
" Apa paman ingat, satu tahun setelah meninggalnya kakek. Ada hal besar yang saat itu terjadi, apa paman tahu apa itu?" Fika berusaha menghentikan tangisnya dan mulai berbicara kembali, tujuannya hanya satu membuat pamannya sadar dan menyesal akan apa yang telah ia lakukan pada Bima kakaknya sendiri
" Tentu saja aku ingat, aku tidak akan melupakannya. Saat itu perusahaanku yang sudah aku bangun dengan susah payah hancur tak bersisa karena kebodohanku yang ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dengan menukar bahan baku dengan yang berkualitas rendah sehingga beberapa proyek yang aku tangani hancur dan menanggung kerugian yang sangat besar. Saat itu aku bahkan baru akan menikah dengan Anggi" Bisma menatap sendu Anggi yang kini sedang tertuduk sambil terisak
" Dan apa paman tahu, apa yang sudah ayah alami karena kekacauan yang paman buat saat itu. Huh ku fikir paman tidak akan mengakui kesalahan yang telah paman buat" Fika menengadahkan wajahnya menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar. Nanda tampak terus mendekap tubuh rapuh istrinya sambil mengelus punggung Fika dengan lembut
" Apa paman tahu semua telah ayah pertaruhkan untuk membantu paman saat itu. Wijaya Corp hancur, bahkan ayah sampai harus kehilangan rumah besar peninggalan kakek dan nenek pada saat itu untuk menutupi semua kerugian yang diakibatkan oleh paman itu" Fika memukul dadanya sendiri saking sesak yang ia rasakan mengingat kejadian pilu yang menimpa keluarganya saat dia masih kecil
Bisma termenung tak berkata apapun mencoba mendengarkan apa yang disampaikan oleh keponakannya itu begitupun Anggi dan Salsa yang juga ingin tahu hal yang sebenarnya. Suasana kini sudah lebih tenang Erika dan Yuki pun sudah melepaskan cekalannya pada Salsa dan juga Anggi. Yuki kini tampak terisak didalam dada bidang Adzriel dan tangan Adzriel terus mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut
" Ayah harus memulai Wijaya Corp dari nol, bahkan kami tinggal dikontrakan yang sangat kecil waktu itu. Paman tau? Ibu pernah mengingatkan ayah untuk tidak terlalu mempercayai paman dan jangan terlalu membantu paman karena ibu sangat tahu bagaimana sifat paman yang tidak pernah melakukan hal apapun dengan serius, tapi ayah selalu berkata ' bagaimanapun dia adalah adikku , kalau bukan aku yang membantu dan melindunginya. Siapa lagi?' Ibu pun tidak bisa berkata apa - apa lagi karena memang hal itu benar adanya." ada senyum tipis yang tercetak dibibir Fika saat membicarakan tentang ayah dan ibunya
" Saat itu ayah bahkan sering meninggalkan kami keluar kota untuk mencari bantuan dari perusahaan besar lainnya di seluruh Indonesia untuk agar bisa memulihkan Wijaya Corp seperti semula. Bahkan saat itu ibu harus berjualan seblak didepan kontrakan kami untuk memenuhi kebutuhan kami. Karena selama ayah keluar kota jangankan mengirimkan kami uang, dia bisa makan atau tidak pun kami tak tahu. Karena memang keadaan kami saat itu sangat miskin" Fika kembali menerawang masa lalunya
__ADS_1
Bisma masih bungkam sambil terus mendengarkan cerita Fika, tak terasa air mata keluar begitu saja dari matanya. Bisma terisak dalam diamnya begitupun Fika. Kini air matanya kembali meluncur dengan derasnya
" Dan pada akhirnya setelah satu tahun, baru ayah bisa mengembalikan keadaan Wijaya Corp seperti semula walaupun keadaan ayah saat itu sangat lemah karena terlalu kelelahan. Ayah sempat sakit namun kami tidak bisa merawatnya dirumah sakit karena kami tidak punya uang, hanya bisa merawatnya dirumah dan berobat jalan ke puskesmas dekat kontrakan kami
" Dua tahun kemudian barulah ayah bisa menebus kembali rumah besar kakek dan nenek dari bank yang sudah menyitanya saat itu" Fika berjalan mendekati pamannya yang sedang terduduk sambil terisak dengan sesekali menjambak rambutnya kasar
" Paman tahu, seberapa besar apa pun kesalahan yang paman lakukan. Ayah selalu menyayangi paman " Fika menatap sendu pamannya itu
" Itu karena paman yang telah membentangkan benteng yang sangat tinggi diantara kalian yang bahkan ayah merasa kesulitan untuk menjangkau paman. Saat itu bukankah karena kesalahan paman sendiri sehingga kakek mengirim paman ke Surabaya? Paman tahu? Saat itu ayah berusaha membujuk kakek agar kakek tidak melakukannya namun kakek juga seorang ayah yang ingin anaknya menjadi lebih baik. Dan kakek mengira dengan berbuat begitu paman bisa berubah menjadi lebih baik, tapi ternyata kakek salah. Paman tetap dengan keegoisan paman, saat itu tidak ada yang bisa ayah lakukan selain membantu dan melindungi paman secara diam - diam"
" Bagaiman kamu bisa tahu soal semua itu" Bisma mendongakan kepalanya melihat wajah Fika yang penuh dengan air mata
"Paman tidak akan menyangkanya" Fika sedikit terkekeh " aku selalu pura - pura tidur dipangkuan ibu dan mendengarkan percakapan mereka" Fika ingin tertawa sendiri bila mengingat kelakuannya yang seperti itu. Jiwa kekepoan yang sangat tinggi
__ADS_1
Bisma ikut terkekeh pelan " ternyata kamu cukup nakal"
" Maaf!" tangan Bisma terulur menyentuh kepala Fika. Awalnya Jay dan Nanda yang berada didekat mereka ingin mencegahnya karena takut Bisma akan menyerang Fik begitupun Fika, dia merasa kaget akan perlakuan pamannya itu. Namun saat mendengar ucapannya mereka jadi merasa tenang
" Mungkin kata maaf saja tidak akan cukup"tubuh Bisma bergetar seiring isakan tangis yang keluar dari bibirnya " tapi bisakah kamu memaafkan pamanmu yang sangat jahat ini" mata paruh baya itu memancarkan penyesalan yang luar biasa
" Paman akan berusaha menjadi lebih baik lagi demi mendiang ayahmu. Panggilah mereka sekarang! paman sudah siap" Fika mengerutkan keningnya
Bisma yang melihat kebingungan diwajah keponakannya itu pun kembali berkata " bukankah kalian sudah memanggil polisi untuk menangkapku? Jadi panggilah sekarang! Pamanmu ini sudah siap untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya selama ini ,tapi paman ingin meminta sesuatu darimu"
**Apa yang akan diminta Bisma dari Fika? Baca bab berikutnya ya!😘😘
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen. Terima kasih 🙏🙏**
__ADS_1