Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Proud Of You


__ADS_3

"Mario, daddy bangga sama kamu."


Deddy berujar disaat pertandingan olahraga beladiri yang diikuti Mario baru saja usai. Saat itu Mario dan Deddy sudah berada di dalam mobil, mereka bersiap untuk pulang ke rumah.


"Walaupun kondisi mental kamu sering mengkhawatirkan, tapi kamu bisa mengatasi itu semua. Dan kamu bisa menunjukkan, kalau anak seperti kamu bisa berprestasi."


Mario menunduk dan tersenyum, ia tidak tahu apakah ini sejenis pujian ataukah sindiran. Tapi kata-kata itu terasa begitu manis ditelinga. Sampai hatinya pun terasa damai demi mendengarkannya.


Mungkin memang di jaman ini, hidupnya disetting memiliki banyak gangguan kesehatan mental. Setidaknya itu menurut pandangan Deddy terhadapnya, meskipun Mario sendiri tak merasa demikian.


Namun pujian tadi terasa begitu tulus. Mario jadi membayangkan, apabila dirinya yang sebenarnya dimasa depan bisa mengatasi segala hal yang berkecamuk di kepalanya. Mungkin saat ini ia sudah hidup dengan segudang prestasi.


Karena sejatinya segala sesuatu itu bisa diusahakan, asal ada kemauan. Namun selama ini Mario lebih sering larut dalam perasaannya yang tak menentu. Pikirannya sering kali kusut dan carut-marut, setiap kali menghadapi sikap Michael yang begitu keras terhadapnya.


Ia kerap menjadikan sikap buruk Michael, sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Ia membunuh semangat-semangatnya sendiri dengan mengambil hati semua sikap kakaknya itu.


Tapi di masa ini, ia bahkan bisa membunuh semua perasan yang coba menekannya. Seperti perasan takut, tak mampu melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain, perasaan cemas terhadap intimidasi pihak luar dan lain sebagainya.


"Tapi, daddy nggak marah kan?. Soal medali tadi yang Mario kasih ke Galih."


Kali ini Deddy yang tersenyum. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Justru daddy malah tambah bangga sama kamu. Kamu itu anak yang berhati dan berjiwa besar. Dimasa depan, kamu akan jadi orang sukses yang dicintai banyak orang."


Lagi-lagi Mario tersenyum, namun dengan air mata yang tiba-tiba merebak di pelupuk mata. Ia memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil dan melihat ke sisi jalan.


Terlalu banyak pujian untuknya di jaman ini, dan semuanya terasa begitu nyata. Seolah ini memanglah jaman yang sebenarnya, bukan ilusi semata.


Segala hal yang diinginkan Mario di masa depan, semuanya ada disini. Apapun diberikan kepadanya di jaman ini. Cinta, pujian, kasih sayang, perhatian.


"Ah, andai saja ia memang terlahir di jaman ini dengan sosok ayah seperti Deddy. Pastilah hidupnya akan terasa bahagia." gumamnya.


"Mario."


"Hah, iya dad."


Suara Deddy membuyarkan lamunan Mario, ia pun menoleh ke arah Deddy sambil tersenyum. Namun satu yang ia lupakan adalah, menghapus air mata yang mengalir di kedua sudut matanya. Deddy pun menghela nafas dan memeluk Mario. Seketika Mario tersadar, jika ia telah membentuk persepsi yang salah di benak Deddy.


"Kamu pasti lupa minum obat lagi hari ini."


Deddy mengira gangguan mental Mario sedang kambuh, makanya anak itu menangis tidak jelas. Padahal ia hanya terharu dengan segala yang ia dapat di jaman ini, termasuk sosok ayah seperti Deddy. Dengan segala perhatian dan kasih sayangnya.


Mario membiarkan saja soal pendapat itu. Ia malah menangis sejadi-jadinya meski tak bersuara. Ia membiarkan air matanya jatuh sebanyak mungkin. Demi mengeluarkan beban yang selama belasan tahun ini menghimpit batinnya.


Mario tidak pernah bisa menangis dan dilarang menangis. Baik Marcell maupun Michael selalu mendidiknya agar ia menjadi pribadi yang tegar.


Namun kembali lagi, Mario hanyalah seorang manusia. Ditambah lagi usianya masih sangat muda. Ia tak pernah merasa di besarkan dan diberi kasih sayang oleh orang tua. Pantaskah menuntut hal lebih lagi kepadanya?. Sampai ia pun tak boleh bersedih?.


"It’s ok, daddy's here."


Mario lalu mengusap air matanya. Rasanya tak pantas menodai kebanggaan dan kebahagiaan Deddy terhadapnya hari ini, dengan luka batin yang ia dapat dari kedua kakaknya selama ini.


Ia tak ingin Deddy menjadi wadah, tempat dimana ia menumpahkan segala kekesalannya atas sikap Michael maupun Marcell terhadapnya selama ini.


Setidaknya Deddy lebih pantas untuk dibuat bangga dan bahagia telah memiliki anak seperti dirinya.


"Udah baikan?" tanya Deddy pada Mario. Anak itupun mengangguk pasti, seraya tersenyum.


"Kamu itu, ganteng-ganteng gangguan mental." Deddy mencoba meledek anak lintas jamannya itu.

__ADS_1


"Daripada ganteng-ganteng serigala."


"Apaan tuh?" tanya Deddy sambil mengerutkan kening.


"Nggak, lupain aja." Mario tertawa disaat mobil mulai merayap.


 ***


"Ratna, tunggu...!"


Mario mengejar Ratna di suatu pagi yang dingin. Semalaman hujan turun dengan deras, hingga menyisakan rintik yang belum juga berhenti hingga detik ini.


"Lepasin...!"


Ratna menghempaskan tangan Mario yang coba mencekal lengannya.


"Lo sana aja, sama Galih dan Lia."


"Rat, jangan kayak anak kecil."


"Emang gue masih kecil, baru juga 13 tahun."


"Iya, tapi kan nggak seharusnya lo bersikap kayak gini. Ini tuh jelas salah. Gue sama Galih nggak ada masalah, yang bermasalah itu elo sama Lia."


"Oh, jadi kalau yang bermasalah itu gue, lo nggak mau peduli?."


"Ya gue harus gimana?."


"Kenapa lo jadi baik sama Galih?. Kalau baik sama Galih, otomatis Lia juga jadi baik sama lo."


"Ya apa salahnya?"


"Eh, Rat. Yang bikin Lia jahat sama lo itu karena sikap lo sendiri."


Kali ini Ratna menghentikan langkahnya. Ia terdiam namun tak menoleh pada Mario.


"Elo yang ngebet sama cowoknya dia. Udah tau cowoknya juga punya perasaan sama lo, malah lo ladenin. Jujur ya, sebenernya Lia nggak salah kalau dia marah sama lo. Lo itu udah mengganggu hubungan dia sama Galih. Lo sendiri kalau misalkan ada di posisi Lia, apa yang akan lo perbuat?"


Nafas Ratna terdengar memburu, ia tak terima telah disalahkan oleh Mario.


"Nggak usah tegur gue lagi." ujarnya kemudian.


"Rat."


"Ratna."


"Rat."


Ratna berlalu meninggalkan tempat itu, membuat Mario kini berada dalam keadaan yang bingung. Ia terus berjalan menyusuri koridor sekolah, bahkan tak sadar jika bahunya menabrak seseorang.


"Braaak."


Ratna tetap melaju kedepan, sementara Cavin memegang bahunya yang terasa sakit. Ia sempat melihat raut wajah Ratna yang penuh kemarahan, sebelum akhirnya berlalu.


***


Dua hari kemudian, lapangan sekolah mereka pun diramaikan oleh pertandingan baseball antar sekolah. Brian yang semula diremehkan Christopher, berhasil membuktikan bahwa dirinya layak bermain disana. Bahkan kini team mereka melaju ke babak semi final.


Namun bukan Christopher namanya, jika tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Bahkan satu pujian pun belum pernah ia lontarkan untuk Brian, sejak pertandingan ini dimulai.

__ADS_1


"Lo tuh masih kurang bagus mainnya. Tadi aja berapa kali pukulan lo hampir meleset."


Christopher mencecar Brian, disaat mereka semua tengah break dan menunggu pertandingan berikutnya dimulai.


"Lo kenapa sih, nyari masalah mulu sama orang?"


Heru membantah omongan Christopher. Ia gerah sekali dengan sikap pentolan geng F4 tersebut.


"Nggak bisa apa, menghargai usaha orang dikit aja?" lanjutnya kemudian.


"Heh, kenapa jadi lo yang sewot sih?. Kita itu masih ada pertandingan selanjutnya. Jangan jumawa dulu, mentang-mentang nih anak yang selalu nyetak skor."


Christopher beranjak.


"Bilang aja lo iri." suara Heru terdengar lantang.


Christopher berbalik dan hendak memukul wajah Heru. Namun dengan sigap, Brian segera menangkis tangannya.


"Santai dong lo, masih bocah aja udah nyolot. Mau jadi jagoan lo, hah?."


Brian mendorong bahu Christopher.


"Lo yang santai aja, nggak usah nantang."


"Dari tadi juga elo yang berisik, bangsat."


Baru saja Brian hendak melayangkan pukulannya, tiba-tiba pelatih mereka memanggil.


"Kumpul semuanya."


Mau tidak mau mereka pun akhirnya menyudahi perkara tersebut, lalu berlari ke pinggir lapangan.


Babak semi final dimulai, permainan berlangsung sengit selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, team Brian memenangkan pertandingan.


Lawan mereka kini berkurang. Sebelum memulai babak final, mereka beristirahat sejenak dan diberikan pengarahan oleh pelatih mereka. Mario yang baru saja tiba langsung duduk di bangku penonton. Tepat bersebelahan dengan Cavin, di bangku belakang ada Adril yang tengah mengobrol dengan Ratna.


"Lo kemana aja sih?. Udah masuk final baru dateng." ujar Cavin sewot.


"Daddy gue sakit."


"Hah?. Om Deddy sakit?"


Mario mengangguk.


"Dia kena demam berdarah." ujar Mario kemudian


"Terus keadaannya gimana?."


"Masih dirawat, makanya gue lambat kesini.?"


"Ntar selesai pertandingan ini, gue temenin lo jagain om Deddy."


Mario mengangguk. Jujur ia sangat lelah sekali, karena semalaman ia menjaga Deddy yang tiba-tiba saja jatuh sakit. Mario bahkan nyaris tidak tidur semalaman, namun ia memaksakan diri untuk hadir disini. Semua demi Brian.


Babak final dimulai. Para pendukung team sekolah mereka maupun team sekolah sebelah, sama-sama memberikan dukungan dan yel-yel yang kreatif.


Tak lama kemudian pertandingan berlangsung. Begitu banyak ketegangan yang terjadi. Dikarenakan mereka adalah lawan yang sama kuatnya. Namun setelah bersusah payah,


“Woouu, yeeeeee."

__ADS_1


Seluruh siswa sekolah Mario dan Cavin yang menjadi tuan rumah, berteriak kegirangan. Pasalnya kini kemenangan jatuh kepada team sekolah mereka.


__ADS_2