Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Will you be marry me


__ADS_3

Tidak banyak yang diharapkan Stefan dalam menjalankan sisa hidupnya saat ini. Dia hanya ingin menikmati masa indahnya bersama wanita yang cerdas selayaknya Brian mendapatkan istri yang manja seperti Cua, Arlan mempersunting Shinta dengan berbagai problematika kehidupan yang sangat menggenaskan hubungan mereka karena Raline istri keempat Stefan tersebut.


Tanpa pikir panjang lagi, pria paruh baya itu, memilih untuk bertemu dengan Lily setelah diatur oleh secretarisnya disalah satu restoran mewah pada pukul 19.00 waktu Singapura.


"Tolong bawakan cincin indah ini ketika aku memanggil mu, nanti!" Perintahnya pada salah satu pelayan restoran yang menghidangkan makanan di mejanya.


Pelayan itu mengangguk mengerti, "Baik Tuan!"


Bergegas pelayan restoran tersebut mempersiapkan semua keinginan Stefan dengan keromantisan dalam meminang seorang wanita.


Tidak menunggu lama, Stefan melihat kehadiran Lily yang sudah berdiri di pintu restoran, berjalan menuju meja makan malam pria tua yang menyambutnya dengan pelukan hangat.


Lily tertawa geli, menerima perlakuan Stefan yang sangat kontras mencium lembut kedua pipinya.


Perlahan Lily menolak secara halus dada Stefan yang akan merangkul pinggangnya, karena merasa risih dengan pandangan para pelayan.


"Ma-ma-maaf Tuan Stefan, bisakah kita duduk? Tidak enak, karena para pelayan memandang kearah kita. Bagaimana jika ada pengunjung lain yang melihat kita. Saya malu, Tuan," tunduknya melangkahkan kaki menuju meja romantis yang sudah didesain pihak restoran.


Stefan membukakan kursi untuk Lily, kemudian memanggil satu pelayan untuk mengantarkan satu botol wine ke meja mereka.


"Malam ini milik kita, Li. Aku sangat senang bisa bertemu dengan mu," kecupnya pada punggung tangan Lily.


Tak menampik, pesona Stefan sangat berbeda dari Seno. Pria paruh baya itu penuh dengan kelembutan juga sangat romantis dihadapannya dengan tatapan mata yang berbinar-binar penuh bahagia.


Stefan duduk dihadapan Lily, dengan memandangi kilaunya lampu kota yang sangat terang benderang, sambil berkata tanpa basa-basi, "Bagaimana jika kita berada di Paris, menikmati malam yang indah sebagai pasangan suami-istri ya, Li."

__ADS_1


Deg ...


Darah Lily mendesir sesaat, ketika mendengar ucapan Stefan yang seolah-olah tengah bercanda.


"Ma-ma-maaf Tuan Stef. Apa maksud, Anda? Bu-bu-bukankah Anda baru menikah dengan Raline?" Bibir Lily sangat berhati-hati untuk bertanya.


Stefan menepis semua ucapan Lily, "Hari ini pukul lima tadi, saya sudah menceraikan Raline dan Sakira. Mereka menyerang Keluarga Arlan di Santo Stefano. Membuat saya benar-benar kecewa. Padahal mereka tengah berobat kesana, malah mengganggu ketenangan keluarga yang tengah berbahagia. Saya kecewa, dan hari ini juga saya menghentikan semua aliran dana untuk Liberti juga kedua mantan istri saya," tuturnya sambil menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, sambil menyentuh bibir gelas yang ada dihadapannya dengan jari telunjuk.


Wajah Stefan menekuk penuh kekecewaan. Kali ini ada beberapa hal yang terpendam, membuat dirinya hanya tersenyum tipis melebarkan pandangannya kearah lain.


"Maaf jika saya lancang, Li. Malam ini saya mengundang kamu kesini, untuk berbicara serius. Maukah kamu menikah dengan saya?"


Mendengar ajakan Stefan yang spontan, membuat Lily langsung tersedak karena merasa tengah dirayu habis-habisan oleh pria tua yang duduk dihadapannya.


Lily menepuk-nepuk dadanya, mengambil sapu tangan yang ada dihadapannya, kemudian tertawa kecil, melirik kearah Stefan yang langsung tampak panik.


Dengan cepat, Lily menggelengkan kepalanya, tertawa kembali karena merasakan betapa terkejutnya dirinya dilamar oleh pria paruh baya yang sangat kaya, menjadi kompetitor mereka tapi tidak memiliki permasalahan yang serius dengan Arlan. Hanya perdebatan kecil, selayaknya dua insan selalu menggoda tapi memiliki perasaan empati yang tinggi.


Kembali Lily meletakkan sapu tangan yang ada dalam genggamannya diatas meja, kemudian menyesap wine diujung bibirnya, dan menatap manik mata berwarna kebiruan tersebut.


"Kenapa Anda mengajak saya menikah, Tuan Stef? Bukankah Anda mengetahui saya hanya seorang janda yang tidak memiliki anak. Saya terbiasa hidup sendiri. Selama saya berada di Singapura saya masih mengabdikan diri dengan Mas Arlan. Tapi ketika mereka kembali, saya akan mengurus izin tinggal saya untuk menetap di negeri jiran untuk melanjutkan mengajar sebagai dosen," jelasnya dengan nada sangat lembut.


Stefan benar-benar terpesona mendengar suara Lily yang menyejukkan, sangat berbeda dengan istri ketiga-nya Bianka.


"Kamu wanita cerdas, Li. Sangat disayangkan sekali jika kamu masih sendiri. Saya serius dengan pertanyaan saya. Kamu tahu sendiri, kalau istri pertama Any lumpuh semenjak melahirkan Brian hingga saat ini, dan dia juga yang mengizinkan saya untuk menikah lagi. Sejujurnya saya mencari istri untuk membantu merawat Any. Dia wanita yang sangat baik, sehingga bisa mendengarkan semua cerita saya, tapi tidak bisa mengeluarkan suaranya. 43 tahun kami menikah dan di tidak pernah berkata kasar padaku. Hingga akhirnya Brian lahir, dia tak mampu untuk menimang putra kami hingga dia dewasa dalam asuhan ku," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Lily terkesiap, mendengar cerita Stefan yang sangat menyentuh perasaannya sebagai seorang wanita baik-baik. Bibirnya hanya mengembangkan senyuman tipis, "Bagaimana dengan istri ketiga Anda, Tuan Stef?"


Stefan hanya tersenyum, menatap lekat iris mata Lily yang berwarna kecoklatan, "Dia hanya gadis penurut, tapi pemalas bekerja. Tapi tidak seperti Raline dan Sakira. Dia gadis belia yang memiliki hutang dari kelakuan keluarganya. Sama seperti Raline, wanita itu aku nikahi karena dia meminjam uang padaku sebesar dua milyar beberapa bulan sebelum anak Arlan meninggal dunia. Dengan alasan, Leon membutuhkan biaya. Awalnya aku tidak yakin, jika Arlan tidak mau menanggung semua biaya pengobatan Leon. Tapi karena aku mendengar semua cerita Cua, aku memberikannya."


Kening Lily kembali mengerenyit, raut wajah keibuannya yang penuh dengan kelembutan itu kembali bertanya penuh selidik, "Dimana Cua bertemu dengan putra mu, Tuan? Bukankah dia pernah memiliki hubungan dengan Leon? Mereka juga pernah tinggal bersama, kalau saya tidak salah sebelum Shinta bercerai dari Leon."


Tampak wajah Stefan seperti mengingat semua permintaan Brian, "Aku berteman dengan Daddy Cua. Kami memiliki bank swasta, dan Seno mantan suamimu memiliki banyak hutang dengan kami hingga 20 milyar, bahkan lebih. Tapi hingga saat ini kami tidak pernah menerima pembayaran darinya satu sen pun. Mungkin takdir sudah mempertemukan kita dengan cara seperti ini, Lily."


Stefan kembali menyesap gelas wine untuk membasahi bibirnya, melanjutkan ucapannya, "Aku tidak ingin menjanjikan apapun untuk membahagiakan mu, Lily. Tapi aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan wanita keibuan seperti mu, dan tidak memiliki hutang dengan ku. Aku tidak suka berbasa-basi. Jika kamu menginginkan kebahagiaan batin, aku rasa masih mampu untuk membahagiakan seorang wanita seperti mu. Kita bisa menghabiskan waktu di Paris, atau dimana kamu suka. Karena tugas istri ketiga ku, hanya mengurusi Any. Sesekali Cua juga Brian mengunjungi Mami-nya. Karena Cua wanita baik tapi terlalu manja."


Lily menundukkan wajahnya, hatinya benar-benar terkagum pada Stefan. Wajah gagah, di tutupi dengan ketegasan jika bersama orang lain, mampu menarik perhatiannya sebagai wanita yang sangat suka dengan pujian.


"Apakah kamu yakin dengan keputusan menikahi aku, Tuan Stef?"


"Of course. Aku serius dengan permintaan ku, Lily. Sudah ku katakan, jika aku ingin menghabiskan waktu ku bersama wanita lembut dan mapan seperti mu. Kamu sangat cantik jika harus hidup seorang diri. Bagaimanapun kamu masih produktif, membutuhkan pundak yang kokoh untuk bersandar. Sama seperti Shinta hidup bahagia bersama Arlan. Terkadang orang-orang mendengar istriku ada empat, mereka beranggapan aku seorang penjahat kelamin. Makanya aku hanya tertawa jika mereka bicara seperti itu," jelasnya lagi.


Kembali Lily hanya bisa mengajukan pertanyaan untuk meyakinkan perasaannya, "Bolehkah membawa saya kekediaman Anda, Tuan? Hanya untuk menjenguk Any."


Stefan mengangguk setuju, dengan senyuman manis mengembang lebar, "Kamu boleh datang kapan saja. Pintu rumah ku, selalu terbuka untuk mu, Lily. Kita bisa berenang bersama, golf, dan melakukan hobi mu, apapun itu. Any sangat suka mendengarkan cerita, apa saja. Jika kamu berkenan, kamu bisa melakukannya sebelum kita berkencan."


Lily hanya tertawa kecil, mendengar lelucon pak tua yang ada dihadapannya, sehingga ia benar-benar bisa tertawa bahagia.


"Will you be marry me, Lily?"


Lagi-lagi kalimat itu terdengar dari bibir Stefan, yang tak pernah menyerah ...

__ADS_1


Tanpa perasaan sungkan Lily menjawab pertanyaan pria dihadapannya dengan pertanyaan, "Bisakah kita makan malam dulu, Tuan Stef?"


__ADS_2