Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Jalan


__ADS_3

Siang itu Adril pulang bersama Ratna, tanpa mempedulikan Heru. Martin yang melihat gelagat dari tiga sahabat itu pun berujar pada teman-temannya.


"Kayaknya ada yang baru retak nih."


Teman-teman Martin kompak menarik sudut bibir dan tersenyum sinis.


"Gelas kali ah, retak." celetuk Glenn.


"Biasalah, pertemanan abal-abal." ujarnya lagi.


"Hahaha."


Mereka semua tertawa.


"Kayak kita dong harusnya." Jimmy menimpali.


"Yoi, mau gimanapun kita akan tetap sama-sama."


Christopher ikut-ikutan berbicara. Sementara Martin kini tersenyum pada teman-temannya itu.


***


Sepulang sekolah, di rumah Adril sedang tidak ada orang kecuali dirinya sendiri. Pemuda itu pun mengamuk dan membanting seluruh barang di kamarnya dengan penuh kemarahan. Ia marah pada Heru yang dinilai tak setia kawan.


Sementara di kamarnya yang tak begitu luas, Ratna terus terngiang pada kemenangan para peserta seleksi yang sepertinya begitu bahagia mengikuti ajang tersebut.


Ratna jadi panas hati untuk membuktikan siapa dirinya. Sebab ia juga pintar, bahkan mungkin lebih dari para peserta seleksi itu sendiri.


Namun lagi-lagi ia terhalang ego, mengingat siapa yang membuka jalan tersebut. Sejatinya Ratna tak memiliki masalah personal dengan Mario. Namun demi membela Adril, ia sampai ikut bermusuhan dengan remaja itu.


"Mario."


Bulan menelpon Mario, disaat Mario sendiri habis membalik pakaian di jemuran belakang.


"Kenapa Bulan?" tanya Mario kemudian.


"Bulan sebel deh sama Martin dan teman-temannya." ujar gadis itu lagi.


"Sebel kenapa?" Mario kembali bertanya.


"Dari seleksi tahap pertama, nilai dia dan teman-temannya juga tinggi. Bulan nomor satu, dan dia nomor dua. Teman-temannya ada di nomor berikutnya. Terus dia ada sombong sama Bulan tadi. Dia bilang Bulan nggak mungkin melampaui dia atau teman-temannya. Katanya kepintaran Bulan itu terlalu di bawah rata-rata."


"Udah, Bulan ngapain sih mikirin omongan model begitu. Jangan down hanya karena orang lain. Martin itu emang jago dalam menghancurkan mental lawan dengan mulutnya. Tapi Bulan nggak usah dengerin. Fokus aja sama tujuan dan belajar." tukas Mario.


"Iya sih, tapi susah karena terlanjur kesel."


"Udah buang jauh-jauh keselnya, karena kekesalan itu cuma menghambat jalan kita."


Bulan menghela nafas.


"Iya deh, mulai saat ini Bulan nggak akan kesal lagi." ujar gadis itu.

__ADS_1


"Bulan lagi ngapain?" tanya Mario kemudian.


"Hmm, nggak lagi apa-apa sih. Kenapa, Mario mau ajak Bulan minum es coklat atau apa?"


Mario tertawa. Tadinya ia tak memiliki ide mengenai hal tersebut, namun sekarang iya.


"Hmm, boleh. Soalnya aku kemaren ada lewat sebuah tempat, waktu nemenin daddy belanja. Tempatnya enak deh kayaknya, semacam kafe gitu." ujar Mario.


"Bulan mau dong diajak." ujar Bulan.


"Mau sekarang?" tanya Mario.


"Serius Mario mau ngajak Bulan pergi sekarang?"


"Serius." ucap Mario.


Terus kita ketemunya gimana?"


"Aku jemput deh ke rumah kamu. Tapi aku naik kendaraan umum ya. Soalnya nggak di bolehin daddy bawa motor."


"Oke, nggak masalah." ucap Bulan.


"Rumah Bulan dimana emangnya?" tanya Mario.


Maka Bulan pun menyebutkan alamat yang kemudian di catat oleh Mario. Tak menunggu waktu lama, Mario segera meninggalkan rumah. Sebelum itu ia sudah pamit pada Deddy.


"Jangan lupa kunci pintu dan pagarnya, Mario."


"Iya dad, udah koq." jawab Mario.


"Ya udah hati-hati, jangan pulang malam apalagi pagi."


"Ngapain Mario pulang pagi?"


"Ya kali aja, anak seumur kamu udah berani pulang pagi."


Deddy berseloroh, sementara Mario kini tertawa.


"Ya udah dad, Mario jalan dulu ya."


"Iya, hati-hati di jalan."


"Iya, bye dad."


"Bye Mario."


Mario menyudahi telponnya dan sedikit berlarian keluar gerbang komplek, untuk menyetop sebuah kendaraan umum. Ia bisa saja naik taxi. Namun uang jajan perminggu yang diberikan Deddy terbatas.


Lebih baik naik angkot, sebab rumah bulan tak begitu jauh. Lagipula uangnya bisa dialokasikan untuk membayar makanan serta minuman nanti.


Tak lama sebuah angkot berhenti tepat di depan Mario. Remaja yang semenjak lahir ke dunia belum pernah merasakan naik kendaraan umum tersebut pun, kini mengetahui betapa sulitnya hidup sebelum era bus trans dan juga ojek online merajalela.

__ADS_1


Ia kini merasakan bagaimana berdesak-desak di dalam angkot. Belum lagi menunggu supir ngetem mencari penumpang, sambil ditemani pengamen yang kadang memang mengamen. Kadang pula hanya sekedar bercuap-cuap tidak jelas pada seluruh penumpang, yang diakhiri dengan meminta uang.


Berbeda dengan di jamannya, dimana transportasi dalam genggaman. Tinggal buka aplikasi dan klik, lalu kendaran tiba di depan rumah dan kita tinggal duduk manis.


"Hai."


Bulan muncul dari dalam rumah, ketika mario telah sampai. Gadis itu sudah berdandan ala remaja di jamannya dan menurut Mario ia terlihat cukup cantik.


"Jalan sekarang?" tanya Bulan.


"Ayo!" ajak Mario kemudian.


Maka keduanya pun melangkah.


"Kamu nggak pamit dulu?" tanya Mario pada Bulan.


"Udah sama bibik." jawab Bulan.


"Orang tua kamu?"'


"Mereka kerja di kedutaan, dan nggak tinggal di sini. Bulan cuma tinggal sama bibik, anaknya bibik dan supir."


"Sama sekali nggak ada orang tua, tante atau om gitu?" tanya Mario lagi.


Bulan menggeleng.


"Seluruh keluarga dari pihak mama dan papa Bulan, semuanya berkerja. Nggak ada yang bisa jagain Bulan, kecuali Bulan sendiri."


"Oh gitu." Mario mengerti.


Mereka kini melangkah keluar pagar dan berjalan menuju gerbang komplek. Sama seperti yang di lakukan Mario di kawasan perumahannya. Sebab tak ada kendaraan umum yang boleh melintas di area perumahan itu.


"Kenapa Bulan nggak ikut orang tua aja?. Kan enak sekolah di luar negri."


Mario kembali bertanya sembari mereka menunggu angkutan umum.


"Mereka suka pindah-pindah. Dulu waktu kecil Bulan ikut mereka. Tapi ke sini-sininya jadi males, Bulan pengen punya temen yang lama temenannya." jawab gadis itu.


"Kalau pindah-pindah terus kan, baru temenan bentar udah ganti lagi." lanjutnya kemudian.


Tak lama sebuah angkutan umum pun tiba. Mario dan Bulan naik kendaraan tersebut bersama-sama.


Ketika tiba di tujuan, Mario langsung masuk ke kafe yang di maksud. Banyak pasang mata yang melihat ke arah ia dan Bulan. Pasalnya di jaman itu tak banyak bahkan mungkin sangat jarang, siswa seumur mereka yang nongkrong di kafe.


Rata-rata yang duduk di tempat itu adalah anak kuliahan atau pekerja. Bulan sendiri pun belum pernah. Paling mentok diajak ngedate oleh gebetannya di restoran cepat saji.


Namun karena Mario sudah terbiasa di masa depan. Ia tak canggung untuk mengajak Bulan ke tempat itu. Di masa depan bahkan kafe bertebaran di mana-mana dan bisa di akses oleh siapa saja.


Cafe yang mereka datangi kali ini, bernuansa semi klasik. Mario bisa merasakan aura tahun 60-70 an dari desain dan interior dari kafe tersebut.


Menu yang disediakan juga terbilang klasik, namun ia menikmati saja tempat itu. Apalagi ia sangat rindu ngopi di kafe dengan teman-temannya di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2