
Memasuki sebuah blok yang berada di kawasan perumahan berarsitektur Belanda, Heru menghentikan sepedanya. Hal itu bersamaan dengan Ratna yang menyuruh Mario untuk berhenti, pada sebuah rumah yang nyaris berseberangan.
Tapi tempat dimana Heru berhenti, letaknya agak maju sedikit dari tempat dimana Ratna menghentikan Mario. Rumah itu berhadapan hanya setengah bagian, tidak berhadapan dengan posisi yang sama persis.
"Lo nggak mau pulang?" tanya Ratna heran.
Mario dan Cavin saling bersitatap. Mungkin rumah yang ada disisi mereka kini, adalah rumah mereka di jaman ini. Tak lama kemudian mereka melihat Adril menghentikan sepeda, di sebuah rumah yang cukup jauh dari terduga rumah Mario dan juga Cavin. Tapi masih dalam satu blok yang sama, Adril menurunkan Brian di sana.
"Lo nggak mau turun?" tanya Ratna lagi.
"Eh, oh, eh, iya. Hehehe."
Mario pun turun dengan hati yang masih bertanya-tanya, begitupula dengan Cavin. Tak lama kemudian Ratna menaiki sepedanya.
"Gue balik ya." ujarnya kemudian
"Iya, thanks ya." Mario berbasa-basi.
"Sama-sama."
Ratna mengayuh sepeda, begitupula dengan Heru. Lalu mereka berhenti tepat diujung blok, pada sebuah rumah yang bersebelahan. Sementara rumah Adril ada di seberang mereka.
Mario lega ternyata mereka satu blok, namun kini ada sebuah kekhawatiran yang melanda. Tampak Brian berlarian ke arah mereka.
"Eh, seriusan ini tempat tinggal kita?" tanya Brian dengan nafas yang terengah-engah.
"Gue juga ragu, gue malah takut nanti di dalem kita ketemu siapa. Kalau ternyata kita anak tiri dalam kisah ini. Terus punya ibu tiri galak, abislah kita." ujar Mario kemudian.
"Iya, gue juga mikir begitu." timpal Brian.
"Kalau ternyata gue tinggal serumah sama orang gila gimana?" lanjutnya lagi.
"Wah kalau gue sih santai aja, rumah gue gede. Diantara rumah lo pada, rumah gue lah yang paling mewah dan megah. Rumah kalian masih arsitektur sama semua, rumah gue doang yang beda." Cavin berkata dengan penuh percaya diri.
"Eh, jangan seneng dulu Junaedi. Siapa tau lo anak pembantu." celetuk Brian diikuti tawa Mario.
"Heh, sirik aja lo pada. Mana mungkin tampang bersih kayak gue gini anak pembantu." ucap Cavin.
"Ye siapa tau aja ya kan." Brian masih meledek.
"Udah ah, gue mau masuk."
"Eh, eh."
Mario dan Brian menahan laju Cavin yang sudah hendak masuk ke terduga rumahnya.
"Lo yakin, Cav?" tanya Mario ragu. Ia khawatir akan terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.
"Udah tenang aja, kalaupun ada apa-apa ntar gue teriak."
"Jangan bercanda lo, kalau lo masuk langsung di bekap gimana?" tanya Brian tak kalah khawatir.
"Udah nggak bakal terjadi apa-apa. Positif thinking aja."
Cavin lalu melenggang masuk ke dalam terduga rumahnya itu. Beberapa menit berlalu Mario dan Brian masih berdiri disitu, sambil mendengarkan kalau-kalau Cavin berteriak. Tak lama kemudian, Cavin kembali keluar. Namun hanya ke depan pagar rumahnya.
"Gue baik-baik aja koq." ujarnya meyakinkan.
"Lu majikan kan, bro?" tanya Mario lagi.
"Iya, soalnya pembantu di rumah ini manggil gue Den Cavin. Berarti gue majikan."
Mario dan Brian bernafas lega, Cavin kembali masuk ke dalam. Kini mereka berdualah yang tersisa. Mau tidak mau keduanya pun kembali ke terduga rumah masing-masing, karena tidak mungkin mereka di luar sampai besok pagi.
***
Mario berjalan perlahan dengan perasaan yang harap-harap cemas. Ia tak tau akan berhadapan dengan siapa di dalam nanti. Ia juga tak tau di jaman ini ia berperan sebagai siapa, anak kandung atau anak tiri. Atau anak yang ikut nenek dan kakek, tante dan om atau apalah.
Ia menerka-nerka akan dipanggil siapa, orang yang tinggal bersamanya di rumah ini. Mereka itu laki-laki atau perempuan. Atau laki-laki dan perempuan. Atau....,
"Ah."
__ADS_1
Mario menepis semua pikiran kusut yang menyesaki benaknya, lalu menarik nafas dan terus melangkah. Mula-mula ia mendekat ke arah pintu masuk. Remaja itu menyentuh gagang pintu tersebut dengan sangat hati-hati.
"Kreeek."
Pintu tersebut sangat gampang terbuka, karena sepertinya memang tidak dikunci. Mario perlahan masuk, ia melihat ke sekitar dan tak ada orang sama sekali.
Ia mengamati isi dalam rumah itu, semua furniturnya sesuai dengan apa yang sedang trend di tahun tersebut. Tak terlalu jadul, namun jika dibanding dengan jaman dimana dia besar. Semua ini tak ada apa-apa baginya.
Furniture di jamannya sudah lebih simpel dan perangkat elektronik yang digunakan sudah jauh lebih modern, dengan bentuk yang kebanyakan flat serta tidak memakan banyak tempat.
"Kamu udah pulang?"
Sebuah suara berat namun hangat terdengar tiba-tiba dari suatu arah. Mario menoleh dan bukan alang kepalang betapa terkejutnya ia, ketika mendapati siapa yang kini ada dihadapannya.
"Deddy?" gumamnya dalam hati.
"Deddy smart people?" gumamnya masih tak percaya. Ia memperhatikan Deddy dari atas hingga ke bawah.
"Bukannya di tahun ini belum botak banget ya?. Kalo nggak salah masih eyelineran kayak kungfu panda."
"Ups."
Seketika Mario menutup mulutnya, entah kenapa kata-kata itu mengalir begitu saja.
"Maksud kamu?. Kamu menghina kebotakan daddy lagi?. Eyeliner apa maksudnya?" ujar pria kekar yang berada di hadapannya itu.
"Deddy atau daddy sih?" Mario berfikir keras.
"Ja, jadi dia ini bapak gue di jaman ini?. Atau majikan gue?. Atau kakak gue?. Manggilnya Deddy namanya atau daddy yang artinya bapak?"
"Mario."
"Ah biar nyaru, gue panggil daddy aja lah. Kali ya kan, nih orang statusnya bapak gue di cerita ini. Lagian Deddy sama daddy cara membaca nya sama."
"Mario."
Kali ini Mario tersentak, ia menatap Deddy sambil nyengir.
"Iya dad, hehe."
"Tuh kan panas lagi badan kamu."
Wajah Deddy berubah menjadi begitu khawatir, ia lalu pergi ke dalam dan entah melakukan apa. Mario sendiri tak bisa berkata apa-apa, karena ia pun bingung dengan keadaan ini. Apa yang sebenarnya tengah terjadi, ia pun tak tau pasti.
"Mario, minum dulu obatnya."
Deddy menyerahkan sebuah tablet obat serta segelas air minum pada Mario. Pemuda itu justru tergolong bengong menatap Deddy. Ia tak tau mengapa ia harus meminum obat tersebut, sedang dirinya tak merasa sedang sakit apapun.
"Ayo diminum, daddy nggak mau kamu sakit lagi. Kalau suhu tubuh kamu udah naik, ujung-ujungnya kamu pasti depresi. Terus mau bunuh diri lagi."
"Bunuh diri?. Ngapain gue mesti bunuh diri, Bambang?. Apa emang ceritanya di jaman ini gue mengidap sebuah penyakit?. Atau apa sih?" Suara hati Mario berkecamuk.
"Mario."
"Eee, I, iya dad?"
"Kamu satu-satunya anak daddy, daddy nggak mau kehilangan kamu."
Tiba-tiba Mario tersentak mendengar ucapan tersebut, ada perasaaan hangat yang tiba-tiba saja menjalar di hati dan segenap jiwa. Sebuah perasaan yang nyaris tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya, ia merasa mendapatkan apa yang tak pernah ia dapat selama ini.
Ya, sosok ayah. Sampai ia berusia 16 tahun bahkan nyaris 17 tahun, ia belum pernah sekalipun melihat ayahnya secara langsung. Meskipun ayahnya masih hidup, belum pernah sekalipun mereka bertemu.
Ia hanya menerima telpon dari ayahnya sesekali saja, itupun sang ayah tidak mau video call. Alasannya sibuk dan selalu saja sibuk, sebab ayahnya itu tinggal di Amerika dan menjalankan bisnis disana.
Sedangkan ia dan kedua kakaknya Marcell serta Michael tinggal di Jakarta. Meski ayahnya masih ada, Mario tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari ayahnya itu.
"Ayo diminum!" Deddy memerintahkan.
Mario menatap obat itu dan mulai mengarahkan ke mulutnya secara perlahan. Ia masih takut karena tak tau penyakit apa yang ia alami, dan obat jenis apa yang akan ia minum tersebut.
Bagaimana jika itu akan berdampak buruk bagi kesehatannya, karena memang ia tidak sedang sakit. Bagaimana jika sehabis meminum obat tersebut, dirinya langsung ditumbuhi bulu atau sisik Badarawuhi. Bagaimana kalau dia menjadi kejang-kejang lalu berteriak seperti Lucinta atau Mimi Peri.
__ADS_1
"Praaaang."
Sebuah benda terjatuh dan mengagetkan, Deddy menoleh ke arah sumber suara itu. Secara serta merta Mario pun membuang obat tersebut, dengan melemparnya ke luar jendela.
Setelah Deddy berbalik ke arahnya, ia pun langsung meminum air yang ada di tangannya. Berpura-pura jika ia sudah menelan obat tersebut, ia melihat Deddy tersenyum dengan lega.
"Ya udah sana ke kamar, ganti baju. Daddy tunggu kamu di meja makan."
Mario melangkah, namun tiba-tiba Deddy menghentikan langkah remaja itu.
"Kamar kamu kan di atas, Mario."
Mario tersentak lalu melihat ke arah tangga.
"Jangan bikin daddy sedih dengan penyakit kamu itu, kamu harus berusaha untuk sembuh."
Mario diam, tak menoleh sedikitpun. Ia lalu melangkah menaiki tangga, dan lagi-lagi Deddy berkata.
"Kamar kamu sebelah kanan."
Mario terus melangkah hingga menemukan ruangan yang dimaksud, kamar itu cukup besar dan sangat nyaman. Ia meletakkan tasnya dan membuka lemari yang ada disana, tampak beberapa pakaian untuk anak seumur dirinya tersusun rapi di tempat itu.
Ia pun mengganti baju lalu duduk di atas tempat tidur, ia berfikir keras tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi. Mengapa ia bisa berada di jaman ini. Mengapa Deddy yang begitu terkenal di YouTube tersebut juga bisa ada bersamanya.
Apakah Deddy juga sama terjebak dan terlempar dari masa depan ke tahun ini?. Jika ia bertanya, apakah Deddy akan memberikan jawaban?. Mengenai mengapa ia ada disini dan bagaimana ia bisa terlempar ke jaman ini. Bagaimana caranya agar ia bisa kembali, apakah Deddy mengetahui dimana portal antar waktu berada?.
"Mario."
Tiba-tiba Deddy memanggilnya. Mario tersentak lalu ia pun pergi keluar kamar dan berdiri di dekat tangga. Dari sana ia menyaksikan Deddy yang berdiri sambil mendongak ke arahnya.
"Ayo makan!" ajak Deddy kemudian.
Tanpa menjawab sepatah pun, Mario akhirnya turun dan mengikuti Deddy menuju ke meja makan. Disana terdapat beberapa menu masakan rumahan yang sederhana.
Mario celingukan menatap sekeliling. Matanya menjelajah kesana kemari, ia mau mencari dimana ibu rumah tangga rumah ini. Perempuan yang menjadi istri Deddy di jaman ini, atau minimal pembantu rumah tangga yang mengerjakan semua masakan yang ada. Tapi sepanjang mata melihat, ia tak menemukan siapa-siapa.
"Kamu ngeliatin apa?" tanya Deddy heran.
"Mmm, yang masak semua ini siapa dad?" tanya Mario dengan nada sedikit takut.
"Ya daddy dong, siapa lagi."
Mario menatap Deddy, dan begitupun sebaliknya.
"Maaf kalau kurang enak, kamu kan tau daddy nggak begitu bisa masak. Tapi sejak mama kamu minta cerai dan meninggalkan rumah, siapa lagi yang mesti mengerjakan ini semua kecuali daddy. Cari pembantu sekarang susah."
"Oh, jadi dia cerai juga disini. Hihihihi, nggak di jaman sono sama sini ternyata sama aja. Ambyar semua."
"Kamu ngomong apa, Mario?"
Mario tersentak dengan pertanyaan Deddy, agaknya ayah lintas jamannya itu menyadari ucapannya. Meskipun tadi ia bergumam dengan suara yang cukup pelan.
"Hayo ngomong apa?. Kamu ngatain daddy ambyar?"
Mario mulai merasa tegang, keringat jagung tiba-tiba saja mengucur. Ia memperhatikan otot tangan Deddy yang besar dan kekar.
"Beh, kalau di gampar sama dia. Mulut gue bisa pindah ke jidat ini." gumamnya kemudian.
"Mario?"
"Eh, oh, hehehe. Nggak Dad, nggak. Daddy mah ganteng, keker. Hehehe."
Deddy mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu?"
"Nggak, makanan nya enak koq. Hmmm."
Mario ngeles dengan cara memasukkan banyak makanan ke mulutnya.
"Hmmm, enak dad. Hmmm."
__ADS_1
Deddy lalu tersenyum dan melanjutkan makannya, sementara Mario kini bisa bernafas lega.
"Fiuuuh."