Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Siapa F4


__ADS_3

"Ad, F4 itu siapa sih?. Heboh banget." tanya Mario pada Adril, ketika mereka sudah kembali ke dalam kelas. Adril tak menjawab, ia hanya terdiam lalu membuang pandangannya ke suatu sudut.


"Mereka itu baru pulang dari olimpiade fisika." Heru memberi jawaban.


"Hah?" Mario, Brian dan Cavin melongo.


"Pulang olimpiade sampe di elu-elukan segitunya?" tanya Mario heran.


"Wah bener-bener nih, sekolah lo nih. Berlebihan, alay tau nggak." ujar Cavin diikuti anggukan Brian.


"Alay, maksudnya?"


Heru bertanya pada ketiga anak itu. Kali ini mereka kembali gelagapan, lagi-lagi istilah modern mereka bawa ke jaman ini.


"A, anu. Maksud gue berlebihan." ujar Cavin mencoba membuat suasana menjadi tidak tegang.


"Oh."


Heru lalu tersenyum tipis, namun wajah Adril sedikit berubah. Mereka melanjutkan makan dan perbincangan, sampai akhirnya bel tanda masuk pun berbunyi.


"Anak-anak, beri tepuk tangan untuk Martin Andriano."


Guru fisika yang sudah masuk sejak tadi, tiba-tiba mempersilahkan seseorang untuk masuk ke kelas. Seisi kelas bertepuk tangan, meskipun ada beberapa diantaranya yang tidak melakukan hal tersebut.


Mario, Brian, dan Cavin sendiri terkejut, ketika anak yang dimaksud itu akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke kelas.


"Dia anggota boyband tadi kan?" tanya Cavin pada Brian.


"F4." ujar Brian dengan suara pelan.


"Hai semua, gue mau mengucapkan terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Kita menang dalam olimpiade Fisika dan Matematika, sekolah kita menyabet juara 3. Ini semua berkat kalian yang selalu mendukung gue saat belajar.


Makasih juga buat cewek-cewek yang rela nganterin makanan kesukaan gue, setiap kali gue belajar di rumah ataupun di sekolah. Gue jadi tambah semangat, thank you."


Mereka kembali bertepuk tangan, seiring dengan kembalinya Martin ke salah satu bangku yang ada disana.


"Nih anak satu kelas sama kita?" tanya Mario pada kedua temannya.


"Perasaan kemaren nggak ada bangku kosong lagi selain bangku kita." lanjutnya kemudian.


"Bangkunya sengaja di simpan." celetuk salah seorang siswa yang duduk di dekat mereka.


Mario, Brian, dan Cavin pun menoleh ke arah siswa tersebut.


"Sengaja di simpan biar apa?. Biar bisa digandakan gitu?" tanya Cavin sotoy.


"Martin nggak suka, kalau ada orang yang duduk di bangkunya."


"Dih sok banget, anjay. Kayak bangkunya terbuat dari apaan aja." Brian sewot. Mario dan Cavin mulai melirik ke arah Martin.


"Dia anak orang kaya?" tanya Mario kemudian.


"Iya, kaya banget pokoknya. Pejabat pula."


"Oh, koruptor kali bapaknya." seloroh Mario.


Mereka semua pun tertawa.


"Hei jangan pada ribut."


Sang guru fisika menegur mereka. Mereka semua pun berbalik dan duduk tertib di bangku masing-masing.


"Siapa yang bisa mengerjakan soal ini?"


Sang guru fisika menuliskan sebuah soal di papan tulis dan menyuruh siapa saja untuk menyelesaikannya. Dalam waktu sekejap hampir seisi kelas menunjuk tangan, tak terkecuali Adril.


Namun entah mengapa guru fisika tersebut malah melirik ke arah Martin, yang bahkan tidak menunjuk tangan sama sekali.


"Martin, coba kamu selesaikan."


Martin menghela nafas seraya menatap guru tersebut.


"Ok."


Ia pun lalu berjalan ke papan tulis dan mencoba menyelesaikan semuanya.


"Kayaknya dia nggak tunjuk tangan deh tadi." celetuk Mario pada Cavin dan juga Brian.


"Biarin aja sih, bro. Suka-suka gurunya aja, yang penting jangan nunjuk kita."


Brian dan Cavin cekikikan, namun Mario merasa ada yang janggal. Apalagi ketika ia menangkap sebuah kekecewaan di wajah Adril, saat dirinya tidak dipanggil. Mario merasa ada yang salah dengan anak itu.


Ketika pulang sekolah, Mario kembali memperhatikan sebuah keanehan. Ia melihat Adril tampak melengos dan tidak senang. Ketika salah seorang siswa perempuan menyenggol bahunya, karena terburu-buru untuk meminta tanda tangan pada f4.


Namun Mario sendiri tidak bertanya, ia hanya mengira Adril tengah kelelahan atau sedang memikirkan sesuatu. Jadilah di sepanjang perjalanan pulang, Adril hanya mengayuh sepeda dan lebih banyak diam.


"F4 itu apaan sih, Rat?" tanya Mario pada Ratna ketika mereka sudah berada di pertengahan jalan pulang.

__ADS_1


"Oh, Flower 4. Artinya 4 bunga. Mereka ngikutin geng di serial meteor garden."


"Kalau itu sih gue tau, gue tau meteor garden. Pernah baca artikel tentang mereka di salah satu majalah jadul, yang gue temukan di gudang. Kayaknya majalah kakak gue deh."


"Majalah jadul?. Orang mereka aja masih tayang di TV koq."


"Eh, oh. Mmm, maksud gue. Iya gue tau mereka, hehehe."


Mario ngeles, hampir saja ia membuat bingung Ratna dengan pernyataannya.


"Yang pengen gue tanyakan adalah, ngapain mereka bikin grup-grupan segala kayak meteor garden. Udah kayak grup ronda aja."


"Ya nggak tau sih, itu kan hak mereka kalau mau membuat sebuah kelompok."


"Menurut lo, mereka itu ganteng gitu?" tanya Mario sengit.


"Ih ya iyalah, ganteng banget. Apalagi Martin yang sekelas sama lo."


Mario mulai muak dengan pembicaraan ini. Seharusnya tadi ia diam saja atau memilih membicarakan hal lain.


"Ngapain sih lo nanyain mereka?" tanya Ratna lagi.


"Kagak, nanya doang."


Tiba-tiba Ratna menongolkan kepalanya ke depan.


"Lo iri ya?. Pengen di puja-puja juga kayak mereka?"


"Dih ngapain banget. Gue mah bukan berhala, ngapain di puja-puja."


Kali ini Ratna tertawa geli.


"Lo mah ada-ada aja."


"Berarti tipikal cowok lo yang model Martin gitu dong?" tanya Mario..


"Dih sok tau deh lo. Kita itu masih SMP kelas 1, masa mau pacaran."


"Kali aja, orang anak SD aja pacaran."


Kali ini Ratna mencubit Mario.


"Eh sakit tau, Rat."


"Makanya jangan nyebelin." ujar Ratna.


Keduanya pun tampak tertawa dan begitu gembira.


***


"Mario."


Malam itu suara Deddy terdengar memanggil Mario, nadanya hampir setengah berteriak. Mario yang tengah tiduran di kamarnya itupun langsung turun ke bawah, dan mendapati Deddy yang tiba dirumah dalam keadaan setengah basah. Akibat di luar hujan deras disertai petir.


"Dad."


Mario mengambil semua barang bawaan Deddy dan buru-buru memberikan handuk padanya.


"Masakin daddy air hangat dong!"


Mario tersentak, namun ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di hatinya. Belum pernah sekalipun ia melayani ayahnya. Jangankan memberikan pelayanan, bertemu sekali saja belum pernah. Rasa haru pun merebak di pelupuk mata remaja itu.


"Mario, daddy minta tolong kamu masakin aer anget, bukan berniat merebus kamu. Koq kamu malah jadi sedih gitu?" tanya Deddy.


"Oh, eh. Hehe, nggak dad. Mario seneng aja kalau daddy minta tolong sama Mario."


Deddy mengerutkan keningnya, ia justru bingung pada sikap Mario. Mario pun akhirnya memasak air hangat, sebagian untuk diminum dan sebagian lagi untuk mandi.


"Dad, airnya udah Mario siapin di kamar mandi."


Deddy makin mengerutkan kening.


"Kan daddy mintanya buat diminum, Mario."


"Ya ini yang buat minum, yang buat mandi lain lagi. Kan Daddy abis kena hujan, harus mandi kata orang dulu."


Deddy sedikit tercengang, ia lalu berkata dengan pandangan yang tak terlepas dari Mario.


"Oh, ok." ujarnya kemudian.


Mario menyiapkan makanan di meja makan. Makanan yang dibeli oleh Deddy tentunya. Karena tadi Deddy pulang dengan membawa banyak barang bawaan, salah satunya ada makanan.


Mario sendiri tak bisa masak kecuali mie instan, ingin rasanya ia sedikit mencoba. Tapi takut ia dan Deddy akan kejang-kejang, pasca mencoba masakan itu nantinya.


"Kamu pulang jam berapa tadi?" tanya Deddy ketika ia telah selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka kini duduk di ruang makan.


"Kayak biasanya, dad." jawab Mario.

__ADS_1


"Daddy koq bisa basah-basahan gitu sih?. Kan naik mobil?" tanya nya kemudian.


"Mobil daddy tadi mogok di jalan, terpaksa dorong dikit deh. Eh, hidup lagi."


Mario menatap Deddy dengan tatapan iba.


"Kamu kenapa ngeliat daddy kayak gitu?" tanya Deddy heran.


Mario mengalihkan tatapannya, namun kali ini Deddy yang gantian menatap remaja itu.


"Mario, kita belum punya cukup uang buat beli mobil baru."


"Daddy kenapa nggak pulang aja sih?. Di masa depan, daddy kan kaya raya. Punya usaha tempat gym seharga milyaran. Host, YouTuber pula, punya saham dimana-mana. Saban waktu foto pamer jam mahal, pamer mobil mewah. Koq disini malah begini?"


"Maksud kamu?"


"E, em."


Mario menyadari keteledorannya.


"Duh, nih orang berarti nggak sadar kalau dia berasal dari masa depan sama kayak gue." gumamnya dalam hati.


"Mario?"


"Apa dia ini emang bukan Deddy yang dimasa depan?. Cuma mirip aja dan diadakan disini, buat melengkapi kehidupan gue?"


"Mario?"


Kali ini Deddy mendekat lalu memeluk Mario secara tiba-tiba. Mario sendiri terkejut, apalagi melihat Deddy sampai menitikkan air mata.


"Dad?" Mario menatap Deddy dengan bingung.


"Mario, please sadar. Kamu jangan terbawa sama penyakit kamu, daddy nggak mau kamu gila atau hilang kesadaran."


"Duh, disangka sakit lagi kan gue." Mario kembali berujar dalam hati.


"Nih mulut gue, volumenya rese sih." lanjutnya lagi.


"Dad, Mario baik-baik aja koq. Mario masih sadar."


Mario melepaskan pelukan Deddy dan menatapnya dalam-dalam.


"Mario baik-baik aja." ujarnya sekali lagi.


"Kamu yakin?" tanya Deddy masih penuh kekhawatiran.


"Yakin, dad."


"Jangan ngeracau lagi, daddy takut. Takut nggak punya cukup biaya buat ngasih perawatan yang lebih baik buat kamu."


Mario mencoba tersenyum. Mereka pun lalu kembali ke tempat duduk masing-masing dan kembali fokus, pada acara makan yang sempat tertunda.


"Dad, tau nggak sih di kelas. Ada anak yang baru pulang dari olimpiade fisika dan matematika. Masa sampe di elu-elu kan banget, tentara aja yang pulang dari menjaga perbatasan kagak digituin."


Kali ini Deddy tertawa, suasana mulai melunak pasca ketakutannya akan penyakit Mario.


"Jadi ceritanya kamu iri?" tanya Deddy.


"Dih siapa yang iri?. Maksudnya itu berlebihan aja gitu loh. Pulang olimpiade doang, juara 3 lagi. Cara menyambutnya udah kayak astronot pulang dari Matahari."


"Hangus dong kalau dari matahari." Deddy berseloroh sambil tertawa.


"Au ah." Mario kembali memasukkan makanan ke mulutnya.


"Siapa sih, Martin?"


"Lah koq daddy tau?"


"Ya yang ikut olimpiade, yang sekelas sama kamu kan cuma Martin. Anaknya pak RT blok B3."


"Jadi Martin itu tinggal di sini juga?"


"Lah iya, orang anak pak RT di blok B3. Yang rumahnya gede banget itu, masa kamu lupa?. Tuh penyakit kamu, tuh."


"Eh, nggak-nggak Dad. Ini bukan karena penyakit otak Mario, Mario cuma nggak pengen inget aja soal anak itu."


"Kenapa?. Tuh kan iri kan, Kamu kan?"


"Udah dibilang, kagak."


"Terus kenapa sinis gitu?"


"Ya nggak suka aja, anaknya sok."


Kali ini Deddy tertawa.


"Kamu kalau mau pinter fisika, ya belajar. Tapi kalau kamu sedikitpun nggak punya ketertarikan di bidang itu, ya biarin aja. Orang lain mau pinter kek, mau sampe gumoh kek sama itu bidang. Kamu cari bidang kamu yang lain, jadi nggak perlu iri sama orang."

__ADS_1


Mario kembali menyuapkan makanan yang banyak ke mulutnya, agaknya ia mulai meresapi segala ucapan Deddy. Namun tetap saja ia kesal pada Martin, ia sendiri tidak tau apakah ia tertarik pada fisika atau tidak.


__ADS_2