
Malam semakin larut, sudah lebih dari enam jam Arlan dan Shinta terbalut dalam hasrat yang tak kunjung usai, akhirnya kedua-nya berhasil meraih kebahagiaan hakiki untuk kepuasan seorang suami.
Arlan akhirnya ambruk dalam pelukan Shinta, setelah menghadapi berbagai cara agar cepat selesai menidurkan benda yang terus mengeras dan enggan untuk tertidur.
Tubuh dua insan yang sedang perang dingin itu saling berpelukan dalam peluh, tapi menyiratkan satu kepuasan diujung bibir Shinta, walau harus menjadi jallang untuk suaminya sendiri malam itu.
.
Pagi menjelang, matahari bersinar terang menyinari negara tempat tinggal mereka. Shinta masih enggan membuka mata, karena masih merasa tidak sanggup dengan kejadian satu hari kemaren.
Deringan telepon milik Arlan sudah berbunyi sejak pukul delapan pagi, hingga kini telah menunjukkan pukul satu siang. Akan tetapi, dua insan itu masih tertidur pulas, tanpa memikirkan apa yang terjadi di kantor polisi tentang Raline yang seakan-akan menggila, karena mendapatkan perlakuan kasar dari Shinta.
Bibir wanita dewasa itu pecah, dan mengalami gigi bagian depan yang patah, membuat Raline menuntut balik Shinta.
Stefan, selaku suami Raline yang baru hanya bisa mengurut dada, ketika ia mengetahui bagaimana rasa cinta istrinya terhadap Arlan yang sudah diakuinya siang itu.
Perlahan Stefan menoleh kearah Brian, kemudian bertanya dengan nada pelan, "Bagaimana? Sudah dapat kabar dari Arlan? Bagaimanapun istrinya itu, tidak boleh melakukan tindakan kekerasan pada istriku. Karena semua ini hanya kesalahpahaman saja."
Mendengar pembelaan dari sang ayah terhadap Raline, Brian hanya mengulas senyuman tipis, karena sudah yakin bahwa pria tua itu akan membela istrinya, dan menyayangkan sikap Shinta yang telah menghajar istri muda sang ayah menggunakan tongkat baseball.
"Pa, Nyonya Shinta memiliki alasan yang kuat kenapa dia melakukan hal itu pada istri muda mu. Tidak mungkin, jika Nyonya Raline tidak menyakitinya. Jadi kita tidak bisa menuntut apapun, karena mungkin selama ini istri-istri Papa tidak banyak menuntut. Ya ... setidaknya kita mendengarkan dulu alibi dari Nyonya Shinta, baru kita ambil mufakat untuk berdamai saja."
__ADS_1
Stefan mendecih, wajahnya tampak mengeras, dan enggan menatap wajah putra kesayangannya, karena pasti memilih untuk berdamai daripada harus berdebat. Tampak ia mengalihkan pandangannya kearah lain, sambil menunggu Raline menyelesaikan semua pemeriksaan serta pengobatan untuk wajah yang lebam.
"Untung istriku tidak mati di tangan wanita itu. Jika Arlan tidak pernah mencintai Raline, kenapa pria itu masih menerima kedatangan istri ku di kediamannya? Terkadang perasaan cinta itu dapat dikalahkan oleh nafsu. Aku yakin, mereka sering berkencan sebelum Raline menjadi istri ku!" umpatnya ditelinga Brian yang duduk di sisi kanannya.
Brian justru semakin tersenyum tipis, ketika mendengar umpatan sang ayah, tapi dia lebih memilih untuk diam karena tidak ingin berdebat dengan pria yang telah membesarkan nama baiknya seperti saat ini.
.
Siang semakin terik, Arlan baru mengerjabkan kedua bola mata, merasakan tubuhnya seperti remuk dan terasa sangat berat untuk bergerak.
Sangat berbeda dengan Shinta, wanita itu justru telah selesai membersihkan diri, dan tengah mengobati bagian intimnya yang terasa perih juga lecet seorang diri sambil melebarkan kedua pahanya di sofa.
Melihat kejadian itu, Arlan duduk di tepian ranjang, kemudian berjalan sempoyongan mendekati sang istri yang masih meringis menahan perih dibagian intinya.
Arlan menghentikan tangan Shinta, yang masih mengoleskan cream antiseptik di sana, sambil berkata dengan nada lembut, "Maafkan aku, sayang. Aku akan mengobatinya."
Sambil mendengus dingin, Shinta hanya menghela nafas berat, menjawab permintaan Arlan dengan nada kesal, "Kenapa Bibi selalu menerima kedatangan Raline? Darimana dia tahu kalau Bibi tinggal di sini? Bukankah dia tidak mengetahui apartemen ini?"
Arlan menggeleng, mendekatkan wajahnya dihadapan Shinta, menatap netra wanita yang tengah dilanda cemburu itu, "Jujur ... aku tidak tahu kedatangan Raline. Aku sedang meeting di restoran, tiba-tiba saja badanku terasa sangat berat dan pandangan berkunang-kunang. Aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi begini, Shinta. Sumpah aku benar-benar tidak menyangka bahwa Raline telah meracuniku!"
Shinta membuang pandangannya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Karena kondisinya Arlan memang tidak sadar, dan menikmati apa yang telah diperbuat wanita jahanam itu. Akan tetapi, naluri wanitanya mengalahkan logika. Ia terlalu sering melihat kejadian Arlan di tiduri oleh Raline.
__ADS_1
"Apapun alasannya, aku cemburu Bi! Bibi suami ku. Tapi Bibi dengan mudah untuk menerima wanita itu. Aku rasa saat ini, Raline sudah berada di penjara, dan mati didalam sana!" ucapnya kesal, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Aku telah menghajar dia pakai tongkat baseball! Semoga saja dia mati!"
Tak ingin berdebat, Arlan mendekap erat tubuh Shinta, membawa wanita itu duduk ke pangkuannya.
Shinta tidak banyak bicara, dia hanya mengikuti arahan Arlan yang langsung mengecup dadanya yang masih terbalut handuk.
Perlahan, tangan Arlan mengusap lembut punggung istrinya, membuka handuk yang menutupi bagian dada Shinta, hanya untuk melihat bagian tubuh itu dalam keadaan sadar.
Arlan menatap kedua bola mata Shinta, kemudian menyeesap pucuk dada wanitanya, sambil berkata dengan lembut, "Aku merindukanmu, sayang."
Sejujurnya Shinta merasakan indahnya sentuhan Arlan, tapi dia masih meringis karena masih merasakan perih dan linu diseluruh bagian tubuhnya.
Kedua tangan Shinta menolak wajah Arlan, yang tampak masih terbalut sisa gairah semalam, "Bibi mandi dulu, ya? Tubuh ku masih terasa remuk, karena tidak mampu mengimbangi permainan Bibi tadi malam. Intiku juga masih terasa robek, dan aku yakin butuh waktu berhari-hari untuk memulihkannya."
Wajah Arlan tampak semakin kusut, ia meringkuk di dada Shinta, mendekap tubuh ramping istrinya itu dengan penuh perasaan rindu yang teramat sangat. "Aku mencintai mu, sayang. Mau kah kamu memandikan aku?"
Senyuman Shinta mengembang lebar disudut bibirnya, kembali menutupi bagian dadanya, dan langsung berdiri kemudian beranjak ke kamar mandi menyiapkan air hangat didalam bathtub.
"Agh, Bihh ..." Lagi-lagi Shinta terkejut, karena Arlan langsung memeluk tubuhnya, mengecup lembut leher belakangnya.
Kali ini Arlan benar-benar tidak ingin melepaskan Shinta. Dia terlanjur bergairah sejak melihat milik istrinya di sofa. Entah apa yang ada dibenak nya, yang penting kali ini hanya ingin menebus kesalahannya terhadap wanita yang telah memberikannya satu orang putra, karena telah berani menyapa Raline lebih dulu siang itu.
__ADS_1
Ada perasaan bersalah dihati Arlan, yang tidak diketahui oleh Shinta. Karena rasa diacuhkan oleh wanita itu selama berbulan-bulan, membuat dirinya mengikuti permainan Raline.
Namun main-mainnya Arlan, disalah artikan oleh Raline, sehingga memberanikan wanita gila itu untuk segera mewujudkan niatnya, sehingga membuat pria mapan itu benar-benar tak sadarkan diri.