Terjebak Cinta CEO Tampan

Terjebak Cinta CEO Tampan
Bab 51


__ADS_3

Nanda menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat wajah Fika. Nanda melihat Fika yang menatap dengan tatapan nanar kearahnya


" Apa aku benar?" sekali lagi Fika bertanya. Kali ini terdengar sedikit berhetar karena Fika sedang menahan air mata yang sejak tadi sudah berdesakan ingin keluar


Nanda berjalan dan kembali mendudukan dirinya disamping Fika. Diraihnya kedua tangan Fika untuk dia genggam " kamu sudah tau? Sejak kapan hem?" Nanda berkata lembut


" Sejak kakak pinsan karena memegang dan melihat darah kakak sendiri dan aku bawa kakak ke kontrakanku, saat kakak tertidur aku bisa melihat wajah kakak dengan jelas, wajah yang selalu aku rindukan" satu buliran bening lolos begitu saja pada pipi Fika


"Dan satu lagi kejadian saat kakak pinsan sama seperti saat itu bukan? Saat kakak tidak sengaja memegang dan melihat darah yang ada pada lututku saat aku terjatuh dari sepeda dulu"


Nanda menghapus air mata itu dengan jemarinya " lalu, kenapa tidak mengatakannya hem?"


" Lalu kenapa kakak tidak mengatakan ini juga saat kakak menyadari ini adalah aku, Qia mu?" Fika menatap Nanda dengan tatapan menyelidik


" A aku..." Nanda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Biar aku yang menjawabnya, takut aku sudah tidak mengenali kakak dan takut aku sudah melupakan kakak bahkan aku sudah tidak mau lagi menunggu kakak, benar?"


Nanda tersenyum dan mengangguk " apa itu juga alasanmu?" Kini Fika yang mengangguk

__ADS_1


" Maaf" Nanda menarik tubuh Fika kedalam pelukannya " I miss you so much and I Love you"


" me to" Fika tersenyum bahagia walaupun air matanya tak berhenti mengalir begitu pun Nanda air matanya ikut menetes dengan senyuman yang mengembang. Nanda dan Fika sama - sama saling mengeratkan pelukannya


Fika mendongakan wajahnya untuk melihat wajah tampan cinta pertama yang kini sudah menjadi suaminya itu, hatinya kini merasa lega tidak ada lagi beban dihatinya dan dia tidak harus menyembunyikan perasaannya lagi. Begitu pun Nanda dia kini tidak perlu berpura - pura bersikap dingin pada Fika dan bisa dengan leluasa memperlihatkan perasaannya


Kini pandangan mata mereka saling tatap satu sama lainnya , wajah mereka kini sangat dekat bahkan semakin dekat kala Nanda mulai mengikis jarak antara mereka dan sepersekian detik kemudian kedua bibir itu kini bertaut dengan mesra. Nanda mencium bibir Fika dengan lembut , kali ini ia lakukan tidak hanya sekilas. Lidah Nanda bahkan dengan lihai bermain menerobos mulut Fika begitupun Fika dia mulai terbuai oleh permainan yang dilakukan oleh suaminya itu, walaupun ini adalah hal pertama bagi mereka namun mereka cukup tau apa yang harus mereka lakukan karena usia mereka yang sudah sama - sama dewasa walaupun mereka masih agak canggung dan ragu


Bibir mereka masih saling bertautan sampai mereka sama - sama kehabisan oksigen. Mereka pun melepaskan tautan bibir mereka dan mulai meraup oksigen sebanyak banyaknya. Sejenak mata mereka masih saling tatap dengan tatapan memuja dan merindukan dengan tangan mereka yang saling memeluk erat


" Oh iya, sebenarnya ada yang masih ingin aku tanyakan pada kakak" Fika menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya itu


"Sejak kapan kakak menyadari dan mengenali bahwa aku adalah Qia?"


" Sejak pertama kamu menginjakan kakimu dikantor ini" Jawab Nanda enteng


" What?" Fika medorong tubuh suaminya dan melepaskan pelukannya " jadi saat aku mulai jadi asisten kakak , kakak sudah tau ini aku?"


" Ya" jawab Nanda ragu. " Oh god apa aku salah bicara?" batin Nanda saat melihat eksfresi Fika yang terlihat kesal

__ADS_1


" Jahat ya!" Fika memukul - mukul tubuh Nanda membuat Nanda mengaduh kesakitan


" Aw, Aduh hetikan sayang ini sakit" Nanda menangkap tangan Fika dan menahannya


" Katakan aku jahat kenapa hem?"


" Kakak tidak ingat? Kakak saat itu mengerjai aku selama lebih dari satu minggu" Fika melayangkan tatapan tajamnya " ingat satu minggu" Fika menekankan kata satu minggu


" He he i itu" Nanda menggaruk kepalanya yang tak gatal


" Katakan? Apa sangat menyenangkan mengerjaiku?" Fika menjentikan jarinya didepan wajah Nanda


Nanda hanya nyengir kuda sambil menggelengkan kepalanya " tidak mungkin aku bilang kalau aku sangat senang saat dia marah dan cemberut saat aku kerjai, bisa mati aku" batin Nanda sambil menelan salivanya susah


" Baiklah karena kakak tega padaku saat itu, maka aku juga bisa sangat tega pada kakak" Fika berbicara dengan seringai diwajahnya sambil berlalu meninggalkan Nanda dengan seribu kepanikannya


" Oh tidak apa yang aku lakukan? Baru kami saling mencurahkan cinta dan kerinduan kami. Belum juga melepaskan segelan masing - masing , masa harus ada perang dingin lagi sih" Jerit Nanda dalam hati


Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Terima kasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2