
Suasa hati Arlan dan Shinta tidak baik-baik saja, apalagi ketika pria mapan tersebut mendengar makian yang di lontarkan wanita yang telah menjadi ibu bagi Baby Sandy itu, dengan suara lantang.
"Bibi ... Aku ingin melihat Sandy, dia anakku! Buka pintunya! Aku akan mengambil anak ku, dari tangan mu! Akan aku lakukan!! Karena Sandy juga darah ku, Bibi! BUKA PINTUNYA!!!!" teriaknya semakin frustasi, terus berusaha membuka hendel pintu, sambil menggedor-gedor dengan sekuat tenaga.
Arlan justru tersenyum tipis, mendengar ancaman Shinta dari balik pintu kamar, yang sudah ia tutup dan kunci dengan cepat. Kini, tidak ada satupun yang bisa mengganggunya, karena ia tidak akan pernah memberikan maaf kepada orang yang telah menyakitinya.
Itulah yang terjadi pada Raline juga Liberti. Arlan tidak akan pernah berbaikan, walaupun yang dikatakan wanita serigala itu benar adanya mengenai sang menantu. Namun, ia masih belum bisa untuk berbaikan dengan keluarga almarhum istrinya.
Tidak menunggu lama, Shinta di bawa paksa oleh pihak apartemen karena mendapatkan perintah dari seorang Arlan.
Dua pria bertubuh besar, menggendong Shinta, agar meninggalkan kediaman Arlan, tanpa ada perlawanan yang berarti.
Tidak ada pilihan, Shinta telah kehilangan Arlan untuk selamanya. Jadi saat ini ia tidak bisa kehilangan Leon. Bagaimanapun, pria muda itu masih menjadi suami sahnya.
Shinta mengusap kasar wajahnya, merogoh handphone pipih itu dari dalam tas yang dilemparkan Arlan saat mengusirnya dari apartemen, kemudian menghubungi Leon dengan isak tangis dan deraian air mata ...
"Leon, angkat sayang. Aku membutuhkan mu saat ini! Aku harus kemana? Saat ini aku hanya memiliki uang sedikit ..." tangisnya mengusap mata sembab itu berulang kali.
Terdengar suara seorang wanita di seberang sana, menjawab panggilan telepon dari Shinta ...
[Ya ha-lo ...]
Berulang kali Shinta melihat layar handphone miliknya, untuk memastikan bahwa yang ia hubungi nomor telepon suaminya.
[Si-siapa ini? Mengapa kamu yang menjawab telepon suami ku]
Terdengar suara wanita itu tengah berbisik pada seseorang ...
[Hmm suami? Suami siapa? Ini justru nomor telepon suami saya. Kamu siapa hmm ...]
__ADS_1
Lagi-lagi Shinta menautkan kedua alisnya, kembali menatap layar handphone miliknya, kemudian menghardik wanita yang berada di seberang sana.
[Berikan handphone suamiku! Kau siapa? Kau hanya jallang yang ingin menghancurkan kebahagiaan rumah tangga ku! Berikan cepat kepada suamiku!!!]
Namun belum sempat mendapat jawaban, sambungan telepon seluler terputus, membuat Shinta kembali frustasi, karena tidak dapat menghubungi Leon kembali.
"Aaagh sial!! Siapa wanita itu, ooogh Tuhan, apa yang harus aku lakukan ...!? Kenapa wanita yang menjawab telepon seluler milik suamiku!? Leon, jangan tinggalkan aku ... Karena aku telah meninggalkan Papi Arlan hanya untuk hidup bersama mu, sayang ...!" tangisnya kembali pecah saat berada di parkiran apartemen.
Beberapa security masih mengawasi keberadaan Shinta, yang masih terus berusaha untuk merebut Baby Sandy dari tangan Arlan.
Di apartemen, Arlan justru tengah tertawa kecil, membayangkan bagaimana bodohnya Shinta telah mencampakkan nya seperti anak abege yang tidak memiliki pengalaman apapun dalam menjalin hubungan serius dengan wanita.
"Kau pikir aku akan semudah itu untuk bisa memaafkan mu, Shinta. Sejak awal sudah kukatakan padamu, bahagiakan keluarga ku, maka aku akan membahagiakan mu! Tapi apa yang telah kau lakukan padaku ... Kau justru mencampakkan aku seperti mencampakkan Leon kala itu. Dengan mudahnya kau menyerahkan tubuh mu pada ku, hanya untuk melampiaskan hasrat liar mu itu ...! Dasar wanita bodoh, tidak memiliki prinsip! Setidaknya bukan aku yang mengecewakan mu, tapi kau yang mempermainkan perasaan ku ..."
Arlan menoleh kearah Baby Sandy, saat bayi mungil itu terjaga dari tidurnya.
"A a a a ..." Hanya suara itu yang keluar dari bibir mungil nan merah merona milik Sandy, membuat Arlan semakin bersemangat untuk menggoda sang baby yang masih ternganga, tertawa, bahkan menatap sang Papa dengan penuh perasaan bahagia.
Entah mengapa, Arlan tidak begitu sulit untuk melupakan Shinta, karena dia pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan selama hidup percintaan, ketika mengetahui Yasmin dan Seno telah mengkhianati nya.
"Hmm aku tidak akan pernah menjalin hubungan serius pada wanita manapun. Ternyata setia saja tidak cukup untuk menakhlukkan hati seorang wanita ... Mereka lebih sering mempermainkan perasaan tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi ..." gumamnya dalam hati yang penuh dengan kekecewaan.
.
.
Hari berganti hari, minggu telah berganti, memasuki bulan yang berakhir 'ber', maka hujan selalu turun membasahi kota metropolitan.
Semenjak kejadian itu, Leon mengurungkan niatnya untuk membawa Cua ke Shanghai, karena tidak mendapat izin dari Mami juga Daddy gadis manja itu.
__ADS_1
Kedua-nya lebih sering menghabiskan waktu bersama di mansion milik Arlan, tanpa menjalin komunikasi dengan pria mapan itu, yang diketahui Leon masih menjalin hubungan serius dengan Shinta.
Dua insan tengah berpacu dalam gairah cinta masa muda yang tidak pernah ada habisnya.
Leon sangat menikmati indahnya tubuh ramping Cua, yang telah menjadi candu baginya, untuk terus memompa adrenalinnya di bawah sana, dalam mencapai kebahagiaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata pada tubuh kekasih nya.
Cinta masa sekolah, yang telah ada kepastian, setelah Leon meminta kepada kedua orang tua gadisnya, untuk mempersunting putri kesayangan mereka, setelah proses perceraiannya selesai.
Kedua kaki Cua yang masih menjepit kuat di pinggang Leon, saat akan mencapai pelepasan kebahagiaan bersama, karena Leon semakin bergerak lincah lebih cepat dibawah sana, seketika ...
BRAAK ...!
Pintu kamar yang tidak di kunci oleh Leon, seketika terbuka lebar, membuat kedua insan itu terlonjak seketika.
Bagaimana tidak, tubuh yang masih dibasahi oleh peluh cinta yang penuh gairah, ternyata harus di ganggu dengan kehadiran wanita dewasa, yang membulatkan kedua bola matanya, sehingga membuat penyatuan Leon dan Cua terlepas seketika, ketika melihat wanita asing membuka pintu kamar secara tiba-tiba ...
"Si-shi-shinta!" Leon tampak kebingungan, bahkan langsung memeluk tubuh mungil Cua, agar menutupi tubuh wanitanya, dari pandangan Shinta yang nyalang menantang kearahnya.
Shinta ternganga lebar, melihat dengan jelas bahwa kini Leon tampak sangat berbeda, dari yang dulu, membuat bulu kuduknya benar-benar meremang.
Namun entah mengapa, luka yang perlahan sembuh dari kegagalan nya bersama Arlan, kini harus menelan pil pahit bahkan seperti menelan racun agar mati lebih cepat, karena tidak sanggup untuk menyaksikan suaminya sendiri melakukan hal keji itu dengan wanita lain.
Dengan langkah cepat, Shinta ingin meraih tubuh Cua, namun di tepis oleh Leon, yang langsung meraih pakaian di lantai kamar pribadinya.
"Jangan sentuh kekasih ku, Shinta!" hardiknya lantang.
Shinta yang tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Leon, mencoba meraih tubuh Cua kembali, karena perasaan sakit yang ia rasakan kali ini ...
"Dasar jallang kau! Kau tidur dengan suami ku! Kau tahu, Leon ini suami ku! Kami tidak akan pernah berpisah!!!" teriaknya menggema hingga terdengar oleh beberapa pelayan dan pengawal.
__ADS_1
Leon yang mendengar teriakkan Shinta berapi-api, bak petir di siang bolong, hanya menjawab dengan senyuman yang mengembang lebar ...
"Sakit Shinta ...! SAKIT!!! Itulah yang aku rasakan selama ini, ketika kau menggoda Papi Arlan, sehingga memiliki anak dari hubungan terlarang kalian! Ingat, aku telah menceraikan mu, karena aku akan menikah dengan Dia!!" tunjuknya kearah Cua yang tampak ketakutan.