Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Season dua, diam-diam cinta


__ADS_3


Promosi season dua ...


Chapter satu :


"Ahh ..." Tubuh gadis muda itu terus menggeliat liar, setelah merasakan gelenyar bak sengatan listrik yang baru ia rasakan seumur hidupnya.


Tubuh indah itu tampak mengkilap, keringat membasahi kulit putihnya yang sangat mempesona jika dihadapkan dengan seorang pria dewasa. Gadis berambut coklat, berbulu mata lentik, selayaknya gadis muda nan imut yang tumbuh dalam kehangatan sebuah keluarga kaya raya.


"Ahh!" kedua bola mata Alexa membeliak sempurna ketika merasakan sesuatu yang membuat bagian intinya semakin mengkedut, setelah menyadari bahwa ada yang membuka lebar kedua belah pahanya.


Dengan nafas tersengal-sengal, kepalanya seakan pening, Alexa mengusap lembut kepala kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Mencari keberadaan seseorang yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Sial! Hanya mimpi, kenapa aku selalu memimpikan dia? Damn it!"


.


.


Sandy yang tengah duduk di ruang makan, sambil menikmati segelas susu segar yang biasa dipersiapkan oleh sang mama, kembali tersenyum lebar ketika melihat Alexa menuruni anak tangga kediaman mewah mereka.


"Morning dear!" Sapa sang papa tertampan sejagat, yang selalu merangkul tubuh ramping putri cantiknya setiap pagi.


Alexa lebih dulu menghampiri sang mama, tak lupa ia juga mengecup lembut pipi sang papa secara bergantian karena posisi mereka yang berdekatan. Kemudian mendekati pria tampan berkaca mata yang selalu menggodanya.


"Morning sweety!" Sapa Sandy yang akan merangkul pinggul Alexa adik angkatnya, akan tetapi ditepis dengan cepat oleh gadis muda tersebut dengan wajah cemberut.


"Don't call me sweety, baby. Because I'm not a pempers!" Sesalnya menghempaskan bokongnya di kursi makan, untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Arlan tertawa kecil mendengar celotehan putri kesayangannya yang masih berusia 18 tahun itu, sambil merangkul pinggul Shinta kemudian mengecup lembut bibir istri terbaiknya dihadapan kedua buah hati mereka.


Tidak ada yang berbeda. Sandy dan Alexa selalu berdebat tentang mobil yang akan mereka gunakan pagi itu.


"Baby, please ... aku ada time untuk mengunjungi Mama Lily sore ini, karena dia dosen private ku. Jadi aku ingin membawa kendaraan ku sendiri!" tegas Alexa kembali terdengar dihadapan Shinta juga Arlan untuk Sandy.


"Ogh, oke! Aku akan membawa kendaraan ku sendiri menuju kantor. Ingat, nanti malam kita ada acara keluarga makan malam bersama. Jadi don't be late!" kecupnya pada pipi kiri Alexa, kemudian mengacak rambut panjang kriwil itu agar adiknya berteriak.


"Sandy! Aku akan marah padamu, jika kamu selalu mengacaukan rambut indah ku!" pekik Alexa dihadapan kedua orang tua angkatnya, membuat Sandy mencicit meninggalkan kediaman mewah tersebut.


Arlan hanya tertawa terbahak-bahak, karena mendengar pertikaian kedua anaknya, yang sangat menghibur mereka setiap paginya. Tidak ada yang berbeda, tidak ada pilih kasih, antara anak angkat dan anak kandung.


.


Bianca Alexa, gadis muda yang energik tumbuh ditangan Keluarga Arlan Alendra, ketika melihat kondisi gadis mungil yang memiliki riwayat sakit-sakitan di sebuah panti asuhan saat berusia tiga tahun.


Gadis yang biasa disapa Alexa itu kini sudah tumbuh sehat juga ceria, dengan sentuhan tangan Shinta tanpa membedakan antara Sandy dan Alexa. Foto-foto keluarga yang terpajang, memberitahu bahwa keluarga crazy rich Arlan Alendra tampak bahagia juga harmonis.


Ya, setelah lulus dari sekolah menengah atas, Alexa memilih meniti karir menjadi seorang secretaris dengan biaya tertinggi bak seorang artis hollywood.


Luar biasa bukan. Tentu sangat luar biasa, karena Alexa bekerja hanya mengisi kekosongan harinya. Tanpa terbebani dengan pemikiran harus datang kuliah tepat waktu, atau bahkan selalu menjadi bahan bully-an para teman seusianya.


Alexa lebih memilih menjadi mahasiswi spesial bagi Lily. Seperti permintaan Arlan, daripada putri angkatnya tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.


Langkah kaki jenjang gadis cantik itu, terlihat sangat menarik perhatian pria paruh baya berusia 49 tahun, Brian.


"Sepertinya, aku lebih memilih datang lebih dulu agar bisa melihat betis indah mu, Lex!" Tutur Brian dari arah belakang, membuat langkah kaki gadis cantik itu terhenti, ketika akan memasuki lorong perkantoran menuju ruangannya.


Alexa menolehkan tubuhnya kebelakang, melihat sosok sang direktur kesayangan sudah mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Morning dear, how are you? Apakah tidur mu nyenyak tadi malam?" Goda Brian berlalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya yang sama dengan Alexa.


Alexa termangu, aroma wangi parfum pria yang bercampur dengan kesegaran mint seketika menyeruak menusuk hidungnya, membuat dirinya semakin terkagum dengan pria paruh baya tersebut.


"Agh ... kenapa kamu begitu tampan, Tuan Brian Lincoln. Aku sangat mengagumi sosok pria dewasa seperti mu ..." tawanya menyeringai geli, setelah melihat pria gagah itu menghilang dari pandangannya.


Akan demikian, Brian yang melihat Alexa masih termangu di lorong perkantoran itu melongokkan wajahnya, "Hei ... secretaris holywood ku. Kamu mau kerja atau libur hari ini? Cepat atur jadwal aku, baby!"


Seketika wajah Alex memanas, tampak tatapannya kearah Brian semakin tersipu. Ada perasaan aneh yang semakin terasa, membuat dirinya sendiri tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya.


Bergegas Alexa berlari kecil bak seekor pinguin mendekati Brian, hanya untuk melihat jadwal sang direktur yang selalu ia kagumi.


Dengan gaya melentik-lentik, Alexa menyalakan komputer miliknya kemudian melangkahkan kakinya, mendekati sang direktur untuk memberikan semua laporan kepada Brian, tentu setelah menghubungi pihak office boy untuk mengantarkan roti dan kopi serta kopi susu kemeja mereka seperti biasa.


Tidak ada perbedaan untuk Alexa yang diberikan Brian, karena semua itu bentuk penghargaannya kepada Arlan yang memiliki anak perempuan.


"Today, kita ada pertemuan di hotel milik Tuan Albert bersama Sandy dan team-nya, Mr. Baby," senyumnya sengaja menggoda sang direktur idolanya.


Brian yang mendengarkan suara Alexa sedikit mendessah, membuat dirinya hanya menggelengkan kepala, kemudian melihat wajah gadis yang berdiri disisi kanannya, sambil bertanya, "Ada lagi?"


Tatapan mata Brian, membuat Alexa kembali tersipu. Wajah cantiknya merona secara alami, menundukkan pandangannya sedikit, kemudian berkata, "Tidak ada Mr. Baby. Today aku akan bertemu dengan Mama Lily untuk membahas kuliah ku. Please aku mau kamu ikut menemani seperti biasa."


Perlahan Brian merebahkan tubuhnya di kursi kebanggaannya, kemudian menggeser kursi itu sedikit dengan dorongan kakinya, agar lebih menjauh dari tubuh Alexa yang terasa sangat dekat sambil berkata lembut, "Tidak bisa sayang ... hari ini aku ada jadwal untuk mengantarkan istri ku ke rumah sakit. Selesai meeting aku langsung pergi. Jadi kamu bisa pulang menggunakan sopir atau membawa kendaraan sendiri," kemudian mengembalikan kursinya kembali seperti semula, akan tetapi ... dengan sedikit terkejut, ternyata Alexa memberanikan diri duduk dipangkuan Brian.


Sontak perbuatan Alexa membuat Brian jadi salah tingkah. Karena selama lima tahun dirinya menahan hasrat yang terpendam mengingat kondisi sakit Cua yang tidak kunjung sembuh bahkan semakin parah akibat penciutan otak yang dideritanya. Ia refleks kemudian meremas kuat lengan gadis muda itu, memilih berdiri sebelum terjadi sesuatu.


"Apa-apaan kamu, Lex? Aku pria beristri dan aku masih mencintai Cua. Please ... tinggalkan ruangan ku! Karena aku aku benar-benar kaget dengan perbuatan dan keberanian mu, Bianca Alexa!" Brian melebarkan pandangannya, ia tidak menyangka bahwa putri Arlan akan seberani ini memperlakukan nya sebagai seorang direktur sekaligus pria beristri.


Wajah Alexa tampak frustasi. Semua terjadi di luar pikirannya, ia benar-benar merutuki kebodohannya karena terlihat murahan dihadapan Brian. Ia menelan ludahnya, hanya bisa berkata, "Maaf!"

__ADS_1


Dengan mata berkaca-kaca, Alexa melangkahkan meninggalkan ruangan Brian. Tubuhnya bergetar, bahkan kaki seakan tidak bertulang. "Kenapa berani sekali aku melakukan hal ini pada Mr. Baby. Bukankah selama ini dia sangat baik dan aku juga sangat mengenal Mama Cua? Ta-ta-tapi kenapa aku selalu memimpikan akan berhubungan dengannya? Agh ... perempuan sialan kamu, Lex! Kenapa kamu murahan sekali, kenapa kamu tidak pernah untuk mencari pria muda yang baik juga sopan. Apakah aku diam-diam jatuh cinta pada pria beristri ...? No! No ...!"  


__ADS_2