
Di apartemen mewah milik Arlan tengah terbaring Leon diranjang kamar utama milik Papi-nya dengan menggunakan alat bantu pernafasan yang diberikan dokter rumah sakit atas perintah Seno.
Leon tidak banyak bicara, bibirnya hanya mengeluarkan suara yang tidak dapat dimengerti oleh Seno.
Seno hanya bisa berkata, "Sabarlah Nak! Sebentar lagi Papi dan istri mu akan segera tiba, jelasnya dengan nada suara sangat lembut.
Seno menautkan kedua alisnya, dia tidak menyangka bahwa Arlan membiarkan Leon mengemudikan kendaraannya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan sang putra.
"Ada apa dengan Arlan? Bukankah dia sangat peduli pada kesehatan Leon? Kenapa kali ini sama sekali Arlan tidak peduli dengan kondisi Leon ...!" geramnya mengepal kuat tangan sendiri.
Tak selang berapa lama, setelah dokter spesialis dalam, meyakinkan bahwa Leon hanya kelelahan, terdengar suara ketukan pintu kamar, yang Seno ketahui itu adalah Arlan.
Benar saja, saat pintu kamar dibuka oleh Dokter, Arlan langsung berhamburan mendekati sang putra kesayangannya dengan berteriak keras penuh kecemasan.
"Leon! Leon, maafkan Papi sayang." Kemudian ia menoleh kearah dokter, kembali bertanya, "Bagaimana dok? Kondisi Leon?"
Dokter yang biasa menangani Leon saat melakukan tindakan cuci darah hanya bisa menjawab, "Leon hanya lelah. Biasanya, dia ditemani Shinta. Tumben hari ini mereka tidak menghabiskan waktu bersama? Apakah Leon ada masalah rumah tangga dengan Shinta, Pak?"
Arlan mengalihkan pandangannya kearah lain, dia memikirkan hal lain yang cocok sebagai alasan dihadapan Seno, "Saya juga tidak tahu. Oya, kenapa kalian tidak jadi terbang hari ini? Apakah jadwal kita ditunda?"
Seno menganggukkan kepalanya dua kali, "Lusa kita menghadiri acara itu. Mila juga baru memberi kabar padaku tadi saat akan berangkat ke bandara. Yah, jika tidak ada halangan rencananya aku ingin mengajak mu berangkat malam ini. Makanya aku mendatangi apartemen mu! Ternyata kamu berada di mansion. Saat aku ingin bertanya pada Leon, dia ambruk dalam pelukan ku! Sepertinya dia menyimpan masalah yang cukup berat!" sindirnya.
Arlan terdiam sejenak, dia memperhatikan satu kocek baju yang dikenakan putranya yang memperlihatkan satu alat testpack. Dengan cepat ia meminta pada Seno dan dokter agar menunggunya di ruang keluarga apartemen.
"Tinggalkan aku sebentar! Aku ingin bicara dengan Leon!" perintahnya tanpa mau dibantah.
Seno yang sudah mengetahui apa yang ada disaku baju Leon, hanya mendengus dingin menatap pada Arlan. Kemudian dia membalikkan badannya, kembali berkata, "I'll talk to you!"
__ADS_1
(Aku akan bicara padamu)
Arlan mengangguk mengerti. Ia menutup rapat pintu kamarnya, menatap kearah Leon yang masih terbaring lemah di ranjang kingsize miliknya.
Perlahan Arlan mendekati putra kesayangannya, menatap lekat wajah kurus yang tampak segar juga tenang, "I'm sorry Papi, Leon. Papi is sure you know something, but this is all Papi did because of the circumstances that turned out to have destroyed our family ..."
(Maafkan Papi, Leon. Papi yakin kamu mengetahui sesuatu, tapi ini semua Papi lakukan karena keadaan yang ternyata telah menghancurkan keluarga kita)
Arlan duduk dibibir ranjang kingsize, mengambil alat testpack yang ada dalam saku kemeja putranya. Dia yakin, alat testpack itu milik Shinta. Dengan kuat dia meremas dan membanting alat tes kehamilan itu dilantai kamar.
"Gara-gara ini kamu berada disini! Wanita sial! Brengsek ... Dia telah masuk kedalam kehidupan ku juga anak ku! Apa yang harus aku lakukan ..." sesalnya meremas kuat rambutnya dengan geram.
Kali ini Arlan benar-benar tak mampu lagi untuk menutupi semua kesalahannya dihadapan Leon, "What if the child is born? What did Yasmin's family say? Aagh Arlan, why are you so careless. I've been a role model for Leon and the family of my late wife. But I have broken their trust just because of a Sita. What is the girl's intention to seduce me? so I was swayed by her charm. Unlucky ..."
(Bagaimana jika anak itu lahir? Apa kata keluarga Yasmin? Aagh Arlan, kenapa kau ceroboh sekali. Selama ini aku menjadi panutan bagi Leon dan keluarga almarhum istri ku. Tapi aku telah menghancurkan kepercayaan mereka hanya karena seorang Shinta. Apa niat gadis itu menggoda ku? Sehingga aku terperdaya oleh pesonanya. Sial)
Ketika Arlan masih mengusap lembut lengan halus yang mengalirkan kecepatan darah sangat deras dinadi buatan manusia itu, Leon menggerakkan tangannya perlahan.
"Hmm Mami, Leon mau ikut Mami ..." rintihannya terdengar sangat memilukan.
Arlan terdiam sejenak, matanya berembun mendengar penuturan Leon yang sangat mengiris perasaannya. Kesalahan fatal yang ia lakukan, membuat anaknya tidak ingin melanjutkan kehidupan bersamanya.
Pengkhianatan yang sangat memalukan, bahkan akan menghancurkan seluruh nama baik keluarganya, jika semua terkuak dimedia tentang kehamilan Shinta yang akan membuat semua orang bertanya-tanya. Sementara keluarganya mengetahui bagaimana kondisi Leon sebagai suami yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Arlan mengecup lembut punggung tangan putra kesayangannya, mengusap pelan puncak kepala Leon, sambil bergumam dalam hati ...
"Papi akan menyelesaikan semua tanggung jawab ini Nak. Bertahanlah ...,"
__ADS_1
Arlan beranjak dari ranjang miliknya untuk keluar dari kamar, meminta dokter agar menemani Leon sampai siuman.
Saat mata Arlan juga Seno, memastikan dokter spesialis dalam itu masuk ke kamarnya, pria yang sejak tadi menyimpan amarah yang tertahan, langsung menghampiri duda satu anak itu, seketika ...
BHUUG ...!
BHUUG ...!
BHUUG ...!
Seno menghujamkan pukulannya tepat di ulu hati Arlan membuat sahabatnya itu mengeerang kesakitan dan ambruk di lantai ruang keluarga apartemen.
"Aaaagh ...!" ringis Arlan menyentuh perutnya.
"Brengsek sekali kau! Apa yang telah kau lakukan pada menantu mu? Apa kau mau melihat Leon mati mendadak? Kau tahu, kita ini lagi disorot oleh mertua mu, Liberti juga Raline. Kenapa kau tidak menghamili Raline, Mia atau secretaris ku Mila! Laki-laki brengsek!" geramnya tanpa merasa kasihan sedikitpun pada Arlan.
Arlan masih meringkuk dilantai menahan rasa sakit, yang sangat menyesakkan ...
"Ta-ta-tapi, gadis itu yang datang ke apartemen ku! Di-di-dia yang menggoda ku!" sesalnya.
Seno menggelengkan kepalanya, mendecih menggeram, bahkan ingin sekali dia menginjak kepala sahabatnya itu ...
"Cih ... Masih banyak wanita diluar sana Arlan! Tapi kau hancurkan rumah tangga anakmu! Kau tahu bagaimana kondisi Leon hah!? Leon itu anak mu bersama Yasmin! Cinta mu, tapi kau rela menyakiti anakmu sendiri. Sudah aku ingatkan padamu, tutup matamu rapat-rapat untuk menantu mu! Tapi apa yang kau lakukan! Kau hamili dia, kau tidur dengan dia di mansion, tanpa peduli dengan semua pelayan dan pengawal! Aku kecewa sama perbuatan mu! Aku pikir semua obrolan kita ini, hanya obrolan ringan antara kau dan aku. Pantas saja Raline tidak menghargai mu sebagai ipar! Ternyata kelakuan mu melebihi singa jantan yang kelaparan! Buat malu saja. Aku harap, kau ungsikan anak menantu mu ke Singapura! Jangan sampai berita memalukan ini terbongkar! Aku sahabatmu yang sangat tahu bagaimana cara kau jatuh cinta!" tegasnya berapi-api, tanpa mau mendengarkan pembelaan dari Arlan.
Arlan berusaha berdiri, seraya memohon, "Sen ... Dengarkan aku dulu!"
Seno tersenyum tipis, menyunggingkan senyuman lirih menyiratkan bahwa dia tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut Arlan.
__ADS_1