
" Apa ini nyata? Tapi bagaimana bisa?" Fika bergumam sendiri. Matanya masih terpaku tertegun melihat dua sosok yang ada dihadapannya saat ini.
Fika tampak mengedip - ngedipkan dan mengucek matanya beberapa kali takut apa yang ada dihadapannya hanya halusinasinya saja.
" Aw" Fika mencubit pipinya sendiri " sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi" Fika mengusap bekas cubitannya sendiri
"Lalu ini?" Fika tampak menatap kembali dua sosok itu dengan penuh tanda tanya
" Apa kamu tidak mau memeluk kami hem?" Ucap sosok pria itu dengan senyum mengembang dibibirnya
" Mungkin dia tidak merindukan kita, sepertinya hanya kita yang merindukannya" sosok wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya
" Sepertinya begitu" ucap sosok pria dengan wajah sedihnya namun dimata mereka tampak kebahagiaan dan kerinduan yang terpancar saat melihat Fika
__ADS_1
" A apa ini kenyataan? Bahkan aku bisa mendengar suara mereka" Fika masih bingung dengan keadaan ini. Air matanya tumpah begitu saja dengan tubuh yang bergetar hebat " apa ini nyata?" ulangnya lagi bertanya pada Danu
Danu pun mengangguk dengan senyuman namun air mata juga tampak menetes diwajah tampan yang sudah dihinggapi keriput yang belum terlalu banyak itu
Perlahan Fika melangkah mendekati dua dosok yang sangat dia rindukan dan sangat dia sayangi . Dua sosok yang telah membesarkan dan melimpahkan kasih sayang mereka pada Fika selama hidupnya. Ya dua sosok itu adalah Bimasena Wijaya dan Sita Avrilia Wijaya, ayah dan ibu Fika yang dinyatakan telah meninggal 5 tahun yang lalu
Fika semakin mendekat dengan wajah yang berderai air mata begitupun Bima dan Sita, wajah mereka berdua tak jauh berbeda dengan Fika. Mereka pun saling mendekap satu sama lain dengan tubuh yang sama - sama bergetar hebat meluapkan rasa rindu yang teramat sangat dalam setelah selama ini mereka berpisah
Lama mereka saling memeluk dan menangis sampai akhirnya mereka menenangkan diri mereka masing - masing. Kini Fika duduk diatas ranjang tadi diantara Sita dan Bima berada disebelah kiri dan kanannya sambil terus saling mendekap . Danu juga sudah duduk diatas kursi yang ia ambil dari sudut kamar itu ke hadapan ketiga orang itu
" Bagaimana bisa? maksudku kecelakaan itu?" Fika mengutarakan kebingungannya kepada orang yang ada dihadapannya
" Ibu tahu kamu bingung sayang, tapi dengarkanlah cerita om Danu mu ini!" Sita tersenyum
__ADS_1
" Jangan membencinya dan jangan menyalahkannya hem!" Bima menunjuk Danu dengan dagunya
Fika memandang Danu yang tampak tersenyum kepadanya. Tak ada wajah dengan mata mengerikan seperti yang dia lihat waktu itu hanya wajah ramah yang sangat dia rindukan yang ada saat ini
" Tapi bagaimana bisa ayah, ibu? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat om Danu menembak kalian dan aku bisa dengan jelas melihat pada saat itu ayah dan ibu terkena tembakan dibagian perut kalian. Aku tidak mengerti semua ini" Fika menggelengak kepalanya pelan karena bingung dengan semua yang terjadi selama ini. Fikiran Fika kini menerawang mecoba mengingat kejadian 5 tahun yang lalu dan mulai menghubungkan satu demi satu kejadian saat itu
" Apa om...." Fika tampak memandang Danu dengan tatapan menyelidik
" Om melakukan itu karena terpaksa gadis kecil" Danu mengusap kepala Fika lembut " Biar om menceritakan semuanya padamu , sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk kamu mengetahui yang sebenarnya"
" Ya ceritakanlah! Om berhutang banyak penjelasan padaku" Fika tersenyum senang. Jujur Fika merasa sangat senang dan lega mengetahui ayah dan ibunya ternyata masih hidup dan sekarang ada bersamanya. Sungguh tidak ada lagi yang diinginkan Fika saat ini.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1