Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Kemarahan Besar dan Kehangatan Kecil


__ADS_3

"Mario?"


Deddy memanggil Mario dengan suara pelan, ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Sebab Mario terlihat diam saja, serta menjatuhkan pandangannya ke arah dashboard.


"Kamu masih marah sama Brian?" tanya Deddy.


Mario mengangguk lemah, terlihat jelas wajahnya begitu sedih sekaligus marah.


"Brian tuh bego, goblok." ujarnya penuh penekanan.


Deddy menghela nafas lalu menepuk bahu anak lintas jamannya itu.


"Sebaiknya jangan di judge." ujarnya kemudian.


"Besok, ajak dia ngomong baik-baik. Cari tau apa yang menyebabkan dia mau bunuh diri. Brian itu butuh dukungan, bukan hujatan." lanjut pria itu lagi.


Mario diam, benar apa yang dikatakan Deddy barusan. Meski sesungguhnya Deddy tak mengerti, jika yang menjadi penyebab Brian ingin bunuh diri itu adalah karena ulah ibu kandungnya yang berselingkuh.


"Jangan marah lagi ya." ujar Deddy membujuk Mario. Remaja itupun mengangguk, lalu Deddy mulai menghidupkan mesin mobil.


***


Tak jauh berbeda dari Mario, Cavin yang saat ini tengah berada di dalam mobil bersama Davin pun hanya diam. Ia masih syok atas semua kejadian ini. Ia masih enggan membayangkan, andai tadi Brian benar-benar tak bisa lagi diselamatkan. Akan jadi apa takdir mereka di masa depan nanti.


Semua tak akan lagi sama seperti dulu. Brian akan tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari kehidupan dirinya dan juga Mario. Sebab Brian telah mati di masa lalu.


"Cav, Cav kenapa?"


Davin bertanya pada adiknya itu. Cavin menghela nafas dan sedikit menunduk.


"Cav masih takut, takut kalau Brian tadi benar-benar mati."


Cavin menjawab ucapan Davin secara jelas. Kini gantian Davin yang menghela nafas.


"Cav tau nggak penyebabnya Brian mau bunuh diri itu tadi apa?. Apa dia ada berantem sama orang tuanya?" tanya Davin lagi.


Cavin memilih untuk menggelengkan kepala saja. Sebab yang menjadi penyebab Brian ingin bunuh diri itu tiada lain adalah tingkah ibu kandungnya. Tapi Cavin tak mungkin mengatakan itu semua, karena Davin juga tak akan mengerti.


Orang-orang di jaman ini tak tahu jika tetangga depan rumah Brian itu, adalah orang tua kandung Brian.


"Nanti Cav coba ajak dia bicara, kalau situasi sudah kondusif. Cav tanya Brian kenapa, masalahnya apa. Dia butuh psikolog atau psikiater kayaknya."


Cavin menatap Davin. Ia tidak menyangka di jaman yang cukup lawas baginya ini, ada orang seperti Davin yang memperhatikan soal kondisi kesehatan mental seseorang.


Di masa depan saja masih banyak orang tua yang belum sadar akan pentingnya hal itu. Kebanyakan dari mereka yang mentalnya bermasalah, dianggap sebagai potret manusia yang kurang beriman.


Kondisi mental seseorang yang kacau selalu dihubungkan dengan kurangnya rasa syukur, serta kurangnya kedekatan dengan sang pencipta. l


Padahal yang merusak mental orang-orang itu terkadang adalah keluarga mereka sendiri, terutama orang tua. Hanya saja orang tua mereka tak pernah menyadari dan menganggap jika mereka paling benar dalam hal mendidik anak.


"Kita makan aja yuk...!"


Davin mengajak adiknya untuk makan.

__ADS_1


"Dave aja, Cav nggak laper." jawab Cavin.


"Ya nggak boleh gitu. Tadi kan kamu nggak jadi makan, pas denger Brian bunuh diri. Masa kamu nggak laper sekarang."


Cavin diam. Sejatinya masalah memang sering menghilangkan selera makan seseorang, termasuk dirinya.


"Makan ya." ujar Davin lagi.


Cavin masih saja diam.


"Kalau Cav nggak mau makan, Dave juga nggak mau. Dave juga nggak jadi makan tadi, demi ke rumah sakit."


Kali ini Cavin menatap kakaknya itu.


"Beneran belum makan?" tanya nya kemudian.


"Beneran." jawab Davin.


"Ya udah ayo, kita makan." Akhirnya Cavin luluh. Davin pun lalu tersenyum.


"Mau makan apa nih?" tanya Davin.


"Terserah, Cav ngikut aja."


"Ok."


Davin lalu menekan pedal gas mobilnya lebih dalam. Mereka menyusuri jalan demi jalan, guna mencari makan malam. Ketika menemukan sebuah warung tenda, Davin pun menghentikan mobilnya disana.


"Ok." Cavin memberikan persetujuan.


Davin segera memarkir kendaraan dan mematikannya. Tak lama ia dan Cavin pun keluar dari dalam mobil.


"Pak Davin."


Seseorang menyapa dan mendekat ke arah Davin dan juga Cavin.


"Agiska?"


Davin terkejut melihat sekretarisnya itu.


"Mau makan pak?" tanya Agiska kemudian.


"Iya dong, masa mau beli bahan bangunan." seloroh Davin.


Agiska tertawa.


"Hai Cav." ujarnya pada Cavin sambil tersenyum.


"Hai kak." Cavin menjawab dan membalas senyuman Agiska.


"Kamu mau makan juga?" tanya Davin.


"Iya pak, soalnya saya nggak masak." ujar Agiska.

__ADS_1


"Ya udah bareng aja yuk." ajak Davin kemudian.


"Saya makan di rumah aja pak." jawab Agiska.


"Udah ayo, bareng aja sama kita biar rame." Davin berusaha mempengaruhi gadis itu.


"Emang saya nggak ganggu kalian?" tanya Agiska.


"Nggak koq, iya kan Cav?"


"Iya, nggak apa-apa kak. Ayo ikut aja." ujar Cavin.


"Mmm, ok deh." Agiska akhirnya menyetujui..


Mereka pun lalu masuk ke warung tenda tersebut dan mencari tempat duduk. Awalnya semua terasa biasa saja bagi Cavin, namun ketika dirinya telah duduk bersama kedua orang itu. Entah mengapa hati Cavin mendadak terasa hangat. Seperti ia tengah duduk di tengah-tengah sebuah keluarga yang utuh.


Mungkin karena jarak usianya dengan Davin cukup jauh. Hingga terkadang ia merasa seperti bersama seorang ayah, ketika tengah bersama dengan Davin.


Memang, disini ia memiliki orang tua yang lengkap. Mereka juga sering duduk bersama di meja makan. Namun entah mengapa rasanya berbeda saja ketika berada di dekat Davin.


Karena Davin lebih memiliki sifat kebapakan ketimbang ayahnya sendiri. Ditambah lagi kini ada Agiska, jadi Cavin seperti duduk di tengah ayah dan ibunya.


"Cav mau makan apa?" tanya Davin seraya menatap Cavin.


"Mmm..."


Cavin melihat-lihat daftar menu.


"Pengen cumi saos tiram." ujar Cavin.


"Ok, Agiska apa?" Davin beralih pada Agiska.


Gadis itu kemudian memilih dan menyebutkan apa yang ia mau. Saat Davin sudah menentukan pilihan, seorang pelayan akhirnya dipanggil. Ia mencatat apa-apa saja yang dipesan oleh Davin dan yang lainnya.


Sambil menunggu mereka berbincang-bincang. Sejenak Cavin melupakan kemarahan dan ketakutannya terhadap Brian. Tak lama pesanan mereka pun tiba. Cavin mulai makan tanpa aba-aba.


"Katanya tadi nggak laper." goda Davin pada Cavin. Remaja itu hanya tersenyum tipis sambil lanjut makan.


"Tapi aku juga sama koq pak. Kadang nggak laper, tapi pas tiba di tempat jualan langsung lahap."


Agiska membela Cavin.


"Oh ya?"


"Iya, kadang tuh kalau belum ngeliat atau mencium aroma makanannya secara langsung, kita tuh kayak belum tergugah aja seleranya." lanjut gadis itu lagi.


"Iya kan Cav?" ia meminta persetujuan Cavin.


"Iya bener banget." jawab Cavin.


"Ah Cavin mah nyari keroyokan aja itu." ujar Davin lagi.


Cavin kembali tertawa, lalu ia mengambil selada dan memasukkannya ke mulut Davin secara serta merta. Davin pun kaget dibuatnya, namun mereka lalu tertawa-tawa.

__ADS_1


__ADS_2