiri dan kanan, agar bisa tenang mendengar penuturan Raline.
"Apa yang kau lakukan, Raline? Bukankah sejak awal aku katakan pada mu, aku tidak akan pernah menikah dengan mu. Aku akan tetap menikah dengan Shinta, jika aku menemukannya. Jadi silahkan kalian keluar dari kediaman ku! Tidak terkecuali dengan mu, Leon!! Semoga kau selalu sehat, atau akan cepat menyusul Yasmin! Silahkan kembali ke pangkuan Seno, karena kau masih tanggung jawab dia! CEPAT PERGI!!"
Liberti menarik nafas panjang, mencoba menenangkan Arlan, "Jangan Arlan, Leon jangan kamu serahkan dengan Seno. Karena pria itu tdiak mampu untuk membesarkan seorang anak. Saat ini keadaannya sangat berbeda setelah berpisah dengan Lily. Mama mohon Arlan!"
"PERGI!!" teriak Arlan mengarahkan pandangan dan telunjuknya ke pintu keluar utama. Membuat ketiganya bergidik ngeri. Tidak menyangka akan di perlakukan seperti itu oleh seorang Arlan Alendra.
Leon menangis terisak-isak, sementara Raline merutuki kebodohan sang Mama, karena telah jujur kepada Arlan tentang Yasmin.
"Sial, ngapain Mama malah bicara jujur sama Arlan tentang Yasmin. Toh, dia memang cinta sama Seno. Dan salah Mama juga, kenapa tidak meminta Seno yang menjalani pencangkokan ginjal waktu itu, kenapa mesti Yasmin. Mungkin jika Seno yang mati, kita akan aman, Ma!" geramnya ketika berjalan meninggalkan mansion megah milik Arlan.
Liberti menepuk bahu Raline, "Mama sudah terpojok! Sekarang tugas kamu, temukan Shinta, dan bunuh saja dia! Biar Arlan kehilangan wanita jallang itu, dan kamu bisa menikah dengannya. Kamu mengerti, Ra-li-ne!"
Raline hanya menjawab singkat, "Ya-ya-ya! Tapi dimana aku harus mencari keberadaannya? Aku tidak mengetahui tentang semua identitas Shinta. Ditambah dia seorang residivis. Ck, untuk menjadi Nyonya Arlan saja mesti berjuang mati-matian!"
Liberti yang malas mendengar celotehan Raline, memilih memasuki mobil, dan meminta Leon untuk tenang saat ini.
__ADS_1
"Tenang ya, sayang ... Oma yang menjamin, bahwa Papi Arlan tidak akan pernah membuang mu! Tenang saja. Masih banyak cara menuju Roma! Tugas kita saat ini, cari keberadaan Shinta, dan bunuh! Jangan biarkan wanita itu menjadi Nyonya Arlan!"