
Siapa sangka, ternyata sejak kejadian itu Arlan sudah tidak mau bertemu lagi dengan Seno. Ia membatalkan rencana pekerjaannya ke Italia, karena tidak ingin berdebat dengan pria satu anak yang merupakan sahabatnya sejak dulu.
Arlan mengurung diri berhari-hari bahkan berminggu-minggu didalam apartemennya selama satu bulan, tanpa menghiraukan Leon yang terus menerus menanyakan keberadaannya dengan Shinta.
Shinta terdiam sejenak, hanya bisa tersenyum tipis, menatap wajah suaminya dengan penuh perasaan iba ...
"Sudah lebih dari tiga minggu Papi tidak pernah kembali ke mansion, sayang. Sama sekali tidak pernah memberi kabar pada ku, ataupun pada para pelayan," jelasnya pelan, sambil mengusap lembut kepala Leon.
Leon memiringkan tubuhnya, menatap lekat iris mata indah Shinta, sementara tangan kanannya menyematkan anak rambut di cuping istri tercinta, kemudian bertanya ...
"Biarkan saja. Oya benarkah kamu mengandung anak hmm?"
Shinta yang tidak pernah mendapat pertanyaan seperti itu dari Leon yang berstatus sebagai suaminya, hanya menelan ludah berkali-kali. Darahnya mendesir saat ingin menghindari tatapan mata yang keruh, namun sangat menusuk relung hatinya.
"Hmm ... Bisakah kita jangan membahas tentang ini? Aku salah padamu, sayang. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Semua kejadian begitu cepat, membuat aku pasrah menjalani semua proses kehidupan ku! Aku rela diceraikan, jika kamu tidak membutuhkan aku lagi ..." jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
Leon mamalingkan wajahnya, kali ini ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Satu sisi, Shinta berhak untuk mendapatkan kebahagiaan batin, namun sisi lain hatinya menolak perbuatan sang istri karena pengkhianatan yang sangat memalukan baginya sebagai seorang suami, dan akan sangat berdosa jika Leon tidak melarangnya.
Seketika dada Leon terasa sangat sesak, jika mengenang perselingkuhan Shinta yang ia dengar. Namun, apa yang dapat dilakukannya, sementara semua itu telah terjadi.
Lagi-lagi air mata Leon mengalir dengan sendirinya, namun cepat ia usap agar tidak terlihat oleh Shinta.
Akan tetapi, Shinta sudah melihat air mata Leon yang mengalir untuk kesekian kalinya selama beberapa waktu ini.
"Sayang ... Jika kamu tidak menginginkan aku lagi, aku bisa pergi dari sini. Aku tidak ingin mengucapkan kata maaf, karena aku tidak ingin mendengar mu terus-menerus memaafkan aku, namun tidak dapat melupakan semua salahku padamu," jelasnya memposisikan tubuhnya untuk duduk di ranjang peraduan mereka.
__ADS_1
Namun, Leon menahan tubuh Shinta, karena tidak ingin jauh dari wanita cantik yang sangat berjasa telah merawat dengan sabar selama beberapa bulan, sehingga tubuhnya kembali membaik. Walau masih melakukan cuci darah.
"Jangan pergi Shinta. Aku akan menjadi suami siaga untuk anak mu. Kita anggap saja, bahwa benih itu dari ku! Karena aku tidak akan pernah melepaskan mu, aku-aku-aku mencintai mu!" tegasnya.
Sontak ucapan Leon, membuat Shinta membelalakkan kedua bola matanya. Bagaimana mungkin seorang pria akan memaafkan perselingkuhan seorang istri, walau dalam status pernikahan kontrak.
"Tidak ... Ini tidak mungkin, bagaimana mungkin Leon akan mempertahankan pernikahan ini, sementara aku telah mengecewakan nya. Apakah dia tengah merencanakan sesuatu? Apa kata keluarga besar mereka, jika melihat seorang bayi kecil di mansion ini. Apakah mereka akan percaya, jika Leon mengatakan bahwa anak ini darah dagingnya ...? Tidak-tidak-tidak, aku tidak mungkin terus berada disini. Bagaimana caranya aku untuk bertemu dengan Papi? Sementara aku sangat merindukannya. Besok merupakan jadwal cuci darah Leon ... Jadi aku bisa mengunjungi Papi Arlan di apartemen, untuk melepas kerinduan ..." gumamnya dalam hati.
Leon memeluk tubuh Shinta, meringkuk selayaknya seorang anak kecil sambil mengendus-endus perut istrinya yang tampak mulai membuncit ...
"Kita akan mengatakan bahwa anak ini, kita adopsi dari rumah sakit. Aku sudah memikirkan semua, untuk mengurus legalitas anak yang ada dalam kandungan mu, sayang. Tapi dengan syarat, kamu tidak boleh bertemu dengan Papi lagi. Kamu setuju ...?"
Wajah Shinta berubah kaku. Lagi dan lagi ia menelan ludahnya kasar. Apakah syarat dari Leon mampu ia lakukan, sementara ia tengah merencanakan untuk bertemu dengan Arlan.
Tanpa pikir panjang, Shinta mengangguk setuju, dengan berpikir untuk melakukan hal lebih gila lagi daripada saat ini.
Cukup lama Leon bermanja-manja dipangkuan Shinta yang masih enggan untuk tidur disamping suami, sehingga pria muda itu benar-benar terlelap dengan sendirinya karena mendapatkan belaian dari tangan halus sang istri.
"Aku menyayangimu Leon. Aku akan menjaga mu, itu janji ku. Tapi aku mencintai Papi, walau sesungguhnya cinta ini tidak benar, namu perasaan ku tak dapat dihindari ..." tangisnya dalam kesendirian.
Shinta beranjak dari ranjang peraduan, mencari keberadaan handphone miliknya, mengirim pesan pada Arlan, hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Perlahan tangan halus itu, mencari nomor telepon milik Arlan menulis pesan singkat melalui whatsApp.
[Apa kabar, Pi ... Kenapa tidak pernah kembali. Apa Papi tidak merindukan aku]
__ADS_1
Pesan terkirim, dan langsung dibuka oleh pria mapan dan tampan tersebut.
[Baik ... Kamu apa kabar? Bagaimana dengan anak kita yang ada dalam kandungan mu? Jaga kesehatan kamu, sayang. Aku sangat merindukan mu ...]
Shinta tersenyum sumringah, menatap layar handphone miliknya dengan wajah memerah, bahkan tampak malu. Seakan-akan Arlan berada disampingnya, sehingga mengetahui bagaimana kondisinya saat ini.
Benar saja, Arlan selalu memantau perkembangan kesehatan Leon, juga Shinta dari CCTV yang selalu menyala, yang langsung ia koneksikan ke layar handphone miliknya.
Arlan bergumam dalam hati, "Shinta, wajah mu terlihat semakin cantik dan menawan. Apakah kamu mengandung anak perempuan ...? Aku berharap kamu selalu datang mengunjungi ku. Kali ini kita akan merubah strategi, untuk terus bersama jika Leon tengah melakukan cuci darah seperti biasanya ..."
Perlahan Arlan menulis pesan, untuk membalas pesan dari Shinta ...
[Apakah besok Leon cuci darah? Bisakah kita bertemu di salah satu hotel? Jangan di apartemen, karena aku tidak ingin masalah semakin besar]
Shinta yang menerima pesan singkat seperti itu, tersenyum sumringah, dengan mengirim jawaban, tanpa bisa untuk menolak perjodohan keluarga yang ...
"Hmm ... Setidaknya aku bisa menjadi simpanan seorang konglomerat seperti Arlan," tawanya menyeringai kecil.
Shinta hanya menjawab singkat pesan Arlan dengan perasaan berbunga-bunga, tanpa ada perasaan berdosa ...
[Baik Pi ... Papi bisa menghubungi Shinta besok, dan mengirim dimana tempatnya. Shinta istirahat dulu ya, Pi ...]
[Baik sayang ... Jaga kesehatan mu, serta Leon untuk ku]
Shinta tersenyum sumringah ketika matanya melihat layar handphone miliknya lagi. Ia segera menghapus semua pesan dari Arlan, dan memikirkan alasan apa yang pantas untuk besok, saat Leon melakukan cuci darah.
__ADS_1
"Hmm aku rasa dengan alasan ke rumah sakit untuk mengambil beberapa berkas di rumah sakit sudah cukup. Karena setahu Leon aku kan bekerja di rumah sakit Papi Arlan ..."
Wajah Shinta menyeringai kecil, kembali bergumam dalam hati, "Ahh entahlah Papi, membayangkan kamu saja, sudah membuat punya ku mengkedut ..." tawanya menyeringai kecil.