
"Bro, minyak tanah apaan sih?"
Brian datang dengan tergopoh-gopoh. Menghampiri Mario dan juga Cavin, yang tengah mengobrol di halaman rumah Mario.
"Minyak tanah?" tanya Mario dan Cavin bersamaan.
"Iya minyak tanah, mbak gue dirumah nyuruh gue beli minyak tanah. Katanya ada di warung Haji Dadang Sembako di ujung blok B2."
"Haji Dadang Sembako?" tanya Mario.
"Siapanya Yadi Sembako, tuh orang?" lanjutnya lagi.
"Ya mana gue tau, mbak gue yang nyuruh."
"Tunggu, tunggu." Cavin memperhatikan Brian.
"Yang nyuruh mbak lo?. Pembantu maksudnya?" tanya nya lagi.
"Iya, mbak pembantu dirumah gue." jawab Brian.
"Yang majikan elo atau dia sih?" tanya Mario heran.
"Iya, koq dia nyuruh lo?" timpal Cavin. Ia masih bingung dengan apa yang dikatakan Brian.
"Pembantu gue, mbak Lupinta Luna Itu baru pulang dari purwakarta. Dia kepala pembantu di rumah gue."
"Kepala pembantu?. Emang rumah lo segede apa sih?" tanya Mario.
Ia dan Cavin serentak menoleh ke arah rumah Brian, yang mereka nilai tak lebih besar dari rumah Mario.
"Sama aja kayak rumah gue." ujar Mario membandingkan.
"Ngapain mesti ada kepala pembantu segala, udah kayak rumah sultan." lanjutnya lagi.
"Rumah gue gede tau, lo belum pernah kesana kan?"
Kali ini Brian berjalan kembali kerumahnya, diikuti Mario dan juga Cavin.
Dari depan, rumah Brian memang tampak seperti rumah lainnya. Lebar depannya sama dan tak ada yang istimewa. Namun ketika masuk barulah Mario dan juga Cavin sadar betapa besarnya rumah itu. Orang tua lintas jaman Brian mengambil tiga rumah ke belakang dan menjadikannya satu.
Praktis rumah itu pun membutuhkan tenaga asisten rumah tangga lebih dari satu, untuk bisa membereskan semuanya.
"Gede banget rumah lo." ujar Cavin dengan mata yang masih menjelajah sekitar. Sementara Mario masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Makanya pembantu di rumah ini ada 3, satunya lagi supir. Nah mbak Luna itu kepalanya disini."
"Nah terus kenapa dia nyuruh lo?. Lo kan majikannya." ujar Mario.
"Abisnya gue serem sama mbak Luna. Teriakannya itu loh, bikin kuping sakit. Terus penampakannya..."
Brian menghentikan ucapan, agaknya ada sedikit hal yang mengganggu remaja itu.
"Penampakan apanya?" tanya Mario penasaran.
"Emang orangnya yang mana sih?" Cavin tak kalah penasaran.
Brian menjelajah sekitar, wajahnya diliputi semacam keraguan dan sedikit kengerian. Namun detik berikutnya, ia pun melangkah ke arah belakang. Mario dan Cavin saling bertatapan lalu mengikuti langkah Brian.
"Hiaaaa."
"Buju busyet dah."
Mario, Brian, dan Cavin hampir saja terjatuh akibat terlalu kaget mendengar teriakan kepala pembantu rumah itu. Mario dan Cavin tercengang melihat penampakan wujud mbak Luna.
Pasalnya meskipun berperawakan wanita dengan tubuh tinggi langsing serta rambut yang panjang terurai, ada sebuah keganjilan dari dirinya.
"Ini mah Amfibi, Bri." ujar Mario dengan posisi berjaga-jaga..Takut kalau pembantu rumah tangga Brian itu mendekat ke arahnya. Perempuan setengah siluman itu tampak tengah mengoceh kepada dua perempuan lainnya, yang juga sama-sama pembantu.
"Aaaaaaa." Lupinta Luna berteriak layaknya kesurupan setan bences.
"Kan udah gue bilang, itu jangan disitu nanti rumputnya kebakar. Lo itu akan mengurangi keindahan taman ini. Nanti pasti nyonya dan tuan nyalahin gue."
Buru-buru si pembantu yang dimarahi itu membereskan kayu bakar, yang tadinya hendak ia nyalakan di atas rumput halaman belakang. Kali ini Lupinta Luna beralih ke arah pembantu satunya.
__ADS_1
"Ini juga, kerja yang bener. Masa nyuci ayam sama ikan masih ada darahnya gitu, cepetan cuci lagi."
Pembantu yang satunya itu buru-buru pergi membawa baskom berisi ikan dan juga ayam untuk dibersihkan kembali.
"Deng, deng."
Kali ini mata Luna beralih pada Brian, Mario, dan juga Cavin yang berdiri di depan pintu belakang.
"Den Brian, mana minyak tanahnya?"
Tanpa berkata apa-apa dan tanpa aba-aba apapun.
"Byuuur."
Ketiganya langsung tancap gas, mereka lari pontang-panting keluar dari rumah Brian.
"Gila, itu lo mesti hati-hati Bri." ujar Mario ketika mereka semua akhirnya berhenti berlari, karena terlalu lelah dan sulit mengatur nafas.
"Bener, Bri. Kalau bokap-nyokap lintas jaman lo kagak ada dirumah, mending lo nginep di rumah gue atau rumahnya Mario."
"Ya, bisa-bisa lo dimangsa sama tuh makhluk jadi-jadian. Mending lo ilang perjaka sama tante-tante, yang penting perempuan tulen. Ketimbang sama dia." Mario menimpali omongan Cavin.
"Jadi gue harus gimana dong?"
Wajah Brian mulai panik, ia belum tau dan belum pernah berhadapan dengan makhluk bimbang seperti itu. Ia bahkan tak tau cara menghindari maupun melarikan diri, dari ancaman manusia setengah siluman tersebut.
"Pokoknya, kalau bokap-nyokap lo nggak ada dirumah. Lo kunci pintu kamar atau lo nginep di rumah salah satu dari kita." ujar Cavin.
"Oke, tapi pertama gue mau beli minyak tanah dulu. Gue nggak mau nanti dia teriak-teriak lagi dirumah dan bikin rumah gue jadi runtuh."
"Ok."
Mario, Brian, dan Cavin kembali berjalan. Nafas mereka sudah lumayan teratur. Kali ini mereka menuju ke penghujung blok B2, ke tempat dimana warung Haji Dadang Sembako berada.
Sesampainya disana mereka bertemu dengan pemilik warung tersebut, yang tiada lain adalah Haji Dadang Sembako itu sendiri.
"Anaknya pasti Andi beras." bisik Cavin di telinga Brian sambil menahan tawa.
"Yang cewek Siti Ketan Putih." ujar Brian.
"Pelanggan."
"Yooo."
"Oi pelanggan."
"Cakep."
Tiba-tiba Mario, Brian, dan Cavin terkejut. Mereka segera menyudahi obrolan lalu menatap ke arah Haji Dadang.
"Mau beli apa?" tanya Haji Dadang dengan senyum lebar.
Nada panggilannya mirip dengan jargon salah seorang yang selalu mengatakan, "Jamaah ooo Jamaah." Yang sering tayang di pagi buta.
"Kami mau beli minyak tanah, pak haji." ujar Brian kemudian.
"Oooo, minyak tanah?" tanya Haji Dadang, masih dengan senyum lebarnya.
"Berapa liter?" tanyanya lagi.
"Eee, dua liter." ujar Brian ngasal. Ia bahkan tak bertanya pada Luna perihal berapa liter minyak tanah yang harus dibeli.
"Oh dua liter."
"Iya, hehe."
"Hehe." Haji Dadang ikut tertawa.
Namun ketika Brian menyerahkan drigen kosong yang ada di tangannya, tiba-tiba kening Haji Dadang pun berkerut.
"Tapi abis minyak tanahnya. Di luar komplek ini aja, diujung sono noh. Ada namanya Udin Bensin, dia jual minyak tanah."
Brian, Mario, dan Cavin kompak melebarkan bibir sampai kuping. Mereka bertiga keluar dari warung tersebut sambil ngedumel.
__ADS_1
"Kenapa dia nggak bilang dari tadi aja kalau abis, ngapain nanya berapa liter segala." gerutu Brian.
"Nggak di jaman apapun, orang geblek pasti ada ya bro." ujar Cavin sambil terus melangkah.
Mereka pergi keluar dari komplek perumahan melalui pintu barat. Mereka masih percaya pada ucapan Haji Dadang, bahwa di dekat sini ada yang menjual minyak tanah.
"Bener kan bro, lewat sini?" tanya Brian pada Mario dan juga Cavin.
"Iya bener koq, tapi...."
Tiba-tiba mereka menemui sebuah persimpangan.
"Ini ke arah mana ya?" tanya Mario kemudian.
"Eee."
Tiba-tiba Cavin mendekat ke arah salah seorang warga yang tengah duduk di depan rumahnya. Orang tersebut tampak mengenakan sarung dan sedang menikmati segelas kopi.
"Permisi, pak."
"Iya dek, ada apa?" tanya orang tersebut dengan logat ngapak.
"Mau tanya, warungnya Udin Bensin dimana ya?" tanya Brian.
"Oh Udin Bensin, lurus aja. Nanti deket dingdong situ, di seberangnya."
"Dingdong?"
Mario, Brian, dan Cavin tampak bingung.
"Oalah, kepriben kiye. Masa ndak tau dingdong, itu seng banyak anak main-main itu loh."
Kali ini Mario, Brian, dan Cavin saling bersitatap.
"Dingdong apaan, bro?" tanya Cavin.
"Meneketehe." jawab Mario kemudian.
"Pokoknya kalian lurus aja dari sini, sampe ketemu anak-anak yang rame-rame itu. Nah Udin bensin di depannya."
"Oh iya pak, makasih ya pak."
Brian mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya mereka bertiga meneruskan perjalanan.
"Ini bener nih lurus aja?" tanya Cavin seraya memperhatikan sekitar.
"Udah ikutin aja. Katanya tadi sampe kita ketemu bocah rame-rame lagi main dongdang." ujar Brian
"Dingdong, Bambang." Mario membenarkan ucapan Brian.
"Iya dah, pokoknya gitu lah. Mana lagi tuh rame-rame, kagak keliatan."
Mereka terus berjalan sambil tak henti memperhatikan sekitar.
"Eh Jeng, tau nggak si Shinta."
Seorang ibu-ibu yang baru datang tampak membuka obrolan di depan teras sebuah rumah, disana terdapat 4 ibu-ibu lainnya. Mario, Brian, dan Cavin tanpa sengaja mendengar percakapan itu.
"Shinta belakang jeng?" tanya salah seorang ibu-ibu lainnya.
"Iya jeng. Baru beli mobil kredit gayanya hmm, udah selangit jeng."
"Masa sih jeng?" ujar yang lainnya secara bersamaan.
"Hmm, ternyata. Nggak di segala jaman, ada aja biang gosipnya." ujar Mario sambil melirik ke arah ibu-ibu tersebut.
"Yang model begini nih, bro. Kelak di kemudian hari menjadi cikal-bakal akun lambe-lambean." ujar Cavin ikut melirik ke arah ibu-ibu tersebut.
Sementara kini langkah mereka akan segera melewati ibu-ibu tersebut.
"Modelan begini bakal melahirkan keturunan tukang gosip juga, bro." kali ini Brian menimpali.
"Yoi." jawab Mario.
__ADS_1
"Emaknya nyinyir, apalagi anaknya." lanjutnya kemudian.