Tergoda Hasrat Menantu

Tergoda Hasrat Menantu
Anniversary


__ADS_3

Ketika amarah dapat diredam oleh hati yang memiliki perasaan iba dan kasih sayang, kini Arlan hanya terduduk di sofa ruang keluarga apartemen mewah miliknya dalam hati yang masih berselimut duka penuh kecewa.


Tiada kata maaf yang akan pria itu berikan kepada Liberti ataupun semua orang yang sengaja berbuat buruk padanya. Arlan merebahkan tubuhnya disandaran sofa, merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum tipis ketika membayangkan wajah Raline yang sangat bernafsu ketika duduk dipangkuan nya.


"Kau gila Raline, tidak mungkin aku akan menikahi wanita seperti mu! Karena aku sangat mencintai Shinta. Wanita itu lebih muda, bahkan sangat cantik, dan aku sangat menyukai caranya, agh ...," Arlan beranjak menuju kamar, untuk menemui calon istrinya.


Tidak banyak bicara, Arlan memberi perintah pada Shinta untuk mengemasi semua barang-barang mereka, kemudian berangkat menuju Singapura membawa Baby Sandy, untuk menikah dan menetap di sana.


.


Nyonya Arlan. Bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang Nyonya Arlan, karena harus menghadapi tantangan luar biasa dari keluarga konglomerat seperti Liberti juga Raline Utama.


Akan tetapi, Shinta benar-benar beruntung telah dipersunting oleh pria mapan yang menjadi impiannya sejak pertama kali bertemu dengan Arlan.


Begitu banyak kejutan yang diberikan Arlan kepada Shinta, hanya untuk membahagiakan wanita yang telah mengabdikan diri padanya juga putra kesayangan mereka.


Entah berapa kali, Shinta mendapatkan kejutan kecil dari Arlan, berupa rumah mewah yang dilengkapi dengan berbagai macam keindahan, juga mobil sport keluaran terbaru buatan Italia yang diberikan pria mapan itu ketika merayakan anniversary tiga tahun pernikahan mereka disebuah hotel mewah negara singa tersebut.


Shinta mengenakan gaun malam dengan bahu terbuka, membuat pria romantis itu berkali-kali mengecup lembut punggung telanjang istrinya.


"Hmm, kamu sangat cantik sayang ..." bisiknya sambil melilitkan kedua tangan kekar itu di perut ramping sang istri.


Rona wajah Shinta berubah menjadi tersipu malu karena merasakan tangan kekar itu terus mendekapnya erat dari arah belakang.


"Bi ..."


"Hmm ..."


"Terimakasih sudah mau memberikan kebahagiaan yang tidak terkira untuk aku. Jujur aku sangat bahagia setelah menjadi istri Bibi. Hmm, kalau aku meneruskan kuliah bagaimana, Bi?"

__ADS_1


Arlan yang masih meletakkan dagunya di bahu Shinta menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa tidak setuju.


"Kamu sudah berhasil lulus menjadi profesor buat aku dan Sandy. Aku tidak ingin kamu membagi waktu mu, hanya untuk pendidikan. Jika kamu mau, aku akan mengirim dosen untuk private di rumah, agar kamu dapat mengasah kemampuan mu. Jangan pernah tinggalkan rumah, karena kamu merupakan jantung bagiku juga Sandy, Shinta."


Mendengar kalimat-kalimat indah yang keluar dari bibir Arlan, membuat kedua pipi Shinta semakin terasa hangat dan merah merona.


Bagaimana tidak, kemewahan yang diberikan Arlan melebihi dari cukup. Kini Shinta benar-benar berubah menjadi seorang wanita dewasa yang paling sempurna dengan balutan barang-barang mahal, juga perhiasan indah yang senantiasa melekat di tubuh indahnya.


Jika ditanyakan apa yang tidak mahal di tubuh Shinta saat ini, mungkin jawabannya hanya tubuh yang tidak pernah ia operasi plastik selayaknya artis Korea.


Kulit yang terasa lembut dan semakin kenyal, membuat pria yang hampir berusia kepala lima itu benar-benar kecanduan akan pesona seorang Shinta yang tampak elegan dan tidak murahan.


Hanya kebahagiaan inilah yang diharapkan Arlan sejak dulu, tapi tidak ia dapatkan dari pernikahannya dengan Yasmin, karena kebodohan wanita yang lebih dulu meninggalkannya.


Kedua-nya menikmati malam yang sejuk sambil berdansa bersama, dengan mata saling terus menatap, dengan sinaran cinta juga sayang.


Lagi-lagi Arlan mengecup lembut punggung tangan Shinta, kemudian mengeluarkan satu hadiah kecil yang telah ia persiapkan untuk Shinta.


Dengan mata berkaca-kaca, Shinta tersenyum sumringah sambil menutup bibirnya menggunakan kedua jemari mungil yang semakin tampak putih dan bersih.


"Bibi, iya aku mau! Ta-ta-tapi kita sudah sering usaha, kan. Aku akan memberikan anak-anak yang banyak buat Bibi, biar rumah sebesar itu terasa ramai dan sangat hangat jika berada didalamnya, karena tawa canda buah hati kita," godanya mengangguk setuju.


Arlan kembali berdiri dihadapan Shinta, menyematkan cincin berlian yang ia beli beberapa waktu lalu, kemudian mengecup lembut kening istrinya.


"Aku akan memberikan semua yang kamu mau, termasuk diriku ..."


Tidak ingin berkata-kata lagi, Shinta langsung berhambur memeluk tubuh Arlan, menangkup wajah pria gagah itu, dan langsung mellumat bibir tipis yang selalu memberikan pujian-pujian kecil padanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Arlan langsung menggendong tubuh ramping istrinya bak seekor koala yang enggan berpisah dari induknya, untuk membawa kekamar peraduan mereka yang tidak jauh dari tempat candle light dinner yang telah direncanakan oleh Arlan.

__ADS_1


Ketika langkah kaki Arlan akan memasuki kamar indah yang didesain khusus untuk bulan madu yang kesekian kalinya, tiba-tiba assisten pribadinya menghampiri pria gagah itu dengan menundukkan pandangannya.


Ya, kini Arlan benar-benar menjadi kaya raya. Dia tidak mengerti, kenapa semua bisnis yang ia tekuni semakin berkembang dan bertumbuh ketika bersama Shinta, membuat dirinya semakin disegani dan di takuti oleh semua pelayan juga pengawalnya.


"Tu-tu-tu-tuan Arlan," sapa asistennya pelan, karena tidak mau mengganggu kebahagiaan sang majikan.


Arlan menghela nafas berat, perlahan ia melepaskan ciumannya dari bibir Shinta, kemudian menoleh kearah Abi yang masih menunduk disamping kirinya.


"Hmm, ada apa? Apakah kamu tahu aku sedang bahagia? Kenapa kalian suka sekali mengganggu kebahagiaan aku hmm!" umpatnya menggerutu kesal.


Shinta mengusap lembut kepala Arlan, memilih turun dari gendongan sang suami, dan kembali memeluk tubuh kekar itu dengan penuh perasaan sayang.


Abigail menundukkan kepalanya, "Ada telepon Tuan, tentang Mas Leon yang mengatakan bahwa kondisinya semakin menurun. Yang menghubungi saya barusan Nyonya Lily. Dia yang memberi kabar, karena kebetulan besok pagi dia akan mendarat di Changi pukul 06.30. Dan beliau ingin bertemu dengan Anda, Tuan."


Perlahan Arlan kembali teringat akan ucapannya terakhir kali untuk Leon, dia harus meminta maaf pada Shinta. Akan tetapi, sampai saat ini setelah tiga tahun pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun anak itu memberi kabar padanya, atau hanya sekedar untuk say halo ...


"Hmm, ya! Atur waktu ku untuk bertemu dengan Lily pukul 09.00. karena aku tidak menerima tamu dibawah jam itu!" tegasnya.


Abi mengangguk mengerti, "Baik Tuan, saya permisi."


Melihat asistennya berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, Arlan kembali menoleh kearah Shinta, mengecup lembut kepala yang masih berada didekat bibirnya, kemudian bertanya ...


"Apakah jika pencangkokan itu masih ada riwayat kambuh lagi, sayang? Tapi kenapa dokter di Cina mengatakan bahwa dia sembuh beberapa waktu lalu?"


Shinta menghela nafas berat, dia mengusap lembut dada Arlan, hanya untuk menjelaskan pasien jika sudah melakukan pencangkokan hati serta ginjal.


"Mungkin kurang di perhatikan dalam riwayat kontrol yang harus rutin, Bi. Ditambah lagi tekanan dari keluarga, jadi membuat kondisi Leon semakin menurun hmm ..."


Arlan tersenyum manis, "Kenapa hmm? Apa kita akan membahas tentang anak itu? Besok aku akan bertemu Lily di restoran, jadi malam ini kamu akan aku buat tidak bisa berdiri seperti tahun lalu ..." geramnya langsung menggendong kembali istri tercinta, untuk menikmati keindahan malam di anniversary pernikahan Arlan dan Shinta.

__ADS_1


"Ahh, Bibihh ..."


__ADS_2