
"Cav."
Cavin tak menggubris panggilan kakaknya. Ia terus melangkah mengikuti seseorang yang seperti dikenalnya.
"Cav."
Cavin terus melangkah.
"Cav." Davin mencekal lengan sang adik. Seketika Cavin pun tersadar dan menghentikan langkahnya.
"Kamu ngikutin siapa sih?" tanya Davin kemudian. Wajah Davin terlihat cemas, karena adiknya tampak seperti orang yang kebingungan.
"Itu tadi, ada aktor yang sering muncul di TV." ujar Cavin seraya melihat ke suatu arah.
Davin mengikuti arah pandangan mata adiknya. Namun banyak orang yang lalu lalang, tak jelas siapa yang dimaksud oleh Cavin
"Aktor siapa, namanya siapa?" tanya Davin bingung.
Cavin pun tersadar jika di tahun ini, aktor yang ia lihat tadi belum berkecimpung di dunia entertainment. Namun ia yakin telah melihat aktor tampan tersebut tengah melintas di dekatnya. Apakah dia merupakan penjelajah waktu?. Kalau iya, dengan cara apa ia bisa masuk ke jaman ini.
"Cav, aku tanya. Namanya siapa?"
"Mmm, nggak. Bukan siapa-siapa."
Cavin kembali menatap ke arah dimana ia melihat aktor itu tadi, lalu muncul seseorang dengan baju yang sama. Cavin baru menyadari jika yang ia lihat tadi bukanlah aktor tersebut, melainkan orang lain yang perawakannya hampir sama. Seketika Cavin pun tertawa, ia merasa telah berkhayal terlalu jauh.
"Cav."
Davin masih bingung dengan sikap Cavin, Cavin melangkah kembali ke mobil. Namun ketika ia membuka pintu tiba-tiba,
"Kreeek."
Sebuah pintu lain disebuah tempat telah terbuka, meski hanya sedikit. Cavin terdiam, ia merasakan sebuah energi yang begitu aneh.
Hal yang sama juga dirasakan Mario, ketika ia telah sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ketika ia hendak membuka pintu mobil Deddy, ia pun terdiam sejenak.
Sementara dirumah, Brian yang membuka pintu kamar turut merasakan energi yang sama dengan apa yang dirasakan kedua temannya. Ia juga merasa bahwa ada sebuah pintu yang perlahan terbuka. Meski ia tak tau pintu itu ada dimana.
"Kamu koq jarang ngabarin, daddy?" tanya Deddy ketika Mario telah masuk ke dalam mobil.
"Namanya juga liburan, dad. Terlalu antusias." ujar Mario kemudian. Deddy pun tertawa kecil.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa kalau kamu menikmati liburannya. Daddy cuma khawatir, kamu disana sakitnya kambuh dan lupa minum obat. Daddy takut kamu lupa jalan pulang."
Kali ini Mario ikut tertawa.
"Yang nggak lah, dad. Mana mungkin Mario lupa sama suara daddy, kalau bangunin Mario pagi-pagi."
"Bacot, ya?" tanya Deddy sambil tertawa.
"Banget." jawab Mario. Lagi-lagi keduanya sama-sama tertawa.
"Gimana liburan kamu disana, menyenangkan?"
"Sangat." ujar Mario seraya mengingat kebersamaannya dengan keluarga. Penuh senyuman saat ia mengatakan hal tersebut.
Deddy tak tahu apa yang telah terjadi disana. Ia kini melihat sang anak, seperti anak pada umumnya yang merasa puas atas liburan yang telah dijalani. Mobil terus merayap, sementara Mario terus larut dalam kenangan liburan terindahnya.
Pada keesokan hari Cavin tiba dirumah, Mario pun sudah merasa cukup istirahat. Ia dan Cavin lalu menemui Brian yang kebetulan masih sibuk dengan jualannya. Mario dan Cavin terkejut dengan apa yang dikerjakan Brian selama liburan.
Namun ketika Brian mengungkapkan apa alasannya, Mario dan Cavin pun mengerti. Betapa ingin Brian selama ini bertemu sang ibu dan mendengarkan suaranya.
"Loterenya hadiah handphone, loh." ujar Cavin sambil melihat dagangan Brian yang ajaib.
Mario tertawa.
"Kata bapak lintas jaman gue, tampilan itu perlu. Biar lo bisa menjual dengan harga tinggi."
"Tapi kalau harganya tinggi, nggak semua orang bisa beli, bro." ujar Cavin kemudian.
"Kalau harganya murah pun, belum tentu juga semua orang bisa beli, bro." ujar Brian.
"Karena nggak semua orang punya duit." lanjutnya lagi. Mario dan Cavin diam dan seakan berfikir.
"Iya juga ya." ujar Cavin kemudian.
"Bener kata lo, bro." Mario menyetujui.
"Hey." tiba-tiba Adril, Heru, dan Ratna muncul.
"Hey, gaes."
Mario, Brian dan Cavin menyambut teman mereka itu dengan tawa dan senyuman. Mario dan Cavin telah menyiapkan oleh-oleh untuk mereka.
__ADS_1
Mereka lalu temu kangen dan bercerita banyak hal. Mulai dari seperti apa liburan mereka, apa saja yang mereka lakukan untuk menghabiskan waktu dan lain sebagainya.
Tawa canda mengalir disana. Apalagi ketika mereka melihat cara Brian, yang sangat judes melayani pembelinya. Ditambah anak-anak yang menyebutnya dengan panggilan, "Kak Budek."
Hal tersebut tentunya menambah kelucuan di antara mereka. Mereka sampai terpingkal-pingkal menertawai Brian.
Dua minggu berikutnya, mereka mengisi liburan bersama-sama. Seperti berjalan-jalan dan mengunjungi berbagai destinasi wisata, serta tempat makan yang ada di kota mereka. Tak lupa mereka membeli pakaian sekolah baru, secara bersama-sama pula. Seminggu berikutnya, sekolah mengadakan masa orientasi untuk siswa baru.
Berhubung diantara mereka tidak ada yang merupakan anggota OSIS, mereka pun tak ikut dalam kegiatan tersebut. Hanya sesekali saja mereka datang untuk nampang dan melihat wajah-wajah adik kelas mereka yang baru.
Ketika liburan dan masa orientasi siswa baru telah berakhir, mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Mereka kini berharap-harap cemas, dengan siapa mereka akan satu kelas. Mario, Brian dan Cavin sejujurnya tak ingin berpisah. Apalagi jika salah satu dari mereka harus satu kelas dengan F4.
Bukan tak berani menghadapi geng 4 anak caper tersebut. Hanya saja mereka tak akan bersemangat, jika salah satu dari mereka harus berada dikelas yang berbeda. Sebab mereka tak bisa menggila bersama di dalam kelas. Tak bisa saling memberi kode untuk mentertawakan hal yang patut ditertawakan.
"Ntar kita sekelas sama siapa, ya." tanya Ratna pada teman-teman sekelasnya. Mereka kini berdiri di sepanjang koridor sekolah, menunggu pengumuman.
"Pokoknya gue nggak mau sekelas sama si bunga-bunga an itu." ujar Brian seraya melirik ke arah geng F4 yang tengah berbincang. Ia bersama Mario dan Cavin berdiri di dekat tiang bendera.
"Gue juga males." ujar Cavin kemudian.
"Pokoknya kalau sampe kejadian, gue bakalan protes." ujar Mario.
"Eh, itu pengumuman udah keluar." celetuk salah seorang siswa, mereka lalu berhamburan menuju kelas. Dimulai dari kelas 2.A, Karena pengumuman di tempel di pintu masing-masing kelas.
2.A, 2.B, 2.C. Terlewati begitu saja. Tak ada nama Mario, Brian, Cavin, Adril, Heru maupun Ratna. Namun di kelas 2.D, nama Mario, Brian dan Cavin ada disana. Sontak ketiganya pun bersorak kegirangan.
"Kita sekelas, bro." ujar Brian penuh semangat.
Mario dan Cavin tak kalah antusiasnya.
"Eh, gue dikelas ini ternyata."
Tiba-tiba Ratna berujar. Mario, Brian dan Cavin kompak menatap gadis itu. Detik berikutnya,
"Yeay, gue sekelas sama kalian."
Ratna terdengar sangat gembira. Mario, Brian dan Cavin kini sumringah. Apalagi tak ada nama pentolan F4 satupun di kelas mereka. Namun Adril dan Heru juga tak ada.
"Yah, Adril sama Heru nggak sekelas sama kita." ujar Mario kecewa.
Mata Mario, Brian dan Cavin kini tertuju pada suatu arah. Ketempat dimana Adril dan Heru tengah berdiri. Tepatnya di muka kelas 2.E.
__ADS_1
Mario, Brian, Cavin dan Ratna pun menghampiri. Tampak Adril diam menatap namanya ada disana, nama Heru pun ada didalam daftar. Namun yang lebih membuat mereka kecewa dan terdiam satu sama lain adalah, empat personel geng Martin ada disana. Di kelas yang sama.