
Uwak Sita, uwak Bima!" Andra berteriak senang sambil berhambur memeluk keduanya
Sita dan Bima saling pandang dengan wajah penuh tanya mereka. Andra yang mengerti kebingungan mereka karena keduanya tidak membalas pelukannya pun angkat suara
" Ini Andra wak" Andra terisak bahagia sambil mengeratkan pelukannya
Bima dan Sita yang mendengarnya pun langsung membalas pelukan Andra dengan erat " Andra? Apa kamu benar Andra? Kamu sudah besar" Bima tampak menelisik wajah keponakannya itu setelah melepaskan sesaat pelukan mereka
" Kamu baik - baik saja kan nak" Sita menangkup wajah Andra dan mencium pipi pemuda itu
" Andra baik wak" Andra menghapus air mata yang ada diwajahnya dengan tangannya
" Ya sudah, sekarang kita masuk dulu! Mereka pasti lelah!" Danu menyadarkan Sita dan Bima
" Oh ya, kamu benar. Silahkan masuk!" Bima mempersilahkan para tamunya untuk masuk dan disinilah mereka sekarang , diruang tengah yang tak terlalu luas dengan kursi yang hanya untuk 4 orang saja. Sita sempat membuatkan mereka minum dibantu oleh Fika dan Yuki. Yang duduk dikursi hanya para tetua saja sedangkan para anak muda berdiri disekitar ruangan itu
" Jelaskan!" Davian menatap penuh selidik pada tiga orang yang ada didepannya. Begitupun Nanda , Jay, Adzriel dan Yuki yang terlihat menunggu dengan wajah yang sangat penasaran.
" Maafkan saya sebelumnya karena telah menculik Fika dari kalian, tapi kalau tidak begitu aku tidak yakin kalian akan mengizinkanku menemui Fika. Yang ada aku pasti akan diseret kekantor polisi, iya kan" Danu berbicara serius melihat semua orang.
Semua tampak menganggukan kepalanya membenarkan apa yang telah dikatakan oleh Danu barusan
" Tentu saja, karena yang kami tahu anda adalah pembunuh orang tuanya Qia" Nanda berkata dingin
" Sudah, biarkan Danu menceritakan dulu kejadian yang sebenarnya" Davian kembali fokus pada Danu, dan semua tampak diam menunggu apa yang akan diceritakan oleh Danu
__ADS_1
Danu pun menceritakan tentang Bisma yang ingin mencelakai Bima dan keluarganya dan bagaimana Danu berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Bisma. Danu pun tak lupa menceritakan tentang tragedi pembunuhan Bima dan Sita yang sudah dia sabotase untuk menyelamatkan keduanya namun tak sesuai rencana Fika malah masuk kedalam sungai dan hanyut disana sehingga mereka terpisah selama ini
" Pantas saja pak Danu terlihat mati - matian menjaga Wijaya Corp dari kehancuran akibat ulah Bisma, ternyata anda melakukannya demi tuan Bima" Jay tampak mengusap dagunya
" Ya anda benar pak Jay dan saya tahu anda adalah orang kepercayaan suami Fika, makannya saat anda berusaha merebutnya saya melonggarkan pertahanan saya dan membiarkan anda mengambil alih semuanya. Setidaknya saya yakin tuan Nanda akan memberikannya pada orang yang benar - benar berhak atas Wijaya Corp" Danu tersenyum penuh arti pada Nanda
" Anda pintar juga" Nanda membalas senyum Danu
" Dan saya harap tuan muda Nanda bisa menjaga Fika kami dengan baik" sekarang Bima yang berbicara
" Ayah jangan berbicara seperti itu, ayah tahu kan aku sangat mencintai Qia dari dulu dan takan pernah berubah " Nanda tersenyum manis
" Ya , aku ingat dulu kau selalu mengikuti putriku kemana - mana" Bima berbicara dengan nada mengejeknya
" Ya, ibu juga ingat bagaimana Adi yang selalu menempel pada Fika dulu" Sita ikut mengejek
" Hmmm ... So sweet, kalian sudah pada bucin sejak SMA ternyata" Yuki mengembangkan senyumnya
" Itu lebay, bukan so sweet ka" Andra ikut mencibir
" Aih, anak ini" Davian memijit pangkal hidungnya yang sedikit berdenyut
" Aku tidak menyangka bos ternyata bisa bersikap seperti itu juga" Jay ikut mengejek dan mereka tertawa bersama menertawakan Nanda yang kini wajahnya tengah memerah karena malu dan juga kesal
" Sudah - sudah , apa kalian tidak lihat suamiku ini sudah sangat malu" Nanda tersenyum senang mendapat pembelaan dari istrinya namun sepersekian detik kemudian rasa senang itu menghilang setelah mendengar kelanjutan dari istrinya itu "Lihatlah wajahnya yang sudah memerah seperti tomat itu, duuh lutuna" Fika menarik kedua pipi Nanda gemas membuat semua semakin tertawa melihat wajah Nanda yang terlihat semakin kesal
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk menginap disana sampai besok dan akan kembali kerumah besar Wijaya keesokan harinya karena hari yang sudah malam. Akan sangat berbahaya bila mereka pulang sekarang karena selain jarak yang akan mereka tempuh cukup jauh juga karena jalan yang akan mereka lalui adalah jalur sepi dan rawan akan adanya begal yang selalu beraksi didaerah sana
Mereka menhabiskan waktu dengan mengobrol satu sama lain , Andra juga terlihat bermanja pada uwaknya yang sudah 5 tahun tak ia temui.
Karena kamar disana hanya ada dua jadi mereka memutuskan agar para wanita yang tidur didalam kamar sedangkan kamar yang satunya untuk para pria senior dan sisanya para pria muda itu menggelar tikar dilantai ruang tengah.
Tentu saja hal ini membuat para pria tidak nyaman karena baru kali ini mereka tidur dalam keadaan seperti ini, karena biasanya mereka kan tidur ditempat tidur king size yang sangat empuk dan nyaman. Namun kali ini mereka harus tidur hanya beralaskan lantai yang berlapis tikar saja, sungguh ini sangat tidak nyaman untuk mereka
Nanda terlihat gelisah membolak - balikan tubuhnya karena rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Biasanya dia akan tidur ditempat tidur empuk dengan memeluk Fika namun sekarang dia bahkan harus tidur terpisah dengan Qia nya itu
" Ish bisa diam gak sih" Adzriel yang tidur disamping Nanda merasa teeganggu dengan apa yang dilakukan Nanda
" Nggak, gue gak biasa kayak gini. Setidaknya gue harus tidur sambil memeluk Qia baru gue bisa tidur dengan nyenyak" Nanda mendengus kesal
" Kakak Nanda sayang, kita juga gak nyaman kali. Siapa juga yang akan nyaman tidur ditempat yang keras seperti ini" Andra menekan - nekan tikar yang didudukinya. Ya Andra yang merasa terganggu dengan Nanda bangkit dari posisi tidurnya begitupun Jay
" Tuh denger, anak kecil aja bisa lebih sabar. Gak kaya lo yang kaya anak kecil" Jay ikut mencibir Nanda
" Apa gue ke kamar Qia aja ya" Nanda hendak berdiri namun Andra, Adzriel dan Jay menarik tubuh Nanda sehingga dia kembali terduduk
" Lo jangan macam - macam ya, lo ingat disana ada Yuki juga" Adzriel menatap tajam Nanda
" Dan ada uwak Sita juga ka" Andra ikut mengomeli
" Tuh denger, lo mau tidur sama mereka bertiga apa" Jay memutar bola matanya malas
__ADS_1
Nanda menggaruk tengkuknya yang tak gatal" He he gue lupa" Nanda nyengir kuda pada ketiganya yang mendapatkan timpukan bantal pada tubuhnya dari ketiganya. Malam itu pun mereka habiskan untuk mengobrol dan bercanda tak jarang juga saling melemparkan ejekan satu sama lain sampai dini hari mereka baru bisa tertidur.